"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Panggilan Kekaisaran
"Kaisar tahu eksistensiku, Ayah? Bagaimana bisa?"
Suara Anna bergetar saat ia membaca proyeksi tulisan bercahaya emas yang mengambang di tengah ruangan jahitnya. Elang mekanik perak di ambang jendela berdengung pelan, sebelum akhirnya melipat sayapnya dan berubah menjadi patung logam mati. Di hadapannya, Paul menatap gulungan perkamen hitam itu dengan rahang yang mengeras, sementara Marry langsung terduduk lemas di kursi kayu.
"Ini bukan sekadar perintah menjahit, Anna," ucap Paul dengan nada bariton yang teramat berat, ingatan tentang tekanan terselubung Panglima Aethan semalam masih terngiang jelas di kepalanya.
'Dan aku tahu persis kalau dia bukan anakmu dengan istrimu itu.'
Paul mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan suara sangat lirih. "Aethan ... pria itu benar. Istana Kekaisaran telah mengendus sesuatu. Kita tidak memiliki kekuatan untuk menolak titah ini."
Tiga hari persiapan berlalu seperti kedipan mata. Di pagi hari keberangkatan, Solmara diselimuti kabut tipis musim gugur yang dingin. Gerbang batas wilayah militer telah dipenuhi oleh barisan ksatria berbaju zirah kelabu.
"Nona yang manis, sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa," sebuah suara bariton yang halus namun sarat akan intrik menyapa indra pendengaran Anna.
Ksatria Gideon melangkah maju dari samping kereta kuda mewahnya yang berlambang singa emas. Dengan senyum tipis yang memikat khas bangsawan tinggi Ibukota, Gideon membungkuk hormat, mencoba meraih jemari Anna. "Perjalanan menuju Ibukota sangat panjang dan melelahkan bagi seorang gadis seperti anda. Kereta kudaku memiliki penghangat sihir terbaik dari distrik atas. Maukah Anda menerima kehormatan untuk berkendara bersamaku?"
Paul yang berdiri di samping Anna bersiap melangkah maju, tangannya secara refleks bergerak menuju pangkal kapak besar di punggungnya. Namun, sebelum ada yang sempat merespons, sebuah tekanan Mana yang luar biasa masif dan dingin mendadak jatuh dari langit, membuat kuda-kuda ras murni milik Gideon meringking ketakutan.
TAP. TAP. TAP.
Langkah kaki tegap berbalut zirah baja hitam legam terdengar beritme. Aethan Cassian Solaris berjalan membelah barisan ksatria dengan jubah militer yang berkibar penuh angkuhan. Sepasang mata peraknya menatap Gideon dengan kilatan sedingin es wilayah utara, sebuah tatapan penuh otoritas tersembunyi dari seorang Pangeran asli yang muak melihat anjing istana mencoba menyentuh miliknya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyapa Gideon, Aethan langsung mengulurkan tangan besarnya, mencengkeram pinggang ramping Anna dengan gerakan yang protektif namun teramat posesif. Di depan tatapan tertegun Gideon, para ksatria, dan warga Solmara yang menyaksikan, Aethan menarik tubuh Anna menjauh dan menuntunnya langsung masuk ke dalam Kereta Militer Hitam Pribadinya.
"Berangkat," titah Aethan cepat pada kusir, sebelum pintu kereta tertutup rapat dengan dentuman keras, meninggalkan Gideon yang berdiri mematung dengan rahang mengeras di luar.
Di dalam kereta yang bergerak cepat, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat intim. Ruangan kereta militer milik Aethan itu cukup sempit, didominasi oleh aroma maskulin mask dan kayu cedar yang kuat. Hanya ada Anna, Aethan, dan Mimi yang bersembunyi di dalam keranjang rajut, menyembulkan kepala putihnya dengan tatapan bermusuhan ke arah sang Panglima.
Aethan melepas pelindung kepalanya, menyandarkan tubuh raksasanya di kursi beludru hitam. Gurat kelelahan yang luar biasa tercetak jelas di wajah tampannya yang sekeras pualam, beban memikirkan taktik politik Istana dan kutukan hitam yang terus menggerogoti dadanya membuat energinya terkuras.
Tanpa peringatan, Aethan menggeser tubuhnya mendekat, lalu merebahkan kepala beratnya tepat di atas pangkuan Anna.
"T-Tuan Panglima?" Anna tersentak, tubuhnya menegang sempurna. Jantungnya berdegup begitu kencang, memori tentang ciuman pertama mereka di studio jahit malam itu mendadak berputar kembali di kepalanya, membakar kedua pipinya hingga merona merah.
"Diamlah, Anna. Biarkan aku meminjam ketenanganmu sebentar saja," bisik Aethan parau, matanya terpejam erat saat merasakan luapan Mana pemurni dari tubuh Anna perlahan meredakan denyut menyakitkan di dadanya.
Anna menahan napas, jemarinya yang gemetar perlahan bergerak ragu, sebelum akhirnya secara tidak sadar mengusap lembut helaian rambut hitam legam sang Panglima. Mimi dari dalam keranjang mendesis pelan, namun tidak berani bergerak karena tekanan aura Aethan yang terlalu dominan.
"Ibukota adalah sarang ular yang sesungguhnya, Anna," ucap Aethan tiba-tiba, suaranya terdengar berat dan sarat akan misteri yang kelam. "Kaisar tua itu tidak memanggilmu karena tertarik pada kain atau butikmu. Dia memanggilmu untuk menguji seberapa jauh aku akan bergerak untuk melindungimu. Tetaplah berada di belakang punggungku, mengerti?"
Anna menatap wajah Aethan yang terpejam di pangkuannya, merasakan seolah ada badai besar yang siap menghantam mereka berdua di ujung jalan.
Tiga hari perjalanan berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Tepat ketika roda kereta besi itu menginjak jalanan batu di depan gerbang emas raksasa Ibukota Kekaisaran, sebuah guncangan hebat membuat kereta mendadak berhenti secara paksa. Suara pekikan kuda dan denting senjata terdengar saling bersahutan di luar.
"Perintah dari Takhta Suci! Hentikan kereta Panglima Tertinggi!"
Pintu kereta militer itu tiba-tiba ditarik buka dari luar dengan kasar. Belasan ksatria mengenakan jubah putih perak berlambang hukum agung, Ksatria Hukum Istana yang merupakan faksi musuh bebuyutan Aethan, telah mengepung kereta mereka dengan tombak terhunus.
Seorang komandan ksatria maju, menatap langsung ke dalam kereta dengan pandangan merendahkan. "Tuan Panglima Aethan, atas perintah langsung dari Permaisuri dan Dewan Tetua, rakyat jelata misterius yang Anda bawa dari Solmara harus dipisahkan terlebih dahulu. Nona wajib dibawa ke Paviliun Penguji untuk menjalani interogasi suci sekarang juga!"
lanjut yaaaaa