NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Berlutut dan Minta Maaf

"Sekarang giliranmu, Yudi."

Kalimat itu tidak langsung menjadi pukulan.

Hendry menunggu.

Ia menunggu sampai semua bukti tersusun rapi. Mutasi rekening. Rekaman CCTV. Surat kuasa Jessica. Catatan vendor yang tiba-tiba membatalkan pengiriman. Pesan dari Tina tentang tekanan kontrak. Catatan utang Golianto yang diarahkan lewat orang dekat Yudi Mulyadi.

Dua hari kemudian, di ruang tamu rumah Mahendra, Hendry meletakkan tablet di depan Jessica.

Jessica sudah lebih kuat. Ia masih bergerak hati-hati, tetapi wajahnya tidak sepucat sebelumnya. Mama Ayu duduk di sampingnya, awalnya hanya ingin mengawasi. Namun begitu video pertama diputar, ruangan itu berubah sunyi.

Di layar, Yudi Mulyadi terlihat memasukkan uang tunai ke mesin setor. Waktu transaksi cocok dengan pembayaran ke rekening perantara vendor. Setelah itu muncul rekaman chat, bukti transfer, dan panggilan telepon yang direkam vendor: orang Yudi meminta mereka menunda pengiriman agar PT Daun Kreasi gagal memenuhi order.

Jessica menonton tanpa berkedip.

Ketika nama Yanto muncul dalam salah satu pesan, tangannya mencengkeram ujung sofa.

`Biar Jessica panik. Nanti Yanto masuk bantu. Kalau dia terima, perusahaan itu bisa kita pegang pelan-pelan.`

Mama Ayu membaca kalimat itu dua kali. Wajahnya berubah pucat.

"Tidak mungkin..." bisiknya. "Yanto anak baik. Dia datang ke rumah sakit. Dia..."

"Dia datang untuk melihat hasil jebakan mereka," kata Hendry.

Jessica menutup tablet. Matanya merah, dan kemarahan lama yang tertahan di bawah kerja keras akhirnya terlihat.

"Jadi selama ini..." suaranya bergetar, "vendor kabur, Tina ditekan, Golianto terjebak utang... semua karena mereka?"

"Bukti cukup untuk menyerang balik."

Mama Ayu menggenggam tangan Jessica. "Jessica... Mama tidak tahu. Mama benar-benar tidak tahu."

Jessica tidak menatap ibunya. Ia menatap Hendry.

"Apa yang akan kamu lakukan?"

Hendry berdiri.

"Mengambil kembali harga dirimu."

Yanto Mulyadi sedang berada di kantornya ketika Hendry datang.

Kantor itu tidak besar, tetapi didesain untuk terlihat mahal. Dinding kaca, meja hitam, sofa kulit, foto proyek, dan dua bodyguard yang berdiri di dekat pintu. Yanto duduk di balik meja, tersenyum ketika melihat Hendry masuk bersama Jessica dan Bagus.

"Jessica? Kamu sudah sehat? Seharusnya kasih kabar. Aku bisa--"

PLAK!

Tamparan Jessica mendarat di wajah Yanto.

Suaranya tajam.

Yanto terdiam, kepalanya miring. Dua bodyguard langsung bergerak, tetapi Bagus hanya melangkah ke depan. Kedua orang itu berhenti seperti menabrak tembok tak terlihat.

"Jessica..." Yanto menyentuh pipinya. "Apa maksudmu?"

Jessica melempar tablet ke atas meja. Video Yudi sedang berhenti pada frame wajahnya.

"Berhenti pura-pura."

Wajah Yanto berubah sekilas. Sangat cepat, tetapi Hendry melihatnya.

"Aku tidak tahu apa ini."

Hendry berjalan mendekat. "Kau tahu."

Yanto tertawa, mencoba mengambil kembali kendali. "Hendry, jangan merasa hebat hanya karena bisa pinjam mobil dan dekat dengan Pak Budiman. Ini kantor saya. Kalau kau membuat keributan--"

Hendry meninju perutnya.

Tidak keras sampai membunuh. Cukup untuk membuat semua udara di paru-paru Yanto hilang.

Yanto terlipat di lantai, wajahnya merah, mulutnya terbuka tanpa suara.

Jessica terkejut, tetapi tidak menghentikan.

Karena kali ini ia tahu siapa yang pantas jatuh.

Dua bodyguard akhirnya nekat maju. Bagus menghela napas. Satu pukulan ke bahu. Satu sapuan kaki. Dalam kurang dari lima detik, keduanya sudah terbaring di karpet, lebih malu daripada terluka.

Hendry berjongkok di depan Yanto.

"Tiga tahun aku diam ketika orang menghinaku. Tapi kau menyentuh perusahaan istriku."

Yanto batuk. "Kau... tidak tahu siapa keluargaku..."

"Aku tahu. Karena itu aku tidak hanya datang padamu."

Ponsel Yanto berdering.

Lalu berdering lagi.

Satu demi satu.

Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar. Panggilan pertama dari Yudi. Panggilan kedua dari manajer keuangan. Panggilan ketiga dari gudang.

Yanto mengangkat salah satunya.

Suara panik terdengar begitu keras sampai semua orang di ruangan mendengar.

"Pak! Tim DJP datang! Mereka bawa surat pemeriksaan pajak! OJK juga kirim orang, katanya ada laporan transaksi mencurigakan dan produk investasi ilegal! Gudang bahan tambahan disegel!"

Wajah Yanto kehilangan darah.

"Apa?"

Di saat yang sama, di sisi lain Kota Biru, Yudi Mulyadi berdiri di depan gudang perusahaannya saat petugas DJP dan perwakilan OJK memasang garis segel. Adrian Chandra berdiri tidak jauh, jasnya rapi, ekspresinya dingin. Di tangannya ada salinan laporan dan bukti transfer yang sudah disusun seperti pisau.

"Pak Yudi," kata salah satu petugas, "berdasarkan laporan awal, ditemukan dugaan penghindaran pajak, transaksi perantara yang tidak dilaporkan, dan penggunaan bahan tambahan yang tidak sesuai izin edar. Pemeriksaan dimulai hari ini."

Yudi berteriak, memanggil kenalan, mengancam akan menghubungi pejabat. Tetapi setiap telepon yang ia buat berakhir pendek. Orang-orang yang biasanya tersenyum padanya mendadak sibuk, mendadak rapat, mendadak tidak bisa dihubungi.

Tiga hari.

Hanya tiga hari yang dibutuhkan.

Rekening perusahaan Mulyadi dibekukan sementara. Vendor membatalkan kerja sama. Berita pemeriksaan pajak dan OJK menyebar ke grup bisnis Kota Biru. Klien yang dulu mengejar mereka mendadak menarik diri. Gudang yang disegel menjadi tontonan karyawan sendiri.

Pada hari ketiga, Yanto dan Yudi datang ke rumah Mahendra.

Tanpa Bentley.

Tanpa buket bunga.

Mereka datang dengan wajah kusut, mata merah, dan langkah orang yang baru sadar tanah di bawah kakinya telah hilang.

Mama Ayu membuka pintu dan hampir tidak mengenali mereka.

"Tante..." Yanto memaksa tersenyum. "Kami ingin bicara dengan Jessica. Dengan Hendry juga."

Hendry sudah menunggu di ruang tamu.

Jessica duduk di sampingnya. Ia belum sepenuhnya sehat, tetapi punggungnya tegak. Di meja, tablet dengan bukti masih ada, layarnya mati, seperti hakim yang tidak perlu bicara lagi.

Yudi langsung jatuh berlutut.

Yanto menyusul sedetik kemudian.

Suara lutut mereka menghantam lantai membuat Mama Ayu menutup mulut.

"Pak Hendry, Bu Jessica, kami salah," kata Yudi cepat. Semua kesombongannya menguap. "Tolong cabut laporan. Perusahaan kami hancur. Karyawan kami akan kehilangan pekerjaan. Kami bisa ganti rugi. Berapa pun."

Yanto menatap Jessica. "Jessica, aku khilaf. Aku cuma... aku cuma ingin dekat denganmu. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit."

Jessica memandangnya lama.

"Kamu tidak membuatku sakit karena cinta," katanya pelan. "Kamu membuat perusahaanku hampir mati karena serakah."

Yanto menunduk.

"Hendry..." Mama Ayu berbisik, masih tidak percaya melihat dua pria yang dulu ia banggakan kini berlutut di depan menantu yang ia hina.

Hendry tidak menatap Mama Ayu. Ia menatap Mulyadi bersaudara.

"Saat Jessica panik di rumah sakit, kau tersenyum membawa bunga. Saat Golianto dipukuli, kau berharap produksi berhenti. Saat Tina hampir kehilangan pekerjaan, kau menghitung keuntungan."

Yudi menangis. "Kami benar-benar minta maaf."

"Terlambat."

Satu kata.

Tidak keras.

Tetapi cukup untuk membuat Yudi lemas.

"Proses hukum dan pemeriksaan berjalan sesuai aturan. Kalau kalian bersih, kalian selamat. Kalau tidak..." Hendry berdiri. "Itu bukan urusanku."

Yanto merangkak setengah langkah. "Pak Hendry, tolong. Kami akan berlutut sampai Anda memaafkan."

Hendry menatapnya dingin.

"Berlutut itu posisi yang pantas untuk orang yang kalah."

Mereka diusir dari rumah Mahendra tanpa jawaban yang mereka inginkan.

Sore harinya, Hendry berada di kantor Notaris.

Berbeda dari ruang tamu Mahendra yang penuh emosi, kantor itu dingin, rapi, dan berbau kertas legal. Di atas meja mahoni terletak akta pendirian perusahaan baru: PT Timur Jaya Group.

Notaris membacakan poin-poin utama. Pemegang saham tunggal: Hendry Pratama. Modal dasar dan struktur legal sudah disiapkan melalui jalur yang bersih. Adrian Chandra berdiri di sisi kanan, membawa folder eksekusi. Di sisi kiri, seorang perempuan berpenampilan profesional menatap dokumen dengan mata jernih.

Cynthia Wulandari.

Ia mengenal Hendry dari masa yang lebih lama, dari dunia sebelum Hendry menjadi menantu yang dihina. Namun di ruangan itu, ia tidak membawa nostalgia. Ia membawa kemampuan.

"Struktur awal sudah siap," kata Cynthia. "PT Timur Jaya akan bergerak sebagai kendaraan investasi dan akuisisi. PT Surya Abadi tetap berjalan sebagai pilar lama. Jika digabungkan secara strategi, kita sebut Surya-Timur."

Adrian mengangguk. "Dengan begitu, serangan seperti Mulyadi tidak lagi hanya dibalas. Kita bisa mengambil pasar mereka."

Hendry menandatangani akta.

Tinta hitam menyentuh kertas.

Pada saat itu, sesuatu resmi lahir.

Perusahaan itu sudah menjadi medan perang.

Sebuah bendera.

PT Timur Jaya Group.

Hendry menutup pena. "Mulai hari ini, jangan tunggu orang menyerang dulu. Kota Biru harus tahu, kalau mereka menyentuh keluargaku, mereka kehilangan lebih dari uang."

Cynthia menatapnya, ada kilatan halus di matanya. "Kamu berubah, Hendry."

"Tidak." Hendry berdiri. "Aku hanya berhenti bersembunyi dari orang yang salah."

Malam itu, di sebuah mobil tua di luar kantor pemeriksaan, Yudi dan Yanto duduk dengan wajah gelap. Mereka baru saja keluar setelah dimintai keterangan. Harga diri mereka hancur, perusahaan mereka sekarat, dan nama Mulyadi menjadi bahan bisik-bisik.

Yudi memukul dashboard. "Aku tidak terima."

Yanto menatap layar ponselnya. "Kita masih punya satu jalan."

"Siapa?"

Yanto menekan nomor yang ia dapat dari kenalan lama.

"Bayu Wibowo," katanya pelan. "Orang HAZE Club. Dia punya anak buah. Kalau hukum tidak bisa menolong kita, biar jalanan yang bicara."

Mereka tidak tahu.

Di sisi lain kota, Bayu Wibowo berdiri di kantor HAZE Club yang baru, menatap pesan masuk dari nomor Yanto.

Ia membaca permintaan itu.

Lalu keringat dingin muncul di punggungnya.

Karena orang yang diminta Yanto untuk diserang adalah bos barunya.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!