Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Pagi itu, suasana rumah terasa begitu tenang, berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi siang harinya. Sinar matahari yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah gorden ruang tengah, memantulkan guratan cahaya di atas lantai marmer yang bersih.
Gavin dan Keana yang sudah rapi dengan pakaian rumahan yang santai, sudah mengambil posisi ternyaman mereka di karpet bulu depan TV. Dengan bantal sofa yang berserakan di sekitar mereka dan semangkuk camilan yang baru dibuka, keduanya tampak sangat siap untuk menghabiskan siang itu dengan bermain susun balok.
"Kapan Kak Gav punya mainan kayak gini" tanya Keana melihat susunan balok-balok kecil di depannya yang sudah tersusun rapi.
"Kemarin. Kakak nggak sengaja lihat, terus kakak pikir mungkin seru bermain seperti ini"
"Wah, tumben banget otak kakak estetik gini. Biasanya juga cuma tahu stik PS," ledek Keana sambil tertawa, tangannya dengan hati-hati meletakkan satu balok kayu kecil di atas susunan yang sudah setinggi dadanya.
Gavin mendengus, mata dan konsentrasinya terfokus penuh pada satu balok di bagian tengah yang terlihat agak longgar.
"Sialan. Ini namanya melatih kerja otak kanan, Kea. Lagian biar adil, kamu kan gak ngerti main game dari pada malah kalah terus."
Dengan gerakan super lambat, Gavin menarik balok tersebut.
Sreet...
Balok berhasil tercabut tanpa meruntuhkan menara. Gavin bersorak heboh, mengangkat kedua tangannya ke udara seolah baru saja memenangkan trofi piala dunia.
"Yesss! Aman! Ayo sekarang giliran kamu, jangan gemeteran tangannya!" tantang Gavin sengit.
Tantangan ini bukan sekadar permainan biasa. Di samping karpet bulu, sudah tergeletak sebuah lipstik berwarna merah menyala milik Mama yang mereka pinjam diam-diam dari meja rias. Aturannya mutlak dan kejam, siapa pun yang membuat menara balok ini runtuh, wajahnya akan menjadi kanvas coretan lipstik tanpa ampun.
Keana menelan ludah. Ia memajukan tubuhnya hingga berlutut di depan menara balok yang sudah mulai oleng tertiup angin. Dua jarinya menjepit sebuah balok di lapisan bawah.
"Aduh, Kak Gav, jangan dipelototin gitu napa! Kea jadi deg-degan!" seru Keana panik saat melihat Gavin sengaja mencondongkan wajahnya, memandangi jari Keana dengan tatapan mengintimidasi.
"Ayo... runtuh... runtuh... hatsyii kek lo biar ambruk," bisik Gavin jahil.
"Ih, Kak Gav curang!" Keana menarik napas dalam-dalam, menahan napasnya agar badannya tidak bergoyang, dan... set! Balok berhasil ditaruh di puncak teratas.
"Hahaha! Gak kena! Rasain!" pekik Keana girang, berjoget heboh di atas karpet sambil meledek Gavin.
"Ayo Kak Gav, sekarang giliran kakak! Cari yang paling susah!"
Suasana di depan TV semakin memanas dan heboh. Pekikan panik, tawa mengejek, dan sorakan kemenangan bergantian memenuhi ruangan yang tadinya sepi itu. Menara balok mereka sudah tinggi dan miring ke kanan, tinggal menunggu waktu sampai hukum gravitasi mengambil alih.
Gavin maju dengan penuh percaya diri, jarinya menyentuh satu-satunya balok penopang di sisi kiri. Begitu balok itu bergeser satu milimeter—
Praaakkk!
Seluruh balok kayu itu ambruk seketika, berserakan di atas karpet bulu.
"HUWAAAHALAHALAHAA! KAK GAVIN KALAH!!" Teriak Keana histeris, melompat kegirangan.
Dengan sigap, ia langsung menyambar lipstik merah di lantai dan membuka tutupnya dengan seringai kemenangan yang licik.
Gavin langsung memegangi wajahnya, mencoba menghindar.
"Eh, eh, bentar! Tadi kena angin itu, Kea! Gak sah!"
"Gak ada alasan! Sini mukanya, Kak Gav! Jangan kabur!" Keana merangkak cepat, menahan bahu Gavin dengan satu tangan sementara tangannya yang lain sudah siap mendaratkan goresan merah di pipi kakaknya.
Gavin pasrah, memejamkan matanya rapat-rapat sambil meringis saat merasakan ujung lipstik yang dingin mulai mencoreng pipi dan dahinya, diiringi suara tawa puas Keana yang membahana di seluruh penjuru rumah pagi itu.
"Kak Gav, lihat sini! Senyum yang ikhlas dong!" seru Keana sambil terbahak-bahak.
Ia langsung menyambar ponselnya dan membuka aplikasi kamera dengan mode dua-view atau kamera terbelah, fitur yang membuat layar terbagi dua, menampilkan wajahnya yang sedang tertawa puas di sisi atas, dan wajah pasrah Gavin di sisi bawah.
Gavin yang menyadari lensa kamera terarah padanya langsung mendengus pasrah. Di layar ponsel Keana, wajah tampan Gavin kini sudah penuh dengan coretan abstrak berwarna merah menyala. Ada garis kumis kucing tebal di kedua pipinya, lingkaran besar di sekeliling mata kanannya seperti bajak laut, dan tulisan "LOSER" kecil di dahinya hasil karya brutal Keana.
"Puass lo, hah?" omel Gavin, sengaja memajukan wajahnya ke kamera sambil melotot kocak dan menjulurkan lidahnya, membuat coretan lipstik itu terlihat makin menggelikan.
"Awas ya, ini menara gue bangun lagi. Habis ini giliran muka lo yang gue bikin kayak badut pasar malam!"
"Hahaha! Gak akan bisa, Kak Gav! Kea kan master susun balok!" Keana tertawa renyah ke arah kamera, merekam ekspresi kesal abangnya yang sangat berharga itu.
Mereka terus bermain, hingga wajah keduanya penuh dengan coretan lipstik. Tanpa mereka sadari, di lantai atas, pintu kamar Elvan perlahan terbuka. Sosok tinggi tegap sang kakak sulung melangkah menuju raling tangga, bersedekah dada sambil menatap ke bawah, mengawasi kehebohan kedua adiknya dengan sepasang mata yang dingin dan datar.
"Daripada kalian bermain seperti itu lebih baik kalian belajar. Setidaknya otak kalian berisi sebelum masuk sekolah" seru Elvan.
Keana dan Gavin seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah tangga.
"Gavin, Kea, bersihkan wajah konyol kalian itu sekarang," perintah Elvan, suaranya yang berat memecah keheningan dengan begitu mutlak.
"Dan rapikan semua mainan itu."
Gavin menelan ludah, perlahan bangkit berdiri sambil mengusap pipinya yang tercoret.
"Tapi, Bang... kan sekolah baru masuk minggu depan. Masa liburan gini tetap harus…"
"Dua puluh menit dari sekarang," potong Elvan, tidak tertarik mendengar alasan apa pun. Pandangannya beralih pada Keana, mengunci pergerakan gadis itu.
"Saya mau melihat kalian berdua sudah duduk di situ dengan buku terbuka. Mengerti?"
Tatapan tajam dan dingin dari sang kakak sulung seolah menembus langsung ke nyali mereka, membuat argumen yang sudah di ujung lidah Keana menguap begitu saja.
"I-iya, Kak..." cicit Keana pelan, buru-buru memunguti balok kayu di atas karpet dengan gerakan kilat, lalu menyusul Gavin yang mengambil langkah seribu menuju kamar mandi untuk menggosok wajahnya.
Keduanya benar-benar mematuhi perintah Kakak sulung mereka, walaupun dengan wajah cemberut. Buku yang terbuka di hadapan keduanya tidak terbaca sama sekali hanya dilihat saja.
Elvan sejak tadi mengawasi dengan duduk di sofa sembari memegang ipad-nya. Detik berikutnya, ia pergi ke dapur untuk membuat kopi.
Gavin yang melihat itu tersenyum miring. "Kamu mau ikut Kakak gak?"
"Ke mana?" kening Keana mengerut.
"Kabur. Kamu juga malas belajar kan?"
"Iya, tapi bagaimana kalau Kak Elvan lihat?"
"Udah tenang aja, mau ikut gak?"
"Iya-iya mau" Keana mengangguk cepat.
"Oke. Kakak hitung sampai tiga, kamu lari sekencang mungkin keluar dari pintu utama. Mengerti?"
"Mengerti!" Keana mengangguk pasti.
"1…2…3.....LARI!!" Keduanya langsung lari sekencang mungkin keluar dari rumah. Bersamaan dengan itu Elvan baru saja keluar dari dapur dengan memegang secangkir kopi dan melihat keduanya berlari.
"HEH.... BERHENTI KALIAN!!" peringatan Elvan.
Gavin dan Keana tidak memperdulikannya dan malah menambah kecepatan larinya melewati gerbang rumah.
"Huff…huff…huff" keduanya tampak ngos-ngosan.
"Untung aja, kita cepat" seru Keana saat mereka sudah cukup jauh dari rumah dan sedang berdiri di pinggir jalan.
"Sekarang, kita mau ke mana?" tanya Keana.
"Ke taman komplek perumahan aja, yuk!"
"Yaudah, ayuk" Keana setuju. Alhasil keduanya pergi ke taman komplek perumahan.
Sementara di rumah, Elvan masih berdiri di depan teras menatap keluar gerbang.
"Mereka itu benar-benar. Pantas saja Keana sangat nakal ternyata Gavin yang mengajarinya"