NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Keesokan harinya...

Suasana kelas terasa seperti biasa.nMahasiswa mulai memenuhi ruangan sambil bercanda dan menyiapkan laptop maupun buku catatan.

Namun, bagi dua orang itu. Hari ini sama sekali tidak terasa biasa. Azel sengaja memilih duduk sedikit lebih belakang dari biasanya.

Entah kenapa, sejak memasuki kelas tadi ia selalu menghindari menatap ke arah meja dosen. Sementara itu, Ibra masuk ke kelas dengan raut wajah setenang biasanya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Ia langsung meletakkan laptop di atas meja, lalu membuka materi kuliah. Tidak ada yang aneh. Setidaknya begitulah menurut mahasiswa lain.

Namun Azel tau. Ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali tanpa sengaja pandangan mereka hampir bertemu, salah satu dari mereka akan lebih dulu mengalihkan pandangan.

Ibra pun mengajar seperti biasa. Menjelaskan materi. Menulis rumus. Sesekali bertanya kepada mahasiswa.

"Alfi, coba jelaskan bagian ini."

"Iya, Pak."

"Bela, kalau menurut kamu bagaimana?"

"Izin menjawab, Pak."

Lalu... Sekar mulai mengernyit. Ia melirik Azel.

"Loh..."

Biasanya nama pertama yang dipanggil pasti Azel. Biasanya perkuliahan mereka selalu diselingi adu argumen kecil antara dos en dan mahasiswanya itu. Hari ini tidak sama sekali. Ibra bahkan belum sekali pun menyebut nama Azel.

Azel yang menyadari hal itu justru diam-diam mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah... hari ini aman."

Namun di sisi lain, entah kenapa ada perasaan aneh. Kelas terasa terlalu sepi. Terlalu damai. Sampai-sampai Sekar tak tahan lagi.

Ia menyenggol pelan lengan Azel. "Zel."

"Hm?"

"Kok tumben?"

"Tumben apaan?"

"Pak Ibra nggak ngajakin lo debat."

Azel yang sedang mencatat langsung tersedak ludahnya sendiri. "Uhuk... uhuk..."

"Pelan, woy." Sekar menahan tawa.

"Y-ya mana gue tau, Sek."

Bela ikut menyahut pelan. "Iya ya... Biasanya lima belas menit pertama aja kalian udah adu argumen. Ini udah hampir satu jam. Damai banget."

Azel pura-pura fokus mencatat. "Mungkin... Pak Ibra lagi baik."

Sekar menyipitkan mata. "Nggak, justru itu yang aneh. Pak Ibra kalau baik sama lo malah mencurigakan."

"Ck." Azel memutar bola matanya. "Apaan sih."

Di depan kelas tanpa sengaja Ibra mendengar bisik-bisik mereka. Ia hanya berdeham pelan. "Kalau diskusinya sudah selesai boleh diperhatikan ke depan?"

Seketika kelas hening.

"Iya, Pak."

Sekar menahan senyum sambil berbisik sangat pelan kepada Azel. "Tuh, kan. Dia denger."

Azel hanya bisa memejamkan mata sejenak. "Ya Allah... semoga hari ini cepat selesai."

Sementara itu, Ibra kembali melanjutkan penjelasan materi. Meski wajahnya tetap datar seperti biasa. Pikirannya justru tidak setenang yang terlihat.

Ia sengaja tidak memanggil Azel. Bukan karena mengabaikannya. Melainkan karena ia khawatir. Jika kembali berdebat dengan gadis itu seperti biasanya. Tatapannya justru akan sulit lepas dari Azel. Dan itu adalah hal yang sedang berusaha ia hindari.

***

Sore itu, ruang rapat BEM masih dipenuhi para pengurus yang tengah mengikuti rapat terakhir sebelum keberangkatan kegiatan pengabdian masyarakat di desa.

Di depan ruangan, Fariz sebagai ketua BEM berdiri sambil memegang lembar rundown.

"Baik, teman-teman. Karena ini rapat terakhir, saya ingatkan lagi pembagian program kerja kita. Tim pertama akan fokus pada penyuluhan sanitasi dan perilaku hidup bersih. Tim kedua membantu pembangunan serta perbaikan fasilitas MCK. Tim pendidikan bertugas mengajar anak-anak di SD dan TPA. Tim ekonomi akan mendampingi UMKM, memberikan edukasi literasi keuangan, serta penyuluhan perpajakan sederhana. Selain itu ada sosialisasi kesehatan, pelatihan pengelolaan sampah, penanaman pohon, pemberdayaan karang taruna, hingga membantu administrasi dan digitalisasi pelayanan desa. Pastikan semua perlengkapan sudah siap sebelum hari keberangkatan."

"Izin, Kak."

Fariz mengangguk. "Ada yang mau ditanyakan?"

Rapat berlangsung sekitar satu jam.

Di sudut ruangan, Azel duduk sambil mencatat beberapa poin penting. Namun wajahnya tampak jauh lebih pucat dari biasanya.

Sesekali ia menekan pelan perut bagian bawah. Rasa nyeri itu mulai datang sejak siang.

Hal itu tidak luput dari perhatian Sekar dan Bela yang duduk di sampingnya.

"Zel..."

"Hm?"

"Lo baik-baik aja? Muka lo pucet banget."

Azel memaksakan senyum. "Gue sakit perut, Sek."

"Lambung?"

Azel menggeleng pelan. "Kayaknya gue haid deh."

"Oalah. Pantesan."

"Udah minum obat belum?"

"Belum."

Di sisi lain ruangan...

Tatapan Ibra beberapa kali tanpa sadar mengarah kepada Azel. Ia melihat gadis itu berkali-kali mengubah posisi duduk karena tidak nyaman.

Sementara Fariz yang sedang menjelaskan materi pun sesekali melirik ke arah Azel.

"Azel kelihatan nggak sehat," pikirnya.

Rapat akhirnya selesai.

"Kalau nggak ada pertanyaan lagi, rapat kita tutup. Terima kasih semuanya."

Satu per satu mahasiswa mulai meninggalkan ruangan.

Tak lama yang tersisa hanya Azel, Sekar, Fariz, Sarah, dan Ibra.

Sekar menatap Azel yang masih duduk. "Lo bawa motor?"

Azel menggeleng. "Enggak. Tadi dianter Kak Arshaf."

Fariz langsung menghampiri. "Zel, kamu kenapa?"

"Ah... gapapa, Kak."

"Muka kamu pucet banget."

"Biasalah Kak perempuan."

Sarah yang sejak tadi memasukkan laptop ke dalam tas mendengus pelan. "Yaelah manja banget. Haus perhatian."

Ucapan itu membuat Sekar langsung menatap tajam. Sebelum Azel sempat membalas, Fariz lebih dulu angkat bicara.

"Sarah, nggak semua orang yang lagi sakit itu cari perhatian. Kalau nggak bisa peduli, minimal jangan ngomong yang nggak perlu."

Sarah mendecak kesal. "Terserah."

Ia menghentakkan kakinya keluar dari ruangan.

Fariz kembali menoleh ke Azel. "Kalau memang nggak kuat, aku anter pulang."

Belum sempat Azel menjawab, Sekar lebih dulu menyela. "Udah, Kak. Gue aja yang anterin."

Azel mengangguk. "Iya, Kak. Aku sama Sekar aja."

Sekar membantu Azel berdiri. "Ayo. Kita balik."

Azel lalu menoleh kepada Fariz dan Ibra. "Saya sama Sekar pulang dulu ya, Kak... Pak. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Mereka baru beberapa langkah menuju pintu.

"Azel." Suara Ibra menghentikan langkah gadis itu.

Azel menoleh. "Iya, Pak?"

Ibra berjalan menghampirinya. Tatapannya sekilas turun ke arah rok panjang yang dikenakan Azel. Wajahnya tetap tenang. Namun sorot matanya berubah sedikit serius.

Tanpa banyak bicara ia melepaskan jas almamater dosen yang sejak tadi dikenakannya. Lalu dengan gerakan yang tetap menjaga sopan santun, ia menyerahkan jas itu kepada Azel.

"Tolong ikatkan di pinggang." Ucapnya pelan.

Azel berkedip bingung. "Loh, Pak? Kenapa?"

Ibra menahan pandangannya agar tidak membuat Azel semakin malu. "Sepertinya kamu belum sadar."

Kalimat itu menggantung beberapa detik. Lalu ia berkata pelan, cukup agar hanya mereka yang mendengar.

"Kemungkinan ada noda di belakang rokmu."

Deg!

Wajah Azel langsung memucat. Refleks ia menoleh ke arah Sekar. Sekar yang sempat melirik ke belakang langsung membelalakkan mata kecil, lalu mengangguk pelan seolah membenarkan.

Azel spontan menutup mulutnya. "Ya Allah..."

Tanpa berpikir panjang, ia segera mengikat jas milik Ibra di pinggangnya. Pipinya memerah karena malu.

Fariz yang baru menyadari situasinya langsung mengalihkan pandangan sebagai bentuk menjaga adab.

Sekar menggenggam tangan Azel pelan. "Gak apa-apa. Ayo."

Ibra hanya mengangguk singkat. "Silakan pulang. Jangan lupa istirahat. Kalau nyerinya bertambah, periksa ke dokter."

Azel menundukkan kepala. "Terima kasih... Pak." Suaranya nyaris tak terdengar.

Ibra tidak menjawab lagi. Ia hanya memberi anggukan kecil, lalu mengambil tas kerjanya. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Setelah Ibra keluar dari ruangan, suasana masih hening beberapa saat.

Fariz mengembuskan napas pelan. "Pak Ibra... ternyata perhatian juga."

Sekar tersenyum tipis. "Iya. Kalau tadi beliau nggak sadar duluan bisa bahaya."

Sementara Azel masih memegang erat ujung jas yang melingkar di pinggangnya.

Entah karena menahan malu atau karena masih teringat cara Ibra menjaganya tanpa mempermalukannya di depan banyak orang.

***

Sekar mengantar Azel hingga tiba di depan ndalem. Langit mulai berwarna jingga, pertanda waktu Magrib hampir tiba.

Di teras rumah, Uma Azzura dan Kiai Abidzar tampak sudah bersiap berangkat ke masjid pesantren.

Begitu melihat Azel turun dari motor dengan wajah pucat, keduanya langsung menghampiri.

"Assalamu'alaikum, Uma, Abi."

"Assalamu'alaikum, Om, Tante," sapa Sekar sopan.

"Wa'alaikumussalam."

Uma Azzura langsung memegang kedua bahu putrinya. "Ya Allah, Zel. Kamu kenapa? Kok pucat sekali?"

Azel tersenyum lemah. "Nggak apa-apa, Uma. Cuma perutku sakit. Hari pertama haid. Terus tadi aku nggak sadar."

Uma Azzura langsung mengusap lembut kepala putrinya. "Pantesan. Yuk masuk. Nanti Uma bikinin air hangat."

Sekar tersenyum kecil. "Tante, tadi Azel juga kelihatan nggak kuat pas rapat. Untung rapatnya udah selesai."

Uma mengangguk penuh rasa terima kasih. "Makasih ya, Nak, sudah nganterin Azel sampai rumah." "Iya, Tante. Sama-sama. Kalau gitu Sekar pamit dulu. Ini juga udah mau Magrib."

"Iya, hati-hati di jalan ya."

"Iya, Om."

Sekar kembali menyalami Uma dan Kiai Abidzar sebelum akhirnya berpamitan. Motor gadis itu pun perlahan meninggalkan halaman ndalem.

Suasana kembali tenang. Saat itulah pandangan Kiai Abidzar tertuju pada jas yang melingkar di pinggang putrinya.

Beliau mengernyit. "Zel."

"Iya, Bi?"

"Itu jas siapa?"

Azel baru tersadar. "Oh... Ini jasnya Pak Ibra, Bi."

Kiai Abidzar dan Uma Azzura saling berpandangan sekilas. "Ibra?"

"Iya. Tadi waktu rapat..." Azel tampak sedikit malu saat mulai bercerita.

"Pas rapat selesai aku sama sekali nggak sadar ternyata rokku kena noda."

Uma Azzura langsung memahami maksud putrinya. "Astaghfirullah... Terus?"

"Pak Ibra yang sadar duluan. Beliau manggil aku. Aku kira ada apa eh ternyata beliau ngasih jasnya terus nyuruh aku pakai di pinggang."

Azel menunduk malu. "Beliau ngomongnya juga pelan banget. Biar nggak ada yang denger."

Uma Azzura mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah. Kalau sampai banyak orang yang lihat, kamu pasti malu sekali."

"Iya, Uma. Aku juga baru sadar setelah Sekar ngasih tahu."

Kiai Abidzar terdiam beberapa saat. Lalu beliau tersenyum tipis. "Itu sikap seorang laki-laki yang baik."

Azel mengangkat wajahnya.

"Beliau menjaga kehormatanmu. Bukan malah mempermalukan atau memanggil perhatian orang lain. Beliau memilih cara yang paling baik."

Uma Azzura mengangguk setuju. "Benar. Beliau juga menjaga adab. Kalau memang ada yang perlu ditolong, cukup diberi tahu tanpa membuat perempuan itu merasa dipermalukan."

Azel menggenggam pelan ujung jas yang masih melingkar di pinggangnya. Entah kenapa ucapan kedua orang tuanya membuat rasa malunya berubah menjadi rasa syukur.

"Besok jasnya jangan lupa dicuci dulu. Kemudian kembalikan sambil mengucapkan terima kasih."

"Iya, Bi." Azel mengangguk pelan.

Dalam hati ia kembali teringat wajah Ibra saat menyerahkan jas itu. Tidak ada tatapan aneh. Tidak ada senyum menggoda. Bahkan laki-laki itu sengaja berbicara pelan agar harga dirinya tetap terjaga.

Dan tanpa disadari senyum kecil perlahan terbit di wajah Azel sebelum ia segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.

***

Setelah memastikan Azel sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, Uma Azzura kembali ke teras. Kiai Abidzar masih duduk di kursi kayu sambil menunggu azan Magrib berkumandang.

Beberapa saat, keduanya hanya terdiam. Uma Azzura lah yang akhirnya membuka percakapan.

"Mas..."

"Hm?"

"Tadi waktu Azel cerita, aku jadi bersyukur."

Kiai Abidzar mengangguk pelan. "Mas juga."

Uma Azzura duduk di samping suaminya. "Kalau laki-laki yang niatnya tidak baik mungkin reaksinya akan berbeda. Entah sengaja mempermalukan atau malah pura-pura tidak melihat."

Kiai Abidzar mengusap janggutnya pelan. "Tapi Ibra tidak."

"Iya. Dia memilih menjaga kehormatan Azel. Dan dia melakukannya tanpa menarik perhatian siapa pun."

Uma Azzura tersenyum tipis. "Padahal itu situasi yang cukup canggung apalagi di kampus, di depan mahasiswa. Kalau sampai salah bersikap sedikit saja bisa menimbulkan fitnah."

"Benar." Kiai Abidzar mengangguk mantap. "Justru karena dia seorang dosen, dia menjaga batas dengan sangat baik. Dia tidak menyentuh Azel. Tidak mengumumkan apa yang terjadi, hanya memberi solusi agar Azel tidak merasa dipermalukan."

Uma Azzura menatap suaminya. "Mas... Dulu waktu Ibra menjadi santri, dia memang seperti itu, ya?"

Kiai Abidzar tersenyum kecil. "Iya. Dari dulu anak itu pendiam. Tidak banyak bicara tapi kalau diberi amanah, dia selalu menjaga amanah itu."

Beliau terdiam sesaat, seolah mengingat masa lalu. "Dulu Mas sering meminta dia membantu santri-santri yang lebih kecil. Kalau ada yang berbuat salah, dia tidak pernah mempermalukan mereka di depan teman-temannya. Dia akan memanggil secara baik-baik, menasihati empat mata."

Uma Azzura mengangguk pelan. "Berarti sifatnya tidak banyak berubah. Yang berubah mungkin hanya senyumnya."

Kiai Abidzar terkekeh pelan. "Iya. Dulu lebih sering tersenyum. Sekarang wajahnya lebih banyak menyimpan beban."

Uma Azzura mengembuskan napas lirih. "Kasihan. Sepertinya hidupnya tidak mudah. Kemarin dia juga bercerita kalau sudah bercerai."

Kiai Abidzar mengangguk. "Mas tidak ingin bertanya lebih jauh..Malau suatu hari dia ingin bercerita biarlah dia sendiri yang membuka."

Uma Azzura kembali teringat wajah Ibra saat datang bersama Arjun beberapa hari lalu. "Luka seseorang memang tidak selalu terlihat. Terkadang yang paling banyak tersenyum justru yang paling banyak menyimpan kesedihan."

Kiai Abidzar menatap langit yang mulai menggelap. "Laki-laki itu pernah kehilangan banyak hal. Tapi Mas melihat dia tidak kehilangan adabnya. Itulah yang paling penting."

Uma Azzura tersenyum hangat. "Aku juga melihat hal yang sama. Semoga Allah selalu menjaga dia dan Arjun."

"Aamiin."

Tak lama kemudian... Suara azan Magrib berkumandang dari masjid pesantren. Kiai Abidzar bangkit dari duduknya.

"Ayo, Sayang. Kita ke masjid."

"Iya, Mas."

Keduanya pun melangkah berdampingan, meninggalkan teras rumah dengan hati yang sedikit lebih tenang, sembari diam-diam mendoakan murid lama mereka yang kini kembali dipertemukan oleh takdir dengan keluarga itu.

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!