Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Aku terima," Ucap Yunche tiba-tiba seraya melipat surat tantangan tersebut.
Gu Qingli seketika menoleh tajam dengan sepasang mata membelalak. "Shen Yunche!"
"Tenanglah dulu," potong Yunche cepat, mencoba meredakan kepanikan gadis di depannya.
"Kau bilang percaya padaku, kan?" sergah Gu Qingli dengan nada menuntut.
"Aku memang percaya padamu," sahut Yunche santai, lalu mengikis jarak di antara mereka. Tatapan matanya yang biasa jenaka berubah mendalam dan penuh keseriusan. "Tapi... aku tidak mau terus-menerus menjadi orang yang selalu harus kau lindungi. Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar pantas untuk berdiri tegak di sampingmu."
Gu Qingli membeku di tempatnya, tenggorokannya mendadak tercekat.
Yunche yang baru menyadari betapa dalam dan intimnya kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya langsung panik. Wajahnya merona merah hingga ke ujung telinga. Dia terburu-buru menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sembari tergagap, "...maksudku, berdiri di sampingmu sebagai teman latihan!"
Keheningan melingkupi mereka sejenak. Gu Qingli bergeming, menatap Yunche yang kebingungan, sebelum akhirnya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Idiot," bisiknya pelan.
"Hah? Apa?" Yunche melongo.
"Sudahlah," cetus Gu Qingli singkat lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan halaman.
Namun, tak ada seorang pun yang menyadari bahwa saat berbalik memunggungi Yunche, sudut bibir Gu Qingli perlahan terangkat. Sebuah senyum tipis—sangat kecil dan langka—terukir di wajah cantiknya.
Sementara itu, Yunche masih berdiri mematung di tengah lapangan. Wajahnya masih memerah panas saat membatin gusar, "Kenapa aku malah bicara seperti itu tadi?!"
Shen Ruowei yang sejak tadi menonton drama tersebut dari balik pilar mendadak muncul dengan senyum menggoda yang mengembang lebar. "Jawabannya simpel, Kak... karena kau menyukainya!"
Yunche tersentak kaget dan menoleh tajam. "Ruowei!"
"HAHAHA!" Ruowei tertawa lepas lalu langsung melangkah seribu kaki melarikan diri.
"Jangan kabur kau!" seru Yunche sembari memburu sepupunya itu.
Tiga hari tersisa sebelum hari pertarungan tiba. Shen Yunche mulai memeras keringat untuk berlatih. Menariknya, dia tidak lagi berlatih seorang diri. tiap pagi Gu Qingli akan datang mendampinginya bertukar jurus, dan sore harinya gadis itu baru kembali ke kediamannya. Di malam hari, Yunche memfokuskan diri bermeditasi mengendalikan aliran energinya.
Perlahan tapi pasti, dinamika hubungan di antara mereka mulai bergeser. Tidak ada pengakuan romantis, tidak ada janji manis, apalagi kata-kata cinta. Namun, tindakan mereka menyampaikan segalanya. Ketika Yunche terluka saat berlatih, raut cemas Gu Qingli tak mampu disembunyikan. Saat Gu Qingli tampak lelah, Yunche diam-diam menyelinap menyajikan kudapan hangat.
Jika Yunche terlambat datang ke lapangan, Gu Qingli akan setia menunggu dalam hening. Dan ketika Gu Qingli absen, pandangan Yunche tak pernah lepas dari gerbang utama. Tanpa mereka sadari, kehadiran satu sama lain telah meresap menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hari mereka.
Hingga akhirnya, malam sebelum pertempuran itu tiba.
Saat Yunche sedang bersila memusatkan pikiran dalam meditasinya, liontin hitam di balik bajunya mendadak memancarkan pendar cahaya kelam yang membelah kegelapan kamar. Yunche tersentak dan membelalakkan mata.
"Apa-apaan ini?" bisiknya terkejut.
Cahaya hitam pekat memenuhi setiap sudut ruangan, diiringi sebuah suara gaib yang menggema langsung di dalam benaknya.
*Shen Yunche.*
Yunche bergegas bangkit berdiri. "Siapa di sana?!"
*Segel kedua akan segera terbuka... besok.* Suara misterius itu terdengar makin samar, seolah berasal dari dimensi yang teramat jauh. *Ketika darahmu menyentuh tanah... kau akan mengingat semuanya.*
Pendar cahaya itu menghilang seketika, mengembalikan kegelapan malam. Yunche berdiri terpaku mencengkeram liontin di dadanya. Namun selang beberapa detik, dia merasakan sesuatu dari kejauhan—sebuah presensi aura yang amat asing, luar biasa kuat, dan teramat mengerikan sedang mengintai Kota Qinghe.
Yunche melangkah mendekati jendela, mengepalkan tangannya sembari menatap langit malam yang kelam. "Besok... pertarungan itu."
Entah mengapa, intuisi Yunche berbisik bahwa laga besok bukan sekadar pertarungan antar-kultivator muda. Ada sesuatu—atau seseorang—yang sedang menunggunya di balik tirai takdir.
Di tempat terpisah, Gu Qingli juga berdiri di tepi jendelanya, memandangi bulan sabit yang tertutup awan tipis. Hatinya diselimuti gelisah yang teramat sangat, seolah esok hari akan menjadi titik balik yang mengubah segalanya dan tak bisa diputar kembali.
Gu Qingli memejamkan matanya rapat-rapat, berbisik lirik pada angin malam, "Yunche... tolong jangan sampai terluka."
Keesokan paginya, Arena Qinghe tampak bagaikan lautan manusia. Tetua dan murid dari Keluarga Shen, Keluarga Zhou, hingga Keluarga Gu berkumpul memadati tribun. Di antara kerumunan penonton, Xiao Hanzhou berdiri tegak dengan pandangan dingin yang tertuju lurus ke tengah panggung.
Shen Yunche melangkah masuk ke dalam arena dengan langkah mantap. Di seberangnya, Zhou Minghao sudah berdiri menanti dengan tatapan penuh dendam.
Yunche menghentikan langkahnya, menatap lawannya santai.
"Shen Yunche!" panggil Zhou Minghao dengan senyum menyeringai. "Kali ini..." Dia menghentakkan kakinya ke bumi, dan seketika aura ket ket ket Pengumpulan Qi tingkat sembilan yang meledak hebat menguncang panggung. "...aku tidak akan menahan diri sedikit pun!"
Yunche menghela napas panjang melihat pertunjukan kekuatan itu. "Kenapa semua orang selalu suka mengucapkan kalimat yang sama sebelum bertarung?"
Zhou Minghao melotot tersinggung, namun Yunche membiarkannya dan memantapkan pegangan pada pedang kayunya. Sebelum menyiagakan kuda-kuda, pandangan Yunche menyapu tribun penonton hingga matanya bertabrakan dengan iris jernih milik Gu Qingli.
Gadis itu berdiri anggun menatapnya penuh kecemasan. Yunche mengulas senyum hangat yang menenangkan, membuat kening Gu Qingli bertaut gemas.
"Jangan berani-berani kau kalah!" seru Gu Qingli dari tribun, suaranya terdengar samar namun jelas bagi Yunche.
Yunche tertawa kecil. "Siap, Laksanakan!"
DANG!
Suara dentang bel tanda mulainya pertarungan menggema keras mengudara.
Zhou Minghao langsung melesat maju menyerang. Yunche bereaksi dan hendak bergerak menghindar, namun tepat saat tinju Zhou Minghao hampir saja menghantam tubuhnya, liontin di dada Yunche mendadak menyala hebat. Pendar cahayanya begitu terang hingga menyilaukan.
Yunche membeku seketika. Sebuah suara gaib bergema keras di dalam benaknya: *Segel kedua... terbuka.*
Dalam sekejap mata, realitas di hadapan Yunche berganti. Arena pertandingan melenyap, lautan kerumunan penonton menghilang, bahkan sosok Gu Qingli tak lagi terlihat. Yang tersisa di sekelilingnya hanyalah hamparan kobaran api yang membumbung tinggi.
Di tengah lautan api tersebut, berdiri seorang pria. Yunche mengenali raut wajah itu—sosok yang selama tujuh belas tahun ini hanya mampu dia kenang lewat memori masa kecilnya yang samar.
"Ayah..." bisik Yunche bergetar.
Shen Tianyu menoleh, hingga mata mereka saling beradu. Untuk pertama kalinya, Yunche mendengar suara ayahnya terdengar begitu jernih.
"Yunche..."
"Ayah..."
Shen Tianyu mengulas senyum tipis yang sarat akan kesedihan. "Jika kau menyaksikan ingatan ini... berarti Ayah telah gagal."
Yunche terpaku, dadanya mendadak sesak.
Shen Tianyu lalu melanjutkan dengan nada yang kian serius, "Dan sosok yang membunuh Ayah... berada sangat dekat di sekitarmu."
*Brak!*
Dunia ilusi itu runtuh dan kembali gelap gulita.
Yunche tersentak membuka matanya. Realitas kembali menyapu kesadarannya—tinju Zhou Minghao sudah melayang tepat beberapa inci di depan wajahnya. Namun di detik-detik yang teramat krusial itu, Yunche justru menyunggingkan sebuah senyuman.
Bukan senyum jenaka atau canggung seperti biasanya. Ada kilat asing yang teramat dingin dan mengintimidasi di dalam sorot matanya—sebuah tatapan mengerikan yang bahkan sanggup membuat Zhou Minghao mendadak dicekat rasa takut yang luar biasa.
apa gk syok tuh thor