NovelToon NovelToon
Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Hanya Ibu Untuk Anakmu, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:80.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.

Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.

“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.

Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alysia 13

Damian berdeham keras, mencoba menegaskan kehadirannya.

"Kalian membuat taman ini berantakan," ucap Damian, suaranya tetap kaku, mencoba menyembunyikan keterkejutan melihat mereka yang tampak begitu bahagia tanpa kehadirannya.

Alysia tidak menoleh. Dia bahkan tidak berhenti menggoreskan kuasnya di atas kanvas.

"Taman ini memang untuk dinikmati, bukan untuk dipajang seperti museum," jawab Alysia datar.

Arkhasa melirik sekilas ke arah ayahnya, lalu kembali fokus pada lukisannya.

"Papa mengganggu konsentrasiku," ucap bocah itu pelan, tanpa rasa takut atau antusiasme seperti biasanya.

Damian tersentak. Dia terbiasa dengan Arkhasa yang akan berlari menyambut kakinya, atau Alysia yang akan segera berdiri dan menyambutnya dengan segelas air dingin. Hari ini, dia seperti orang asing yang tak diundang di rumahnya sendiri.

"Alysia, ikuti aku ke dalam. Ada yang perlu kubicarakan soal perilaku kamu hari ini," ujar Damian dengan nada memerintah yang sangat tipis, namun penuh tuntutan.

Alysia akhirnya meletakkan kuasnya. Dia bangkit berdiri, membersihkan celananya dari sisa cat, lalu berjalan menghampiri Damian. Namun, dia tidak berhenti di depan pria itu. Dia berhenti tepat di depan pintu kaca, menghalangi akses Damian untuk lebih mendekat ke area melukis mereka.

"Bicaralah di sini, Mas Damian," ujar Alysia tenang.

"Aku tidak akan meninggalkan Arkhasa hanya untuk mendengar protesmu tentang kegiatan kami yang tidak mengganggumu sama sekali."

Damian menatap mata Alysia, mencari kelemahan, mencari sosok istri yang biasanya patuh. Namun, yang diaa temukan hanyalah dinding tebal yang tak bisa dia tembus.

"Alysia! Kamu sudah mulai keterlaluan!"

"Aku hanya berusaha untuk membuat Arkha bahagia dan melupakan rasa sakitnya tadi pagi. Apa salah seorang ibu berusaha untuk membuat mental anaknya baik-baik saja?"

Damian terdiam, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia ingin marah, dia ingin menarik Alysia masuk, tapi ada sesuatu dalam ketenangan istrinya yang membuatnya ragu.

"Lakukan apa yang mau kamu lakukan," akhirnya Damian berkata, suaranya terdengar hampa.

Dia berbalik dan melangkah pergi, bukan ke ruang kerjanya, melainkan masuk ke dalam rumah. Pintu kaca dibiarkan terbuka, namun bayangannya menghilang di balik kegelapan lorong rumah.

Alysia menghela napas panjang. Kakinya sedikit gemetar, namun dia segera kembali ke tikar dan duduk di samping Arkhasa.

"Mama, Papa marah ya?" tanya Arkhasa polos.

Alysia merangkul bahu anaknya.

"Tidak, sayang. Papa hanya sedang belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dia atur atau beli dengan uang."

Saat matahari perlahan tenggelam, Alysia tahu bahwa "dinding" yang baru saja ia bangun di depan Damian adalah awal dari perang dingin. Damian tidak akan tinggal diam setelah otoritasnya ditantang.

Makan malam hari itu diselimuti suasana yang mencekam namun anehnya terasa sangat tenang bagi Alysia dan Arkhasa. Meja makan yang biasanya diisi dengan instruksi kaku Damian tentang rencana perjalanan atau komentar sinisnya mengenai perilaku Arkhasa, kini berubah menjadi medan perang keheningan.

Makan malam itu terasa sangat panjang. Denting alat makan yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruang makan yang luas, seolah menjadi satu-satunya pengisi kekosongan di antara mereka.

Damian duduk di ujung meja, memperhatikan Alysia yang sibuk mengupas kulit apel dengan gerakan yang sangat teliti. Di sampingnya, Arkhasa sedang menceritakan detail-detail kecil tentang kanvas yang mereka lukis sore tadi.

"Dan Mama bilang, kalau aku mencampur warna itu, dia akan terlihat seperti air laut yang dalam, Pa," ujar Arkhasa, lalu ia menatap ayahnya sejenak.

Namun, tepat sebelum Damian bisa membuka mulut untuk menanggapi, Arkhasa segera memalingkan wajah kembali ke arah Alysia.

"Mama, besok kita pakai warna apa lagi?"

Damian membuka mulut, hendak memotong pembicaraan, namun ia menahan diri. Dia melihat tatapan tajam dan waspada yang sekilas dilemparkan Alysia ke arahnya, sebuah peringatan bisu untuk tidak merusak suasana hati putranya.

Damian mencengkeram garpunya dengan kuat. Di satu sisi, dia ingin sekali membentak Alysia karena mengabaikannya sepanjang malam dan hari ini. Namun dia tahu Arkhasa sedang berada di titik sensitif. Dia telah melihat betapa hancurnya putranya pagi tadi. Jika dia meledak sekarang, Dia tahu itu hanya akan membuat jarak antara dirinya dan Arkhasa semakin lebar.

"Itu... terdengar menarik, Arkha," ujar Damian akhirnya, suaranya dipaksakan untuk terdengar tenang, meskipun terasa kaku.

Alysia tidak menoleh sedikit pun. Ia justru memotong apel tersebut dan menyuapkannya ke mulut Arkhasa.

"Benar. Dan kita punya rencana besar untuk besok, bukan begitu, Arkha?"

"Iya, Ma! Dunia kita!" sahut Arkhasa riang.

Damian terdiam. Ia merasa keberadaannya di meja makan itu hanyalah sebuah formalitas. Ia mencoba lagi.

"Minggu ini, pekerjaan papa mungkin akan selesai lebih cepat. Bagaimana kalau hari sabtukita pergi ke kebun binatang setelah acara sekolah?"

Alysia menyesap air putihnya dengan tenang, lalu memandang Damian sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan dingin, datar, dan tanpa secercah harapan.

"Tanyakan saja pada Arkha," jawab Alysia singkat, lalu kembali memfokuskan perhatian sepenuhnya pada anaknya.

"Arkha, sayang, habiskan minummu, lalu kita ke kamar ya! Mama mau menunjukkan sesuatu di kamarmu."

Damian menahan napas. Dia merasa dadanya sesak oleh amarah yang tertahan. Dia ingin menuntut penjelasan, ingin berteriak bahwa dia adalah kepala keluarga di sini, tapi setiap kali ia melihat Arkhasa yang tampak begitu damai di bawah perlindungan Alysia. Damian menelannya kembali. Dia tidak ingin menjadi pria yang membuat anaknya menangis lagi malam ini.

Dengan kasar, Damian meletakkan serbetnya.

"Aku sudah selesai," gumamnya, lalu bangkit dan berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.

Langkah kaki Damian menjauh hingga terdengar pintu ruang kerja di lantai atas tertutup. Begitu suaranya menghilang, Arkhasa menatap Alysia dengan mata besarnya yang polos.

"Mama, apa Papa sedang marah?"

Alysia membelai rambut Arkhasa, tatapannya melembut namun tegas.

"Tidak, Arkha. Papa hanya sedang belajar untuk mengerti bahwa ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan perintah."

"Oh begitu ya, Ma!" jawab Arkhasa polos.

1
Muft Smoker
Mantaap👍👍👍👍
Muft Smoker
waah alhamdullah udh tamat dg ending yg di harap kan ,,
HAPPY ,,
mom zie ,,
makasih buat kerja keras ny sehinggga menghasil kan cerita hebat yg memberi kami para pembaca pelajaran ,,
sukses trus buat mom zie ,,
Dan sehat selalu ,,
sampai bertemu lgi di cerita kk yg baru ,,
luph2 sakebon pak rt ,,
🫰🫰🫰🫰🥰🥰🥰🥰🥰😁😁😁😁
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah happy ending maaak ... bahagia dah klo seperti ini mah 🥰🥰🥰
nely_48
happy ending 🥰🥰🥰🥰🥰
terimaksih kk outhor untuk semua karya-karya mu, sukses sll untuk karya baru mu 🥰🥰🥰🥰🥰
nely_48
akhirnya Dimitri sehan kembali, bs hidup bersama dgn Damian n alysia menjaga arkhasya n elano
nely_48
semangat sembuh Dimitri
nely_48
welcome home adik elano
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah ya Dimitri udh mau berjuang untuk sembuh total, semoga kebahagiaan terus menyertai kalian semua , d jauh kan dari orang2 yg berniat jahat ... aamiin .🥰🥰
Muft Smoker
cepat sembuuuh Dimitri ,, msh ad arkha yg menunggu km pulang tanpa harus balik lgi ke RSJ ,, 😁😁
Ambu Rinddiany Thea: betul itu
total 1 replies
nely_48
semangat sembuh n kembali normal Dimitri
nely_48
selamat ya alysia atas kelahiran baby boy nya
Muft Smoker
akhirny keluarga mereka kembali utuh ,, meski Dimitri Blum sepenuhny pulih ,, meski tanpa meylan Dan bu chintya yg terlambaat menyadari kesalahan ny ,,
tp melihat mereka saat ini ,, bukan kaah hanya kebahagiaan yg mereka rasakan ,,
nely_48
syukur lah akhirnya Dimitri sembuh n normal kembali
waw alysia mau melahirkan pas lg berkunjung d RSJ tempat Dimitri d rawat,, sing lungsur lancar ya alysia proses melahirkan nya
nely_48
lekas pulih n normal kembali Dimitri
Muft Smoker
Luka seorang anak akibat ke egiosan sang ibu demi ambisi ,,
nely_48
semoga bu cyntiya tenang d alam sana, klau nanti ketemu sm meylin trs gelud d alam sana awas jgn balik lg ya bu cyntiya
Muft Smoker: ok ,, aq juga dukung 1000% kak ,,
😂😂
total 7 replies
nely_48
astaga Dimitri 🤭
Muft Smoker
yaaaaa Rian ,, Ari maneeeh ,, ulah di omongkeun heula atuuh ,,
hoyong di kadek siga na si Rian ,, jdi ngareog kan si Dimitri ,,
buru geura di ais si Dimitri na ku maneh ,,😒😒😒😒😒😒😒😒
Ambu Rinddiany Thea
dih ari s rian weh gawe ath bet ngomng kitu , jempe we nya kedeui ngomng kituna ges nepi rs ..😩
Ambu Rinddiany Thea: dasar mudasir ya mak 🤣
total 4 replies
nely_48
Dimitri km jgn ngamuk d jln,, nanti ngamuk nya pas udh ketemu ibu mu
nely_48: 🤭🤭 kasian sm perawat n Riyan ath ngamuk d jln mh
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!