Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Pertama
Bab 11
Pagi itu, suasana kampus kembali ramai setelah akhir pekan berlalu. Mahasiswa mulai memenuhi halaman fakultas. Ada yang berjalan tergesa-gesa menuju kelas, ada pula yang masih sempat berbincang di bawah rindangnya pepohonan.
Kai baru saja memarkir sepeda motornya di area parkir mahasiswa. Ia melepas helm, lalu merapikan tas ransel yang disampirkannya di bahu.
Baru beberapa langkah berjalan, seseorang memanggilnya.
"Kai."
Kai menoleh.
Karin berdiri beberapa meter di belakangnya sambil memeluk beberapa buku. Wajahnya tampak sedikit ragu, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
"Pagi," sapa Karin.
"Pagi."
Beberapa detik suasana menjadi hening.
"Aku... mau mengucapkan terima kasih."
Kai menatapnya sebentar.
"Untuk apa?"
"Karena semalam. Kamu sudah mau datang ke rumah."
Kai mengangguk pelan.
"Nggak apa-apa."
Karin tersenyum kecil.
"Papa sama Mama senang akhirnya bisa bertemu kamu."
"Hm."
"Aku juga minta maaf."
Kai sedikit mengernyit.
"Minta maaf?"
"Iya."
Karin menundukkan kepala sesaat.
"Aku sudah merepotkan kamu. Kamu sampai harus berpura-pura jadi pacarku di depan mereka."
Kai terdiam beberapa saat.
"Lagipula... aku yakin itu pasti membuatmu tidak nyaman."
"Tidak."
Jawaban Kai tetap singkat seperti biasanya.
Namun nada suaranya terdengar tulus.
Karin mengembuskan napas lega.
"Syukurlah. Pokoknya... terima kasih."
Kai hanya menganggukkan kepala.
"Kalau begitu aku ke kelas dulu."
"Iya." Jawab Karin.
Tanpa menunggu lebih lama, Kai melangkah menuju gedung kelasnya.
Karin tidak ikut berjalan bersamanya. Ia hanya memperhatikan punggung Kai yang semakin menjauh hingga menghilang di balik koridor.
Dalam hati ia tersenyum kecil.
Untung saja dia tidak keberatan. Kai memang orang baik. Meskipun semua yang dia lakukan itu cuma untuk membantuku menjalankan sandiwara di depan Papa dan Mama.
Karin sama sekali belum menyadari...
Bahwa beberapa ucapan Kai kepada kedua orang tuanya semalam sama sekali bukan bagian dari sandiwara.
-
-
-
Tak lama kemudian, Nia datang sambil membawa segelas es kopi.
"Karin!"
"Pagi."
"Kamu ngapain bengong?"
"Nggak apa-apa."
Nia mengikuti arah pandangan Karin.
"Itu Kai, ya?"
"Iya."
"Kalian habis ngobrol?"
"Cuma sebentar."
Nia tersenyum usil.
"Kayaknya kalian mulai akrab."
Karin buru-buru menggeleng.
"Nggak juga."
"Cuma teman."
Nia terkekeh pelan.
"Iya deh... teman."
Karin hanya tersenyum tipis.
Baginya, hubungan mereka memang belum bisa disebut dekat. Kai tetaplah Kai yang pendiam dan menjaga jarak dengan siapa pun.
-
-
-
Di sisi lain...
Sebuah mobil sedan hitam memasuki area parkir kampus. Gio turun dengan penampilan rapi seperti biasa.
Dari kejauhan ia sempat melihat Karin berbicara dengan Kai. Tatapannya mengikuti keduanya beberapa saat.
"Semakin sering bersama..." gumamnya pelan.
Namun ia tidak menghampiri mereka. Sebaliknya, langkahnya berbelok menuju gedung administrasi kemahasiswaan.
Di salah satu ruangan, seorang pria paruh baya sedang memeriksa beberapa berkas mahasiswa.
Namanya Pak Darman. Ia merupakan staf kemahasiswaan yang sudah cukup lama bekerja di kampus dan mengenal banyak dosen maupun pejabat kampus.
Ketika melihat Gio masuk, Pak Darman langsung berdiri.
"Mas Gio."
"Selamat pagi, Pak."
"Wah, lama tidak mampir."
"Baru sempat."
Mereka berjabat tangan sebelum duduk berhadapan.
Obrolan mereka dimulai dengan topik ringan. Tentang perkembangan kampus. Tentang kabar perusahaan keluarga Gio. Tentang almarhum ayah Gio yang dulu pernah menjadi salah satu donatur kampus.
Beberapa menit kemudian, Gio mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya. Ia meletakkannya perlahan di atas meja. Pak Darman langsung melirik amplop tersebut.
"Ini...?"
"Sedikit tanda terima kasih."
Pak Darman tidak langsung menyentuhnya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Gio tersenyum tipis.
"Saya hanya ingin meminta bantuan kecil."
"Bantuan apa?"
"Saya ingin Bapak sedikit memperhatikan seorang mahasiswa."
"Siapa?"
"Namanya Kai."
Pak Darman berpikir sejenak.
"Mahasiswa Teknik?"
"Iya."
"Memangnya dia bermasalah?"
Gio menggeleng pelan.
"Tidak."
"Lalu?"
"Saya hanya ingin memastikan, setiap pelanggaran yang dia lakukan mendapat perhatian."
Pak Darman mulai memahami arah pembicaraan itu.
"Maksud Mas Gio..."
"Saya tidak meminta Bapak melanggar aturan."
Gio tetap berbicara dengan tenang.
"Saya hanya berharap, aturan ditegakkan tanpa pengecualian."
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Darman memandangi amplop itu cukup lama. Jumlah uang di dalamnya jelas bukan sedikit.
Akhirnya ia menarik napas panjang.
"...Saya mengerti."
Senyum Gio perlahan mengembang.
"Terima kasih, Pak."
Sebelum meninggalkan ruangan, ia berkata pelan,
"Kadang seseorang tidak perlu dijatuhkan secara langsung. Cukup dibuat kehilangan kepercayaan orang lain."
Gio pun keluar dari ruangan.
Sementara Pak Darman masih memandangi amplop di atas mejanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
-
-
-
Keesokan harinya...
Jam istirahat akhirnya tiba.
Koridor kampus kembali ramai. Sebagian mahasiswa bergegas menuju kantin, sementara yang lain memilih duduk di taman kampus untuk mengobrol atau mengerjakan tugas.
Karin dan Nia berjalan santai menuju kantin.
"Untung kelasnya selesai tepat waktu," keluh Nia sambil memegangi perutnya. "Aku sudah lapar dari setengah jam yang lalu."
Karin terkekeh.
"Kamu memang pikirannya makan terus."
"Soalnya kalau lapar aku nggak bisa mikir."
"Itu alasan."
"Fakta."
Mereka tertawa kecil sebelum akhirnya mendapatkan meja kosong di sudut kantin.
Baru saja mereka meletakkan nampan makanan, seorang pemuda melintas di depan kantin sambil mengangkat ponselnya.
Kai.
"Iya, Pak."
Langkahnya tidak berhenti. Ia tetap berjalan menuju pintu keluar gedung.
"...Baik. Saya langsung ke bengkel setelah kuliah selesai...Iya, Pak."
Telepon itu berakhir.
Kai memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berjalan keluar dari area kantin tanpa sempat melihat ke arah Karin maupun Nia.
Tatapan Karin tanpa sadar mengikuti langkahnya hingga menghilang di balik koridor.
Nia ikut menoleh.
"Itu Kai, kan?"
"Iya."
"Kasihan juga."
Karin kembali menatap temannya.
"Kenapa?"
"Setiap hari kuliah, habis itu langsung kerja."
"Iya."
Nia mengambil sendoknya.
"Jujur saja, dulu aku sempat salah paham sama dia."
"Maksudnya?" Karin bingung.
"Aku kira dia orangnya galak."
Karin tersenyum kecil.
"Aku juga sempat berpikir begitu. Soalnya mukanya datar terus. Dan jarang senyum."
Nia mengangguk.
"Tapi setelah kenal...ternyata orangnya baik."
Karin mengangguk pelan.
"Dia memang nggak banyak bicara."
"Tapi kalau diminta bantuan, dia nggak pernah menolak."
Karin tersenyum tipis.
"Berarti benar ya."
"Apa?"
"Jangan menilai orang dari penampilannya."
Karin kembali teringat bagaimana Kai bersedia datang ke rumahnya hanya untuk membantunya keluar dari situasi yang sulit.
Padahal saat itu, hubungan mereka bahkan belum bisa disebut dekat.
"Iya," jawab Nia.
"Benar-benar berbeda dari kesan pertama."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut...
Tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah parkiran belakang.
"Hei!"
"Lepas!"
"Ada yang berantem!"
Suasana kantin mendadak gaduh. Beberapa mahasiswa langsung berdiri dan berlari keluar.
Tak lama kemudian terdengar seseorang berteriak.
"Itu Kai!"
Mata Karin langsung membesar.
"Kai?"
Tanpa berpikir panjang, ia segera berdiri.
"Nia, ayo!"
Mereka berdua berlari menuju parkiran belakang bersama puluhan mahasiswa lainnya. Sesampainya di sana, kerumunan sudah memenuhi lokasi.
Di tengah kerumunan, Kai berdiri dengan napas sedikit memburu.
Sementara seorang mahasiswa lain terduduk di aspal sambil memegangi pipinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Karin sambil berusaha mendekat.
Mahasiswa yang duduk di tanah langsung menunjuk Kai.
"Dia mukul aku!"
Beberapa mahasiswa mulai berbisik.
"Katanya Kai lagi."
"Iya."
"Memang dia sering bikin masalah."
Tak lama kemudian, seorang dosen datang menghampiri.
"Ada apa ini?"
Mahasiswa yang terduduk langsung mengadu.
"Pak, Kai memukul saya."
Dosen itu memandang Kai.
"Kamu lagi?"
Kai tetap tenang.
"Saya hanya membela diri."
"Bohong!" teriak mahasiswa itu.
"Kamu yang mulai!"
Dosen itu menghela napas.
"Ikut saya ke ruang kemahasiswaan."
Kai tidak membantah. Ia mengambil tasnya, lalu berjalan mengikuti dosen tersebut.
Sebelum pergi, tatapannya sempat bertemu dengan Karin.
Meski tidak bicara, Karin menunjukan rasa khawatirnya lewat tatapan mata. Dan Kai tetap diam dan tenang seperti biasa. Seolah-olah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
Namun justru tatapan itu membuat Karin semakin khawatir.
-
-
-
Sore harinya, setelah perkuliahan selesai, Karin kembali ke area parkiran. Ia memperhatikan sekitar hingga akhirnya melihat seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu dedaunan.
Rasa penasaran membuat Karin ingin mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
"Permisi, Pak."
Petugas itu menoleh.
"Iya, Neng?"
"Bapak tadi ada di sini waktu keributan terjadi?"
"Iya."
"Boleh saya tanya sesuatu?"
Petugas itu mengangguk.
"Sebenarnya siapa yang mulai?"
Pria itu tampak ragu.
Ia menoleh ke kanan dan kiri sebelum mendekat sedikit.
"Kalau menurut yang Bapak lihat...bukan Kai yang mulai."
Jantung Karin berdegup lebih cepat.
"Benarkah?"
"Iya."
"Anak yang satunya duluan yang mendorong."
"Kai cuma menepis."
"Terus dia jatuh sendiri."
Karin mengembuskan napas lega.
Dugaannya ternyata benar.
Kai tidak bersalah. Meski tampilannya berantakan dan sikapnya dingin dan cuek. Tapi begitu mengenal Kai hanya dalam beberapa pertemuan saja, Karin yakin... pada dasarnya Kai pemuda yang baik.
"Kalau begitu..."
"Bapak mau jadi saksi?"
Petugas itu langsung menggeleng.
"Maaf, Neng."
"Kenapa?"
"Mahasiswa yang berkelahi sama Kai itu keponakan salah satu pejabat kampus."
"Kalau saya ikut campur...saya takut kehilangan pekerjaan."
Karin terdiam. Ia memahami alasan pria itu.
"Baik, Pak. Terima kasih sudah mau jujur."
Petugas itu hanya mengangguk pelan.
Sementara Karin berjalan meninggalkan parkiran dengan perasaan bercampur aduk.
Kini ia tahu Kai tidak bersalah.
Namun membuktikannya ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
-
-
-
Bersambung...