Sania adalah seorang gadis cantik yang kaya. karena kekayaan keluarganya Sania menjadi sombong, Ia suka menghina dan meremehkan orang lain. Orang yang paling sering ia hina adalah Arlan, supir pribadinya sendiri. Hampir setiap hari Sania mencaci maki Arlan, walaupun begitu Arlan tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja karena diam diam Arlan sudah jatuh cinta pada Sania. Duniapun berputar berkat kerja kerasnya Arlan berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya sedangkan keluarga Sania jatuh miskin karena mereka mengalami musibah. Akankah Sania jatuh cinta pada Arlan setelah Arlan berubah menjadi kaya dan apakah Arlan masih mencintai Sania mengingat perlakuan buruk Sania dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlibur
Sania tidak tahu apa maksud Arlan, mengapa Arlan ingin mengajaknya pergi berlibur. Entah apa yang direncanakan laki laki itu, Sania hanya bisa menurut.
Keesokan harinya nenek Sania akhirnya bisa pulang dari rumah sakit dan benar saja, Arlan sudah bersiap siap untuk pergi.
Nenek Sania dan ibu Ranti sangat bahagia karena Sania akan pergi berbulan madu, mereka berharap Sania bisa segera hamil.
Sania terlihat lesu, niatnya ingin menghindari Arlan tapi Arlan justru seperti mengekang dirinya.
Pagi itu Arlan meminta seorang supirnya untuk menjemput Sania dan keluarganya dirumah sakit. Sania kesal, tapi nenek dan ibunya malah terlihat senang mereka menganggap Arlan adalah suami yang baik dan perhatian.
Sampai dirumah Sania dan keluarganya melihat Arlan sedang duduk diruang tamu sambil memainkan ponselnya, didepannya ada dua buah koper berukuran kecil.
"Nenek, mama. aku senang kalian sudah pulang. Maaf, aku tidak menjemput nenek dan mama. aku sibuk memasukan baju kekoper." Menyadari kalau Sania dan keluarganya sudah datang Arlanpun menyambut mereka.
Mata Sania langsung tertuju pada dua buah koper yang berada didepan Arlan.
"Ini koper siapa?" Tanya Sania yang memang tidak tahu koper itu milik siapa.
"Yang satu punyaku dan yang satu lagi punyamu. aku sudah memasukan baju baju kita kedalam koper. kamu tidak lupa kan? kita mau pergi liburan."
"Apa? jadi kamu juga memasukan bajuku kedalam koper? Sania kaget.
Apa dia memasukan pakaian dalamku juga? Batin Sania, ia merasa malu.
"Iya..kenapa sayang? aku salah." Sikap lembut Arlan tentu saja membuat keluarga Sania senang.
Nenek dan ibu Sania mengira kalau Arlan sangat menyayangi Sania.
Tidak tahu kenapa, wajah Sania memerah ketika Arlan memanggillnya dengan sebutan sayang.
"Kalau begitu aku tunggu kamu dimobil. Nenek, mama aku pergi dulu." Setelah berpamitan Arlan keluar dari rumah itu.
Arlan berjalan sambil mendorong dua koper yang ada didepannya. itu membuat Nenek Sania dan ibu Sania bertambah kagum pada Arlan.
"Sania cepat pergi, jangan biarkan suami kamu menunggu." Ucap ibu Sania penuh semangat.
"Tidak salah, nenek memintamu menikah dengan Arlan. dia benar benar laki laki yang bertanggung jawab." Puji nenek Sania membuat Sania memutar bola matanya malas.
Untuk kesekian kalinya Sania melakukan sesuatu demi Neneknya, ia menyusul Arlan yang sedang menunggunya didalam mobil.
"Kita mau kemana?" Tanya Sania saat ia sudah berada didalam mobil Arlan.
"Aku dan Erika mau liburan."
"Lalu kenapa kamu mengajakku?" Sania kesal.
Mendengar nama Erika disebut, hati Sania menjadi panas rasanya seperti terbakar.
"Arlan, apa maumu? terkadang kamu bersikap baik padaku, tapi terkadang kamu membuat aku sakit hati. kamu mau balas dendam karena dulu aku sering menghinamu? kamu sudah berubah." Sania berusaha untuk tidak marah.
"Sania, aku tidak pernah berubah. Sebenarnya ini semua ini karena adikku."
"Adikmu? maksud kamu?" Sania tidak mengerti maksud ucapan Arlan.
"Kamu masih ingat? waktu papa kamu mengusir aku dari kota ini. hari itu juga aku dan keluargaku pergi dari kota ini, tapi... "
"Tapi apa?" Sania merasa penasaran.
"Bis yang kami naiki mengalami kecelakaan. sebagian besar penumpangnya selamat, tapi ada beberapa orang yang meninggal dan salah orang yang meninggal adalah Jerry Adikku." Cerita Arlan membuat Sania kaget.
Sania menutup mulutnya dengan satu tangannya, matanya mulai berkaca kaca. sulit dipercaya adik satu satunya Arlan sudah meninggal padahal usianya masih sangat muda, ketika itu usia adiknya Arlan masih lima belas tahun.
"Seandainya waktu itu papamu tidak mengusirku, kami tidak akan pergi dan mungkin adikku masih hidup. Jujur, aku memang ingin menyakitmu. aku ingin balas dendam, tapi saat melihatmu menangis aku jadi merasa kasihan padamu. karena itu sikapku berubah rubah. kadang aku baik, kadang aku jahat."
"Arlan, maafkan aku seharusnya waktu itu aku membelamu, seharusnya waktu itu aku mencegah papa mengusirmu." Sania merasa sangat bersalah, ia memeluk Arlan dari samping sambil sesekali menghapus air matanya.
"Sania lepas, aku sedang menyetir."
"Aku tidak mau." Sania menggelengkan kepalanya.
"SANI, jangan membuat aku marah!" Bentak Arlan membuat Sania melepaskan pelukannya.
Untuk sesaat mereka saling diam.
"Apa kamu tetap ingin balas dendam padaku?" Sania mulai bicara lagi.
"Aku tidak tahu Sania, sebaiknya kita berpisah saja." Ucapan Arlan membuat Sania sedih.
"Kenapa? apa kamu ingin buru buru menikahi Erika karena itu kamu ingin kita berpisah?"
Sania memang terpaksa menikah dengan Arlan, Namun saat Arlan mengucapkan kata pisah Sania merasa tidak rela. Sania juga tidak tahu, kenapa ia tidak ingin berpisah dengan Arlan. Tanpa Sania sadari, Sania mulai jatuh cinta pada Arlan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Erika, aku cuma tidak mau menyakitimu." Arlan menyangkal.
"Baiklah, tapi..apa kamu bisa menunggu?" ucap Sania sambil mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.
"Menunggu?"
"Setelah kita pulang, aku akan mencari pekerjaan. kalau sudah dapat kerja, aku akan membeli rumah."
"Lalu?" Arlan ingin tahu, apa yang ingin Sania lakukan.
"Aku akan sering sering mengajak nenek dan ibu pergi kesana, pelan pelan mereka akan menyukai rumah itu. kalau mereka sudah menyukai rumah itu aku akan mengajak nenek dan ibuku pindah lalu... lalu kita berpisah."
Arlan tidak mengira Sania mempunyai rencana panjang dalam hidupnya, Arlan pikir Sania adalah perempuan lemah yang bisanya cuma menangis. tidak disangka dibalik sifat manjanya Sania adalah perempuan yang kuat, Arlan diam diam merasa kagum mendengar rencana yang diutarakan Sania.
Sania dan Arlan akhirnya disebuah villa mewah berukuran luas, pemandangan disana cukup Asri banyak pepohonan yang ada disana. Villa itu itu terlihat bersih dan terawat.
"Wah.. indah sekali." Sania merasa senang saat melihat villa itu. ia segera turun dari mobil Arlan.
"Kamu suka?" Arlan keluar dari mobilnya kemudian ia mendekati Sania
Tanpa rasa canggung Arlan merangkul Sania, mereka benar benar seperti pasangan suami istri yang sedang pergi berlibur.
"Iya aku suka." Sania menatap mata Arlan.
Dari tatapan matanya Arlan tidak bisa menyembunyikan kalau ia juga bahagia. Arlan dan Sania saling berpandangan denga jarak yang amat dekat.
Mata Arlan lalu menatap pada bibir Sania, bibir yang merah dan terlihat menggoda. Arlan mendekatkan wajahnya pada wajah Sania, membuat wanita itu memejamkan matanya.
"Sayang." Suara panggilan seseorang membuat Sania dan Arlan saling menjauh.
Erika berdiri didepan pintu seraya menatap tidak senang pada Sania. Erika menghampiri Arlan dengan tidak tahu malunya, ia melingkarkan tangannya dilengan Arlan.
"Sayang kamu kok lama?" Didepan Sania, Erika bersikap bagaikan seorang istri yang kesal karena menunggu suaminya pulang.
Arlan menatap Sania yang saat itu sedang menatapnya, ditatap seperti itu membuat Sania mengalihkan pandangan matanya.
"Sayang ayo kita masuk, buat apa berdiri disini terus." Erika menuntun Arlan agar Arlan masuk kedalam bersamanya.
Sania hanya diam, ia mengikuti langkah kaki Arlan dan Erika
Sesampainya didalam Erika langsung menentukan dimana Sania akan tidur. Kelakuannya seakan akan dialah pemilik villa itu, padahal jelas jelas Arlan yang menyewa villa itu.
"Sania, kamarmu disana, paling ujung. cepat bawa kopermu kesana." Erika begitu sombong.
Erika sengaja menyuruh Sania tidur dikamar paling ujung karena kamar itu kamar yang terpencil, Erika ingin Sania merasa seperti orang yang diasingkan.
Erika tidak menyukai Sania, bagi Erika Sania adalah pengganggu.
Keterlaluan Erika, divilla ini banyak kamar. kenapa aku diberi kamar ujung? Rasanya aku ingin sekali mencakar mukannya yang sombong itu, tapi tidak. aku tidak mau membuat keributan lagi.
Sania tidak ingin meladeni Erika, tanpa berkata apa apa Sania berjalan kekamar. ia melewati Erika dan Arlan yang menatap aneh kepadanya.
"Sania kenapa?" Erika melihat Sania masuk kedalam kamar yang berada diujung.
Erika tercengang, tak disangka sangka Sania mau saja menuruti perintahnya. Erika mengira Sania akan menolak tidur dikamar itu lalu mereka akan bertengkar seperti kemarin.Reaksi Sania yang dingin dan datar justru membuat Erika kesal.
Erika kesal, diamnya Sania membuanya tidak punya alasan untuk bertengkar dengan Sania. bertengkar dengan Sania merupakan hiburan tersendiri buat Erika, karena saat Erika bertengkar dengan Sania. Arlan pasti akan membelanya.
Dengan begitu Erika bisa melihat wajah cemburu Sania, Erika akan bersorak kegiranga saat ia melihat Sania wajah cemburu. ada rasa puas didalam dirinya.
"Sania tidak apa apa? memangnya kenapa?" Arlan pura pura tidak menyadari perubahan sikap Sania.
"Biasanya Sania selalu ngajak ribut, kenapa sekarang dia diam? aneh." Erika merasa heran.
"Engga ada yang aneh, Dulu kalian berteman dan jarang ribut." Arlan mengingatkan Erika bahwa dulu Erika berteman dengan Sania.
"Itu kan dulu." Erika justru tidak suka mengingatnya.
"Erika, terima kasih. kamu sudah bantu aku, kamu mau pura pura jadi pacarku."
"Sama sama, aku senang bisa bantu kamu. ya udah aku kekamar dulu." Erika kemudian meninggalkan Arlan sendirian diruangan itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sania merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, setelah mengetahui adik Arlan sudah meninggal Sania merasa sangat bersalah.
Apapun yang aku lakukan tidak akan bisa mengembalikan adiknya Arlan, mulai sekarang aku akan menerima semua perlakuan Arlan.
Sania sudah pasrah jika Arlan memang mau balas dendam atau mau menyakiti dirinya.
Pukul dua siang Sania bangun dari tidurnya karena ia merasa haus, ketika keluar dari kamar ia bertemu Arlan didapur. Arlan juga sedang mengambil minum disana.
"Dimana pacarmu?" Sindir Sania.
Mendengar pertanyaan Sania, Arlan merasa menjadi laki laki yang jahat. dia dan Sania sudah menikah, tapi didepan Sania ia malah menunjukan kemesraan dengan Erika.
"Erika tidur." Arlan meletakan gelas yang ia pegang, ia menoleh kearah Sania. Arlan berlagak santai meskipun dalam hati ia merasa tidak enak.
"Kalian tidur satu kamar?"
Arlan mengerutkan keningnya, ia kesal karena Sania mengira ia tidur sekamar dengan Erika. Arlan menarik nafas dalam dalam untuk mengurangi emosinya.
"Tidak? kamu cemburu."
Pertanyaan itu bagai anak panah yang tepat sasaran.
"Kenapa diam?" Arlan selangkah demi selangkah mendekati Sania.
Tubuh Sania sampai merapat didinding, dan Saat tubuh mereka hampir tak berjarak. Erika memanggil Arlan, Arlan jadi sangat kesal.
"Sayang, kamu dimana?" Erika setengah berteriak.