Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Rose sengaja tertawa dengan nada yang masih meremehkan sehingga memancing kemarahan Aurel lagi.
"Wanita buas dan menyeramkan seperti mu jangankan untuk memerankan karakter itu, untuk berdekatan dengan orang lain saja sudah membuat mereka takut"
Ucapan tadi sekaligus menjadi penutup untuk hinaan Rose kepada Aurel.
Rose pun melangkahkan kakinya meninggalkan Aurel dengan wajah penuh kemenangan.
Sedangkan Jessica dan Alex hanya dibuat melongo saja setelah mendengarkan kata-kata mematikan dari Rose tadi.
Aurel yang merasa tidak terima dengan ucapan Rose tadi langsung saja berlari ingin menjambak Rose bahkan tangannya sudah mengapung di udara.
Untung saja Alex dengan sigap dan cepat menghentikan pergerakan Aurel dan disusul Dion selaku Manager Aurel untuk memegangi Aurel yang saat ini sedang dilanda emosi.
"Saya peringatkan, jangan berani-berani menyentuh Nona Rose jika anda tidak ingin saya buat celaka" ucap Alex dengan wajah yang mengerikan ditambah suaranya yang berat membuat dirinya menjadi sosok yang mengerikan.
Rose yang mendengar keributan dibelakangnya langsung saja menoleh dengan memiringkan sedikit badannya untuk menengok kebelakang. Rose mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman jahat yang mengatakan jika jangan berani bermain-main dengan dirinya.
Sontak saja Aurel menjadi tambah emosi melihat senyuman Rose tadi dan berusaha meronta-ronta untuk keluar dari kukungan Dion Manager nya.
Rose, Jessica dan Alex pun pergi meninggalkan Aurel yang masih berteriak seperti orang kesurupan. Memanggil dan menghina Rose didalam teriakannya itu.
"Perempuan yang menarik, aku semakin menyukainya".
Ucap seseorang.
* * *
Rose memasuki mobil Van diikuti dengan Jessica yang duduk disampingnya dan Alex yang sudah duduk dibalik kemudi.
"Apakah kita langsung pulang Nona??" tanya Alex sebelum mengemudikan mobil tersebut.
Jessica menganggukkan kepalanya.
"Iya kita langsung pulang saja" Jessica menjawab mewakili dirinya dan Rose yang saat ini masih berdiam diri.
Alex pun mengemudikan mobil membelah jalanan ibukota menuju kediaman kedua perempuan yang sedang berada dibelakangnya saat ini.
Diawal perjalanan hanya ada suatu kesunyian, seperti yang Alex lihat lewat kaca yang tergantung diatas kepalanya itu. Jessica seperti tengah mencari waktu yang tepat untuk berbicara kepada Rose.
"Rose, kamu tidak apa-apa??" tanya Jessica pelan, ia takut jika pertanyaan dan suaranya mengganggu Rose saat ini.
"Gimana tadi penampilan ku, apakah sudah membuat wanita buas itu kalah??"
Jessica menepuk jidatnya.
Bukannya merasa terganggu ataupun menjawab pertanyaan dari Jessica, namun rose malah bertanya bagaimana tanggapan Aurel ketika berdebat dengan dirinya tadi.
Dirinya bahkan menganggap itu seperti sebuah kompetisi yang dimana ada yang harus kalah dan ada yang menang.
"Kamu ya udah keterlaluan" Jessica menjewer telinga Rose seperti tindakan ketika seorang ibu memberi hukuman karena anaknya telah membuat kesalahan.
"Aduh Kak sakit. Kenapa pake jewer telinga aku sih. Sakit Kak, lepasin" Rose memegangi telinganya yang masih berada ditangan Kakaknya.
"Ngga ada pake sakit segala. Kakak takut terjadi apa-apa sama kamu, ini kamu malah dibuat bercanda. Kamu tau kan Aurel itu orangnya seperti apa, dia itu wanita nekat" Jessica berusaha memberi penjelasan kepada Rose yang telah membuat dirinya mengkhawatirkan sesuatu yang percuma.
"Lepasin dulu telinga Rose Kak, Rose ngga akan bisa nangkap apa yang Kakak bicarakan kalau sambil nahan sakit kaya gini" Rose masih berusaha untuk lepas dari jeratan Jessica.
Jessica menghembuskan nafasnya dengan kasar, menghadapi Rose bukan seperti ini caranya namun harus dengan penuh kasih sayang. Begitu pikir Jessica.
Akhirnya telinga Rose dapat kembali bernafas dengan lega setelah sedari tadi terjerat mematikan diantara jari jemari Jessica hingga membuatnya berwarna kemerahan.
Rose masih mengusap-usap telinganya yang memerah itu.
"Kakak ngga mau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, Aurel itu bukan perempuan yang bisa diajak berkompromi, kamu tau sendiri kan bagaimana sifatnya" jelas Jessica.
"Aku tau Kak, maka dari itu aku mau ngasih dia pelajaran. Aku mau ngasih tau sama dia kalau aku itu bukan orang yang mudah ditindas" sahut Rose yang juga menjelaskan alasan dari tindakannya tadi.
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan. Kalau memang Aurel sangat menginginkan peran itu lebih baik kita mundur dari pada hanya akan menghasilkan masalah dikemudian hari"
"Iya Kak, aku tau apa yang akan aku lakukan. Besok aku akan memberikan keputusan tentang film tersebut kepada Pak David"
Jessica menganggukkan, sepertinya Rose mengerti akan perasaan dirinya sekarang yang selalu takut jika hal buruk menimpa adiknya itu.
Ketika asik berkelahi dan saling lempar pertanyaan antara Rose dan Jessica, interaksi mereka berdua tidak luput dari pengamatan seorang Alex.
Alex sungguh menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat kelakuan dua orang wanita yang usianya tidak berbeda jauh itu, namun sifatnya sangat bertolak belakang.
Rose dengan sifatnya yang apa adanya, kekanakan, namun selalu menebarkan sebuah keceriaan untuk sekitarnya. Sedangkan Jessica seorang wanita yang selalu bersifat dewasa dalam menyikapi segala hal, orang yang serius namun penuh jiwa kekeluargaan.
Seandainya Alex disuruh memilih antara kedua wanita tersebut, sungguh dia akan dilema dibuatnya. Karena Alex menyukai sifat keduanya belum lagi wajah mereka yang sangat cantik itu.
Namun sayang Alex hanya bisa bermimpi dalam hal tersebut.
Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka bertiga sampai dirumah. Alex pun langsung undur diri ketika sudah mengantarkan Jessica dan Rose yang selamat sampai tujuan.
Rose dan Jessica memasuki rumah mereka, Jessica berlalu langsung menuju dapur untuk memasak sesuatu yang berguna untuk mengisi perut keduanya. Namun tanpa Jessica sadari jika bahan-bahan untuk memasak sudah banyak yang habis. Ia pun memutuskan untuk belanja sebentar kesupermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan dapur.
"Rose, Kakak mau ke supermarket sebentar, kamu ada yang mau di titip ngga??" tanya Jessica yang berada diambang pintu kamar Rose dengan tangan masih memegangi handle pintu itu.
Terlihat Rose yang masih rebahan di atas kasur dengan handphone yang sedang ia mainkan sekarang.
"Em.... Apa ya??" Rose nampak berpikir.
"Ayolah, nanti keburu kemalaman Kakak ke supermarketnya" kesal Jessica melihat adiknya itu yang sedang berpikir dengan lama.
"Belikan Rose cheese cake aja deh Kak" sahut Rose cepat sebelum Kakaknya itu datang menghampiri dirinya dan memukul pantatnya lagi seperti yang sering ia lakukan.
"Baiklah. Kakak berangkat sekarang. Kalau ada apa-apa kamu cepat hubungi Kakak ya" pesan Jessica sebelum meninggalkan rumah.
Untung saja di jam seperti ini supermarket masih ada yang buka meskipun Jessica berjalan kaki ke sana yang menghabiskan waktu lumayan lama. Tapi kalau dia memakai mobil malah akan tambah lama waktu yang diperlukan nantinya karena kemacetan di jam sibuk pulang kerja seperti ini. Dan lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Jessica, ia hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menitan dengan berjalan kaki melewat berbagai jalan pintas yang sudah ia hapal.
Sampai di supermarket, Jessica lantas saja segera menuju bagian barang-barang yang ia perlukan. Memerlukan waktu sekitar tiga puluh menitan untuk mengisi troli belanjaannya tersebut agar penuh.
Jessica memilih mengelilingi lagi supermarket itu bermaksud melihat-lihat kalau saja ada barang yang tertinggal. Namun dari kejauhan Jessica melihat seorang ibu yang sepertinya dalam bahaya.
Dan benar saja apa yang Jessica rasakan, dengan cepat ia pun berlari meninggalkan troli belanjaannya dan menghampiri ibu-ibu tersebut yang nampaknya sedang tidak sadar akan situasi yang hampir menimpa dirinya.
"Awas....!!!!!" teriak Jessica di sela berlarinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Itu apa yang awas, awas ada sule🙄🤣🤣
tp itu siapa yg kirim surat nya?