NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana di area perkemahan sudah berubah menjadi sangat sunyi, hanya sesekali terdengar suara jangkrik dari semak-semak dan hembusan angin malam yang berdesir lembut melewati pepohonan. Semua anggota keluarga sudah masuk ke dalam tenda masing-masing dan terlelap dalam tidur setelah lelah beraktivitas seharian. Hanya suara nyanyian alam yang menemani kegelapan malam itu.

Di dalam tenda tempat Alena beristirahat, gadis itu masih terjaga. Matanya terpejam berulang kali, namun pikirannya terus melayang ke mana-mana sehingga ia sulit sekali memejamkan mata sepenuhnya. Rasa nyeri di pergelangan kakinya sudah jauh berkurang, namun rasa penasaran dan perasaan hangat yang muncul sepanjang hari ini membuat hatinya terasa berdebar kencang dan tidak tenang. Ingatan tentang bagaimana Elio menggendongnya dengan lembut, tatapan perhatiannya, hingga senyumnya yang jarang terlihat itu terus terputar di kepalanya seperti film yang tak berhenti.

Akhirnya, Alena memutuskan untuk keluar sejenak mencari udara segar. Ia bergerak perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkan orang tua yang tidur di sampingnya. Dengan satu kaki yang masih agak tertatih, ia melangkah keluar dari pintu tenda, lalu berjalan menuju sebatang pohon besar yang sudah tumbang dan kering, berfungsi sebagai tempat duduk alami yang nyaman menghadap ke arah lembah.

Begitu duduk, Alena langsung mengangkat wajahnya menatap langit malam yang terbentang luas di atas sana. Matanya terbelalak takjub. Langit malam di puncak bukit ini jauh berbeda dari langit di kota yang sering tertutup asap dan cahaya lampu. Di sini, ribuan bintang berkelap-kelip terang bagaikan butiran berlian yang tersebar di atas kain beludru hitam, membentuk gugusan yang indah. Cahaya samar dari bulan sabit menambah keindahan pemandangan itu, membuat suasana terasa begitu tenang, damai, dan penuh keajaiban.

“Indah sekali…” gumam Alena pelan, suaranya hampir tertelan oleh hembusan angin.

Ia memeluk kedua lututnya, merasakan udara malam yang semakin terasa dingin menusuk kulit. Namun, rasa dingin itu terasa menyegarkan, seolah mampu menenangkan gejolak perasaan yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

Belum lama ia menikmati ketenangan itu, dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang pelan namun jelas mendekat. Alena menoleh dan mendapati sosok Elio yang berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Laki-laki itu mengenakan jaket tebal, dan di tangannya tergenggam selembar selimut lembut.

“Kenapa kamu keluar sendirian? Kakimu masih sakit, jangan banyak bergerak dulu,” tegur Elio dengan nada lembut, bukan nada marah seperti biasanya.

Alena sedikit terkejut, namun segera tersenyum tipis melihat kedatangannya. “Aku tidak bisa tidur. Suasananya terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan memejamkan mata. Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

Elio mendekat dan duduk di samping Alena, menjaga jarak sedikit namun tetap terasa dekat. “Sama sepertimu. Rasanya sulit memejamkan mata. Mungkin karena udaranya terlalu sejuk, atau mungkin karena ada hal-hal yang membuat pikiran tidak tenang.”

Tanpa berkata banyak lagi, Elio membentangkan selimut yang dibawanya, lalu dengan lembut menyelimutkan ujungnya di atas bahu Alena yang mulai terasa menggigil kedinginan. Sentuhan tangannya yang singkat itu membuat tubuh Alena sedikit menegang, namun segera terasa nyaman dan hangat menyelimuti tubuhnya.

“Terima kasih,” ujar Alena lirih, menatap wajah Elio yang terlihat lebih tenang dan teduh di bawah cahaya remang bulan dan bintang.

Mereka pun duduk berdampingan, menikmati keheningan malam yang indah itu. Tidak ada percakapan yang mendesak, hanya obrolan ringan dan acak yang mengalir begitu saja seiring waktu. Mereka bercerita tentang masa kecil masing-masing, tentang hal-hal yang mereka sukai, kesukaan yang sama, hingga kebiasaan aneh yang selama ini tidak diketahui satu sama lain.

“Jadi, selama ini kamu tidak menyukaiku bukan hanya karena kita sering bersaing, tapi juga karena kamu mengira aku orang yang sombong dan tidak punya rasa hormat pada orang lain?” tanya Elio sambil tersenyum miring, memecah keheningan setelah mendengar penjelasan Alena.

Alena mengangguk jujur, lalu tertawa kecil. “Memang begitulah kesan pertamamu. Ingat hari pertama masuk sekolah? Kamu sengaja membiarkan bukuku berserakan dan pergi begitu saja tanpa menolong. Siapa yang tidak kesal?”

Elio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat sedikit malu. “Maaf soal itu. Sebenarnya aku juga kaget dan canggung saat itu. Aku tidak bermaksud jahat, tapi cara bicaraku memang buruk. Dan saat kamu membalas dengan ketus, aku malah merasa tertantang untuk terus mengganggumu. Seolah-olah itu cara untuk menarik perhatianmu.”

Mendengar pengakuan jujur itu, hati Alena terasa berdebar kencang. Ia menoleh menatap mata Elio, dan kali ini tatapan mereka tidak lagi terpisah atau saling menantang. Tatapan itu terasa dalam, lembut, dan penuh makna yang sulit diucapkan dengan kata-kata.

Angin malam berhembus lebih kencang sesaat, membuat rambut Alena beterbangan. Elio mengangkat tangannya perlahan, lalu menyisir helai rambut yang menutupi wajah gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perhatian. Jari-jarinya menyentuh kulit pipi Alena sebentar, membuat keduanya merasakan aliran listrik hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

“Alena…” panggil Elio dengan suara yang terdengar lebih berat dan rendah dari biasanya. “Selama satu bulan ini, aku sadar ada yang berubah. Awalnya aku pikir ini hanya paksaan, tapi setiap hari bersamamu… rasanya justru menjadi hal yang paling aku nantikan. Aku tidak lagi melihatmu sebagai musuh, tapi sebagai seseorang yang membuat hari-hariku terasa lebih berwarna.”

Jantung Alena berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia menatap wajah Elio yang semakin mendekat, jarak di antara wajah mereka perlahan menyempit hingga hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Napas mereka saling berhembus, terasa hangat dan teratur.

“Elio…” bisik Alena, suaranya terguncang karena rasa gugup dan haru.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Elio mendekatkan wajahnya perlahan, lalu mendaratkan bibirnya dengan lembut di atas bibir Alena. Berbeda dengan kecelakaan di lampu merah yang terjadi secara tiba-tiba dan singkat, ciuman kali ini penuh kesadaran, kelembutan, dan ketulusan. Rasanya hangat, lembut, dan membuat seluruh pikiran mereka seketika kosong, hanya tersisa perasaan yang mendalam itu saja.

Elio memperlama ciuman itu, menyentuh bibir Alena dengan lembut seolah sedang memegang bunga yang sangat rapuh. Beberapa detik kemudian, Alena pun mulai membalasnya dengan perlahan, melingkarkan tangannya di leher Elio dan menarik tubuh laki-laki itu sedikit lebih dekat ke arahnya. Dunia di sekitar mereka seolah menghilang, hanya ada mereka berdua di bawah langit malam yang bertabur bintang, menyatukan hati dan perasaan yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat.

Ketika mereka akhirnya melepaskan ciuman itu untuk mengambil napas, keduanya terengah-engah dengan wajah yang memerah padam dan mata yang bersinar penuh perasaan. Elio menempelkan dahinya di dahi Alena, memegang kedua pipi gadis itu dengan lembut.

“Maafkan aku jika terlalu tergesa… tapi aku tidak bisa lagi menahan perasaan ini,” bisik Elio dengan suara lirih namun mantap.

Alena menggeleng pelan, lalu tersenyum malu namun tulus. “Tidak perlu minta maaf… aku juga merasakan hal yang sama. Rasanya seperti selama ini aku hanya menunggu momen ini tiba.”

Malam semakin larut, dan udara semakin terasa dingin menusuk tulang. Melihat Alena mulai menggigil, Elio menarik tubuh gadis itu lebih dekat ke dalam pelukannya, membungkusnya dengan selimut dan juga kehangatan tubuhnya sendiri.

“Kita masuk ke dalam tenda saja, nanti kamu masuk angin,” ajak Elio pelan.

Alena hanya mengangguk setuju. Dengan hati-hati, Elio menggendong Alena kembali ke dalam tenda tempat gadis itu beristirahat. Beruntungnya, kedua orang tua Alena sudah terlelap sangat pulas dan tidak menyadari kedatangan mereka. Elio melangkah masuk perlahan, lalu menurunkan Alena dengan lembut di atas alas tidur.

Alih-alih pergi, Elio justru berbaring di samping Alena, menjaga jarak sedikit namun tetap terasa dekat. Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya samar dari luar, mereka saling memandang dan bercerita lagi dengan suara berbisik, sesekali bertukar ciuman lembut dan pelukan hangat hingga rasa kantuk mulai menyerang. Malam itu menjadi malam yang paling indah dan tak terlupakan bagi mereka berdua, di mana perasaan yang terpendam akhirnya terungkap dan bersatu sempurna.

Namun, Elio sadar bahwa situasi ini harus dijaga kerahasiaannya. Ia tidak ingin ada yang melihatnya tidur bersama Alena dan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu, apalagi jika sampai diketahui oleh kedua kakek mereka, bisa-bisa rencana mereka untuk membuktikan kesungguhan perasaan ini menjadi terburu-buru.

Maka, tepat saat jarum jam menunjukkan pukul empat pagi, saat langit masih gelap namun mulai terlihat sedikit cahaya fajar di ufuk timur, Elio perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, melihat wajah Alena yang masih terlelap pulas dengan senyum kecil terukir di bibirnya. Hatinya terasa sangat bahagia melihat pemandangan itu.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Alena, Elio bangkit dari tempat tidur. Ia menata kembali selimut yang menutupi tubuh Alena, lalu menyentuh dahi gadis itu dengan ciuman singkat dan lembut sebagai salam perpisahan sementara.

“Tidurlah yang nyenyak, Alena. Sampai kita bertemu lagi nanti,” bisiknya sangat pelan di telinga gadis itu.

Setelah memastikan semuanya rapi dan tidak ada tanda-tanda keberadaannya semalam, Elio melangkah keluar dari tenda dengan langkah ringan dan senyum bahagia yang tak bisa disembunyikan. Ia segera kembali ke tendanya sendiri, berbaring seolah-olah ia baru saja bangun untuk beribadah atau menghirup udara pagi.

Saat matahari mulai terbit dan cahaya keemasan mulai menyinari seluruh puncak bukit, suasana di perkemahan mulai kembali sibuk. Alena pun terbangun dengan perasaan yang sangat berbeda dari biasanya. Tubuhnya terasa ringan, hatinya penuh kebahagiaan, dan senyumnya tak lepas dari bibirnya. Saat ia mengingat kejadian semalam, wajahnya kembali memerah namun rasa bahagia itu jauh lebih besar daripada rasa malunya.

Begitu keluar dari tenda, matanya langsung bertemu dengan Elio yang sedang berdiri di dekat api unggun sambil memandangnya dengan tatapan yang penuh makna dan senyum yang sama bahagianya. Tidak perlu kata-kata lagi, hanya satu tatapan saja sudah cukup untuk saling mengerti bahwa malam itu telah mengubah segalanya—mereka tidak lagi hanya terikat oleh kesepakatan atau perjodohan, melainkan terikat oleh perasaan cinta yang tumbuh dengan indah di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!