Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Keesokan harinya, ketika kegelapan subuh masih membungkus bumi dan udara dingin menusuk tulang, Linda mulai melancarkan rencananya. Dia bangun jauh lebih pagi dari biasanya. Dengan gerakan pelan dan mengendap-endap, dia melangkah keluar dari kamar tidur tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menyusuri lorong rumah yang remang-remang menuju kamar mandi belakang.
Di depan pintu kamar mandi, senyum licik dan beracun terukir jelas di bibirnya yang telah dipoles lipstik tipis. Linda mengambil botol sabun cair dari atas rak, lalu menyiramkan sedikit sabun bertekstur licin itu tepat di area lantai ubin yang sering diinjak saat orang baru melangkah masuk.
"Mampus kau, wanita tua!" bisik Linda dengan nada dingin dan penuh dendam, matanya berkilat jahat. "Salah sendiri meremehkanku dan ingin wanita itu kembali ke sini! Memangnya Rena bakalan mau kembali setelah apa yang sudah kalian lakukan kepadanya? Dasar keluarga tidak tahu diri!"
Setelah memastikan licinnya sabun tersebar sempurna di atas keramik, Linda meletakkan botol sabun ke tempat semula, lalu berjalan mengendap-endap kembali masuk ke kamarnya. Dia menarik selimut hingga sebatas dada, berbaring tenang seolah tidak terjadi apa-apa, dan menunggu dengan sabar apa yang akan terjadi selanjutnya.
Waktu berlalu lambat. Setelah hampir tiga puluh menit menunggu dalam ketegangan yang tertahan, keheningan subuh itu akhirnya pecah oleh suara dentuman keras disusul jeritan melengking dari arah kamar mandi, lalu hening seketika.
BRUK!
"Aaghh! Tolong...!"
Aris yang masih tertidur lelap di kamarnya langsung tersentak kaget mendengar suara teriakan ibunya. Tanpa berpikir panjang, dia melompat dari atas kasur dan berlari kencang menuju sumber suara. Begitu menekan sakelar lampu dan membuka pintu kamar mandi, jantung Aris serasa berhenti berdetak.
Di atas lantai ubin yang basah, Bu Broto sudah tergeletak tak berdaya dalam posisi miring. Matanya terpejam rapat dan badannya sama sekali tidak bergerak.
"Ibu! Ibu! Astagfirullah, Ibu!" berteriak histeris Aris sembari berlutut dan memangku kepala ibunya yang terasa dingin. Dia panik dan berteriak memanggil semua orang yang ada di rumah itu.
"Siska! Linda! Tolong! Ibu pingsan!"
Pintu kamar lain terbuka lebar. Siska berlari keluar dengan wajah pucat pasi dan mata membelalak penuh ketakutan.
"I... ibu... ibu kenapaa mas." Tanya Siska bergetar.
"Nggak tau, tadi ibu teriak dan sudah seperti ini. "
Tak lama kemudian, Linda menyusul keluar dari kamar dengan wajah yang dibuat-buat terkejut, menutupi mulutnya dengan kedua tangan sembari memamerkan akting kepura-puraannya yang sempurna.
"Ya Tuhan! Ada apa ini, Mas?! Kenapa dengan Ibu?!" seru Linda dengan nada panik yang dibuat-buat, padahal di dalam hatinya ada kepuasan luar biasa yang membuncah.
"Aku tidak tahu! Ibu terpeleset dan pingsan!" jerit Aris dengan suara gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Cepat bantu aku! Kita harus angkat Ibu ke mobil dan membawanya ke rumah sakit sekarang juga!"
Dengan panik, Aris memapah dan mengangkat tubuh ibunya yang terkulai lemas dengan bantuan Siska dan Linda. Mereka membawa Bu Broto keluar rumah dan mendudukkannya di kursi belakang mobil.
"Siska, kamu ikut Mas ke rumah sakit! Linda, kamu di rumah saja menjaga Amel," perintah Aris terburu-buru sebelum langsung menancap gas mobilnya membelah jalanan pagi yang masih sepi dengan kecepatan tinggi.
Sepeninggal mobil Aris yang melaju kencang, Linda berdiri di depan pagar rumah. Dia menatap debu jalanan yang tersisa dengan senyum puas yang tersungging lebar di wajahnya, rencananya berjalan mulus tanpa ada satu orang pun yang mencurigainya.
"Kita lihat saja, setelah ini apa kau masih bisa mengusirku dari rumah ini." gumamnya lirih, dan langsung berbalik masuk ke dalam rumah membersihkan bukti yang tersisa.
Lobby Rumah Sakit Umum Daerah pagi itu terasa begitu mencekam bagi Aris dan Siska. Suara roda brankar yang didorong tergesa-gesa oleh para perawat menembus ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), meninggalkan Aris yang terus berjalan mondar-mandir di depan pintu kaca yang tertutup rapat. Jemarinya saling bertaut erat, bibirnya tak henti-hentinya merapalkan doa dalam ketakutan yang teramat sangat.
Siska duduk di kursi tunggu, menangkupkan kedua wajahnya dengan bahu yang berguncang hebat karena menangis sesenggukan. "Mas... Ibu gimana kalau kenapa-kenapa, Mas? Aku takut, aku nggak mau kehilangan ibu..."
"Pasti nggak apa-apa, Siska. Berdoa saja, ibu pasti baik-baik saja..." sahut Aris dengan suara parau, meski di dalam hatinya sendiri ada rasa bersalah yang teramat besar yang mulai menggerogoti jiwanya.
Setelah hampir satu jam menunggu ketidakpastian, pintu IGD akhirnya terbuka. Seorang dokter pria berjas putih melangkah keluar sembari melepas sarung tangannya. Wajah dokter itu terlihat sangat serius.
Aris dan Siska langsung mendekati dokter tersebut. "Dokter! Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?!"
Dokter itu menarik napas panjang, menatap Aris dan Siska bergantian dengan tatapan penuh harap,berharap bukan kabar buruk yang mereka dengar.
"Apakah Anda keluarga dari pasien Ibu Broto?"
"Iya, Dok! Saya anak pertamanya!" jawab Aris cepat.
"Begini, Pak," tutur dokter itu dengan nada pelan namun tegas. "Berdasarkan hasil pemeriksaan awal yang sudah kami lakukan dan CT-scan kepala, benturan keras akibat jatuhnya pasien di kamar mandi telah menyebabkan pembuluh darah di otak pasien pecah. Ditambah lagi dengan tekanan darah pasien yang tercatat sangat tinggi saat tiba di sini... kami memvonis Ibu Anda mengalami serangan stroke berat."
DARRR!
Kalimat dokter itu laksana petir di siang bolong yang menghantam tepat di atas kepala Aris dan Siska. Siska seketika menjerit histeris, menutupi mukanya dan hampir pingsan jika tidak segera ditahan oleh kursi tunggu.
"Se-stroke, Dok...?" bisik Aris dengan bibir gemetar hebat, matanya membelalak tak percaya. "Maksud Dokter... ibu gimana? Apakah masih bisa berjalan atau lumpuh?"
"Untuk saat ini, pasien mengalami kelumpuhan di anggota tubuh bagian kanan dan kemampuan bicaranya terganggu," jelas dokter itu prihatin. "Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan intensif terlebih dahulu untuk pemantauan lebih lanjut."
Kabar buruk itu membuat Aris dan Siska benar-benar syok luar biasa. Aris menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin, perlahan tubuhnya meluncur jatuh hingga dia terduduk di atas lantai. Bayangan rumah yang kian hancur, istri sah yang menuntut cerai, dan kini sang ibu yang terbaring lumpuh di ICU menumpuk menjadi satu beban raksasa yang meremukkan seluruh hidupnya dalam sekejap mata.
"Ya Allah, Apa lagi ini... Apa yang harus aku lakukan. " gumam Aris dalam kesedihan yang menyelimutinya saat ini.
aku pikir sampai Rena menikah lagi