NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bAB 14

Amira mengerjapkan matanya pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang mulai menerobos tirai. Penglihatan pertamanya yang kabur langsung terpatri pada hamparan dada bidang milik Luki.

"Astaga... aku melanggar perbatasan!" batin Amira panik.

Dengan sangat perlahan, Amira mengangkat kepalanya dari dada Luki. Ia berusaha tidak menimbulkan gerakan sekecil apa pun karena gengsi—ia tidak mau Luki tahu bahwa dirinya sendiri yang bergerak merangsek melewati batas guling.

Namun, entah kenapa, matanya malah terpaku pada bidang dada di hadapannya. Dipicu rasa penasaran, ujung jari Amira bergerak pelan, menekan-nekan dada Luki yang terasa kokoh.

"Ih, kok bisa keras gini, ya?" gumamnya berbisik pada diri sendiri.

"Kenapa? Enak, ya?"

Mata Amira seketika terbelalak mendengar suara berat dan serak khas bangun tidur itu! Buru-buru Amira bangkit berdiri dan melompat menjauh dari tubuh Luki dengan wajah memerah padam.

"Istriku, kita ini sudah sah jadi suami-istri. Kamu bebas mau pegang apa saja," goda Luki seraya menyanggah kepalanya dengan satu tangan. Rupanya pria itu sudah bangun sejak tadi.

"Kamu... kamu membuat malu!" tuduh Amira menutup mukanya yang panas.

"Enggak usah malu... Apa mau lanjut pegang-pegang lagi?"

"Enggak usah!"

Luki terkekeh geli melihat tingkah istrinya. "Di malam pertama kamu sudah melanggar aturan, dan artinya... kamu harus dihukum!"

"Apa hukumannya?" tanya Amira gelisah.

"Astaga, masih muda kok sudah lupa? Padahal kamu sendiri yang buat aturannya semalam."

Amira menggigit bibirnya, kepalanya berputar mencari jalan keluar. "Bisa tidak... hal semalam itu kita lupakan saja?"

"Ah, tidak bisa! Apa kata dunia nanti kalau seorang CEO Marwah Distributor tidak menepati janji? Pasti merusak reputasi, kan?" kekeh Luki santai.

Amira tersentak. "Dari mana kamu tahu nama perusahaanku?!"

"Tahu, lah... aku kan suami kamu," sahut Luki enteng. "Jadi mulai hari ini, setiap kali aku tidur, kamu harus memeluk aku!"

"Memeluk kamu?!"

"Iyalah, peluk aku setiap malam."

"Mana bisa setiap malam... sehari aja, ya?" tawar Amira menawar harga diri.

"Bagaimana kalau setiap saat aku tidur saja?"

"Ih, enggak mau! Bagaimana kalau setiap jam kamu tidur? Ya udah... setiap malam saja, lah! Demi reputasiku!" cetus Amira pasrah.

Luki menepuk dadanya berpura-pura kecewa. "Ya udah, setiap malam enggak apa-apa... Aku rugi sedikit nih."

Amira melotot. "Kamu kira ini negosiasi bisnis, apa?!"

"Ini negosiasi suami-istri, Sayang."

"Sudah! Jangan banyak bicara! Kita harus mandi, siap-siap berangkat kerja," potong Amira mengalihkan pembicaraan.

Luki mengerutkan dahi. "Baru saja menikah masa harus langsung kerja? Biasanya kan ada cuti nikah."

"Enggak bisa. Banyak pekerjaan yang aku tunda demi persiapan pernikahan aku dan Raka kemarin."

"Yah... masa CEO enggak bisa cuti sih? Kita tuh harusnya bulan madu dulu... Bikin anak dulu, baru kerja lagi," ceplos Luki tanpa dosa.

"Hentikan ocehan kamu, Luki!" Amira sedikit membentak dengan pipi memerah. "Cepat kamu duluan yang mandi! Aku mau beres-beres kamar."

"Baiklah... baiklah, aku mandi dulu. Kalau aku kelamaan kamu nyusul, ya... kita mandi bareng!"

"LUKIII!" bentak Amira makin gemas. "Cepat mandi! Gosok gigi, jangan lupa pakai sampo!"

Luki tercengang, lalu membatin dalam hati, 'Ini istri apa pengasuh anak yang galak, ya?'

Luki melangkah ke kamar mandi, sementara Amira merapikan tempat tidur. Uniknya, mereka berdua punya satu kesamaan pagi itu: sama-sama tidak suka berlama-lama di kamar mandi.

Usai mandi, Luki kembali mengajak Amira untuk shalat Subuh berjamaah. Untuk hal ini, Amira menurut tanpa perdebatan sedikit pun. Selesai beribadah, Amira mengenakan baju kerjanya—kemeja putih dipadu dengan blazer cokelat muda yang senada dengan rok di bawah lutut, ditambah riasan tipis yang anggun. Sementara Luki sudah rapi mengenakan jaket hijau khas ojolnya.

"Hari ini agenda kamu ke mana?" tanya Amira sambil memoleskan lipstik.

"Ya cari orderanlah, ke mana lagi," jawab Luki santai.

"Bagus," puji Amira lirih. "Ingat, aku tidak suka orang yang sok kaya. Hidup apa adanya saja, nikmati apa yang kita punya, enggak usah banyak gaya."

Luki memperagakan sikap hormat. "Siap, Bos! Terus agenda kamu sendiri ke mana?"

"Aku mau ke pabrik... dan aku penasaran, ke mana sebenarnya sosok Rini, sekretarisku itu. Dari semalam dia hilang."

"Sepertinya dia bukan orang baik," celetuk Luki.

Amira menoleh. "Kenal saja belum, sudah main menilai."

"Dari cerita kamu semalam, aku curiga dia terlibat dalam menjebak kamu. Untung saja yang kena jebakan itu pria kaya, tampan, dan tidak sombong seperti aku. Coba kalau yang datang aki-aki gemuk bau menyan? Kamu sekarang pasti menderita," jelas Luki percaya diri.

Amira terdiam. Di dalam hati kecilnya, ia memang menaruh curiga pada Rini. Tapi karena mereka sudah berteman lama, Amira butuh kepastian dan bukti langsung.

Mereka berdua lalu turun menuju lantai bawah. Begitu mendekati ruang makan, terdengar gelak tawa yang akrab di meja makan keluarga.

"MEREKA sarapan bersama tapi tidak mengajak kamu?" tanya Luki menahan nada bicaranya.

Amira tersenyum sinis. "Kamu pikir mereka menganggapku apa? Andai aku tidak pandai cari uang untuk mereka, mungkin aku sudah diusir dari rumah ini sejak lama."

"Oh..." hanya itu tanggapan yang keluar dari mulut Luki, namun tatapan matanya berubah makin tajam.

Amira melangkah bersama Luki melewati area meja makan. Awalnya Luki berniat menyapa dan bersalaman dengan ibu mertuanya, namun Amira dengan cepat memberikan kode menggeleng agar terus berjalan menuju pintu luar.

"Amira, tunggu!"

Terdengar suara lantang dan dingin dari Ratna memanggil dari meja makan.

Amira menghentikan langkahnya, berbalik, lalu melangkah tenang mendekati meja makan keluarga.

"Duduk dulu sana," perintah Ratna tanpa senyum, menunjuk salah satu kursi kosong.

"Enggak usah," tolak Amira dingin. "Katakan saja apa yang mau Mamah tanyakan?"

"Gaun harga ratusan juta, berlian mahal... Kamu pakai uang perusahaan berapa miliar?!" semprot Ratna tanpa basa-basi, melemparkan tuduhan tajam.

"Hahaha!" Amira malah tertawa keras.

Ia menatap ibunya, lalu beralih menatap Angga dan Risma yang duduk sok polos di sana, sebelum kembali menatap tajam ke arah Ratna.

"Hahaha!" Amira tertawa lagi, kali ini bernada hambar.

"Jawab, Amira! Jangan tertawa terus! Mamah serius ini!" bentak Ratna naik pitam.

Amira menatap ibunya dengan tatapan penuh kekecewaan yang mendalam.

"Aku cuma mau tanya sama Mamah... Mamah sudah serius belum buat pertanyaan menuduh seperti itu? Apa Mamah sudah cek ke bagian keuangan, berapa uang yang aku habiskan untuk biaya pernikahan ini?" cerca Amira balik.

"Terus uang siapa yang kamu pakai, hah?!" dengus Ratna tak mau kalah. "Kamu jangan minta uang terus sama Kakek, ya! Bikin malu saja!"

"Kakek saja enggak marah kok waktu aku minta uang! Kenapa Mamah yang jadi repot?"

"Amira! Jangan bikin malu keluarga!"

"Bikin malu...?" kekeh Amira sinis. "Apa aku harus buka di sini, siapa yang bulan kemarin memakai uang kas perusahaanku hanya untuk membeli tas mewah? Dalihnya investasi, taunya cuma buat jajan!"

"Kak Amira! Jangan terus membahas hal itu, ya!" sergah Risma kesal dengan wajah memerah.

"Aku akan terus bahas! Karena kamu menggunakan uang perusahaan padahal kamu sama sekali tidak ikut membesarkannya!" tegas Amira

"Hentikan, Amira!" bentak Ratna membela Risma. "Dia beli tas mewah itu memang untuk investasi!"

"Oh... investasi, ya?" Amira menatap ibunya dengan helaan napas berat. "Sekarang coba tunjukkan... mana tas mewahnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!