Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 13
Damian berdeham keras, mencoba menegaskan kehadirannya.
"Kalian membuat taman ini berantakan," ucap Damian, suaranya tetap kaku, mencoba menyembunyikan keterkejutan melihat mereka yang tampak begitu bahagia tanpa kehadirannya.
Alysia tidak menoleh. Dia bahkan tidak berhenti menggoreskan kuasnya di atas kanvas.
"Taman ini memang untuk dinikmati, bukan untuk dipajang seperti museum," jawab Alysia datar.
Arkhasa melirik sekilas ke arah ayahnya, lalu kembali fokus pada lukisannya.
"Papa mengganggu konsentrasiku," ucap bocah itu pelan, tanpa rasa takut atau antusiasme seperti biasanya.
Damian tersentak. Dia terbiasa dengan Arkhasa yang akan berlari menyambut kakinya, atau Alysia yang akan segera berdiri dan menyambutnya dengan segelas air dingin. Hari ini, dia seperti orang asing yang tak diundang di rumahnya sendiri.
"Alysia, ikuti aku ke dalam. Ada yang perlu kubicarakan soal perilaku kamu hari ini," ujar Damian dengan nada memerintah yang sangat tipis, namun penuh tuntutan.
Alysia akhirnya meletakkan kuasnya. Dia bangkit berdiri, membersihkan celananya dari sisa cat, lalu berjalan menghampiri Damian. Namun, dia tidak berhenti di depan pria itu. Dia berhenti tepat di depan pintu kaca, menghalangi akses Damian untuk lebih mendekat ke area melukis mereka.
"Bicaralah di sini, Mas Damian," ujar Alysia tenang.
"Aku tidak akan meninggalkan Arkhasa hanya untuk mendengar protesmu tentang kegiatan kami yang tidak mengganggumu sama sekali."
Damian menatap mata Alysia, mencari kelemahan, mencari sosok istri yang biasanya patuh. Namun, yang diaa temukan hanyalah dinding tebal yang tak bisa dia tembus.
"Alysia! Kamu sudah mulai keterlaluan!"
"Aku hanya berusaha untuk membuat Arkha bahagia dan melupakan rasa sakitnya tadi pagi. Apa salah seorang ibu berusaha untuk membuat mental anaknya baik-baik saja?"
Damian terdiam, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia ingin marah, dia ingin menarik Alysia masuk, tapi ada sesuatu dalam ketenangan istrinya yang membuatnya ragu.
"Lakukan apa yang mau kamu lakukan," akhirnya Damian berkata, suaranya terdengar hampa.
Dia berbalik dan melangkah pergi, bukan ke ruang kerjanya, melainkan masuk ke dalam rumah. Pintu kaca dibiarkan terbuka, namun bayangannya menghilang di balik kegelapan lorong rumah.
Alysia menghela napas panjang. Kakinya sedikit gemetar, namun dia segera kembali ke tikar dan duduk di samping Arkhasa.
"Mama, Papa marah ya?" tanya Arkhasa polos.
Alysia merangkul bahu anaknya.
"Tidak, sayang. Papa hanya sedang belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dia atur atau beli dengan uang."
Saat matahari perlahan tenggelam, Alysia tahu bahwa "dinding" yang baru saja ia bangun di depan Damian adalah awal dari perang dingin. Damian tidak akan tinggal diam setelah otoritasnya ditantang.
Makan malam hari itu diselimuti suasana yang mencekam namun anehnya terasa sangat tenang bagi Alysia dan Arkhasa. Meja makan yang biasanya diisi dengan instruksi kaku Damian tentang rencana perjalanan atau komentar sinisnya mengenai perilaku Arkhasa, kini berubah menjadi medan perang keheningan.
Makan malam itu terasa sangat panjang. Denting alat makan yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruang makan yang luas, seolah menjadi satu-satunya pengisi kekosongan di antara mereka.
Damian duduk di ujung meja, memperhatikan Alysia yang sibuk mengupas kulit apel dengan gerakan yang sangat teliti. Di sampingnya, Arkhasa sedang menceritakan detail-detail kecil tentang kanvas yang mereka lukis sore tadi.
"Dan Mama bilang, kalau aku mencampur warna itu, dia akan terlihat seperti air laut yang dalam, Pa," ujar Arkhasa, lalu ia menatap ayahnya sejenak.
Namun, tepat sebelum Damian bisa membuka mulut untuk menanggapi, Arkhasa segera memalingkan wajah kembali ke arah Alysia.
"Mama, besok kita pakai warna apa lagi?"
Damian membuka mulut, hendak memotong pembicaraan, namun ia menahan diri. Dia melihat tatapan tajam dan waspada yang sekilas dilemparkan Alysia ke arahnya, sebuah peringatan bisu untuk tidak merusak suasana hati putranya.
Damian mencengkeram garpunya dengan kuat. Di satu sisi, dia ingin sekali membentak Alysia karena mengabaikannya sepanjang malam dan hari ini. Namun dia tahu Arkhasa sedang berada di titik sensitif. Dia telah melihat betapa hancurnya putranya pagi tadi. Jika dia meledak sekarang, Dia tahu itu hanya akan membuat jarak antara dirinya dan Arkhasa semakin lebar.
"Itu... terdengar menarik, Arkha," ujar Damian akhirnya, suaranya dipaksakan untuk terdengar tenang, meskipun terasa kaku.
Alysia tidak menoleh sedikit pun. Ia justru memotong apel tersebut dan menyuapkannya ke mulut Arkhasa.
"Benar. Dan kita punya rencana besar untuk besok, bukan begitu, Arkha?"
"Iya, Ma! Dunia kita!" sahut Arkhasa riang.
Damian terdiam. Ia merasa keberadaannya di meja makan itu hanyalah sebuah formalitas. Ia mencoba lagi.
"Minggu ini, pekerjaan papa mungkin akan selesai lebih cepat. Bagaimana kalau hari sabtukita pergi ke kebun binatang setelah acara sekolah?"
Alysia menyesap air putihnya dengan tenang, lalu memandang Damian sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan dingin, datar, dan tanpa secercah harapan.
"Tanyakan saja pada Arkha," jawab Alysia singkat, lalu kembali memfokuskan perhatian sepenuhnya pada anaknya.
"Arkha, sayang, habiskan minummu, lalu kita ke kamar ya! Mama mau menunjukkan sesuatu di kamarmu."
Damian menahan napas. Dia merasa dadanya sesak oleh amarah yang tertahan. Dia ingin menuntut penjelasan, ingin berteriak bahwa dia adalah kepala keluarga di sini, tapi setiap kali ia melihat Arkhasa yang tampak begitu damai di bawah perlindungan Alysia. Damian menelannya kembali. Dia tidak ingin menjadi pria yang membuat anaknya menangis lagi malam ini.
Dengan kasar, Damian meletakkan serbetnya.
"Aku sudah selesai," gumamnya, lalu bangkit dan berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Langkah kaki Damian menjauh hingga terdengar pintu ruang kerja di lantai atas tertutup. Begitu suaranya menghilang, Arkhasa menatap Alysia dengan mata besarnya yang polos.
"Mama, apa Papa sedang marah?"
Alysia membelai rambut Arkhasa, tatapannya melembut namun tegas.
"Tidak, Arkha. Papa hanya sedang belajar untuk mengerti bahwa ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan perintah."
"Oh begitu ya, Ma!" jawab Arkhasa polos.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,