NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Kartu ATM Sendiri

Nan Shin memotret kedua sisi struk restoran itu sebelum melipatnya kembali.

Ia belum tahu siapa yang duduk di seberang Cheng An pada pukul sembilan lewat empat puluh tujuh. Ia juga belum tahu di rumah siapa suaminya mengaku tidur. Yang ia tahu hanya satu: jika ditanyakan saat itu, Cheng An akan menyebutnya terlalu sensitif lagi.

Nan Shin menyimpan foto dalam folder pribadi di ponsel, lalu memasukkan struk ke saku tasnya sendiri.

Ketika Cheng An turun setelah mandi, Ibu Kho sudah berada di dapur. Ia memandang wajah putranya yang lelah, lalu menatap Nan Shin.

“Kalian bertengkar?”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Cheng An.

Nan Shin berdiri di depan wajan. Telur di dalamnya mulai mengering pada bagian tepi.

“Dia tidak pulang semalam,” katanya.

Ibu Kho langsung menoleh kepada putranya. “Kamu tidur di mana?”

“Di tempat teman. Kami selesai makan terlalu malam.”

“Lain kali beri kabar. Tapi kamu juga, Nan, jangan menekan orang yang sedang banyak tanggung jawab. Lihat matanya sampai merah.”

Nan Shin mematikan kompor. “Aku menelepon karena tidak tahu dia aman atau tidak.”

“Dia dokter, bukan anak kecil.”

Cheng An mengambil sepotong roti tanpa duduk. “Aku berangkat dulu.”

“Sarapanmu?” tanya Ibu Kho.

“Di rumah sakit.”

Pintu depan tertutup. Kali ini tidak dibanting, tetapi Cheng An tetap pergi tanpa meminta maaf.

Nan Shin meletakkan telur ke piring anak-anak. Ibu Kho memperhatikannya cukup lama sampai ia merasakan tatapan itu di tengkuk.

“Kamu sekarang sering menyimpan ponsel dekat sekali,” kata Ibu Kho.

“Saya sedang menunggu balasan lamaran.”

“Bukan karena ada hal yang tidak ingin kami lihat?”

Nan Shin mengangkat piring. “Tidak ada.”

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi setelah anak-anak berangkat, Ibu Kho masuk ke kamar Nan Shin tanpa mengetuk. Nan Shin sedang memasukkan pakaian kotor ke keranjang ketika perempuan itu berdiri di dekat meja rias.

“Kartu ATM pesangonmu disimpan di mana?”

Nan Shin menghentikan tangannya. “Kenapa Mama tanya?”

“Saya cuma ingin tahu. Uangnya sudah masuk semua, kan?”

“Sudah.”

“Berapa sisa sekarang?”

“Masih ada.”

Ibu Kho menarik kursi meja rias, tetapi tidak duduk. “Jawabanmu makin lama makin pendek. Saya ini keluarga, bukan orang luar.”

“Karena itu uang pesangon saya, Ma. Saya perlu menyimpannya sampai mendapat pekerjaan.”

“Keluarga ini juga perlu uang.”

“Kebutuhan rutin rumah dibayar Cheng An seperti sebelumnya. Selama saya masih bekerja, saya juga ikut membayar.”

“Sekarang kamu tidak punya penghasilan. Artinya Cheng An menanggung semuanya sendiri.” Ibu Kho mulai menghitung dengan jari. “Cicilan rumah, sekolah anak, listrik, uang belanja. Masa kamu memegang puluhan juta dan membiarkan suamimu pusing?”

“Pesangon itu pengganti karena saya kehilangan pekerjaan, bukan bonus.”

“Tetap saja uang keluarga.”

Nan Shin meletakkan keranjang di lantai. “Tidak semua uang yang masuk ke rekening saya otomatis bisa diatur orang lain.”

Alis Ibu Kho terangkat. “Orang lain?”

“Saya tidak bilang Mama orang lain. Saya bilang rekening itu atas nama saya.”

“Kalau begitu, tunjukkan saldonya. Biar kita hitung bersama.”

“Tidak perlu.”

Ibu Kho tertawa pendek. “Kamu takut saya ambil?”

Nan Shin tidak menjawab. Dua minggu lalu, ia mungkin akan membuka aplikasi bank hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak pelit. Ia mungkin akan menjelaskan setiap transaksi, mulai dari ongkos ojek hingga biaya mencetak dokumen. Hari itu, jarinya tetap berada di sisi tubuh.

“Nan, keluarga Tionghoa itu saling bantu. Jangan begitu dapat uang sedikit, langsung hitung milik sendiri.”

“Saya membantu keluarga ini setiap hari.”

“Memasak dan mengurus anak memang tugasmu sekarang.”

“Tadi Mama bilang saya harus ikut membantu karena Cheng An menanggung semuanya. Ketika saya bilang saya mengurus rumah, Mama bilang itu cuma tugas. Jadi bantuan seperti apa yang dianggap ada?”

Wajah Ibu Kho menegang. “Jangan putar kata-kata saya.”

“Saya hanya ingin jelas.”

“Baik. Dua puluh juta masukkan ke rekening Cheng An. Untuk dana darurat rumah dan biaya sekolah. Sisanya boleh kamu pegang.”

Permintaan itu disampaikan seperti keputusan yang telah dibicarakan semua orang, padahal Nan Shin baru mendengarnya.

“Tidak, Ma.”

Ibu Kho berkedip. “Apa?”

“Saya tidak akan memindahkan dua puluh juta.”

“Kenapa?”

“Karena dana sekolah sudah ada dalam anggaran bulanan. Kalau ada kebutuhan darurat, Cheng An bisa bicara langsung dengan saya dan kami putuskan bersama.”

“Anak saya sibuk. Saya ibunya. Sama saja.”

“Tidak sama.”

Ruangan mendadak sepi. Dari luar terdengar penjual sayur keliling memanggil pelanggan. Ibu Kho menatapnya seolah baru pertama kali melihat bentuk wajah menantunya.

“Jadi kamu tidak percaya saya?”

“Saya tidak menyerahkan kartu dan kode rekening kepada siapa pun.”

“Siapa yang minta kode?”

“Mama tanya kartu saya disimpan di mana, jumlah saldonya berapa, lalu memutuskan jumlah yang harus dipindahkan. Saya jawab sekarang supaya tidak ada salah paham.”

Nan Shin mengangkat keranjang pakaian dan berjalan menuju pintu.

“Pembicaraan ini belum selesai,” kata Ibu Kho.

“Bagi saya sudah.”

Nan Shin baru menyadari laci meja riasnya sedikit terbuka setelah Ibu Kho pergi. Di dalamnya, map dokumen bank bergeser dari posisi semula. Tidak ada yang hilang karena kartu selalu dibawanya, tetapi sudut amplop berisi surat pembukaan rekening sudah terlipat.

Ia menutup laci, lalu memindahkan dokumen tersebut ke tas beritsleting.

Ibu Kho muncul lagi di ambang pintu. “Kamu sedang menyembunyikan apa?”

“Dokumen pribadi saya.”

“Di rumah anak saya?”

“Di kamar saya.” Nan Shin menutup ritsleting tas. “Kalau Mama ingin mencari sesuatu, tanya saya dulu.”

Ibu Kho tidak mengaku telah membuka laci. Ia hanya mendengus dan berjalan pergi, tetapi lipatan kecil pada amplop itu sudah memberi Nan Shin jawaban.

Siang itu, setelah menjemput Yi Chen, Nan Shin berhenti di mesin ATM dekat minimarket. Anak itu berdiri di sampingnya sambil memegang roti kecil.

“Mama beli uang?” tanya Yi Chen.

“Tidak. Mama mengganti kunci.”

“Kunci rumah?”

“Kunci uang Mama.”

Nan Shin menutupi papan tombol dengan telapak tangan. Ia mengganti PIN kartu, lalu keluar dari akun mobile banking dan membuat kata sandi baru yang tidak memakai tanggal lahir anak, tanggal perkawinan, atau angka apa pun yang mungkin ditebak keluarga.

Notifikasi perubahan keamanan masuk satu per satu. Ia mengaktifkan verifikasi tambahan dan menonaktifkan tampilan saldo pada layar awal.

Yi Chen menggigit rotinya. “Sudah terkunci?”

“Sudah.”

Nan Shin memasukkan kartu ke dompet kecil yang kemudian disimpan di kompartemen dalam tas. Untuk pertama kalinya, tindakan melindungi uangnya tidak terasa seperti menyembunyikan sesuatu. Rasanya seperti menutup pintu kamarnya sendiri.

Saat mereka pulang, Ibu Kho menunggu di meja makan. Ponsel perempuan itu terletak di depan cangkir teh, layar menampilkan pesan singkat dari Cheng An.

“Saya sudah bicara dengan Cheng An,” katanya.

Nan Shin membantu Yi Chen melepas sepatu. “Tentang apa?”

“Tentang uang yang sekarang kamu anggap hanya milikmu.”

“Itu pesangon saya.”

“Dulu kamu tidak pernah menghitung seperti ini.”

Nan Shin berdiri tegak. “Dulu saya masih menerima gaji setiap bulan.”

Ibu Kho mendorong cangkirnya sampai teh di dalamnya bergoyang.

“Kamu sekarang berani ya sama saya.”

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!