Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Deklarasi Saudara
Sesulit-sulitnya hidup, mestilah pandai bersyukur menerima segalanya. Mengeluh bukan pilihan, akibat mengeluh justru menjadikan diri fakir akan nikmat yang di berikan. Bergelung di balik selimut hangat kala gerimis datang tentu pilihan semua orang. Namun jika diteruskan Aluna justru kesiangan. Toleransi hujan berlaku hanya untuk guru, murid tak boleh telat barang semenit karena absen di ambil ketua kelas saat jam pertama. Menyibak selimut, membantingnya ke lantai dengan kesal, Aluna baku hantam dengan selimut yang begitu menggoda tiada ampun padanya.
Mawar masuk kamar anak pertamanya dengan dahi mengkerut, karena mengetuk beberapa kali tak ada sahutan. Semakin berlipat kerutan di dahi saat melihat selimut di lantai dengan bentuk yang tak karuan. Oke, Mawar paham pasti anaknya mulai bertingkah aneh dengan tarung melawan selimut. Sedari kecil Aluna kerap menyalahkan selimut. Bangun kesiangan salah selimut karena terlalu erat memeluknya, apapun yang terjadi padanya adalah salah selimut yang menggoda imannya sambal tandas.
Mawar melihat Aluna keluar dengan handuk di kepala pertanda keramas. "Wow, menakjubkan."
"Apa Bu?" Singut Aluna.
"Tumben keramas, padahal diluar mulai hujan deras." Aluna tak suka dingin, tubuhnya tak kuat melawan suhu di bawah suhu ruang.
"Lihat ember kamar mandi penuh bawaannya pengen latihan tahan nafas di air Bu, biar jago kalau sewaktu-waktu ada serangan dadakan." Aluna masih teringat kejadian seminggu lalu.
"Kau ini katanya sudah insyaf, membawa diri ke ranah yang lebih baik. Tapi ibu dengar loh sering kali kau mengutuk nama teman-teman mu di depan cermin dengan komat-kamit mbah dukun ala mu." Mawar kini lebih memperhatikan Aluna.
"Wow tumben sekali ibu tahu kegiatan hidup ku, biasanya tak mau ikut campur, aku si anak terlantar padahal punya keluarga yang utuh." Dumel Aluna.
Mawar mendekat anaknya, rasa sesal itu ada. "Dulu mata ibu tertutup amarah, ibu hanya fokus dengan ucapan tentangga tentang kau, ibu fokus memperbaiki dirimu demi memuaskan ekspektasi mereka, tanpa tahu anak ibu jauh lebih terluka. Maafkan ibu sayang."
"Waduh-waduh, berani sekali kalian pelukan teletabuis tanpa mengajakku." Karin masuk kamar Aluna dan bergabung dalam formasi.
"YAKKK, geser sedikit enggap!" Aluna tak habis pikir biasanya dia adu diam dengan Karin, sekarang malah lebih banyak adu mulut.
"Ah indahnya kasih sayang ini." Tak hiraukan teriakan Aluna, Karin justru mempereratnya.
Tubuh Aluna merosot ke lantai pura-pura pingsan, Mawar panik melepaskan pelukan, dan ya namanya juga ibu-ibu tentu teriak adalah pelengkap rasa panik. "Astagfirullah, Aluna!"
"Heleh, jangan percaya dengan tipu daya kakak." Karin ikut berjongkok, menggelitik titik sensitif Aluna namun tak ada respon.
Karin mulai panik. "Bu, sepertinya kakak pingsan sungguhan."
"Karin sih peluknya kekencangan, kakak mu jadi kekurangan oksigen, pingsan deh jadinya." Mawar terdidik jadi ibu yang kuat, sebab itu dia dengan mudah membawa tubuh Aluna ke atas ranjang.
"Maaf Bu, Karin senang menggoda kakak yang sudah benar-benar jadi kakak beberapa bulan ini. Tak tahu saja, Karin jadi ketergantungan kena omel kak Aluna." Pengakuan di hadapan Aluna.
Aluna ingin segera membuka mata, tapi mengerjai mereka lebih lama lagi terdengar cukup menarik baginya. Jadilah ia terus memejamkan mata dengan menyaksikan dalam dia semua perlakuan adik dan ibunya. Mawar sibuk mengolesi tubuh Aluna dengan minyak angin. Disisi atas adiknya sibuk mengeringkan rambut kakaknya. Aluna terus bersandiwara, hingga sandiwara itu menjadi malapetaka baginya sendiri.
"Aaakkkkkk, jam sepuluh kenapa tak ada yang membangunkan diriku?" Aluna menatap horor jam dinding di kamarnya.
Teriakan Aluna sampai ke telinga Karin, dia yang masih menonton televisi lari kelabakan. "Kakak sudah sadar?"
"Sadar-sadar gundulmu, aku ketiduran kenapa tak kau bangunkan?" Amuk Aluna.
Lompat dari kasur, terburu dan mendarat tidak elit. "Iyuh, jangan malah lawak sih kak, jatuh geh tengkurap, ucapkan selamat tinggal untuk hidung minimalis mu."
Aluna menahan nyeri jika mengeluh pada Karin, takut di gunjing. "Kau kenapa tak sekolah?"
"Adik berbakti ini menunggu mu yang pingsan tapi latihan seperti mati." Timpal Karin dengan aksen menyebalkan.
"Aku tak pingsan, aku ketiduran." Salah sendiri pura-pura pingsan.
"Sudah-sudah tak usah anarkis, ayo sarapan." Karin membantu Aluna bangkit dari jatuhnya.
Aluna menarik Karin lebih kuat hingga tubuh adiknya tersungkur di dekatnya. "Hahahahah, begini baru impas."
"Yakkkk, kakak GILAAAAAAAA!"
Pertikaian antar saudara kandung tak berlangsung lama. Cekcok tiap hari, pastilah menjadi kenangan masa tua nantinya. Karena setiap cekcok yang terjadi semakin memupuk diri menjadi lebih dewasa. Itulah indahnya tali persaudaraan.
Berkat sarapan menjelang makan siang, Aluna jadi malas gerak. Dirinya nyaris tertidur di meja makan usai semua lauk di piringnya tandas, jika meja tak di gebrak oleh Karin. Matanya lengket seperti terkena jompa-jampi. Sulit dibuka, padahal Aluna tahu tak baik banyak tidur. Mengusir rasa kantuk yang tak mau pergi, Aluna mencuci piring miliknya dan Karin. Karin yang tak terima kakaknya membersihkan sisa makanan dirinya, ikut serta membantu ke dapur. Mencuci piring bersama, tentu tak seromantis adegan drama Korea. Yang ada seperti perang antar suku, ribut sana-sini tak kelar-kelar padahal hanya cuci dua piring dan dua gelas saja.
"Harusnya kau sekolah saja, lagipula aku terbiasa sendiri di rumah." Aluna merasa amat bersalah, karena kepura-puraannya menjadikan Karin tak masuk sekolah.
"Dan membiarkan kesalahpahaman itu merajalela di kepala bodoh mu? Tentu tidak akan ku lakukan." Karin tahu semua penyebab ketidakharmonisan antara dirinya dan sang kakak karena ego tinggi keduanya.
"Maaf, membuat mu tak nyaman dengan sikapku yang lalu." Aluna tak tahu ternyata bukan hanya dirinya yang memendam luka, Karin jauh lebih parah meski tak terlihat, wajar ibunya lebih perhatian pada Karin.
"Aku penyakitan kak, ibu perhatian padaku bukan karena murni karena rasa sayang, tapi terselip rasa iba di dalamnya, meski dia bersama ku, ibu selalu was-was akan dirimu, dia khawatir berlebih jika menyangkut dirimu, aku jadi serakah, aku berpikir untuk sakit selamanya agar perhatian ibu untukku seorang." Beber Karin.
Aluna tak menyahut, dia harus dengar dulu semua keresahan adiknya selama ini. "Aku ingin kau ada mendukung ku melawan penyakit, kau sibuk sana-sini membuat onar, bolos sekolah dan urakan, merokok bahkan kau kabur dari rumah dengan teman-teman geng mu yang salah kiblat."
"Aku kesepian saat itu kak, aku tidur tanpa di temani ibu karena dia selalu sibuk di dekat pintu menanti kedatangan mu, aku semakin benci padamu karena kau pulang dengan marah-marah dan menyalahkan semua pada ibu dan ayah. Semakin marah karena kabar miring yang menimpamu menjadikan ayah di rawat di rumah sakit sampai sekarang." Tumpah, semua di curahkan Karin.
Aluna tak tahan lagi mendengar semuanya. "Maaf Karin, maaf karena aku tak becus sebagai seorang kakak, maaf karena aku mengabaikan dirimu, maaf karena aku selalu cemburu akan dirimu. Dan maaf karena membuat ayah koma."
Karin memeluk Aluna, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher kakaknya. "Aku juga salah, kita sama-sama salah, ayah koma karena takdir, maaf menyalahkan kakak saat itu."
Tanpa mereka sadari, ada hati yang menghangat karena kedekatan keduanya. Mawar menyeka airmatanya yang menetes tanpa permisi. Bagi mawar dunianya baik-baik saja selama kedua putrinya saling sayang sebagai keluarga. Beban di dada terangkat satu, tak usah pusing mendamaikan keduanya. Karena deklarasi persaudaraan mereka di mulai kembali, mawar bersyukur akan itu.
Bersambung.
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂