Berkisah mengenai cinta lama bersemi kembali antara Tere dan Darryl yang sebelumnya berstatus sebagai kekasih masa muda (alias cinta monkey). Tere dan Darryl bertemu kembali dinegeri yang Tere singgahi saat pertukaran pelajar setelah 10 tahun kemudian.
Anehnya dalam kisah, Tere amat menyukai revan dan Darryl sudah jatuh cinta pada Cecile. Revan dan Cecile adalah sahabat dekat mereka sejak kecil.
Bagaimana Takdir mampu mengalahkan friendzone yang tegas mengukir cinta diantara kempat tokoh ini?
yuk mampir, dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Pandang
Apakah Tere boleh tetap yakin bahwa semua ini hanya pementasan Drama saja?
Darryl tidak memikirkan apapun kecuali kekacauan besar yang harus terjadi. Apa yang sedang dipastikannya? Kenapa harus memastikan semuanya secara tiba-tiba?.
Siang cepat berganti senja. Darryl membawa Tere ke sebuah apertemen lagi untuk menginap.
Aku tidak mau masuk ke dalam sebuah apartemen lagi! tukas Tere dengan ketus.
“Nanti malam kita bicara. Kita makan malam setelah aku pulang. Kamu bisa tidur di unit yang berbeda di apartemen ini. Ayo masuk, dan aku pesankan apartemen khusus untukmu" singkat Darryl.
“Aku yang memilih dimana aku akan bermalam! Aku ingin motel kecil yang bukan pilihanmu!" tukas Tere dengan tegas.
“Kenapa kamu senang sekali mempersulit hal kecil?" singkat Darryl.
"Aku berhak menjaga diriku sendiri!" tukas Tere.
Darryl melirik seraya menghentikan mobilnya disebuah motel yang Tere maksud.
"Aku tidak mau berhutang lebih banyak!" tegas Tere seraya memberikan uang cash pembayaran motel untuk kamarnya.
Darryl hanya membayar kamarnya sendiri. Ia mengambil kuncinya setelah Tere berjalan masuk tanpa sepatah katapun. Darryl mulai pergi lagi dan tidak mengucapkan hal lain. Tere memandang dari jendela, dan Tere keluar dari kamarnya lagi.
"Dia akan pulang sebentar lagi nyonya, jadi tolong tunggu sebentar. Itu pesannya jika nyonya berencana pergi" tukas penjaga motel dengan spontan.
Tere mulai menghela nafasnya dalam-dalam.
Darryl tetap melakukan hal yang sudah menjadi keputusannya.
Darryl segera menemui kedua orang tua wanita itu. Hubungan mereka kandas secara resmi di hadapan orang tua wanita Itu. Tak ada drama yang panjang, karena Darryl tak memberikan penjelasan apapun atas sikapnya, bahkan ia tak menerima alasan apapun dari wanita yang terus menangis meminta pertimbangan besar. Namun Darryl tak peduli sama sekali.
Darryl kembali saat Tere sudah duduk menunggu di ruang tamu dalam motel. Darryl menghela nafasnya.
"Perjalanan ini tidak perlu dilanjutkan. Aku mulai merasa sama brengseknya denganmu" singkat Tere.
"Tapi dia tetap mendapatkan haknya dan aku tidak menyebut namamu sedikitpun atas kekacauan ini" tukas Darryl.
"Tapi dia tidak berhak kamu perlakukan seperti itu. Dia berhak melakukan itu agar tidak ada wanita lain dalam hidup seseorang yang dia cintai" tukas Tere.
"Seharusnya kamu bisa menilai sikapnya, Tere" singkat Darryl.
"Lalu sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku?!" tukas Tere dengan serius.
"Aku hanya mau memandangmu sebelum tidur. Kenapa sikapmu selalu terlihat tenang? Apa dalam benakmu juga seperti itu?" ucap Darryl.
“Aku tidak berencana berbicara denganmu lagi. Besok pagi antar aku pulang ke rumah Cecile!" tegas Tere.
"Semua ini belum di mulai Tere. Tidak ada siapapun yang akan aku biarkan pergi. Seharusnya kamu tidak mendengarkan pesan dari pria pemilik motel ini dan pergi saat memiliki kesempatan besar untuk pergi" singkat Darryl.
“Baik. Aku yang akan membahas ini lebih dulu. Kamu memberi mereka harapan, dan kamu membuat semuanya pupus seperti tidak berharga. Bukankah kamu tau kalau sikapmu benar-benar sudah menyakiti mereka?!" ucap Tere dengan spontan.
“Sayangnya aku hanya berpikir bahwa semua itu sebanding. Terkadang setiap ketulusan membuat seseorang kecewa. Jika seseorang membuatku kecewa atas ketulusanku, maka semua itu membuatnya tidak berarti apa-apa lagi" ucap Darryl dengan serius.
“Aku tidak melihat ketulusan, kecuali sikap seenakmu sendiri singkat Tere.
“Sederhananya kamu sudah mendengar kalau aku sudah memiliki seorang putra. Maka bukankah seorang ayah tidak akan memaafkan siapapun yang sudah memisahkannya dengan anaknya?" tukas Darryl dengan tenang.
“Seharusnya kamu menikahi wanita yang melahirkan anakmu" singkat Tere.
"Aku tidak akan menikahi siapapun selain Cecile" tukas Darryl.
"Aku semakin tidak mengerti ucapanmu. Sekarang apa maumu jika kamu memang tidak berniat menjelaskan apapun sejak awal?" tukas Tere.
"Saat ini memang aku tidak ingin kamu mengerti apapun" singkat Darryl.
Tere berdiri seraya beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi.
Esok datang tanpa sepatah katapun dari Tere. Mereka mulai melakukan perjalanan panjang sejak fajar belum menyingsing hingga pagi yang hampir berganti menjadi siang.
Tere mulai memandang heran.
Darryl sengaja menutup mustang-nya yang sebelumnya terbuka. Kaca mobil juga terlihat gelap dari luar. Darryl tidak membiarkan Tere turun dan Darryl tetap menghidupkan mesin mobil agar jendela tak dibuka.
Tere pun mudah menebak tempat seperti apa yang ada di hadapannya, tapi Darryl tetap masuk, namun tak lama setelahnya ia keluar.
Darryl sibuk menelpon. Sepertinya ia tidak mendapatkan apa yang sedang ia cari. Tere masih duduk di dalam mobil, dan ia sengaja sedikit membuka jendelanya dari dalam setelah seorang wanita yang tak asing berlari menghampiri Darryl. Wanita itu yang pernah menjadi ratu populer saat SMA. Mantan kekasih Darryl yang pernah sangat akrab dengan Cecile juga.
Mungkinkah ini maksudnya?
"Kenapa belum menjemput anakmu di jam ini?" tanya Darryl dengan spontan.
"Sudah lama ia ingin di jemput papahnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu akan menelponku lagi" ucap wanita itu dengan senyum lebar seraya berjalan mendekat dengan senyum yang menggoda.
Wanita yang benar-benar sengaja menggoda.
“Dia mengatakan bahwa kamu tidak akan menjawab telponku, harusnya aku tau ini mustahil untuk wanita sepertimu bersikap seperti itu" ucap Darryl.
Wanita itu tersenyum lebar seraya bertepuk tangan.
“Selamat sayang, Sudah aku katakan kalau dia hanya leluconmu saja kan?" ucap wanita itu masih terenyum lebar.
“Sudahlah. Lalu kenapa orang di dalam bukan dia?" tanya Darryl mulai mengubah gurat wajahnya.
Wanita itu tersenyum lebar.
"Kenapa akhirnya mencarinya?" tanya wanita itu lagi.
“Sejak kapan mencampuri urusan orang?" tanya Darryl lagi.
“Sudah lama ia tidak disini lagi. Aku janji akan memberitahukan keberadaannya setelah anakku bertemu dengan papahnya" ucap wanita itu dengan serius.
Wanita itu membuka pintu mobil Darryl.
"Ups. Sudah ada gadis yang lain lagi" ucapnya seraya tersenyum lebar.
“Jangan mengatakan apapun padanya! Biarkan dia tetap di tempatnya. Nanti anakmu juga akan duduk bersamamu kan?" ucap Darryl dengan spontan kepada wanita yang membuka pintu.
Tere hanya melirik.
“Ah aku baru ingat, ini Tere si anak pertukaran pelajar itu kan? tukas wanita itu setelah melihat dan terdiam beberapa lama.
“Ya, dan aku juga masih mengingatmu" singkat Tere seraya tersenyum kecil.
Darryl mulai menginjak pedal gas.
“Akan menikah?" tanya wanita itu tiba-tiba.
"Belum tau, tapi memang sudah berencana” singkat Tere
"Aku lega bahwa Darryl membuang kekasih konyolnya demi mantan kekasih yang istimewa ini. Setidaknya aku yakin bahwa di masa depan nanti, dia tidak akan sampai menikahimu juga" ucap wanita itu seraya tersenyum lebar.
“Ah, aku juga tidak pernah berpikir hal itu akan terjadi, dan tentu bukan menikah dengan Darryl" ucap Tere.
“Hey jangan berani mengatakan itu setelah berani pergi bersama Darryl. Jika hatimu tidak selamat, maka kamu yang akan mengemis memberikan segalanya padanya" ucap wanita itu seraya terkekeh.
"Apa maksudnya?" singkat Tere.
"Katakan padaku dimana kalian bermalam, semalam? Apa yang terjadi?" ucap wanita itu seraya tersenyum lebar.
“Diamlah atau ku turunkan disini!" tukas Darryl tiba-tiba.
"Tapi jika aku punya kesempatan, aku memang tidak akan mengambil keputusan yang bodoh tentangmu dalam hidupku sayang" ucap wanita itu.
Darryl menghentikan mobilnya setelah membanting setir. Darryl sangat serius dengan ucapannya.
"Iya-iya. Tidak ada pembicaraan seperti itu lagi. Tolong jangan seperti ini karena putra kita sangat merindukanmu" ucap wanita itu lagi.
Darryl hanya diam dan melanjutkan perjalanannya. Tere mulai menerka-nerka semua hal tentang Darryl. Apakah Tere akan baik-baik saja dalam ruang waktu yang sudah sangat berbeda?
Darryl menghentikan mobilnya di sebuah sekolah dasar yang sudah sepi. Seorang anak laki-laki berlari setelah Darryl membuka pintu dan tersenyum lebar.
Anak itu memanggilnya papah dengan isyarat tangannya. Baru kali ini Tere melihat tatap mata yang berbeda dari kedua pandang mata Darryl. Darryl kini lebih sering berbicara dan tersenyum setelah melihat anak itu. Ia juga memutuskan untuk menghabiskan hari hingga petang di taman bermain anak-anak.
Darryl benar-benar memanjakannya seperti seorang ayah pada putranya.
Ya, semua orang juga mudah mengerti bahwa anak itu bukan darah daging Darryl. Ia dan wanita itu memiliki warna kulit yang terang, tapi tidak dengan bocah itu. Anak itu juga sama sekali tidak mewarisi bentuk wajah Darryl yang tegas, dan hanya memiliki pandang mata yang tajam seperti milik wanita itu.
Wanita tadi juga tidak pernah membuka pembicaraan selain tentang anak kecil yang terus bercerita dengan susah payah pada Darryl. Rasanya Tere mulai mengerti, dan mungkin ini memang salah satu alasan Darryl, saat ia benar-benar marah pada wanita yang ia temui kemarin siang.
"Jangan mengira-ngira hal yang buruk tentang anakku ya?" singkat wanita yang sedang membuka tas anaknya.
"Maksudmu?" singkat Tere heran.
"Tidak jadi" singkat wanita itu seraya menggeleng.
"Apa ia sempat sakit?" tanya Tere spontan seraya melirik anak yang sedang bermain bersama Darryl.
Wanita itu mengangguk.
"Dulu dia baik-baik saja, tapi ya masalah yang pelik" ucap wanita itu seraya tersenyum tipis.
"Lalu sekarang, apa kabarmu?" tanya Tere dengan spontan.
Wanita itu tersenyum.
"Sebenarnya ini tidak penting, tapi sejujurnya kisah hidupku kurang baik setelah dewasa. Aku juga lupa siapa ayah biologis putraku. Kenapa ia tidak seperti Darryl? Aku sering gila memikirkan semua itu. Aku lupa Darryl tidak pernah sudi menyentuhku" singkat wanita itu dengan tenang.
"Katanya ia akan bertanggung jawab" singkat Tere.
Wanita itu justru tertawa lepas.
"Sayangnya hanya sebatas mendaftarkan putraku untuk melakukan pengobatan. Prosedurnya pengobatannya dipastikan akan dimulai pertengahan tahun ini. Jika aku sampai bisa mendengar suara putraku yang jelas nanti.. ah, entahlah" tukas wanita itu dengan tenang.
Tere menoleh, lalu memandang Darryl lagi dari kejauhan.
"Mungkin setelah itu, ia akan menikahimu" singkat Tere spontan.
"Jadi orang sepertimu ini memang ada? Hahaha?! Hey, apakah benar-benar di hadapanmu, Darryl akhirya menyudahi hubungan konyolnya itu?" ucap wanita itu seraya terkekeh.
"Hubungan konyol?" singkat Tere merasa heran.
"Dulu aku juga baru bisa menerjemahkannya setelah Cecile yang menjelaskan arti sikap rumit Darryl. Tidak ku sangka Darryl membawamu menemui tunangannya. Intinya wanita konyol itulah yang pernah datang tiba-tiba memberikan ide agar aku menjauhi Darryl" ucap wanita itu seraya duduk dan meneguk botol minuman dingin di tangannya.
"Tapi, sekarang, yang aku tau, Darryl tidak akan mungkin berpisah dengan anaknya, dan ia pernah mengatakan kalau ia tidak mungkin memaafkan siapapun yang berani melakukan itu" ucap Tere seraya tersenyum lebar.
Wanita itu tersenyum lebar, lalu terkekeh.
“Ya, itu benar, tapi jika dipikirkan lagi, usul dari wanita jahat itu tidak buruk juga" ucap wanita itu seraya tersenyum lebar.
“Jahat?. Tapi aku rasa Darryl sudah memilihmu setelah melepaskan Cecile, jadi kenapa harus mengikuti apa yang dikatakan wanita itu dan justru memilih menjauhi Darryl?" tanga Tere dengan tenang.
“Sebentar!. Darryl? memilihku?" singkatnya.
Tere mengangguk, wanita itu tertawa.
“Tidak. Tidak pernah ada yang tau bagaimana dia selain Cecile, dan itulah satu-satunya hal yang pasti tentangnya" ucapnya seraya tersenyum lebar.
“Tidak menutup kemungkinan bahwa semua itu akan bersemi lagi, seperti masa SMA. Aku lihat Darryl juga sangat mencintai putramu" ucap Tere dengan tenang.
“Kamu akan mengerti sampai kamu melihat Darryl dengan hati, dan bukan dengan tatapan mata. Dia itu lebih dari seorang raja di luar sana. Yah, mungkin, tapi menurutku Darryl memang tidak pantas bersanding dengan wanita sepertiku atau seperti wanita jahat itu atau seperti yang lain, kecuali Cecile. Aku yakin Cecile akan kembali padanya cepat atau lambat” tukas wanita itu.
“Tidak. Akan lebih baik jika sekarang tidak ada yang bermain-main dengan sebuah perasaan, terlebih setelah janji yang kuat telah terikrar. Benarkan?" tukas Tere dengan senyum lebar.
"Jadi kamu berencana merebut Darryl?" singkat wanita itu.
"Sayangnya aku belum mendengar bahkan sampai melihat kebaikannya. Jadi tidak ada alasan untuk merebutnya sama sekali" ucap Tere masih tersenyum.
"Aku tidak yakin. Semua wanita mudah mengatakan itu" singkatnya lagi.
"Baik, kalau pertanyaannya ku ubah. Pilihan untuknya banyak di sini, jadi untuk apa Darryl memilih yang sepertiku?" jawab Tere.
"Dia tidak bisa ditebak" singkat wanita itu lagi.
"Mungkin. Tapi menurutku tidak ada takdir untuk dua orang asing dari dua asal yang jelas berbeda. Tidak ada yang mau dengan gila berjuang untuk itu. Realistis" singkat Tere.
"Hey, ternyata aku mulai sadar kenapa Cecile sangat menyayangimu. Ucapanmu juga seperti sudah memiliki pria yang memujamu di luar sana" singkat wanita itu.
"Aku harap begitu" singkat Tere seraya memikirkan Revan kembali.
"Pegang kata-kataku, di luar sana priamu itu memang benar-benar memujamu. Lalu pengang kata-kataku ini juga untuk tetap berhati-hati pada Darryl. Kamu memang tidak mengenalnya sama sekali" ucap wanita itu seraya menarik garis bibirnya.
Tere mulai mengerutkan dahinya. "Maksudmu?" tanya Tere.
“Terkadang ia membuatku takut jika aku memandangnya. Yaampun aku tidak pernah melupakan amarah itu. Rasanya dia benar-benar sangat kejam, tapi ya.. ya sudahlah, semoga ia selalu memperlakukanmu dengan baik” tukasnya lagi seraya mulai berjalan kearah Darryl dan tidak mengatakan hal apapun lagi.
Tere mulai memandang Darryl lagi yang sedang tertawa mengikuti permainan putra kesayangannya. Wanita di sisinya terlihat jelas sangat bahagia melihat keceriaan putranya.
Yaampun ternyata setiap tatap mata wanita yang ditemui Darryl menyiratkan sebuah makna yang sama.
Apa yang telah Darryl lakukan hingga semua sikapnya mampu mendapatkan para pemilik hati itu dengan mudah?