NovelToon NovelToon
Caramel

Caramel

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Tamat
Popularitas:68.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: srizqya

Aku tidak suka jalan cerita cintaku di samakan oleh fiksi-fiksi romantis atau film-film yang berujung bahagia. Nyatanya dalam kehidupan nyata tidak semua kisah cinta akan berujung bahagia. Kehidupan cintaku tidak seseru yang kalian bayangkan. Benci menjadi Cinta adalah hal lazim yang biasanya mencumbui hati manusia. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu. Karena aku masih dalam proses menuju ujung dari sebuah cerita. Sedih senangnya akhir dari sebuah cerita adalah hal yang selalu di nantikan, aku pun juga sedang menantikan bagaimana akhir ceritaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon srizqya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Pulang sekolah Arga menunggu diluar kelasku sambil mengobrol dengan beberapa siswa. Kemarin malam kesepakatan yang kita buat telah di sepakati. Aku tidak menyukai teh rekomendasi dia dan sesuai janji nya, ia mentraktirku menonton film. Tadi pagi kebetulan sekali Kika datang menjemputku dengan alasan berangkat kepagian. Anak yang satu itu memang tidak jelas otak nya.

Hari sabtu pelajaran hanya sampai jam 10 di sekolahku dan di lanjutkan dengan ekskul yang terjadwal hari sabtu. Aku dan Arga tidak ada ekskul hari sabtu.

“Arga tuh di depan.” Kata Kika.

“Aldo tuh di—“

“MANA?!” Sontak mata Kika langsung berbinar.

“Di kelas nya.” Jawabku santai.

“Galucu!”

“Lucuin!”

“Serah.”

“Gue pergi dulu ya sama Arga, bibir lo tuh kurang maju biar lebih seksi.” Telunjukku mengarah ke bibirnya.

“Apaansih Caramel pulang sono ke emak lo.”

“Laah apa laah.” Lantas aku meninggalkan Kika masih dengan terkikik geli akibat wajah Kika yang merona merah karena ketahuan sedang mencari Aldo.

Aku teringat kembali percakapanku dengan Kika tadi malam di skype. Kalau bukan karena aku menagih janjinya untuk bercerita ia tidak akan menceritakannya. Dengan malu-malu akhirnya dia menceritakan juga tentang hubungannya sejauh ini dengan Aldo lewat video call di skype.

“Sebenernya gue sama Aldo belum jadian sih..”

“Terus?”

“Gue berkomitmen pada diri gue sendiri, kalo dia serius sama gue pasti dia ga bakal kemana-mana kok sampe nantinya.”

“Kalo kemana-mana? Lo ga nyeseeel?”

“Woy! Bukannya nyemangatin malah nakut-nakutin! Parah lu sahabat macem apa.”

“Macem bidadari hahaha.”

“Auk ah.”

“Jadi....gimana?”

“Gimana apanya?”

“Lo sama Aldo lah dodol.”

“Biasa aja sih kita Cuma temenan.”

“Udah gitu doang?”

“Iya.”

“Yaudah yak gue mau tidur ngantuk.”

“TERUS TANGGEPAN LO APA MEL?!”

“Ha? Tanggepan apaan?”

“Tentang gue sama Aldo.”

“Duh serah lo dah, kan lo sendiri yang ngejalanin. Dah yak dadah.”

“SIALAA----“ Sumpah serapah yang di keluarkan Kika sudah tidak bisa ku dengar lagi karena aku keburu sign out dari skype.

Aku menepuk bahu Arga yang sedang mengobrol dengan Bayu. “Hoy,” sapaku.

“Eh udah keluar lo.” Arga menoleh ke arahku.

“Yaelah gue udah di semprot baygon nih di suruh pulang.” Kata Bayu tiba-tiba.

“Apasih lo, Yu.”

“Gue kan nyamuk di antara lo berdua, gue cabut duluan ya daah.” Bayu meninggalkan kami berdua di depan kelas. Menyisakan kerutan di wajahku.

“Gila gajelas banget si Bayu.” Curhatku ke Arga.

“Biasa kali dia mah, berangkat sekarang?”

“Yuk.”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah memilih-milih film yang cukup lama, di putuskan bahwa kami akan menonton Olympus Has Fallen. Dilihat dari cover nya sih sepertinya film itu bakalan seru. Sambil menunggu Arga membeli tiket, aku duduk di depan studio 1 sambil memainkan ponselku.

Kebiasaanku sedari dulu jika sedang berada di keramaian mataku selalu menjelajah untuk mendapatkan objek yang menarik untuk di lihat. Lalu mendumel-dumel sendiri jika melihat sesuatu yang aneh atau ketawa-ketawa sendiri jika melihat sesuatu yang lucu. Yang jelas aku bagaikan orang gila jika sedang sendiri.

Ngga deng boong.

Setelah beberapa lama menjelajah tidak ada objek yang seru untuk di lihat hingga mataku sampai pada dua insan di depanku sekarang. Mungkin jaraknya hanya sekitar 10 meter dari tempatku duduk. Dua insan itu lagi.

Dulu waktu bersama Kika aku hanya melihat sosoknya dari belakang dan sekarang aku benar-benar melihat jelas dari depan. Untuk mengantisipasi agar dua insan tersebut tidak melihatku, aku mengangkat ponselku dan menyalakan kameraku. Jadi sekarang pandanganku hanya fokus ke layar ponsel.

Sekarang mereka berdua berjalan menuju loket pembelian tiket. Mataku terus awas melihat gerak-gerik mereka berdua. Sangat jelas bahwa mereka bergandengan tangan. Mereka kini berangkulan. Mereka tertawa. Mereka tersenyum satu sama lain. Mereka—

“Mau beli popcorn ga, Mel?” Arga kini tengah berada di depanku sambil membawa dua tiket di tangannya.

“Ngga usah.” Jawabku yang tiba-tiba jadi badmood, kali ini badmood yang sebenar-benarnya.

Sekali lagi mataku menatap dua insan yang kini berjalan keluar setelah membeli tiket. Mungkin mereka ingin jalan-jalan atau makan atau terserah lah.

Bodo amat bukan urusan gue. Siapa dia siapa gue. Ga penting banget. Ngapain lagi di pikirin. Ngapain juga di liatin. Bikin bete aja. Terus kenapa kalo Rafa jalan sama cewe lain? Terus urusan sama gue apa? Terus gue harus bilang wow gitu? Terus gue juga harus salto? Terus emang tadi beneran Rafa ya? Iyalah beneran orang gue liat jelas banget. Tapi itu bukannya cewek yang waktu dirumah sakit juga? Iya ga sih? Yaudah elah bodo, bukan urusan gue. Titik.

Sumpah dunia akhirat aku benar-benar tidak fokus dengan film ini. Pikiranku melayang kemana-mana. Oke, kuakui aku memikirkan Rafa. Tapi memikirkan dalam konteks berbeda. Pasti kalian tidak mengerti deh bagaimana maksudku. Aku benar-benar penasaran dengan wanita yang bersama Rafa terus, ini ketiga kalinya aku melihat Rafa dengan wanita itu.

“.....lo emang ga takut Mel liat film yang banyak darah-darah gitu?” Aku dan Arga makan di sebuah food court, sepanjang makan tak henti-hentinya ia membicarakan film tadi.

“Hah? Ngg..ngga biasa aja.” Jawabku asal dan memain-mainkan kembali minumanku.

“Gue aja yang cowok pusing liat darah banyak gitu.”

Sejujurnya aku takut jika melihat film-film yang banyak darahnya, tapi apa mau di kata. Fokus pada film nya saja tidak, bagaimana sempat melihat adegan yang banyak darahnya?

“Eh itu bukannya Rafa ya?” Kata Arga, matanya melihat ke belakangku. Cepat-cepat aku menoleh ke belakang dan benar saja ada Rafa dan lagi-lagi dengan wanita itu baru masuk ke dalam food court tempat aku dan Arga makan. “Sama siapa tuh?”

Perutku seketika jadi mulas melihat mereka berdua. “Pulang sekarang aja yuk Ga, gatau kenapa tiba-tiba gue jadi mules gitu.”

“Yaudah lagian ini juga udah hampir malem.”

Suara teriakan membahana dari arah lapangan. Aku dan Kika yang sedang bermalas-malasan di dalam kelas sontak keluar kelas dan melihat dari balkon apa yang sedang terjadi. Lapangan sudah penuh oleh siswa-siswi Nusa Bangsa. Lagi-lagi pertandingan basket antar kelas.

“Siapa lawan siapa?” Tanya Kika pada Sarah.

“XII IPA 2 sama XII IPS 1, waktu itu kan kelas XII IPA 2 menang jadi sekarang tanding lagi. Sempet ketunda sih dua minggu gara-gara Rafa yang tangannya retak.”

“Rafa ikut?” Tanyaku.

“Ikut katanya, gila ya? Baru juga perban dibuka kemaren udah mau main lagi aja.”

Apaan sih Rafa gausah gaya-gayaan napa sih lo! Pen biar di liatin cewek-cewek ya?

“Mel turun yuk Mel waktu itu kan gue belom liat.” Ajak Kika.

Aku hanya mengangguk dan berjalan beriringan bersama Kika ke bawah. Lapangan benar-benar penuh, aku dan Kika saja sampai rela menerobos-nerobos lautan manusia agar bisa berada di posisi terdepan. Kelas XII IPS 1 memasuki lapangan diikuti kelasnya Rafa. Kika daritadi sudah ikut terak-teriak menyemangati mereka semua.

Sementara aku hanya menatap datar ke lapangan dan melipat kedua tanganku di depan dada. Saat ini mereka sedang melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kulihat Rafa juga sedang menggerak-gerakkan tangan kanannya yang sudah tak di perban lagi.

Pertandingan berlangsung ketat, itu juga di karenakan kondisi Rafa yang baru pulih dari kecelakaan waktu itu. Coba saja kalau Rafa masih sehat-sehat saja, pasti dipastikan kelasnya akan meraih kemenangan.

Diujung pertandingan Rafa menghentikan larinya dan memegang tangan kanannya. Ia meringis menahan sesuatu. Sontak membuat yang lain terpaksa memberhentikan pertandingan terlebih dahulu dan beberapa pemain cadangan mengantarkannya ke UKS. Pertandingan berjalan lagi. Kali ini suasana tidak seseru tadi, karena Rafa sudah tidak main lagi.

Rafa kan bintang sekolah, jadi jelas lah tidak ada dia tidak seseru saat ada dia.

Melihat Kika yang masih sibuk menyemangati di ujung pertandingan, diam-diam aku menyelinap pergi. Karena bosan setengah mati. Langkahku sampai pada depan pintu UKS. Aku mengumpulkan keberanianku untuk mengintip ke balik jendela.

Ngintip gak ya? Nanti kalo ketauan Rafa gimana? Yah malu lagi dong gue kaya waktu di rumah sakit itu. Yah yaudah deh gajadi deh.

Baru selangkah meninggalkan depan UKS, suara pintu terbuka.

“Mau kemana?” Sebuah suara muncul sontak membuat aku membalikkan badan. Rafa tengah berdiri di depan pintu UKS masih memakai seragam basket nya.

“Toilet.” Jawabku sekenanya.

Ia menaikkan sebelah alisnya. “Setau gue toilet ada di sebalah timur, bukan di barat.”

Deg!

Mendingan lo mati sekarang juga, Mel.

“O-oh gitu ya? Hehehe.” Perlahan aku mundur dan membalikan badan.

“Kenapa ya cewek itu gengsi nya tinggi banget?” Pertanyaannya membuatku tidak jadi membalikkan badan.

“Tanya cewek lah.”

“Lo cewek?”

“Iyalah!”

“Yaudah jawab pertanyaan gue.”

“Apaan?”

Rafa berjalan mendekatiku, refleks aku memundurkan langkahku. “Perlu gue ulangin lagi pertanyaan gue?”

“Perlu.” Dan goblok nya aku malah menjawab seperti itu.

Rafa menaikkan sebelah alisnya lagi, menatapku dari atas sampai bawah, membuatku risih. “Lupain deh pertanyaan gue.” Katanya. “Gini deh, lo jenguk gue di rumah sakit sekarang lo nyamperin gue di UKS, tapi lo gamau ngaku. Maksudnya apa sih?”

“Apaan sih.”

“Tuh kan, emang ya cewek gengsi nya tinggi banget.” Rafa melipat kedua tangannya di depan dada dan menarik sudut bibirnya keatas membuatku kesal.

“Berarti gue pengecualinnya.” Kataku memberanikan diri. “Iya gue jenguk lo kerumah sakit, iya sekarang gue pen liat lo di UKS. Kenapa? Lo gasuka? Yaudah kalo gasuka gue gabakal kaya gitu lagi. Janji. Lo bisa pegang janji gue.” Ucapku panjang lebar.

“Oh iya satu lagi,” Kataku sebelum benar-benar meninggalkannya. “Gausah gaya-gayaan deh lo main basket lagi sedangkan tangan lo baru aja sembuh.” Setelah itu aku benar-benar meninggalkannya.

*

 

 

1
It's Pingyaa
Bagus bangett
🌸Ar_Vi🌸
bahasanya enak.. ceritanya simple.. ga bertele..
Rasyidiah Anggreni
download mangatoon biar bisa baca ulang lagi 😭
AuAra27
Kangen banget baca ceritanya Kakak. Download Mangatoon biar bisa baca cerita ini lagi😭
thaiteatae
kak aku slalu nunggu cerita kaka yang 4word letter. cerita kaka bnr2 bagus
Arwidia Yanti
so sweet😍😍
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Gamy? Cewe apa cowo tuh thoor?
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Teknik baru ngode pke angka👉🏻👈🏻😂😂 patutu di tiru
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Cemburu garis keras! 😂
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Sumpah ketauan itu gk enak😂😂
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Curhat ke temen tpi tiba tiba dia off real life bat ini mah😐😒
xk_ekga
ahaha bucin rafa
xk_ekga
no, i love happy ending
xk_ekga
gini ya bagus g perlu pacaran lama2, yg pntg nyatu 😊
xk_ekga
iya kah
xk_ekga
naaaah knp g blg kalo sepupu, tp lebih seru gini
xk_ekga
naaah keduluan jangan2
xk_ekga
ciyee mulai ada rasa
xk_ekga
senyum2 dw 😆
xk_ekga
galfok si rafa
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕: Butuh aqu* wkwkwkw
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!