NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:81k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24. Sampai tetes terakhir

Ubay mematikan mesin RX-King-nya, membiarkan standar motor terketuk ke aspal dengan bunyi klontang yang keras. Ia melangkah mendekati gerobak bakso yang beraroma gurih kaldu itu sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang mulai kaku karena terpaan angin malam.

"Bungkus kalau gitu ya, Pak. Bakso uratnya dipotong besar, kuahnya dibanyakin, sambalnya dipisah saja," ucap Ubay sembari mendudukkan diri di bangku plastik panjang di dekat gerobak.

Penjual bakso itu, seorang pria paruh baya bertopi lusuh bernama Pak min, langsung cekatan membuka tutup panci besar yang mengepulkan uap panas. "Siap, Mas. Untung bener sampeyan datang pas saya baru mau beberes. Ini sisa satu porsi terakhir, pas banget rezeki sampeyan."

Pak Min mulai memasukkan mie kuning, bihun, dan potongan seledri ke dalam plastik tebal. Sembari menjepit bakso urat dengan capitan besi, mata tuanya melirik ke arah Ubay. Ia memperhatikan jaket kaos metal Ubay yang agak tipis dan wajahnya yang kelihatan sisa-sisa orang bangun tidur.

"Tapi yo kok tumben bener, Mas... malam-malam buta jam dua belas lewat begini kok malah nyari bakso bungkus?" tanya Pak Min sembari terkekeh pelan, tangannya menuangkan kuah kaldu yang mendidih dengan gayung seng. "Biasanya anak-anak muda jam segini kalau ndak nongkrong di warkop ya sudah selimutan, toh?"

Ubay agak kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mencari alasan yang pas agar tidak kelihatan kentara sekali kalau dia sedang diperbudak oleh keinginan ngidam istrinya.

"Eh... itu, Pak. Buat orang di rumah," jawab Ubay lempeng, berusaha menjaga nada suaranya se-normal mungkin. "Kebetulan saya baru bangun tidur, terus lapar. Pas lihat orang rumah juga belum tidur dan katanya pengen yang hangat-hangat, ya sudah saya sekalian keluar nyari."

Pak Min menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengikat karet plastik bakso. Ia menatap Ubay lurus-lurus, lalu senyumnya melebar penuh arti, memperlihatkan deretan giginya yang sudah tidak lengkap.

"Halah, Mas... jangan bohong sama saya toh," celetuk Pak Min sambil menggeleng-gelengkan kepala, nadanya terdengar sangat yakin. "Saya ini jualan bakso keliling sudah dua puluh tahun lebih. Potongan wajah sampeyan itu ndak bisa nipu."

Ubay mengernyitkan dahi. "Nipu gimana maksudnya, Pak?"

"Wajah sampeyan itu bukan wajah orang lapar yang kepengin makan bakso," sahut Pak Min sembari memasukkan bungkusan bakso dan sambal ke dalam kantong kresek warna biru. "Wajah sampeyan itu wajah pasrah. Wajah suami siaga yang terpaksa kelayapan tengah malam karena istrinya lagi ngidam, bener toh?"

Deg.

Ubay langsung terdiam, lidahnya mendadak kelu. Otak jalanannya yang biasanya cepat membalas omongan orang kini mati kutu di depan seorang penjual bakso.

"Lho, kok malah bengong? Bener kan tebakan saya?" goda Pak Min lagi, menyerahkan kantong kresek itu kepada Ubay. "Ciri-cirinya itu sama semua, Mas. Datangnya tengah malam, wajahnya setengah ngantuk tapi buru-buru, terus pesannya sambal dipisah dan kuah dibanyakin. Biasanya mbak-mbak yang lagi hamil muda itu rewelnya di kuah sama rasa hangatnya."

Ubay akhirnya tidak bisa menahan senyum kecutnya. Ia menerima bungkusan itu lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan.

"Bapak ini jalannya jualan bakso, tapi kok pinter kayak dukun ramal," gumam Ubay pasrah, mengakui kekalahannya dalam bersandiwara.

Pak Min tertawa ngakak, suara tawanya memecah kesunyian malam. "Yo bukan dukun, Mas! Pengalaman! Dulu waktu istri saya hamil anak pertama, saya pernah disuruh nyari rujak bebek jam dua subuh. Rasanya mau nangis jalan kaki muter-muter. Jadi saya paham bener gimana rasanya posisi sampeyan sekarang."

Pak Min menepuk pundak Ubay dengan ramah saat menerima uang kembalian. "Wis, ndang digawa mulih, Mas. Kasihan istrinya nungguin di rumah. Dinikmati saja repotnya, itu tandanya sampeyan suami yang bertanggung jawab. Besok-besok kalau bayinya lahir, repotnya ini bakal jadi cerita lucu."

"Iya, Pak. Makasih," jawab Ubay pendek.

Ia segera memakai helmnya kembali dan menyalakan mesin RX-King. Di sepanjang jalan pulang menembus sisa angin malam, kata-kata Pak Min tentang "suami bertanggung jawab" terus berdengung di telinganya, membuat hati sang preman jalanan itu bergetar aneh. Sebuah rasa bangga yang samar, walau status suami itu hanyalah sebuah sandiwara pelindung.

**

Breeem... cklek.

Suara mesin RX-King dimatikan di halaman samping. Tak lama kemudian, pintu depan rumah tua itu terbuka perlahan. Ubay melangkah masuk sambil menjinjing kantong kresek biru yang masih mengeluarkan uap hangat beraroma gurih kaldu.

Di dalam ruang tengah yang remang, Nadia ternyata masih duduk setia di atas sofa kayu. Ia masih mengenakan jaket rajut tebalnya, memeluk lutut dengan raut wajah yang campur aduk antara cemas, tidak enak hati, dan lapar.

Begitu melihat Ubay datang, Nadia langsung berdiri dengan kikuk. "M-Mas Ubay... sudah kembali?" bisiknya lirih.

Ubay meletakkan bungkusan bakso itu di atas meja makan. "Nih, dapet. Porsi terakhir, untung tukangnya belum tutup."

Nadia melangkah mendekati meja, matanya menatap kresek biru itu dengan binar yang tidak bisa disembunyikan. Namun, rasa segan kembali menyerangnya. "Mas Ubay... maaf sekali ya. Saya bener-bener sudah merepotkan Mas Ubay tengah malam begini. Harusnya saya bisa tahan sampai besok pagi..."

Ubay tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Nadia. Pandangan mata gadis itu terus bergerak melirik ke arah bungkusan bakso, dan Ubay bisa melihat dengan jelas bagaimana bibir manis Nadia bergerak-gerak kecil, refleks menelan ludahnya berkali-kali karena aroma kuah kaldu yang begitu menggoda indra penciumannya.

Melihat tingkah Nadia yang antara gengsi, sungkan, tapi sudah sangat kelaparan seperti anak kecil, Ubay menahan senyum. Di balik tampang sangarnya, ia merasa lucu melihat kepolosan istrinya malam ini.

"Sudah, gak usah terus minta maaf," potong Ubay lempeng, berjalan ke dapur untuk mengambil mangkok, sendok, dan garpu. "Ya sudah, makan aja sekarang. Keburu kuahnya dingin gak enak."

"Iya, Mas..." jawab Nadia pelan, langsung menerima mangkok yang diulurkan Ubay.

Nadia mulai menuangkan bakso urat besar itu ke dalam mangkok. Setelah menambahkan sedikit kecap, ia bersiap mengangkat mangkok tersebut. "Kalau begitu... saya bawa makan di paviliun belakang ya, Mas?"

"Eh, gk usah," larang Ubay cepat, menepuk kursi kayu di dekat meja makan. "Udah, makan aja disini. Gak usah bolak-balik ke belakang dingin. Gue temenin lu makan di sini."

Nadia tertegun sejenak, wajahnya seketika merona merah muda karena malu. Namun, ia tidak berani membantah dan akhirnya duduk di kursi kayu tersebut. Ubay sendiri menarik kursi di seberangnya, duduk santai sambil bersandar dan memperhatikan Nadia.

Awalnya, Nadia makan dengan sangat malu-malu. Ia memotong bakso urat itu menjadi bagian kecil menggunakan sendok, mengunyahnya pelan dengan kepala tertunduk, sesekali melirik Ubay yang terus memperhatikannya.

Namun, karena rasa lapar dan bawaan ngidam bayi di rahimnya yang sudah tidak bisa berkompromi, pertahanan jaim Nadia runtuh juga. Suapan demi suapan mengalir semakin cepat. Kuah bakso yang hangat, gurih, dan sedikit pedas itu rasanya seperti berkah luar biasa di tengah malam yang dingin.

Sreeet... sreeet...

Ubay hanya diam memperhatikan dalam keheningan malam. Ia melihat bagaimana lahapnya Nadia menghabiskan makanan itu. Sampai akhirnya, Nadia mengangkat mangkok kayu itu dengan kedua tangannya, menghirup sisa kuah kaldu terakhir hingga bersih tak tersisa.

Tuk.

Nadia menurunkan mangkok kosong itu ke meja, lalu menghembuskan napas panjang dengan wajah yang tampak sangat puas dan lega. Begitu ia sadar Ubay sedang menatap mangkoknya yang bersih mengkilap sampai tetes terakhir, wajah Nadia langsung merah padam sampai ke leher.

"A-Astagfirullah... bersih banget ya, Mas," bisik Nadia panik, buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan tisu karena malu ketahuan makan dengan sangat rakus. "Maaf, Mas... saya beneran lapar banget ternyata."

Melihat mangkok yang kosong melompong itu, Ubay tidak marah. Sebaliknya, sebuah kepuasan batin yang asing mendadak membuncah di dada sang preman jalanan. Rasa lelah, dinginnya angin malam di atas aspal, hingga kekesalannya pada Axel tadi di jalanan, seketika menguap begitu saja. Malam ini, perjuangannya menembus malam mencari bakso terasa sama sekali tidak sia-sia melihat senyum lega dan perut kenyang istrinya.

Ubay berdiri dari kursinya, menggeser mangkok kosong dari depan Nadia. "Bagus kalau habis. Berarti anak di dalam perut lu gak ngambek lagi. Ya sudah, taruh aja mangkoknya di wastafel, biar besok pagi dicuci. Sekarang lu balik ke paviliun, langsung tidur."

Nadia berdiri, menatap punggung tegap Ubay dengan rasa hormat dan haru yang semakin mendalam. "Iya, Mas Ubay. Selamat istirahat... terima kasih banyak buat baksonya."

Nadia melangkah kembali ke paviliun belakang dengan hati yang menghangat, sementara Ubay berjalan ke kamarnya sendiri dengan langkah ringan, menyadari bahwa peran sebagai pelindung ini perlahan-lahan mulai terasa nyata di hidupnya.

***

1
tati st🌼🌼
se exel bener2 susah di kasih nasehat atah pendapat
sutiasih kasih
abian lahir dri perempuan miskin ny sarah.....
ingetttt... kta"mu.... org miskin itu aib...
Safitri Agus
membaca novel ini harus sabar, menunggu saat-saat bom akan meledak di keluarga Pramoedya, kasihan Rika, nalurinya sebagai ibu juga mulai tumbuh seiring dgn yg ada di rahimnya,so emosional alias baper
Safitri Agus
tanggung jawab lu xel,
zufri zhoopye
jadi sedih aku Sampek mewek .tuh kan naluri keibuan mu muncul rika.pasti nyesel kalau setelah lahiran kelak km GK bisa gendong tuh baby
Nolis Karmini
penyesalan yg terlambat... tapi itu lebih baik daripada tidak menyesal sama sekali
yuli mamah
Rika dan Sarah sama sama ngenes🥹
Enisensi klara
Kok aku mikir mendingan Rika nikah sama Bryan aja yg lebih punya hati nurani 😓
partini
nanti baby dah lahir jauh dari Rika apa dia stress Secara lihat baby yg 9 bulan di dalam perutnya
masih segel si Laras hari gini oprasi biar perawan lagi aja banyak ko operasi selaput
Mutiara Anggraini
sedih jadi Rika... sebenarnya Rika baik cuma sifat biar terlihat ga mau kalahnya aja yg minus...
kalau ga baik ga mungkin Rasya mau jalanin 5 tahun sama Rika,dan Rika juga ga selingkuh dari Rasya....
semoga Rika dapat yang terbaik ya Mak rie kasian Rika,disebelah dia emang antagonis disini jangan dibikin merana lagi ya 🤪🤪
Enisensi klara: ya kasihan Rika dia setia tapi sifatnya aja yg minus ,tapi kasihan kalo dibuat ngenes 😓
total 1 replies
Amy Ibrahim
trimaksih othor. sehat slalu ya.
Hartini Safa
nah kan bener pasti mamanya axel iri krn semua udah bs nyentuh abian sedangkan dia belum... mksh kak rie up nya...
Enisensi klara
Sabar ya Bu Sarah ntar biar alam semesta yg mempertemukan mu dgn Abian 🤣🤣🤣jika alam gak merestui ya sabar 🤣🤣
S.R ciplux
yg nikah sama rika bryan apa axel ya
imung murjiyanti: kita tunggu sabar ya mbak smg aja bryan dia lebih waras drpd exel blm lagi nanti menghadspi sarah yg sewiyah2 dg orang di bwhnya 🙏
total 1 replies
Enisensi klara
Nah ..Sarah cemburu lihat Axel ada foto sama Abian dia blm ada 🤣🤣🤣
Enisensi klara
Ya...Tuhan 😭😭😭😭😭kasihan Rika mulai baper dgn kandungan nya dan mulai sayang sama janin nya tapi ga boleh terjadi karena itu milik Axel ,tapi naluri keibuan nnya muncul 😭
Enisensi klara
Betul itu kata Bryan mendingan nikahin aja Rika ,kasihan dia dicampakkan setelah lahiran kembali ke keluarga nya dan nanti jadi omongan tetangga dan orang2 masa depannya dimana 😓
Anna Annawaliana
bryan ada benarnya juga Axel kasian Rika
Enisensi klara
Ya..itulah nasib Rika ngenes lima tahun pacaran kemudian putus padahal udah tunangan ,semua karena sifat Rika sendiri yg gak bisa jaga lisannya 😏tapi kalo skr malahan kebalik hidup Rika kasihan karena ketemu Axel 😓
Enisensi klara
kalo kamu masih punya hati Axel nikahi Rika kasihan dia 😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!