Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 11 [Arc: Desa Harapan]
Hari demi hari terus berlalu. Setiap hari aku terus mengulangi hal yang sama. Pergi ke perpustakaan, berlatih pedang dan sihir, lalu kembali ke panti. Banyak ilmu yang sudah kudapat dari membaca buku. Perdagangan, pengetahuan umum, bahkan beberapa hal rumit seperti hukum dan buku ramuan bisa sedikit aku cerna. Meskipun tidak paham sepenuhnya karena buku di sini cukup terbatas, setidaknya aku paham dasarnya.
Kemampuan berpedangku juga sudah meningkat sejak terakhir kali belajar dari Adi. Bahkan aku sudah bisa mengontrol sihir nul eleku dalam batas aman berkat latihan bersama Kak Nein.
Tak terasa, satu bulan sudah berlalu sejak aku pertama kali datang kesini. Saat ini, aku sedang melakukan perburuan rutin bersama warga desa. Biasanya perburuan ini dilakukan sebulan sekali. Namun akhir-akhir ini, hampir tiap hari kami lakukan.
Yang kami buru adalah hewan iblis. Tidak seperti hewan biasa, hewan iblis adalah sisa dari perang melawan Raja Iblis, mereka terus berkembang biak dengan cepat. Sifat mereka sangat ganas serta berbahaya dan ditandai dengan warna mata yang merah menyala. Jika tidak diburu, akan ada yang kehilangan nyawa disini.
"Periksa sisi sebelah sana! Jangan bertindak ceroboh dengan menyerang mereka sendirian!"
Perburuan kali ini dipimpin oleh Paman Ary. Beberapa kelompok dibagi agar dapat menyusuri hutan dengan cepat. Saat ini, aku satu kelompok dengan keluarga Abyakta. Mereka bilang ini agar aku tak bertindak gegabah karena belum bisa mengontrol sihirku dengan baik. Aku juga diberi sebuah pedang, pedang asli yang terbuat dari logam tentunya.
Di sisi lain, Arnold ikut dalam perburuan. Ia ikut di kelompok yang berbeda. Selama sebulan ini, hubunganku sama sekali tak membaik. Bahkan, hubungan kami semakin memburuk kurasa.
Kami memulai penyusuran. Sebenarnya, di sekeliling desa sudah dipasangi penghalang agar hewan iblis tak bisa masuk, tapi pergerakan mereka terlalu dekat dengan desa. Kami tak mau mengambil resiko.
Setelah berjalan cukup lama, Paman Ary mengangkat salah satu tangannya setinggi kepala. Itu tandanya ia menyuruh kami berhenti. Benar saja, dari kejauhan, rombongan hewan iblis terlihat. Wujudnya berupa serigala hitam dengan warna mata yang merah menyala. Mulut mereka penuh dengan air liur yang menetes. Ada juga yang wujudnya seperti singa yang surainya terbuat dari api.
"Kalian berdua berjaga di belakang saja."
Paman Ary maju sendirian. Ia mulai mencabut kedua pedang yang ia sarungkan di sisi kiri dan kanan pinggangnya.
"Kita mulai."
Ia mulai bergerak maju, begitu pula dengan para hewan iblis itu. Mereka bergerak maju secara bergerombol. Aku tidak yakin Paman Ary bisa mengatasi semua itu.
Aku mencoba membantunya, tapi Adi langsung menghentikanku.
"Adi…"
"Percayakan pada Ayahku. Lagipula tugas kita menjaga sisi belakang."
Paman Ary mulai mengayunkan kedua pedangnya. Satu, dua— setiap hewan iblis yang mencoba menyerangnya langsung ia potong menjadi dua bagian. Darah segar tercecer dimana-mana. Para hewan iblis itu terus menyerang, kini mereka menyerang secara bersamaan dari segala arah.
Paman Ary yang melihatnya tak tinggal diam. Pedang di tangan kanannya kini mulai dialiri listrik dan terus membesar dengan cepat, sementara pedang di tangan kiri dibalut hembusan angin yang mengitari bilah pedang.
Ia mulai menebas 360°, tubuh hewan iblis yang hendak menyerangnya langsung terpotong menjadi bagian-bagian kecil. Bersamaan itu juga, berhembus sebuah angin kencang. Aliran petir juga menyambar di sekitar tubuh Paman Ary. Hujan darah tercipta, aroma amis darah juga menyeruak ke sekitar.
Aku terkejut melihat hal yang baru saja dilakukan Paman, ia memadukan sihir dan seni berpedang, menciptakan sebuah teknik yang sangat hebat. Tapi ini belum berakhir. Hewan iblis yang mirip seperti singa mulai membuka mulutnya. Kobaran api mulai terkumpul di sekitar mulut mereka, lalu mereka menembakkan sebuah bola api ke arah Paman Ary.
Hanya dengan sebuah tebasan, bola api itu langsung terpotong menjadi dua, dan akhirnya meledak. Bukan satu, tapi puluhan bola api mulai melesat ke arah Paman.
Aku hanya bisa diam melihat kemampuan Paman Ary. Tiba-tiba, Adi menepuk bahuku.
"Jangan melamun. Giliran kita sudah tiba." Ia menunjuk ke belakang. Rombongan serigala hitam mulai menampakkan dirinya. Walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak, kami tidak boleh lengah.
Adi mulai menarik pedang dari sarungnya. Ia membawa dua buah pedang, tapi ia hanya menarik satu. Aku juga menarik pedang yang aku bawa dari sarungnya.
Rombongan serigala itu mulai berlari mendekat.
"Ayo!"
Aku tak mau kalah keren dengan Adi maupun Paman Ary.
"Release: Wind Element!" Bilah pedangku kini berlapis aliran angin, aku menebas dari jauh. Dengan sedikit mengalirkan sihirku dan kemampuan release, aku dapat menciptakan sebuah serangan jarak jauh. Hembusan angin kencang melesat ke arah rombongan serigala itu, tapi bukan hembusan angin belaka. Tapi angin yang dipadatkan dengan sihir nul ele sehingga bisa memotong daging.
Satu berhasil terpotong, aku kembali menebas salah satu yang mencoba mendekat ke arahku. Sekarang jadi dua, tiga— dan terus bertambah. Aku beruntung melatih kemampuan berpedang, ini benar-benar sangat membantu. Kemampuan baru ini juga hasil latihanku bersama Adi dan Kak Nein.
Adi juga tidak mengalami kesusahan berarti saat melawan hewan iblis itu.
Saat kami pikir sudah membereskan jatah kami, rombongan hewan iblis lain kembali mendekat.
"Ya ampun, mereka seperti tidak ada habisnya."
"Biar aku urus. Release: Water element." Pedangku kini dibalut aliran air, aku menebaskan pedangku ke segala arah. Membuat tanah di sekitar sana menjadi basah.
"Apa yang kau lakukan Azura."
"Jangan mendekat Adi. Diam dan amati."
Rombongan serigala hitam itu kini berlari mendekat ke arah kami. Aku tetap menahan seranganku sampai mereka masuk area serang. Kaki mereka sudah menginjak genangan air.
"Release: Thunder element!" Aku menancapkan bilah pedangku ke tanah. Membuat aliran petir yang merembet pada genangan air yang sudah kubuat dan menyambar semua rombongan serigala itu. Tentu saja serangan ini sudah diperkuat dengan sihir nul ele. Membuat efeknya jauh lebih kuat. Mereka tersambar hingga hangus terbakar.
Kami bisa sedikit bernafas lega, tapi tidak dengan Paman Ary. Ia masih harus bergelut dengan para hewan iblis itu. Tanah mulai bergetar, sesuatu yang besar mulai mendekat. Burung-burung juga mulai bertebangan karena ketakutan.
Dari balik pepohonan yang mulai tumbang satu persatu, ia menampakan dirinya. Monster besar dengan kepala seperti banteng, ia menenteng sebuah pedang yang terbuat dari marmer, bentuknya memang tak beraturan, tapi cukup untuk mengoyak daging menjadi potongan kasar. Aku pernah membaca sesuatu tentang monster ini di buku perpustakaan, kalau tidak salah namanya minotaurus.
"Roooooaaaaarrrrr!!!"
Aku menyumbat kedua telingaku dengan tangan, suara raungannya cukup membuat telinga terasa sakit. Paman Ary terlihat biasa saja dengan kehadiran minotaur itu. Ia langsung melesat ke arah monster itu. Monster itu mengamuk dan mengayunkan pedangnya ke arah Paman Ary yang sedang mendekat.
DUUUUAAAAARRR!!!
Suara hantamannya sangat keras, membuat tanah mencuat dan retak, serta debu-debu bertebangan. Dari balik kepulan debu, Paman Ary keluar, ia sepertinya dapat menghindari serangan minotaur itu.
"Ini sih sekali hantam langsung mati."
Monster itu semakin marah ketika serangannya meleset. Ia mengaum kembali.
"Aku harus segera membereskanmu. Ayo rekanku!"
Aku tidak salah dengar kan? Rekan? Tapi tidak ada seorangpun yang membantu Paman Ary.
Pedang di tangan kanannya mulai dialiri listrik. Semakin kuat hingga membuat lapisan listrik padat di sekeliling pedangnya. Ia lalu melempar pedang itu entah kemana. Pedang di tangan kirinya ia alihkan ke tangan kanan, pedang itu lalu tersulut api. Api itu berkobar semakin panas dan akhirnya menjadi padat, sebuah plasma api tercipta.
Minotaur itu mulai melangkah kearah Paman Ary, setiap hentakan langkahnya membuat tanah disekitarnya berguncang. Paman mulai mengambil kuda-kuda. Aliran listrik mulai menyambar dari kakinya. Ia melesat, dengan cepat Paman mendekat kearah monster itu. Minotaur itu bukan monster sembarangan, ia bisa mengetahui gerakan Paman dan turut mengayunkan pedangnya. Paman Ary juga ikut menebaskan pedangnya.
Pedang mereka akan segera beradu. Tapi, pedang milik Paman Ary yang sudah menjadi plasma dengan mudah menembus pedang marmer milik sang minotaur dan memotongnya menjadi dua bagian. Ia langsung melesat ke arah kaki monster itu. Masuk di kolong diantara kedua kakinya dan memotong kaki kiri monster itu. Membuatnya tumbang kesamping.
"ROOOOOOAAAAAAARRRRRR!!!" Monster itu menjerit kesakitan.
Pedang yang tadinya di lempar Paman Ary kini menampakkan dirinya. Paman memutar kembali badannya ke arah monster itu dan menangkap pedang yang ia lempar dengan tangan kirinya. Ia lalu menebaskan pedang itu ke kaki satunya, membuat monster itu tumbang. Lagi-lagi suara auman ia keluarkan ketika kehilangan kakinya.
Paman Ary lalu menyilangkan kedua pedangnya ke arah depan. "Aliran pedang ganda: Bhineka." Sebuah tebasan menyilang. Cahaya menyilaukan juga turut keluar. Api dan petir membakar dan memotong apapun yang ada di jalur tebasan itu. Saat cahayanya mulai redup, monster itu sudah terpotong menjadi empat bagian, dan dagingnya menjadi matang karena panas api dan petir. Tak hanya itu, tanah bekas potongan meninggalkan bekas silang di tanah yang sangat dalam.
Kedua pedang Paman Ary mulai kembali normal, ia lalu menyarungkan kembali kedua pedang itu. Aku yang hanya bisa menyaksikannya terdecak kagum oleh kemampuan Paman Ary.
"Akhirnya selesai juga. Cepat bereskan dan temui kelompok lain. Kita bisa dapat uang banyak."
Yang aku tahu, perburuan ini selain menjaga keamanan desa, hasil buruan bisa di jual. Kuku, kulit dan bagian tubuh lain dari para hewan iblis ini cukup bernilai tinggi dipasaran. Yah, sepadan dengan resiko yang harus ditanggung.
Aku mulai mendekat ke Paman Ary. Aku penasaran kenapa ia berkata 'rekan' saat berhadapan dengan minotaur itu.
"Paman, sebenarnya "rekan" yang dimaksud tadi, siapa?"
"Ah itu, sebuah pi—"
"AAAAAAAARRRRGGGGHH!!!"
Suara orang berteriak. Sepertinya kelompok lain sedang mengalami kesulitan. Untuk sekarang aku relakan dulu jawaban tadi, kami harus bergegas. Kami langsung bergerak menuju sumber suara.
Kami bergerak secepat mungkin. Akhirnya kami sampai. Semoga kami tidak terlam— tidak, kami sudah terlambat.
btw mkasih mo lanjutin y thor