NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011

Akad

Satu minggu setelah Laras mengucapkan iya, nama Arkananta Wibisana tercetak di sebelah namanya pada berkas pernikahan.

Laras memandang dua nama itu terlalu lama sampai Nindya menyentuh bahunya.

“Kalau kamu terus menatap formulirnya, tulisannya nggak akan berubah.”

“Aku cuma memastikan.”

“Memastikan ini bukan mimpi?”

Laras menutup map dokumen. “Jangan mulai.”

Nindya tersenyum dan membetulkan ujung kerudung putih yang membingkai wajah Laras. Akad dilaksanakan sederhana di rumah Wulan. Ruang tengah dihias kain putih dan rangkaian melati, tanpa panggung besar atau ratusan tamu. Hanya keluarga terdekat, beberapa sahabat, penghulu dari KUA, dan dua orang saksi.

Kesederhanaan itu tidak membuat tangan Laras berhenti dingin.

Dari balik pintu kamar, ia mendengar suara tamu memberi salam. Kemudian suara Arkan menjawab seseorang di ruang tengah.

Tenang. Rendah. Sama seperti di frekuensi malam badai.

Jantung Laras memukul semakin keras.

“Masih bisa batal kalau kamu nggak yakin,” bisik Nindya.

Laras menatap sahabatnya melalui cermin. “Kenapa semua orang mengingatkan itu pada hari akad?”

“Karena jawabanmu harus tetap iya sampai detik terakhir.”

Laras menarik napas. “Tetap iya.”

Wulan masuk beberapa menit kemudian. Kebaya krem yang dikenakannya sederhana, tetapi matanya telah memerah sebelum melihat Laras sepenuhnya.

“Mama jangan menangis dulu.”

“Mama nggak menangis.” Wulan menyentuh sudut matanya. “Kena bedak.”

“Bedaknya bahkan belum dibuka.”

Mereka tertawa kecil, lalu sama-sama terdiam.

Wulan merapikan gelang di pergelangan tangan Laras. “Takut?”

“Sedikit.”

“Takut bukan berarti salah memilih. Kadang itu cuma tanda bahwa hidupmu benar-benar akan berubah.”

Laras menggenggam tangan ibunya. Di tangan itulah ia dibesarkan setelah mereka keluar dari rumah Prawira tanpa apa-apa. Hari ini, tangan yang sama mengantarnya menuju keluarga baru.

“Mama yakin?” tanya Laras. “Tentang Arkan?”

“Mama yakin dia menghormatimu.” Wulan menatapnya lurus. “Cinta bisa tumbuh. Rasa hormat lebih sulit dipalsukan.”

Kalimat itu menetap di dada Laras ketika penghulu memanggil semua pihak bersiap.

Di ruang tengah, Arkan duduk di depan meja akad mengenakan beskap modern berwarna gading. Rambutnya disisir rapi. Tak ada empat garis di pundaknya, tetapi sikap tegak dan ketenangan seorang kapten tetap melekat padanya.

Tatapan mereka bertemu saat Laras mengambil tempat di sisi ruangan.

Arkan tidak tersenyum lebar. Hanya ada gerakan kecil di sudut bibirnya, cukup untuk membuat napas Laras tersendat.

Ratna duduk di barisan depan bersama Wulan. Di layar tablet yang disangga di dekat mereka, Eyang Broto mengikuti lewat panggilan video karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan perjalanan. Lelaki tua itu mengenakan batik dan berulang kali meminta kamera diarahkan lebih dekat.

“Arkan kelihatan tegang nggak?” tanyanya dari layar.

Ratna menahan tawa. “Anakmu itu mukanya sama saja mau menikah atau masuk simulator.”

“Tangannya lihat.”

Semua mata berpindah ke tangan Arkan yang terletak di atas paha. Jari telunjuknya mengetuk sekali sebelum berhenti.

Laras hampir tersenyum. Ternyata ia bukan satu-satunya yang gugup.

Penghulu memeriksa kembali identitas, persetujuan kedua calon, mahar, saksi, serta berkas yang telah diverifikasi KUA. Karena wali nasab tidak hadir dan mekanismenya telah diselesaikan dalam pemeriksaan administrasi, akad dilangsungkan dengan wali hakim sesuai penetapan KUA.

Ketika semua dinyatakan siap, ruangan menjadi sangat hening.

Ijab diucapkan dengan jelas. Arkan menerima pernikahan Laras dengan satu tarikan napas, menyebut nama lengkapnya dan mahar tanpa tersendat.

“Sah.”

Suara para saksi terdengar hampir bersamaan.

Sah.

Satu kata itu membuat pandangan Laras bergetar.

Selama sepuluh tahun, Arkan hanya hidup di halaman buku harian, foto-foto yang ia lihat diam-diam, dan suara penerbangan yang kadang melintas di frekuensinya. Kini laki-laki itu duduk beberapa meter darinya sebagai suami yang sah.

Wulan menutup mulut dengan tangan. Ratna menunduk sambil mengusap air mata. Di layar, Eyang Broto mengangkat kedua tangan dan mengucapkan syukur.

Arkan mencari Laras di antara orang-orang.

Begitu menemukannya, ketegangan di wajahnya melonggar.

Laras menahan air mata agar tidak merusak riasannya, tetapi satu tetes tetap jatuh. Nindya menyodorkan tisu tanpa menggodanya.

Setelah penghulu menyelesaikan doa, Wulan menggandeng Laras mendekati meja akad. Setiap langkah terasa ringan sekaligus tidak nyata. Arkan yang tadi mampu mengucapkan kabul tanpa satu kesalahan kini berdiri terlalu cepat sampai lututnya menyentuh tepi meja.

Beberapa orang tertawa pelan.

“Katanya nggak tegang,” goda Ratna.

Arkan mengabaikannya. Matanya hanya mengikuti Laras.

Saat mereka berdiri berhadapan, Laras baru menyadari ada butir keringat tipis di pelipis laki-laki itu. Ia ingin menggodanya, tetapi tenggorokannya sendiri belum sanggup membentuk kalimat.

Wulan meletakkan tangan Laras di atas tangan Arkan.

“Sekarang suamimu,” bisiknya.

Kata itu membuat ujung jari Laras bergetar.

Ia mencium tangan Arkan dengan hati-hati. Arkan terdiam sesaat, lalu mengangkat telapak tangannya ke atas kepala Laras dan membacakan doa pendek agar pernikahan mereka membawa kebaikan.

Suara rendah itu jatuh begitu dekat. Bukan melalui headset, bukan dari kokpit ribuan kaki di udara. Kali ini hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

Sesudah doa selesai, Arkan menunduk dan mengecup kening Laras.

Sentuhannya singkat. Hangat. Cukup untuk membuat Laras melupakan semua kamera di sekeliling mereka.

Nindya menahan pekikan di belakang. Wulan tertawa sambil menangis, sedangkan Ratna menyuruh fotografer memastikan momen itu tidak terlewat.

Arkan mundur sedikit. “Terlalu cepat?” tanyanya pelan.

Laras menggeleng. Ia takut suaranya akan mengkhianati betapa keras jantungnya berdegup.

Ibu jari Arkan mengusap sekali sisa air mata di bawah matanya. “Kalau begitu, jangan menangis lagi.”

Laras hampir mengatakan bahwa Arkanlah penyebabnya. Ia menelan kalimat itu bersama senyum yang tak mampu disembunyikan.

Setelah doa, Laras dibawa duduk di sisi Arkan. Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter, jauh lebih dekat daripada saat di kafe atau mobil.

“Kamu menangis?” bisik Arkan.

“Nggak.”

Ia melirik jejak air di pipinya. “Tentu.”

“Jangan dibahas.”

“Baik.”

Nada patuhnya justru membuat Laras ingin mencubitnya.

Mahar berupa seperangkat alat salat dan emas diserahkan di hadapan keluarga. Lalu Ratna membuka kotak beludru berisi sepasang cincin.

Cincin untuk Laras dibuat dari emas putih dengan satu batu utama berbentuk oval dan susunan batu kecil yang mengikuti lekuknya. Desainnya elegan, tidak berlebihan, tetapi jelas bukan barang yang dipilih terburu-buru dari etalase biasa.

Laras menatap Arkan. “Kapan kamu menyiapkan ini?”

“Setelah kamu bilang iya.”

“Satu minggu cukup?”

“Aku tahu orang yang bisa bekerja cepat.”

Ia tidak mengatakan bahwa desain itu dipesan khusus dan hak produksinya dibeli agar tidak dibuat untuk orang lain. Bagi Laras, cincin itu hanya tampak terlalu indah untuk pernikahan yang mereka sepakati secara rasional.

Arkan mengambil tangannya. Telapak Laras dingin, sedangkan jari laki-laki itu hangat dan mantap.

“Santai,” bisiknya.

“Aku santai.”

“Tanganmu membantah.”

Cincin meluncur ke jari manis Laras. Ukurannya pas.

Saat giliran Laras memasangkan cincin perak sederhana kepada Arkan, jemarinya dua kali menyentuh ruas tangan laki-laki itu. Kontak singkat tersebut terasa lebih memalukan daripada puluhan pasang mata yang mengawasi.

Setelah itu, mereka menandatangani dokumen pernikahan di hadapan petugas KUA dan saksi. Buku nikah dengan nama mereka diserahkan setelah semua bagian diperiksa.

Laras membuka halaman identitas.

Istri: Laras Anjani.

Suami: Arkananta Wibisana.

Tidak ada nama Prawira di sana. Tidak ada label yang diberikan keluarga ayahnya. Hanya nama yang dibangun Wulan bersamanya, kini terhubung secara sah dengan laki-laki yang selama ini ia cintai dalam diam.

Arkan menutup buku itu perlahan. “Sudah cukup memastikan?”

Laras memandangnya. “Kamu dengar percakapanku dengan Nindya?”

“Rumahnya kecil.”

“Kapten suka menguping?”

“Hanya informasi keselamatan penting.”

Untuk pertama kali hari itu, Laras tertawa tanpa gugup.

Sungkeman dilakukan setelah pencatatan selesai. Laras dan Arkan berlutut di hadapan Wulan lebih dulu. Wulan meletakkan kedua tangan di kepala mereka, mendoakan agar rumah tangga itu dipenuhi kesabaran dan tidak mengulangi luka dari generasi sebelumnya.

Ketika Laras mencium tangan ibunya, bahunya akhirnya berguncang.

“Jangan bawa semua ketakutan Mama ke rumah barumu,” bisik Wulan. “Bawa keberanianmu.”

Di hadapan Ratna, Arkan menunduk lebih lama. Ratna menyentuh rambut putranya, lalu memegang tangan Laras.

“Kalau dia terlalu banyak terbang dan lupa pulang, telepon saya.”

“Ma,” protes Arkan.

“Sekarang Mama punya sekutu.”

Laras tersenyum. “Baik, Bu Ratna.”

Ratna menatapnya penuh arti. “Masih Bu Ratna?”

Laras mendadak gugup. “Mama.”

Wajah Ratna langsung melembut. Ia memeluk Laras erat, membuat dua ibu di ruangan itu kembali meneteskan air mata.

Eyang Broto menerima sungkem mereka melalui panggilan video. Arkan dan Laras duduk dekat layar sambil menundukkan kepala ketika ia memberi nasihat singkat.

“Jangan berlomba menentukan siapa yang paling benar,” katanya. “Berlombalah menjadi orang pertama yang mau pulang dan bicara.”

“Inggih, Eyang,” jawab Arkan.

Acara sederhana itu berakhir menjelang sore. Para tamu mulai berpamitan, tetapi beberapa kerabat masih meminta foto. Arkan berdiri di sisi Laras, tangannya tidak pernah jauh dari punggung atau siku perempuan itu setiap kali orang bergerak terlalu dekat.

Seorang kerabat Ratna yang baru datang terlambat menatap Laras dengan penasaran. “Arkan, nggak dikenalkan?”

Arkan meraih tangan Laras. Jemari mereka bertaut di depan semua orang.

“Ini istri saya,” katanya tenang.

Dua kata terakhir membuat cincin di jari Laras terasa semakin berat.

Orang-orang tersenyum dan kembali menggoda. Arkan membiarkannya beberapa saat, lalu menundukkan kepala ke dekat telinga Laras.

Napas hangatnya menyentuh kulit di bawah kerudung.

“Jangan lepas tanganku, istriku.”

Wajah Laras langsung terbakar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!