NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Malam Pertama Kiamat

​Ruang dimensi itu pecah berkeping-keping layaknya cermin raksasa yang dihantam palu godam. Pecahan-pecahan cahayanya melayang ke udara, lalu menguap menjadi partikel debu yang perlahan memudar ditiup angin malam.

​Bumi kembali menyambut mereka.

​Bau belerang dan hawa panas yang mencekik seketika digantikan oleh aroma asap pembakaran, darah segar, dan debu beton. Langit malam Seoul tidak lagi dihiasi oleh gemerlap bintang maupun cahaya lampu kota. Pemadaman listrik total telah melanda seluruh negeri. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari kobaran api yang melahap gedung-gedung pencakar langit dan mobil-mobil yang bertabrakan di jalan raya.

​Mereka kembali tepat di titik awal mereka ditarik—persimpangan Pintu Keluar Nomor 4 Stasiun Gangnam.

​Yoo Ji-Ah akhirnya melepaskan cengkeramannya pada sisa gagang parangnya. Kakinya yang gemetar hebat kehilangan seluruh kekuatannya. Gadis itu jatuh berlutut di atas aspal yang dingin, napasnya terputus-putus. Keringat dan darah iblis yang mengering membuat wajahnya terlihat berantakan, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.

​Ia masih hidup. Adiknya, Ji-Hye, yang tertidur pulas di punggungnya, juga selamat.

​"Kita... kita kembali," bisik Ji-Ah parau, menatap reruntuhan kota yang entah mengapa kini terasa lebih baik daripada istana neraka barusan.

​Di sebelahnya, Han Do-Yoon berdiri tegak tanpa setitik pun rasa lelah. Ia menatap kristal merah bercahaya di tangannya—Inti Jantung Api Penyucian. Hawa panas yang nyaman mengalir dari kristal tersebut, menandakan kemurnian energi sihir di dalamnya.

​"Buka Ruang Penyimpanan," ucap Do-Yoon dalam hati.

​Sebuah layar semi-transparan muncul, menampilkan kotak-kotak kosong. Ia memasukkan kristal merah itu ke dalam salah satu kotak. Ruang Penyimpanan adalah fitur dasar Sistem yang hanya terbuka setelah seseorang mencapai Tingkat 10. Di hari pertama kiamat ini, Do-Yoon mungkin adalah satu-satunya manusia di bumi yang sudah memiliki akses tersebut.

​"Waktu menunjukkan pukul delapan malam," kata Do-Yoon seraya melirik jam tangan mekaniknya yang kacanya sedikit retak. "Kita menghabiskan sekitar lima jam di dalam Gerbang Merah. Waktu berjalan lebih lambat di sana."

​Do-Yoon lalu menoleh ke arah Ji-Ah. "Buka Jendela Statusmu. Berapa tingkatmu sekarang?"

​Ji-Ah mengangguk pelan. Ia berkonsentrasi sejenak, memanggil layar Sistemnya.

​"Tingkat 9," jawab gadis itu, suaranya masih diliputi ketidakpercayaan. "Atribut kelincahan dan kekuatanku naik drastis. Dan aku... aku mendapatkan keahlian baru bernama 'Langkah Angin'."

​"Bagus," angguk Do-Yoon puas. "Rata-rata manusia yang selamat hari ini hanya akan mencapai Tingkat 1 atau 2. Dengan Tingkat 9 dan Kelas Pahlawan, kau bisa membantai selusin makhluk buas biasa tanpa berkeringat. Tapi jangan besar kepala. Kesombongan adalah jalan tercepat menuju liang kubur."

​Ji-Ah menunduk. "Aku mengerti. Terima kasih... karena telah memaksaku bertarung."

​Do-Yoon tidak menanggapi ucapan terima kasih itu. Di kehidupan masa lalunya, Ji-Ah adalah orang yang melindunginya. Mengembangkan potensi gadis ini sejak dini hanyalah bentuk investasi agar rencana balas dendamnya terhadap para Rasi Bintang berjalan lebih lancar. Tidak lebih, tidak kurang. Setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri.

​[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' tersenyum lembut melihat perkembangan pengikut potensialnya.]

[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' menguap kebosanan karena pertumpahan darah telah usai.]

​Do-Yoon mengabaikan rentetan pesan kosmik tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling persimpangan Gangnam yang gelap gulita.

​Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Beberapa di antaranya adalah warga sipil yang menolak ikut dengannya beberapa jam yang lalu. Tubuh mereka tercabik-cabik, sebagian dimakan, sementara sebagian lagi ditinggalkan begitu saja berserakan di trotoar. Makhluk buas tingkat rendah seperti Goblin dan Orc tampak berkeliaran di kejauhan, mencari mangsa yang bersembunyi di dalam toko-toko gelap.

​"Mari bergerak," perintah Do-Yoon seraya memungut sebatang pipa besi tebal dari reruntuhan papan reklame sebagai senjata sementara. Tombak petirnya telah ia simpan di Ruang Penyimpanan agar tidak terlalu mencolok. "Kita perlu mencari tempat berlindung dan makanan. Toko Sistem baru akan dibuka pada tengah malam nanti."

​"Toko Sistem?" ulang Ji-Ah bingung, bangkit berdiri sambil membetulkan ikatan adiknya.

​"Fitur di mana kau bisa menukarkan Koin Emas yang kau dapatkan dari membunuh monster dengan segala jenis barang. Mulai dari makanan, ramuan penyembuh, hingga senjata dan zirah," jelas Do-Yoon sambil mulai melangkah membelah kegelapan jalanan. "Tapi sebelum itu terbuka, kita harus mengandalkan sisa-sisa peradaban."

​Mereka berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi puing. Berkat peningkatan atribut yang masif, penglihatan mereka di malam hari jauh lebih tajam daripada manusia normal. Mereka bisa menghindari kelompok monster besar yang sedang berpesta pora dan hanya membunuh beberapa ekor Goblin liar yang berani mendekat.

​Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di depan sebuah pasar swalayan besar bersusun tiga lantai. Kaca-kaca depannya telah hancur berantakan. Keranjang belanja berserakan di area parkir, beberapa di antaranya berlumuran darah.

​"Kita masuk lewat pintu belakang," bisik Do-Yoon. "Area depan terlalu terbuka."

​Mereka menyelinap melalui lorong sempit menuju area bongkar muat barang. Do-Yoon menendang pintu besi keamanan hingga penyok dan kuncinya jebol. Kegelapan pekat menyambut mereka di dalam gudang swalayan tersebut. Bau darah segar tercium samar di udara, bercampur dengan bau makanan kaleng dan rempah.

​Do-Yoon mengaktifkan Mata Kehampaan. Garis-garis merah menyala muncul di sudut-sudut rak.

​Tiga ekor makhluk berkulit abu-abu pucat, dengan mulut penuh taring tajam dan tubuh yang membungkuk layaknya kera—Pemakan Mayat (Tingkat F)—sedang sibuk menggerogoti tubuh seorang satpam yang malang.

​"Tunggu di sini," bisik Do-Yoon kepada Ji-Ah.

​Tanpa mengeluarkan suara sekecil pun, Do-Yoon melesat menembus kegelapan. Ia tidak menggunakan keahlian sihir apa pun, murni mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisiknya.

​Dalam dua detik, ia telah berada di belakang ketiga monster tersebut. Pipa besi di tangannya berayun mendatar, menghancurkan tengkorak dua Pemakan Mayat secara bersamaan dengan bunyi retakan yang menjijikkan. Monster ketiga baru saja menoleh dengan panik sebelum ujung pipa besi itu menembus mulutnya, merobek hingga ke tengkuk.

​[Anda telah membunuh Pemakan Mayat (Tingkat F).]

[Anda mendapatkan 15 Poin Pengalaman.]

​Notifikasi tingkat rendah itu bahkan tidak membuat persentase Poin Pengalamannya bergeser. Bagi Do-Yoon di Tingkat 15, monster-monster ini hanyalah hama.

​"Aman," panggil Do-Yoon datar.

​Ji-Ah masuk dengan hati-hati. Kegelapan dan bau amis membuatnya merinding, namun ia menahan diri untuk tidak mengeluh.

​"Ambil makanan berkalori tinggi, air minum kemasan, dan perlengkapan medis pertama dari rak-rak depan. Jangan nyalakan senter dari ponselmu. Cahaya akan menarik perhatian serangga dari luar," instruksi Do-Yoon. Ia merobek sehelai kain bersih dari gulungan di gudang dan melemparkannya ke Ji-Ah. "Dan bersihkan wajahmu. Kau terlihat seperti hantu."

​Ji-Ah mengangguk kecil, membaringkan Ji-Hye yang masih tertidur di atas tumpukan karung beras, lalu bergegas menuju area perbelanjaan utama di depan.

​Do-Yoon sendiri mulai memilih barang-barang yang berguna. Ia mengambil beberapa bilah pisau daging berkualitas tinggi dari bagian perlengkapan dapur, memasukkannya ke dalam Ruang Penyimpanan, lalu menumpuk persediaan air botol dan makanan kaleng.

​Saat mereka sedang sibuk mengumpulkan barang, suara gemeresik pelan terdengar dari arah ruang staf di lantai dua.

​Langkah kaki manusia. Ragu-ragu, namun tergesa-gesa.

​Do-Yoon berhenti memasukkan ransum. Matanya menyipit ke arah langit-langit. Ada sekitar lima orang yang bersembunyi di atas sana. Dan dari getaran langkah mereka, mereka tahu ada orang lain di lantai bawah.

​"Si... siapa di bawah sana?" sebuah suara pria paruh baya yang gemetar terdengar dari ujung tangga darurat.

​Sebuah cahaya senter yang redup menyala, menyorot ke arah gudang, tepat mengenai punggung Do-Yoon yang sedang berdiri di antara mayat-mayat monster.

​"Matikan lampu itu, bodoh!" tegur Do-Yoon dingin, tanpa menoleh. "Kau ingin mengundang makhluk buas yang lebih besar kemari?"

​Pria itu tersentak dan buru-buru mematikan senternya. Diikuti oleh suara langkah kaki menuruni tangga, pria paruh baya itu muncul bersama empat orang lainnya—dua wanita muda, seorang remaja laki-laki, dan seorang kakek. Pakaian mereka kotor, dan wajah mereka memancarkan keputusasaan absolut.

​"K-kalian manusia? Kalian membunuh monster-monster itu?" tanya pria paruh baya itu, matanya membelalak menatap mayat Pemakan Mayat dengan kepala hancur di dekat kaki Do-Yoon. Harapan tiba-tiba mekar di wajahnya. "Syukurlah! Tuhan masih memberkati kita! Anak muda, tolong kami!"

​Ji-Ah kembali dari lorong depan, membawa tas punggung penuh makanan. Ia menatap kelompok penyintas itu dengan sedikit rasa iba. Namun, pengalaman sebelumnya membuatnya menahan lidah dan membiarkan Do-Yoon yang memegang kendali.

​"Kami tidak membuka panti asuhan," potong Do-Yoon tajam. Ia memungut tas ranselnya sendiri yang kini penuh dengan air dan kebutuhan pokok. "Makanlah apa yang tersisa di sini, lalu kunci pintunya. Jika kalian beruntung, kalian akan bertahan hidup sampai pagi."

​Pria paruh baya itu memucat. Ia berlari mendekat, berniat meraih lengan Do-Yoon. "T-tunggu! Kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja! Kau sangat kuat! Lindungi kami! Kau harus membawa kami ke tempat aman!"

​Sebelum tangan pria itu menyentuh kemejanya, Do-Yoon memutar tubuhnya dengan sangat cepat. Ujung pipa besi berlumuran darah hitam miliknya kini menempel tepat di batang leher pria tersebut. Hawa membunuh yang sangat kental dan dingin mencekik udara di sekitar mereka.

​Pria itu membeku seketika. Sisa penyintas di belakangnya menahan jeritan ngeri.

​"Aku bukan pahlawan, Paman," bisik Do-Yoon dengan tatapan mata sekilas sedingin maut. "Aku membiarkan kalian mengambil sisa makanan di toko ini adalah bentuk belas kasih terbesarku hari ini. Jika kau menyentuhku, atau mencoba membuntutiku, aku akan mematahkan kedua kakimu dan melemparkanmu ke luar sana sebagai umpan. Paham?"

​Pria itu menelan ludah kasar, mengangguk patah-patah dengan air mata ketakutan yang menggenang.

​Do-Yoon menarik kembali pipa besinya. Ia menoleh ke arah Ji-Ah yang berdiri kaku. "Ayo pergi ke atap. Kita akan beristirahat di sana dan menunggu waktu tengah malam."

​Tanpa menoleh ke belakang, Do-Yoon melangkah menaiki tangga menuju lantai teratas bangunan tersebut, meninggalkan para penyintas yang terdiam dalam keputusasaan yang baru.

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!