NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 Coklat Spesial

Dean duduk menatap sekotak coklat berbentuk bundar diatas meja tepat di samping tas kerja Hermawan, ‘Pasti dia membelikan coklat untuk aku.’ wanita itu mengapai kotak coklat itu dan membukanya, tanganya meraih sebuah coklat berbentuk hati.

“Jangan dimakan!” Hermawan berteriak, seketika langsung merebut coklat di tangan gadis itu kemudian memasukanya ke dalam kotak itu lagi.

Dean melongoh tidak percaya coklat di tanganya dan hanya berjarak beberapa inci dari mulutnya langsung lenyap dalam persekian detik, bahkan mulut Dean masih terbuka lebar.

“Dasar pelit!” protesnya.

“Ya, aku sangat pelit karena ini coklat spesial,” laki-laki itu tersenyum bangga, tangan Hermawan sibuk menutup kembali kotak coklat itu dengan sangat hati-hati seakan itu adalah harta karun yang paling berharga dalam hidupnya.

Terntu saja coklat itu sangat berharga karena itu pemberian Aulia orang yang sangat Herawan cintai sampai detik ini.

“Apa ini dari Aulia?”

“Tentu saja, tapi dari mana kamu tahu?” laki-laki itu menyelidik, Hermawan bahkan belum menceritakan pertemuanya dengan Aulia di kantor tadi, bagaimana bisa Dean mengatakan itu dengan benar.

“Aku hanya menebak, sekarang berikan aku satu, aku lapar.”

Dean mengulurkan tanganya, meminta Hermawan memberikan coklat itu, entah mengapa melihat kotak coklat itu membuat Dean benar-benar ingin memakannya, padahal satu jam yang lalu Anisa sudah memberinya makanan yang sangat banyak, hingga Dean menjadi sesak bernapas karena teralalu kekenyangan.

“Tidak boleh, aku akan membelikanmu coklat yang lain besok.”

“Kamu benar-benar pelit, aku membencimu!” Dean membuang muka.

Hermawan hanya cengengesan melihat tingkah istrinya, lalu memilih pergi kemar dan meletakan coklat itu di samping tempat tidurnya.

Setelah itu memilih membersihkan dirinya, ia sangat lelah karena pekerjaan yang menumpuk, tapi gurat kebahagian terpancar jelas di wajah Hermawan, ia terus tersenyum bahkan saat menikmati coklat pemberian Aulia sambil menonton televisi.

Hermawan memangku kotak coklat itu takut-taku Dean langsung merebut coklat spesial miliknya, Hermawan sedari tadi tidak melihat keberadaan Dean di sana, sepertinya Dean benar-benar marah padanya tapi Hermawan tidak perduli ia terlalu senang hari ini.

“Aku pikir kamu akan mengurung diri di kamar semalaman,” ejek Hermawan melihat Dean keluar dari kamarnya, karena sejak pertengkaran kecil tadi Dean langsung masuk ke kamarnya.

“Aku akan melakukannya setelah ini.” Dean mengambil ponsel pintar miliknya berwarnah putih yang tertinggal di atas meja.

***

Dean menyantap sarapanya dengan malas, bahkan wanita itu hanya mengaduk-ngaduk nasi lembeknya tanpa memasukanya dalam mulutnya, padahal Hermawan bangun lebih pagi agar Dean tidak terlambat menerima sarapan, Hermawan tidak ingin wanita itu sakit lagi, karena itu sangat merepotkan baginya.

“Masih marah?” Hermawan bertanya, karena dari tadi Dean hanya diam dan terlihat tidak fokus “Hanya masalah coklat saja langsung ngambek.” ejek laki-laki itu.

“Aku tidak marah padamu, aku hanya sedikit kesal,” jawab Dean tanpa memandang laki-laki di hadapanya, tanganya masih sibuk mengaduk nasi lembek dalam piringnya.

“Oke, aku minta maaf, aku janji hari ini akan membelikan coklat untukmu.” Hermawan tersenyum lembut, mencobah menghibur Dean.

Dean menatap laki-laki yang sedang tersenyum padanya, Dean merasakan senyum itu sangat indah, sungguh andai saja Hermawan selalu tersenyum padanya seperti itu setiap hari mungkin Dean tidak akan sekesal ini.

Hermawan bahkan mengerakan kedua alisnya, semakin lama senyum itu semakin melebar, Hermawan berlaku konyol demi menghibur Dean, tenyata hal itu tidak sia-sia Dean akhirnya tersenyum setelah melihat wajah Hermawan yang terlihat sangat lucu sekarang.

“Kamu tidak perlu melakukannya, aku sudah berjanji pada diriku aku tidak akan menerima apapun darimu, mulai hari ini.” suara Dean terdengar sunguh-sunguh, lalu kembali fokus pada nasih lembeknya, kali ini Dean tidak hanya mengaduk nasi lembek itu, tapi Dean mulai menyuap dan mengunyanya sedikit demi sedikit.

Hermawan menatap bingung pada istrinya, mengapa Dean berbicara seperti itu dan mengapa hatinya terasa sakit mendengarnya? Ia tidak mau melihat Dean sedih atau menampakan raut wajah datar walau ia tersenyum, Hermawan bisa melihat Dean sedang terluka, mungkin Dean terlalu berlebihan hanya karena sebuah coklat dia menjadi semarah itu?

***

“Siang ini aku akan pergi untuk beberapa hari, ada urusan yang harus ku selesaikan, semoga kamu bisa memperbaiki hubungan mu dengan Aulia, aku mendukungmu.” Dean tersenyum lembut.

“Kemana?” Dean tidak menjawab. Ia masih fokus mengunya nasih lembek untuk sarapanya.

“Terserah kamu saja, mau pergi kemanapun bukan urusanku, mau pulang atau tidak juga bukan urusanku, aku tidak peduli!” Hermawan terdengar ketus karena kesal dengan sikap yang Dean tunjukan dari tadi.

“Ya, kamu tidak akan pernah peduli.”

Dean sudah menyelesaikan sarapanya lalu menyuci piring yang ia gunakan saat sarapan tadi. Hermawan sudah pergi kekantor lima belas menit yang lalu setelah ucapan terakhir Dean, keduanya hanya diam sampai menyelesaikan sarapanya, Hermawan bahkan tidak pamit saat beranjak dari meja makan itu, tapi Dean tahu Hermawan berangkat bekerja, ia bisa melihat dari sudut matanya setelah Hermawan selesai memakai sepatunya, laki-laki itu seakan ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi dan memilih pergi begitu saja.

Dean menghempaskan tubuhn ya diatas ranjang beruturan singel yang cukup sempit, semalam ia tidak tertidur karena mendadak kepalanya merasa pusing, Dean juga bahkan sudah menimum obat yang biasa ia gunakan saat kepalanya terasa sakit, ia sering merasakan pusing setelah kecelaan dua tahun lalu.

Dokter pernah mengatakan bahwa itu terjadi kerena Dean terlalu lelah atau banyak pikiran, sungguh kecelaan itu berdampak pada kondisi tubuhnya yang mudah sekali menurun. Daen bahkan beberapa kali pingsang karena sakit kepala yang ia alami, tapi sudah enam bulan belakangan Dean tidak pernah sakit kepala lagi dan baru sekarang ia merasakan sakit kepala yang teramat sangat.

Dean kembali menulis di lembaran buku tulisnya yang selalu ia ini setiap hari selama menikah dengan Hermawan, buku yang menjadi tempat Dean mencurahkan apa yang ia rasakan.

“Seharusnya kamu senang aku pergi, dengan begitu kamu bisa mendekati Aulia tanpa harus memikirkan aku, semoga kamu selaku bahagia.”

****

“Hai sayang kamu sudah datang?” sapa laki-laki paru baya, memeluk Dean.

“Hai Om, baru, tadi pesawatnya dile.” Dean menjelaskan, ia segera pergi ke sana setelah bertemu dokter Nuh untuk memeriksa kondisinya, beruntung Dean dalam keadaan baik, Dean hanya terlalu lelah di tambah lagi kondisinya belum terlalu pulih setelah di rawat di rumah sakit beberapa minggu lalu, dokter Nuh menyarankan agar Dean banyak istirahat dan tidak terlalu banyak pikiran.

Tapi sepertinya Dean bukan tipe orang yang penurut, dirinya tidak bisa hanya duduk diam sedangkan bayak pekerjaan yang harus dia selesaikan, dirinya sudah cukup lama berlibur sejak menikah.

“Silakan nona Dean.” seorang wanita cantik menghampirinya mengarahkan mereka berdua menuju sebuah meja di salah satu hotel bintang di kota itu.

“Terimakasih Lily.”

Dean langsung membuka berkas yang di serahkan Lily padanya, pekerjaan yang biasanya rutin ia kerjakan setiap hari di rumah, selama empat tahun belakangan ini.

Lily memperhatikan raut wajah Dean yang terlihat datar membaca dengan teliti setiap kata yang terterah di sana, ia juga tampak menautka alisnya saat melihat beberapa gambar yang terterah disana, tidak ada yang berubah dari Dean, Lily selalu menyukai cara Dean memahami setiap laporan yang dia berikan.

Dean selalu santai dan juga serius di saat bersamaan, ia tidak pernah memaksa orang untuk menuruti kemaunya, hanya saja siapa yang tidak bersedia mengikuti kemaunya mempunyai dua pilihan, mengikuti kemaunya atau berhenti dari tempatnya bekerja.

“Ini adalah laporan bulanan, dan ini adalah rencana proyek kita yang baru.” Ahmad menjelaskan setelah Dean menutup file berwarnah kuning itu.

“Aku suka konsepnya, hanya saja apa masyarakat akan menerimanya? Aku berharap bukan hanya kalangan atas saja, kita juga harus memikirkan kalangan menengah kebawah yang bisa menikmati semua fasilitas yang akan di bangun di Mall ini nantinya. Kita bisa membuat taman yang besar dengan berbagai wahana gratis, di bagian samping Mall ini dan lapangan golpnya bisa di geser di bagain belakang,” Dean menjelaskan.

Lily segera mencatat semua yang dikatakan Dean, tampak Ahmad diam sesaat dia berpikir sejenak.

“Tapi para pemain golp akan terganggu karena kebisingan dari wahana bermain di sana.” Ahmad menjelaskan.

“Aku rasa tidak juga Paman, aku yakin para pengunjung itu akan senang jika keluarganya ikut bermain di taman ini sambil menunggu ayahnya bermain golf. Lagi pula jaraknya cukup jahu dan terhalang pepohonan, kita akan memasang pagar pengaman disana agar tidak menganggu konsentrasi mereka.”

Ahmad hanya mengangguk, percuma melawan anak ini, dia jauh lebih pintar darinya, bahkan untuk proyek-proyek sebelumnya, Edmom ayahnya selalu meminta pendapat Dean, dan semua yang di utarakan Dean berhasil di terima di pasaran, bahkan melebihi target yang ingin mereka capai, karena itulah Ahmad sangat menyayangi keponakannya ini.

“Maaf nona Dean, hari ini anda dan tuan Ahmad akan melihat lokasi besok pagi.” Lily menjelaskan jadwalnya setealah pembicaraan cukup alot selesai antara Paman dan keponakan itu selama hampir satu jam.

Lily sudah terbiasa pada kondisi seperti ini Dean bahkan tidak ragu-ragu untuk beradu argumen dengan Paman kandungnya ini, bukan hanya Ahmad, tapi juga pada siap saja, jika menurut Dean ada hal yang tidak tepat ia akan langsung mengutarakan pendapatnya tanpa memandang jabatan atau pangkat orang yang diajaknya bicara.

Dean mengangguk sesaat menagapi ucapan Lily, ia juga melihat jam tanganya yang sudah menunjukan angka tujuh ternyata sudah malam, Dean bahkan lupa beristirahat seharian ini, ia terlalu banyak menghabiskan waktu di bandara di tambah lagi perjalan yang cukup macet, ia bahkan belum sempat ke hotel untuk membersihkan dirinya tadi.

Dean menatap wajah Lily yang masih tersenyum lembut padanya, kadang Dean berpikir Lily tidak cocok jadi seketaris, ia lebih cocok jadi istri pejabat yang selalu tersenyum jika bertemu masyarakat, Dean selalu merasa lucu jika membayangkan hal itu, seandainya benar-benar terjadi.

“Makanla Lily, berhenti memikirkan jadwalku.” Dean menyodorkan makan yang mereka pesan, membuat Lily sedikit terkejut tapi senyum di bibir wanita itu tidak pernah pudar sedikitpun.

“Terimakasih nona.” Lily tahu Dean sangat baik padanya, kadang Lily berpikir Deanlah yang lebih Dewasa di sini meski umurnya masih sangat mudah, walau kadang-kadang bosnya yang satu ini sangat jahil. Lily ingat bagaimana Dean memaksanya berdandan saat ulang tahun perusahaan Demitri Compeni tiga tahun lalu.

Flas Back On

Lily sudah berdiri di hadapan bagunan yang menjulang tinggi berwarna abu-abu, semua bagian dindingnya terbuat dari kaca, sungguh bangunan itu sangat indah, belum lagi tamanya yang sangat luas lengkap dengan berbagai fasilita bermain anak secara gratis bagi para pengunjung hotel, Lily yakin ukuran taman itu lebih besar dari pada ukuran hotel itu, di belakang bangunan itu terdapat danua yang sangat besar lengkap dengan bangku-bangku yang terletak di tepianya serta beberapa pohon-pohon yang berdiri kokoh.

Hotel D2, bangunan yang berdiri di lahan seratus dua belas hektar, dengan tinggi bangunan mencapai tujuh puluh tingkat dengan fasilitas mewah di dalamnya yang sudah tidak di ragukan lagi ke indahanya, bahkan terdapat tempat perbelanjaan yang sangat besar di sana yang memakai tujuh lantai pertama, yang di isi dengan bren-bren ternama serat bioskop, selain menginap para pengunjung hotel bisa beberlanja di sana.

Serta yang paling memebuat Lily tercengang kolam renang yang sangat besar hampir setengah luas bangunan itu tepat berada di puncak hotel tersebut, bahkan para pengunjung tidak sadar jika mereka sedang berenang di puncak bangun tinggi, karena hotel itu menyulap puncaknya seperti pantai lengkap dengan pohon kelapa hidup dan pasir putih di beberapa bagian, para pengunjung hotel bisa menikmati semuanya secara cuma-cuma. Itu merupakan hotel milik Demitri Compeni tepatnya hasil rancangan bos mudahnya Dean D.

Dengan mengunakan gaun sederhana namun sangat indah menurut Lily, ia bahkan sengaja membeli gaun itu dari uang tabunganya selama bekerja, ia tidak mau mempermalukan dirinya karena ini sangat penting baginya sebagai sekertaris yang sudah bekerja selama lima tahun di sana, tapi kemudian dengan mudahnya Dean menjatuhkan minumanya pada gaun Lily saat Dean menyapanya, sungguh Lily ingin marah tapi dia menahanya karena Dean adalah bosnya.

“Ups, sengaja.”

Dean tersenyum dengan raut wajah tanpa dosa bukanya meminta maaf Dean bahkan mengambil gelas minuman Edmon ayahnya lalu kembali menyiramkan ke baju Lily. Edmom bukanya marah pada anaknya laki-laki tua itu malah tertawa, Lily mengeram kesal tapi hanya sebentar Dean sudah menariknya menjahu dari beberapa pandangan mata yang menatapnya heran, tapi seperti biasa Dean menunjukan senyum terbaiknya seakan mengatakan semua baik-baik saja.

Bos mudahnya membawa Lily menujuh toilet yang ada di salah satu kamar hotel itu, Lily tercengang melihat keindahan interios kamar hotel itu sunggu ia seperti berada dalam sebuah apartemen mewah bukan hotel, tapi Lily memilih hanya diam tidak mengatakan apapun selama mereka berada dalam kamar itu, bahkan saat Dean menemaninya di dalam toilet untuk membersihkan noda minuman yang menempel di bajunya.

Tanpa Lily sadar Dean memberikan sebuah kotak berukuran besar berwarnah biru muda, yang diatasnya tertulis nama Lily.

“Maaf ini a-“

“Pakai saja jika kamu tidak mau mempermalukan diri mu sebagai trio.”

Lily menautkan wajahnya binggung trio apa? dia tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan Dean.

Lily kembali memperhatikan Dean yang berdiri menunggunya, Lily baru sadar jika bos mudanya itu sangat cantik malam ini, ia mengunakan gaun berwarnah putih gading selutut berlengan pendek, dengan belahan dada yang tidak terlalu rendah lengkap dengan motif bunga sepatu yang sengaja di bordir di setiap bagian baju itu, jika di perhatikan dengan detail terdapat benda berkilau di setaip sari bunganya walau kecil-kecil tapi Lily yakin itu adalah batu berharga seperti berlian.

Dean berdandan sederhana ia tidak terlihat berlebih dengan usianya yang masih enam belas tahun mulai dari sepatu yang tampak sederhana tapi senada dengan baju yang di kenakan, begitu juga tas kecil yang di gengan bos mudanya, Lily sangat yakin itu semua pasti sangat mahal.

“Lima menit, atau aku akan menyuruh penjaga di depan menelanjangimu!” Lily sontak membulatkan matanya setelah mendengar ancaman Dean, gadis kecil ini sangat jahil dan licik, dengan cepat Lily memakai pakainaya di hadapan Dean yang terlihat sibuk dengan ponselnya.

Dean membantu Lily menaikan seliting gaun berwarnah biru mudah yang sangat indah, gaun itu terlihat sangat seksi, gaun panjang dengan belahan paha yang cukup tinggi hingga memperlihatkan bagian paha mulus Lily.

Lily tidak tahu bagaimana bisa Dean tahu ukuran tubuhnya, awalnya Lily berpikir itu adalah gaun Dean yang mungkin bos mudahnya ini membawa gaun dua sebelum datang ke acara hotel itu?

“Berterimakasihla.” pinta Dean

“Eh? Ma-maaf, terimakasih.” ucap Lily.

Dean mengangguk-angukan kepalnya menilai penampilan Lily dari atas hingga bawah lalu tersenyum puas.

“Harusnya aku memberikanya kemarin tapi aku lupa, beruntung aku sudah melihat dua orang yang aku temui memakai gaun yang sama seperti yang kamu pakai tadi, jadi aku tidak ingin kamu terlihat seperti trio.”

Lily tercengang ternyata Dean menyelamatkanya karena ada juga orang yang memakai gaun yang sama denganya tadi. Lily tidak percaya, ia bahkan hampir menangis di balik sifat angkuh bos mudanya ternyata Dean sangat perhatian padanya.

Lily langsung memeluk Dean karena merasa terlalu gembira, ia bahkan lupa jika orang yang di peluknya adalah bosnya, Dean membalas pelukan itu tapi kemudian Lily tersadar dan mengucapkan maaf berkali-laki.

Dean dan Lily sudah berada di tengah kerumunan para tamu yang ada, Lily benar-benar melihat dua orang yang berpakaian sama dengannya tadi, Lily tidak tahu jika Dean tidak memberikanya gaun ini mungikin dia sudah pulang saat ini juga.

Lily mengatakan akan mengembalikan gaun itu setelah selesai acara nanti tapi Dean mengatkan bahwa itu hadia ulang tahun untuk Lily yang ke dua puluh tujuh yang jatuh tepat minggu lalu, Lily tidak percaya Dean menginggatnya. Setahu Lily bos mudanya ini selalu menyuruhnya semena-mena bahkan sebagian adalah hal konyol, mulai dari membeli es krim, terus menghabiskanya bersama di tengah rapat, berlombah dalam menyusun parsel, bahkan Lily harus menemani Dean kursus membuat kopi pada seorang chef yang terkenal, kadang Lily bingung bagaimana Dean harus melakukan kursus kalau hanya untuk membuat secangkir kopi. Bukankan semua orang bisa membuat kopi?

Itu merupakan hal yang mudah, kita hanya perlu menambarkan air panas lalu mencampurkan kopi dan gula dalam gelas, kalaupun tidak tahu takaranya cukup membeli kopi instan dan menambahkan air panas lalu selesai dan bila malas tinggal pesan di kedai kopi.

Flas Back Of

****

“Dean, maafkan Om tidak bisa datang kepernikahanmu?” Ahmad membuka suara hanya setelah menghabiskan makan malam mereka. Ahmad sangat menyesal tidak bisa hadir dalam peristiwa paling berharga dalam hidup keponaknya sendiri. Tapi Ahmad tidak punya pilihan, waktu itu ia harus ke Singapura karena menantunya melahirkan cucu pertamanya, Ahmad sudah mengubungi Dean dan berniat pulang pagi itu, tapi Dean menyarankan agar Ahmad tetap di sana menemani keponakanya, Dean juga meyakinkan bahwa semuanya berjalan lancar.

“Tidak apa-apa Om, aku mengerti, lagi pula itu tidak seperti pernikahan, aku yang memaksanya,” Dean menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Kamu sudah bertindak benar sayang, Hermawan beruntung mendapatkanmu, jika ia tahu siapa kamu sebenarnya,” Ahmad tersenyum mengodah keponakan kesangannya.

“Dia tidak mencintaiku Om, dia hanya terpaksa!” Dean menekankan kata terpaksa sambil tensenyum kaku, andai Ahmad mengetahu apa yang telah ia alami selama pernikahan itu mungkin Ahmad akan berpikir dua kali untuk mengoda keponakanya itu.

Dean menarik napas dalam sebelum menyeruput minumanya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang Ahmad sendiri tidak tahu itu apa. Ahmad merasa Dean sedang menyembunyikan sesuatu, sungguh susah untuk menebak keponakan satu-satunya ini, Dean cenderung tertutup atas apa yang ia rasakan sejak kematian Edmom, walau ia terlihat sangat bahagia di depan keluarganya. tapi Ahmad tahu keponakan satu-satunya ini sedang berusaha mengobati luka di hatinya karena kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai.

“Tidak, dia mencintaimu jauh sebelum kamu melamarnya,” Ahmad mencobah meyakinkan Dean, ia benar-benar yakin bahwa hanya Hermawan yang mampu mengobati luka di hati Dean.

“Bagaimana bisa Om bicara seperti itu, kami baru saja bertemu dan Wawan mencintai orang lain.” Daen menatap wajah Ahmad yang sedikit terlihat bingun dengan pernyataan yang ia lontarkan.

‘Ya, Wawan mencintai Aulia’ Dean berbicara dalam hati sebelum akhirnya kembali bersuara mengalikan pembicaraan, ia malas mengungkit Hermawan. “Om, kapan kak Dhani datang?”

“Mungkin bila sikecil berumur dua bulan.” Dean memang sudah lama tidak bertemu Dhani ia adalah anak tertua Ahmad yang sudah Dean anggap sebagai kakak sendiri. Mereka sangat akrab dulu, tapi sejak Dhani menikah dengan Maria yang berasal dari Singapur kemudian memutuskan tinggal di sana, Dean sangat jarang bertemu Dhani, selain itu alasan utama mereka pindah ke Singapur karena harus mengurusi cabang perusahaan milik Dean, Dhani bertanggung jawab untuk itu.

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!