Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilatan Belati di Balik Asap
Langkah kaki Adrian yang membawa Kirana dalam gendongannya terasa mantap di atas lantai semen pabrik tua yang dingin. Di sekeliling mereka, para pengawal Arseto sibuk mengamankan sisa-sisa anggota Siberia Hitam yang telah dilumpuhkan. Julian masih mengerang di lantai, memegangi lututnya yang hancur di bawah todongan laras senjata Hendra.
Tasya, yang semula bersimpuh ketakutan di samping Julian, menatap pemandangan di depannya dengan mata yang perlahan memerah. Kegilaan dan rasa hancur berkecamuk di dalam dadanya.
Dalam hitungan hari, ia kehilangan segalanya: status sosial, kekayaan keluarga, dan harga diri. Dan sekarang, pria yang selama ini ia incar justru memeluk seorang pelayan rendahan dengan tatapan protektif yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kenapa... kenapa harus perempuan sialan itu?!" jerit Tasya histeris, suaranya melengking memecah sisa-sisa desing tembakan.
Arah pandangannya jatuh pada pisau lipat milik Julian yang tergeletak di lantai semen, hanya berjarak beberapa sentimeter dari jemarinya. Didorong oleh rasa benci yang telah merusak kewarasannya, Tasya menyambar pisau itu, membuka bilahnya dengan cepat, lalu bangkit berdiri dengan kecepatan yang tak terduga.
"Adrian! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka pelayan ini juga tidak boleh!!!"
Tasya menerjang maju dari arah belakang.
Naluri tajam Adrian menangkap pergerakan angin dan deru langkah kaki yang mendekat dengan agresif. Dengan cepat, ia memutar tubuhnya untuk melindungi Kirana yang berada di dalam dekapannya. Namun, Kirana—dengan kecerdasan dan sifat waspadanya yang murni—lebih dulu melihat refleksi kilatan bilah pisau di pantulan genangan air lantai semen.
Kirana tahu, dengan posisi tangan kiri Adrian yang memegang senjata dan tangan kanannya yang menopang tubuhnya, Adrian tidak akan sempat menghindar tanpa menjatuhkannya. Sifat terobsesi dan setianya mengambil alih kendali tubuhnya dalam sekejap mata.
Menggunakan sisa tenaga dari ototnya yang lemas, Kirana menyentakkan tubuhnya ke depan, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup bagi sang majikan.
Jlep!
Suara robekan kain terdengar diiringi hantaman logam tajam yang menusuk daging. Bilah pisau lipat itu tertancap sangat dalam di bagian rusuk kiri Kirana, menimbulkan luka robek yang jauh lebih parah dibanding luka tembak yang pernah dialami Adrian.
"Kirana!!!" raung Adrian. Suara baritonnya pecah, menyuarakan kemarahan dan kepanikan luar biasa yang belum pernah didengar oleh siapa pun sepanjang hidupnya.
Sebelum Tasya sempat menarik kembali pisaunya, satu tendangan melingkar yang sangat keras dari kaki kanan Adrian menghantam dada Tasya hingga wanita itu terpental beberapa meter, menabrak tumpukan besi tua hingga tak sadarkan diri dengan tulang rusuk yang patah.
"Hendra! Siapkan mobil sekarang juga! Kosongkan semua jalur!" teriakan Adrian menggema berbaur dengan deru mesin SUV hitam berlapis baja yang langsung merapat ke bibir pintu gudang yang hancur.
Adrian melompat masuk ke kursi belakang sembari mendekap tubuh Kirana dengan sangat hati-hati namun erat. Hendra langsung mengambil alih kemudi di depan, sementara seorang pengawal bersenjata duduk di kursi penumpang depan, siap membersihkan jalan.
Ckiiiiittt! Blarrr!
Mobil SUV itu melesat membelah kegelapan malam dengan kecepatan ekstrem, bannya berdecit keras di atas aspal basah distrik barat. Dua mobil pengawal mengapit di depan dan belakang, menyalakan lampu strobo merah-biru yang menyilaukan mata, menerobos lampu merah dan membelah arus lalu lintas malam kota Metropolitan tanpa ampun.
Di kursi belakang, suasana terasa begitu mencekam dan kedap udara. Adrian menekan luka di rusuk Kirana menggunakan saputangan taktis dan telapak tangan kanannya sendiri.
Cairan kental berwarna merah pekat dengan cepat merembes keluar, membanjiri apron putih bersih milik Kirana, mengubah warna kesucian pelayan itu menjadi merah yang mengerikan. Tangan Adrian gemetar—sebuah pemandangan langka bagi seorang pembunuh berdarah dingin.
Kirana mencengkeram kemeja taktis Adrian dengan jemarinya yang mulai kehilangan suhu hangatnya. Rasa sakit yang teramat sangat membakar tubuhnya, membuat napasnya tersengal-sengal pendek dan patah-patah. Setiap kali mobil berbelok tajam menghantam tikungan, Kirana meringis pelan, menahan perih yang luar biasa di rusuknya.
Namun, melihat wajah Adrian yang dipenuhi oleh ketakutan yang begitu murni—ketakutan kehilangan dirinya—sebuah senyuman tipis dan riang justru kembali dipaksakan muncul di bibirnya yang memucat.
"T-Tuan Muda..." bisik Kirana, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh deru mesin V8 mobil yang meraung liar di luar.
"Jangan banyak bicara, Kirana! Tetap buka matamu! Itu perintah!" bentak Adrian, suara baritonnya bergetar hebat. Air mata frustrasi hampir menetes dari sudut mata hitam kelamnya. "Kau tidak boleh mati di sini! Kau dengar aku?!"