NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Bayangan yang Mengintai

Malam itu, hujan turun deras di Kota Qingyun, seolah-olah langit sedang membersihkan sisa-sisa kekacauan hari ini. Namun, bagi Lin Fan, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

Lin Hu telah kehilangan sebagian besar kekayaannya dan statusnya sebagai calon pewaris cabang. Rasa malu dan kemarahannya pasti akan mencari saluran pelampiasan. Dan siapa target paling mudah? Lin Fan, sampah yang menurut Lin Hu adalah sumber segala malapetaka.

Lin Fan duduk di gubuknya, mendengarkan suara hujan menghantam atap genteng yang bocor. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah pil kecil berwarna abu-abu—sisa dari pil Penyamaran Qi yang ia gunakan tadi siang. Pil itu efektif, tapi memiliki efek samping: rasa pusing ringan dan penurunan sementara sensitivitas indera. Ia harus membuat versi yang lebih stabil jika ingin menggunakannya lagi di masa depan.

Tiba-tiba, ada ketukan halus di dinding belakang gubuknya. Bukan pintu depan, melainkan dinding belakang yang menghadap ke semak-semak liar.

Lin Fan waspada. Ia mematikan lampu minyaknya, menyelimuti dirinya dalam kegelapan total. Dengan Teknik Napas Besi, ia mengalirkan Qi ke telinganya, meningkatkan pendengarannya.

"Lin Fan," bisik suara familiar dari luar. Itu Lin Yue.

Lin Fan membuka jendela kecil di belakang, memungkinkan Lin Yue masuk dengan cepat. Gadis itu basah kuyup, wajahnya pucat, dan matanya penuh ketakutan.

"Apa yang terjadi?" tanya Lin Fan, menutup jendela kembali.

"Lin Hu," napas Lin Yue tersengal. "Dia... dia tidak menerima hukumannya. Aku mendengar percakapannya dengan beberapa preman bayaran di pasar gelap sore tadi. Dia menawarkan 500 Batu Spirit—sisa hartanya yang terakhir—untuk 'mengajarimu pelajaran' malam ini. Dia bilang... dia bilang dia akan membuatmu hilang selamanya, dan menyalahkan penculikan itu pada bandit jalanan."

Lin Fan mengerutkan kening. 500 Batu Spirit untuk membunuh seorang pelayan? Lin Hu sudah putus asa. Atau mungkin, dia merasa bahwa menghilangkan Lin Fan akan mengembalikan harga dirinya di mata para pengikutnya.

"Kapan?" tanya Lin Fan tenang.

"Malam ini. Tepat setelah jam jaga malam berganti, sekitar tengah malam. Mereka akan menyergapmu di jalan menuju asrama pelayan tua, tempat kamu biasanya lewat pulang dari tugas tambahan."

Lin Fan tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya. "Terima kasih atas informasinya, Lin Yue. Pulanglah. Jangan terlibat. Jika Lin Hu bertanya, katakan kau tidak tahu apa-apa."

"Tapi..." Lin Yue ragu. "Mereka banyak. Setidaknya lima orang. Semuanya kultivator Tahap Qi Level 2 atau 3. Kau sendirian."

"Aku tidak sendirian," kata Lin Fan, menatap tinjunya sendiri. "Aku punya persiapan."

Lin Yue menatapnya sejenak, lalu mengangguk berat hati sebelum menghilang ke dalam hujan.

Lin Fan menunggu hingga Lin Yue pergi jauh. Kemudian, ia bangkit. Ia tidak berniat lari. Lari hanya akan membuatnya menjadi buronan seumur hidup. Dia harus menyelesaikan masalah ini di sini dan sekarang. Dengan cara yang membuat Lin Hu tidak bisa menyangkal keterlibatannya, namun juga tidak bisa membuktikan apapun.

Ia mengambil tas kecil dari bawah tikarnya. Isinya: bubuk kapur, beberapa jarum beracun (buatan Lin Yue), dan sebuah tali tipis yang kuat.

Lin Fan keluar dari gubuknya, bukan menuju asrama, melainkan menuju jalur alternatif yang lebih gelap dan sempit—gang belakang dekat dapur umum. Jalur ini jarang digunakan karena baunya yang tidak sedap, tapi sempurna untuk penyergapan.

Ia memanjat atap gudang kayu tua yang menghadap ke gang tersebut. Dari sana, ia memiliki pandangan jelas ke jalan sempit di bawah. Hujan deras membantu menyamarkan suaranya dan menghapus jejak kakinya.

Pukul dua belas malam.

Lima sosok berbaju hitam muncul dari kegelapan ujung gang. Mereka bergerak hati-hati, tangan mereka memegang senjata tumpul—pentungan besi dan pisau pendek. Di tengah mereka, berjalan dengan payung besar, adalah Lin Hu. Wajahnya tertutup tudung, tapi langkah kakinya yang angkuh mudah dikenali.

"Pastikan dia mati," bisik Lin Hu pada pemimpin kelompok itu, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di wajah. "Jangan tinggalkan bukti. Buat itu terlihat seperti perampokan yang gagal."

Pemimpin itu mengangguk. "Tenang saja, Tuan Muda. Si sampah itu tidak akan sempat berteriak."

Mereka berhenti di tengah gang, menunggu korban yang tidak akan pernah datang dari arah depan.

Lin Fan, yang berada di atas atap tepat di atas mereka, tersenyum. Ia mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke arah ujung gang lain, menciptakan suara langkah kaki yang samar.

Kelima pembunuh itu langsung menoleh. "Di sana!"

Mereka berlari ke arah suara, meninggalkan Lin Hu sendirian di tengah gang, dilindungi oleh kegelapan dan hujan.

Itu saatnya.

Lin Fan melompat dari atap. Tidak dengan suara keras, tapi mendarat dengan lembut di belakang Lin Hu, seperti kucing hutan.

Sebelum Lin Hu bisa menyadari kehadiran seseorang di belakangnya, Lin Fan sudah menempelkan pisau kecilnya ke leher Lin Hu. Pisau itu dingin, tajam, dan menekan arteri karotis.

"Jangan bergerak," bisik Lin Fan tepat di telinga Lin Hu. Suaranya rendah, dingin, dan mematikan.

Lin Hu membeku. Darahnya serasa membeku. "Si... siapa kau?"

"Orang yang kau bayar untuk dibunuh," jawab Lin Fan.

Lin Hu gemetar hebat. "Lin... Lin Fan? Bagaimana kau...?"

"Aku tahu segalanya, Lin Hu. Aku tahu kau membayar pembunuh bayaran. Aku tahu kau mencoba menjebakku. Dan aku tahu bahwa jika aku mati malam ini, Ayahku—jika dia masih hidup—akan mengetahui siapa dalangnya."

Itu bohong. Ayah Lin Fan sudah hilang bertahun-tahun. Tapi Lin Hu tidak tahu itu. Ketakutan akan figur otoritas ayah Lin Fan yang dulu disegani masih tertanam di benaknya.

"Apa... apa yang kau inginkan?" tanya Lin Hu, suaranya bergetar. "Uang? Aku bisa memberimu uang!"

"Aku tidak butuh uangmu yang kotor," kata Lin Fan. "Aku butuh janji."

"Janji?"

"Mulai hari ini, kau akan berhenti menggangguku. Kau akan mengakui di depan Kepala Klan bahwa insiden Lembah Hitam adalah kesalahan intelijenmu sendiri, bukan sabotase dari pihak manapun. Dan kau akan memberikan akses ke Gudang Obat Keluarga Cabangmu padaku setiap bulan. Sebagai 'ganti rugi' atas stres yang kau sebabkan."

Lin Hu terbelalak. "Gudang Obat? Itu harta keluarga! Aku tidak bisa—"

Pisau di lehernya menekan lebih dalam, mengeluarkan setetes darah.

"Kau bisa," potong Lin Fan. "Atau aku bisa meneriakkan namamu sekarang. Lima pembunuhmu sudah pergi mengejar hantu. Tidak ada saksi. Hanya aku dan kau. Dan siapa yang akan percaya pada kata-kata 'pelayan sampah' yang diserang oleh 'Tuan Muda yang mulia'? Atau... apakah kau lebih takut jika aku menceritakan detail pembayaran 500 Batu Spirit itu kepada Elder Hukum Clan Lin?"

Lin Hu berkeringat dingin, meskipun cuaca hujan. Dia terjebak. Jika dia menolak, Lin Fan bisa saja membunuhnya di sini dan menyembunyikan mayatnya, atau lebih buruk lagi, melaporkan transaksi ilegalnya. Transaksi dengan pembunuh bayaran adalah kejahatan berat di Clan Lin.

"Baik... baik!" desis Lin Hu. "Aku setuju! Lepaskan aku!"

Lin Fan menarik pisau itu sedikit, tapi tetap waspada. "Buktikan itumu. Berikan aku kunci akses Gudang Obat Cabang Timur besok pagi. Letakkan di bawah batu loncatan di taman belakang. Jika kunci itu tidak ada, atau jika jebakan dipasang... aku akan memastikan seluruh kota tahu siapa dalang di balik serangan gagal malam ini."

Lin Hu mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi. "Aku... aku akan melakukannya."

"Pergi," perintah Lin Fan. "Dan jangan coba-coba melaporkanku. Ingat, aku ada di mana-mana."

Lin Hu tidak perlu disuruh dua kali. Ia lari terbirit-birit keluar dari gang, meninggalkan payungnya yang terhempas angin.

Lin Fan berdiri sendirian di tengah hujan. Ia melihat ke arah kelima pembunuh yang kini kembali, tampak bingung karena tidak menemukan korban.

"Hei! Tuan Muda Lin Hu mana?" tanya pemimpin pembunuh itu, melihat Lin Fan berdiri di sana.

Lin Fan tersenyum, mengangkat tangannya yang masih memegang pisau kecil. "Dia sudah pergi. Dia bilang transaksi dibatalkan. Dan dia bilang... kalian harus pergi sebelum penjaga datang."

Para pembunuh itu saling pandang. Mereka dibayar di muka, tapi setengahnya lagi akan diberikan setelah konfirmasi kematian. Jika Lin Hu kabur, mereka tidak akan mendapatkan sisa bayarannya.

"Sialan!" umpat pemimpin itu. "Ayo pergi! Tempat ini terlalu panas!"

Mereka pun bubar, menghilang ke dalam kegelapan kota.

Lin Fan menghela napas lega. Adrenalinnya mulai surut, digantikan oleh kelelahan. Tapi hatinya ringan.

Dia tidak hanya selamat. Dia telah mengubah predator menjadi mangsa. Lin Hu sekarang berada di bawah kendalinya. Akses ke Gudang Obat Cabang berarti sumber bahan alkimia tanpa batas. Ini akan mempercepat kultivasinya jauh lebih cepat daripada sekadar mencuri dari Clan Yan.

Lin Fan memungut payung Lin Hu yang tertinggal. Payung sutra merah muda yang mahal. Ia tersenyum sinis.

"Hadiah pertama," gumamnya.

Ia berjalan pulang ke gubuknya, langkahnya ringan di tengah hujan. Malam ini, dia belajar pelajaran penting: Dalam dunia kultivasi, kekuatan fisik itu penting, tapi informasi dan psikologi adalah senjata yang jauh lebih mematikan.

Dan Lin Fan baru saja menguasai keduanya.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!