Karena sebuah kesalah pahaman, seorang gadis suci dihancurkan kehormatannya. Tak hanya kehilangan kehormatan, Ia harus kehilangan cinta, karir dan keluarganya. Di tengah upayanya bertahan menghadapi cobaan, Ia terpaksa harus dijatuhkan dengan kenyataan lain. Mengandung benih orang yang "merusak"-nya. mampukah Ia tetap melangkah membawa kemalangan dan merubahnya menjadi kebahagiaan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Citra Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kenangan
Ada pepatah yang yang mengatakan bahwa cinta dan kekayaan terkadang tak sejalan. Mungkin ungkapan itu cocok untuk menggambarkan salah satu kehidupan seorang anak manusia bernama Alfian Rifa'i. Saat tengah mengembangkan bisnis menuju puncak kesuksesan, Ia malah ditinggalkan istri tercintanya, Mariana.
Entah apa yang melatari kepergian sang istri kala itu, meninggalkan Rifa'i begitu saja tanpa sebuah pesan. Membuat Ia begitu hancur dan terluka karena kehilangan sosok yang selalu menemaninya, memberi kekuatan dan penyemangat hidupnya. Semakin terpuruk bagi Rifa'i karena bukan hanya dia yang ditinggalkan, melainkan putrinya yang saat itu baru berusia tujuh tahun, Clarissa Gardenia.
Di awal, ia masih berpikiran positif, ia meyakini bahwa sang istri hanya pergi dan akan kembali. Berhari-hari Rifa'i menunggu dan berharap akan ada surat ataupun pesan telepon mengabarkan keadaan sang istri. Ia pun tak hanya berpangku tangan menunggu, namun membayar beberapa orang untuk melacak keberadaan sang istri, tapi semua nihil.
Selama menunggu kabar dari orang suruhannya, Rifa'i tak benar-benar menjalani kehidupan. Terkadang Ia minum minuman keras untuk menghilangkan bayangan istrinya sampai pingsan. Termenung sendirian di ruang kerja hingga berhari-hari lupa makan minum dan tak bisa mengendalikan emosi. Ia lalai akan tugasnya sebagai seorang pimpinan. Sehingga mengakibatkan perusahaan yang saat itu sudah berada di puncak hampir jatuh tak bersisa. Beruntung adik iparnya mengambil alih sementara.
Sungguh kehilangan orang yang kita cintai tanpa alasan dan kabar membuat Rifa'i gila. Hampir tiga bulan Rifa'i menjalani hidup yang bisa dibilang jauh dari kehidupan manusia normal. Sampai pada suatu kejadian yang menyadarkannya, bahwa bukan hanya Ia yang merasa kehilangan dan terluka. Rifa'i sadar, putrinya pun terluka sepertinya.
Tiga bulan Ia terpuruk karena sang istri hingga tak menyadari dirinya hampir kehilangan perusahaan. Tak hanya itu, bahkan nyawa putri kecilnya hampir saja melayang. Rifa'i melupakan kondisi putri semata wayangnya, dan saat ditemukan kondisi putrinya sangat mengenaskan.
Gadis kecil yang dulu ceria menderita malnutrisi karena terabaikan. Meski Rifa'i memiliki beberapa asisten di rumahnya, tapi tentu Risa kecil mendamba perhatian dan kasih sayang orangtua. Akibatnya, bukan hanya tubuh melainkan jiwanya terluka hingga menyebabkan trauma dan harus dirawat seorang psikiater.
Melihat kondisi putri kecilnya itulah yang membuat Rifa'i perlahan bangkit menerima kenyataan. Masukan dari sahabatnya yang juga seorang psikiater membantu Rifa'i mulai menata kembali hidupnya. Ia mulai mengurus kembali perusahaan dibantu sang adik ipar, dan menemani sang putri yang masih membutuhkan perawatan psikis. Saat itu Rifa'i merubah tujuan hidupnya, yakni demi kebaikan sang putri.
Harapan Rifa'i akan kepulangan sang istri masih bersarang si hatinya. Bertahun-tahun Ia tetap sendiri meskipun keluarga menyarankan dirinya untuk segera memiliki pendamping. Karena bagaimanapun juga Clarissa masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Namun Ia telah menutup hatinya. Rifa'i lebih memilih memboyong adiknya, Almira, beserta keluarganya. Ia berharap bahwa kasih sayang seorang Ibu yang yang tidak didapatkan putrinya bisa diperoleh dari sang Adik.
Di mata Rifa'i, Mira adiknya, tulus memberikan kasih sayang seorang Ibu kepada Clarissa. Mira memiliki putri yang 5 tahun lebih muda dari Risa, menjadikan mereka seolah kakak beradik dari orangtua yang sama. Berkat bantuan suami Mira pula, Rifa'i bisa membangun kembali perusahaan yang dibangunnya. Sebagai wujud rasa terima kasih, Rifa'i memberikan Yudha, suami Almira, beberapa persen saham di perusahaannya.
Melihat kasih sayang keluarga adiknya pada Clarissa membuat Rifa'i merasa tenang. Saat mengetahui tentang penyakit ginjal yang membuat hidupnya tak akan lama, Ia yakin Risa akan baik-baik saja tanpanya. Pria itu merasa bahagia, bisa menyaksikan putri kecilnya tumbuh dewasa, kuat dan mandiri meskipun tanpa seorang Ibu. Ia semakin bangga pada putri kecilnya, ketika tahu Risa dapat menyelesaikan studinya dengan waktu singkat dan bergelar cumlaude mengantarkan nya diterima menjadi karyawan perusahaan PT. NPP dengan hasil nilai tertinggi.
Akhirnya, saat Rifa'i sudah merasa tak mampu lagi bertahan melawan sakit yang di derita, Ia merelakan kehidupannya untuk berpulang dengan bahagia. Meskipun dua hal yang belum sempat ia saksikan dalam kehidupannya, yaitu melihat putri kecilnya menikah dan bertemu dengan sang istri yang masih setia Ia tunggu kepulangannya.
Risa mengingat kembali kenangan terakhirnya bersama sang Ayah. Meski terbaring lemah di ranjang rumah sakit Rifa'i tetap memberikan nasihat untuk putri semata wayangnya, serta permohonan agar anaknya memaafkan sang Ibu yang sudah meninggalkan mereka. Rifa'i menitipkan Risa pada Mira. Berharap adiknya dapat menjadi pengganti orang tua bagi Risa, dan saat itu diangguki oleh Mira.
Semenjak kepergian Ayahnya, Risa tinggal bersama Mira beserta keluarganya. Awalnya Mira masih perhatian dengan Risa, namun lama-kelamaan tak ada perhatian yang Risa dapatkan. Ditambah dengan kesibukan Risa dengan pekerjaannya, Ia semakin jarang bertemu dengan keluarga Tantenya. Tak ada lagi kehangatan saat makan bersama, di meja itu mereka seperti orang asing. Dua tahun ia mencoba bertahan tinggal bersama, namun akhirnya Risa menyerah. Saat kesempatan menjadi Kepala Audit datang, Risa membeli sebuah rumah yang berjarak tak jauh dari kantornya dan memutuskan untuk tinggal sendiri di sana.
**
Risa terisak dalam tidur, setiap kali kenangan itu muncul dalam mimpinya. Air mata membasahi seluruh wajah cantiknya. Tak berapa lama, Ia terjaga. Matanya yang sembab mengerjap ke langit-langit kamar berusaha memperoleh kesadaran maksimal. Bangkit mengatur duduk di sisi ranjang, matanya menatap ke arah jam dinding.
jam delapan malam, ujarnya lirih.
Setelah menyelesaikan laporan, tepat pukul lima sore, Ia sampai di rumah. Rasa lelah dan kantuk yang tak tertahankan, rupanya membuat Ia ketiduran. Namun lagi-lagi mimpi itu datang. Sosok samar Ibu yang meninggalkannya dan ekspresi Tante Mira saat mengantarkan kepergiannya.
Datar.
Rasa sakit kembali menjalar di hatinya, ditinggalkan orang-orang dicintai, Ia merasa menjadi orang yang tak berharga.
Matanya kembali memanas, saat seperti ini Risa sangat merindukan pelukan sang Ayah.
"Ayah ... Ayah ... Risa merindukan Ayah," gumamnya lirih. Seketika tangisnya pecah.
Ia terduduk di sisi ranjang, memandang foto Rifa'i yang tersenyum bahagia merangkul pundaknya kala itu, foto wisuda sarjananya. Lengan kirinya menepuk-nepuk dada, mencoba mengurai rasa sesak karena menahan kerinduan dan rasa sakit bersamaan.
Saat ini Ia benar-benar membutuhkan pelukan.
Dering ponsel seketika menghentikan tangisannya. Sebuah panggilan, tertera nama Fajar di sana. Sambil menetralkan suaranya yang sumbang karena tangis, Risa menjawab telepon.
"Halo Jar ...," jawabnya.
"Apa kamu belum tidur?" tanya Fajar melalui sambungan ponselnya.
"Iya, aku belum tidur. Ini malah baru bangun," ujar Risa serak.
"Kamu gak apa-apa, Ris? Kok suaramu serak begitu," tanya Fajar.
"Aku gak papa, efek bangun tidur aja," jawab Risa sambil mengatur suaranya.
"Sebenarnya aku mau ke rumahmu, Ris. Kebetulan ada yang mau aku omongin soal laporan saksi kemarin," ujar Fajar.
"Oh ... kalau begitu kamu ke rumah aja. Tapi jangan sampai jam sepuluh malam ya ... Aku gak enak sama tetangga soalnya," terang Risa.
"Siap!"
"Oke Jar, aku tunggu ...."
Risa bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar mandi. Ia tak ingin Fajar melihat wajahnya yang kacau, wajah bangun tidur plus wajah habis menangis.
***
Baru saja lima menit Risa keluar dari kamar mandi Bel rumah sudah berbunyi. Bahkan Ia masih menggunakan jubah mandi dan kepala yang terbungkus handuk. Bergegas ke kamar untuk berganti baju, bel kembali berbunyi.
"Sebentaar ...," ucapnya sedikit keras, berharap Fajar mendengar dan berhenti membunyikan bel.
Risa menuju pintu, dengan dress di bawah lutut berbahan satin lengan panjang. Ia belum sempat mengeringkan rambut, dan tidak ingin masuk angin gara-gara rambut basah. Untuk itu handuk berwarna putih masih membungkus rapi kepalanya.
Pintu terbuka.
"Kamu!" serunya kaget.
Melihat sosok di depan nya bukan orang yang diinginkan, dengan segera Risa menutup pintu rumahnya. Namun sosok dibalik pintu rupanya telah membaca gerakannya. Pria itu menjadikan lengannya untuk menahan agar pintu tak tertutup.
Sadar dirinya mungkin dalam bahaya Risa segera berlari menuju kamar. Namun naas, sekali lagi Pria itu berhasil mengejar Risa. Tangannya di cekal, seketika tubuhnya ditarik ke arah pria itu. Tubuh Risa yang kecil, menubruk Pria di hadapannya, dan hampir terpental, tapi pelukan dari si pria membuat Ia terjebak dalam kungkungan.
"Mau apa kamu Indra?!" tanya Risa. Suaranya mulai bergetar. Rasa takut mulai menghampiri. Namun masih dengan sisa keberanian matanya menatap pria di hadapannya.
Indra hanya diam. Nafasnya tak beraturan, matanya memindai seluruh tubuh Risa, entah apa yang ada di benaknya. Tiba-tiba Ia menyeringai, membuat Risa bergidik ngeri.
lama gak muncul "!!
setelah aku stop baca di part 82, krn d rasa alur nya ga maju2.
akhirnya, hr ini tuntas baca 29 part dalam sehari, abis sampe tamat.
Terima kasih sdh berkarya, memberi hiburan buat kami.
tetap semangat melahirkan karya2 lg ya thor.
jangan kecil & patah semangat dengan kritik & saran.
aku kasih hadiah vote & bunga ya thor, biar terus semangat berkarya..
author tegaaaa...