NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Panas Di Bandung

"Iya, Sayang, tapi aku minta Om jangan pernah ngilang-ngilang lagi kayak kemarin, ya?" ucap Rina penuh harap, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang meluap. "Aku takut... aku bingung sendirian di kota ini."

Adrian tersenyum lembut, lalu meraih jemari Rina dan mengecupnya pelan. "Iya, Sayang. Aku janji. Aku enggak akan ngilang lagi."

Mereka lalu berpelukan begitu hangat di tengah remang kamar apartemen studio yang sempit itu.

Pelukan yang rapat dan erat, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang baru saja memulai kisah cinta baru, membuang semua prasangka dan dendam yang sempat mengendap selama tiga minggu terakhir.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam kehangatan pelukan perut Adrian mendadak berbunyi nyaring memecah keheningan suasana romantis mereka.

"Aku lapar nih," ucap Adrian sambil terkekeh pelan. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya dan membuka aplikasi layanan pesan antar makanan. "Kita beli makanan online aja ya, Sayang. Aku takut kalau kita keluar apartemen berdua, nanti ada mata-mata yang ngikutin."

Rina mengangguk cepat, wajahnya yang tadi tenang mendadak menyiratkan kecemasan. "Iya, mata-mata Profesor itu seram banget... Aku juga pas awal-awal sampai di sini takut banget kalau mau keluar unit. Rasanya kayak ada yang selalu ngawasin dari jauh."

"Tenang, kalau di dalam sini kita aman," ujar Adrian menenangkan. Ia lalu menggeser layar ponselnya, memilih beberapa menu lokal mumpung dirinya sedang berada di Kota Kembang. Adrian memesan porsi berlimpah ada ayam goreng renyah lengkap dengan sambal dan lalapan, batagor kuah serta bumbu kacang yang gurih, siomay hangat, hingga beragam jajanan khas Bandung lainnya.

Tak butuh waktu lama kantong-kantong plastik berisi makanan yang dipesan akhirnya tiba di depan pintu unit.

Adrian mengambilnya dengan hati-hati, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan di lorong apartemen lalu membawanya masuk ke meja makan kecil di sudut ruangan.

Mereka menikmati santapan sore itu berdua dengan lahap. Tawa kecil dan gurauan manis yang sempat hilang dari hubungan mereka kini kembali hadir di meja makan sederhana tersebut.

"Mmmm... enak banget!" ucap Rina antusias sambil membuka satu per satu bungkusan makanan yang masih tersisa banyak di atas meja. Aroma Bumbu kacang dan gorengan hangat memenuhi seluruh ruangan studio itu.

"Makan yang banyak, Sayang. Mumpung aku lagi di sini," kata Adrian sambil menyuapkan sepotong ayam goreng ke mulutnya. Ia menatap Rina dengan binar puas.

Rina menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menatap Adrian dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. "Tapi... Om bakal balik lagi ke sini, 'kan?"

Adrian mengusap sudut bibir Rina yang terkena noda bumbu. "Janji. Mungkin seminggu sekali atau dua kali aku bakal ke sini buat nengokin kamu. Maaf ya kalau enggak bisa sering-sering... Aku takut Eliza jadi curiga dan marah besar."

Alis Rina seketika bertaut. Nada suaranya berubah agak ketus mendengarkan nama wanita itu disebut. "Kok Om sekarang jadi takut banget sama Profesor? Bukannya dulu Om pernah bilang sama aku kalau kalian berdua itu sebenarnya udah mau cerai?"

Adrian tersentak. Pertanyaan polos namun menohok dari Rina membuat tenggorokannya mendadak terasa kering. Lidahnya kelu untuk menjawab.

"Udah, enggak usah bahas dia dulu ya. Yang penting sekarang kita berdua disini," bisik Adrian lembut sambil menggenggam jemari Rina.

"Iya, juga, ya. Bodoh aku ini! Yang penting sekarang kita sudah bersatu lagi. Gitu kan?" kekeh Rina lalu memeluk leher Adrian yang kekar.

Setelah merasa puas mengisi perut dan menghabiskan seluruh makanan serta minuman di meja, ketegangan fisik di antara mereka kembali memuncak.

Rasa kenyang dan suasana hangat kamar apartemen yang tertutup rapat memicu gejolak gairah yang tak lagi mampu ditahan.

Malam itu keduanya kembali bergulat bebas di atas ranjang, melupakan semua kegundahan masing-masing saat masih terpisah jarak.

Rina puas betul dengan servis om tampannya malam ini dan bisa tidur nyeyak kembali setelah berminggu-minggu tak bisa mendapat mimpi indah.

Pagi hari pun menyingsing di Ujung Timur Kota Bandung.

Meski malam kemarin begitu indah mereka tetap harus berpisah.

Kali ini, momen perpisahan antara Rina dan Adrian terasa jauh lebih manis dari sebelumnya. Tidak ada lagi aksi diam atau tatapan dingin. Di depan pintu unit, Adrian menarik pinggang Rina lalu merengkuhnya dalam pelukan hangat sebelum akhirnya mendaratkan kecupan panjang yang lembut di bibir wanita muda itu.

Mereka berdiri cukup lama di sana saling bertukar kehangatan seperti sepasang kekasih yang akan terpisah jarak cukup jauh.

"Hati-hati di jalan ya, Om," bisik Rina lembut setelah melepaskan tautan bibir mereka.

Rina menerima pelukan dan kecupan hangat itu dengan senyuman tulus. Namun, demi menjaga keamanan bersama, Rina memutuskan untuk tidak mengantar Adrian turun sampai ke area parkir basement.

Ia khawatir jika di bawah sana ada mata-mata atau kamera tersembunyi yang disewa oleh Eliza untuk mengintai gerak-gerik mereka.

Setelah pelukan mesra terakhir itu terlepas, Adrian melangkah keluar dan menghilang di balik pintu lift, sementara Rina kembali masuk ke dapur untuk melanjutkan aktivitas pembuatan kuenya.

Di luar, Adrian memacu mobil mewahnya membelah jalan tol menuju ibu kota dengan perasaan segar dan puas.

Namun, kehangatan yang dirasakan Adrian mendadak menguap tanpa sisa begitu kendaraan mewahnya tiba di pelataran rumah megahnya di Jakarta.

Ketika Adrian melangkah masuk melewati pintu utama rumah aura dingin dan mencekam langsung menyambutnya.

Di atas sofa ruang tamu yang mewah Eliza sudah duduk menunggunya dengan tatapan mata setajam mata elang.

Wanita paruh baya yang anggun namun berdingin hati itu melempar senyuman tipis yang amat sangat mengerikan ke arah suaminya, menyadari betapa bahagianya raut wajah Adrian yang tampak sangat segar setelah baru saja 'berlibur' ke pelukan istri mudanya.

"Dari mana?" tanya Eliza tenang, namun nada suaranya mengancam bak pisau yang siap mengoyak.

Adrian berusaha memoles raut wajahnya se-netral mungkin, mencoba bersikap tenang. "Dari luar kota... Ada rapat mendadak sama klien penting untuk urusan bisnis."

"Rapat apa rapet nih?" goda Eliza sinis, menyunggingkan senyum ejekan.

Adrian tertelan ludahnya sendiri, pura-pura tersinggung untuk menutupi kebaikannya. "Kamu ini bicaranya kok begitu? Aku kan harus kerja keras buat bayar hutang budi sama kamu, makanya aku rela keluar kota buat ketemu klien!"

"Klien apa?" tembak Eliza cepat, menatap suaminya tanpa berkedip. "Klien yang bisa kamu naikkan ke atas ranjang?"

"Apa?!" Adrian terdiam seribu bahasa, dadanya mendadak berdebar kencang saat mendengar kata-kata tajam dari istri sahnya itu.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Eliza meraih seikat amplop coklat di sampingnya, lalu melempar kumpulan foto kertas glossy ke atas meja kaca di hadapan Adrian.

Plak!

Foto-foto beresolusi tinggi bertebaran di atas meja.

Di sana, terekam dengan sangat jelas gambar-gambar Adrian saat tiba di Bandung mulai dari saat memasuki apartemen Rina, foto saat mereka menerima makanan online di depan pintu, hingga foto resolusi tinggi saat Adrian mendekap dan mencium mesra Rina di ambang pintu sebelum pulang pagi tadi.

Darah Adrian serasa berhenti mengalir. Wajahnya pucat.

"Kamu mau bohong apa lagi sama aku, Adrian?!" ketus Eliza, suaranya naik satu oktaf penuh kemarahan yang tertahan. "Aku tahu kamu udah tidur lagi sama perempuan muda itu! Jadi... aku rasa kamu sudah benar-benar siap buat kehilangan seluruh hartamu di Jakarta, kan?"

Dengan panik Adrian mendekati istrinya seraya memohon. "Eliza! Dengar dulu, Eliza! Ini enggak seperti yang kamu pikirkan! Tolong dengarkan penjelasanku dulu!"

"Apa yang mau dijelaskan?!" potong Eliza ketus. "Di sini... kamu sendiri yang tanda tangan dan tulis dengan jelas," lanjut Eliza sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kertas perjanjian tersebut. "Kalau sampai kamu terbukti berhubungan atau kembali lagi pada Rina, maka seluruh aset, rumah, kendaraan dan rekening milikmu yang ada di bawah namamu secara otomatis akan beralih kepemilikan menjadi milikku sepenuhnya! Tanpa syarat!"

Adrian merasa bumi di bawah pijakannya runtuh seketika. Seluruh hartanya, kekayaannya, dan sisa gengsi hidupnya terancam lenyap dalam sekejap mata.

"Tidak! Jangan gitu, Eliza! Tolong... jangan lakukan ini!" jerit Adrian dengan raut wajah memelas, benar-benar kehilangan wibawanya.

Eliza berdiri dari sofanya, menatap pria di hadapannya dengan tatapan paling jijik yang pernah ia perlihatkan. "Terus? Kamu mau apa sekarang, hm?"

Adrian berlutut pelan di depan istri sahnya, menyatukan kedua telapak tangannya di udara. "Jangan... aku mohon, Eliza. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon..."

Eliza membuang mukanya sambil menyunggingkan senyum cemooh yang penuh kemenangan.

"Hah... dasar om-om gatal enggak tahu diri!" geram Eliza dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan suaminya yang tergeletak lemas di atas lantai dingin rumah mewah mereka.

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!