Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Austin
"Halo everybody!" teriak seorang laki-laki saat memasuki rumah mewah milik Rara.
Rara yang kebetulan sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang tamu sempat terlonjak mendengar teriakkan seorang laki-laki yang selalu mengurus ia dari dulu. Dia adalah Austin, laki-laki tampan yang selalu ada untuk dirinya.
Rara langsung melayangkan tatapan tajam pada Austin. Sementara Austin yang mendapat tatapan tajam tersebut hanya menunduk layaknya seorang anak kecil yang habis marahi.
"Wa'alaikumsalam," ucap Rara.
"He-he. Assalamualaikum." Austin hanya cengengesan saat menyadari dirinya belum mengucap salam masuk ke dalam rumah orang.
"Ada apa Kakak ke sini?" tanya Rara heran, tapi pandangannya tidak terlepas dari depan layar laptop.
"Cih ... yang udah jadi Bu CEO mah beda," sindir Austin yang langsung menduduki dirinya di atas sofa empuk, yang harganya mungkin puluhan juta menurut Austin.
"Tuh tau," kekeh Rara. "Dengar baik-baik Bapak Austin, seorang Dokter hebat, yang sudah lulus di usia muda. Sekarang saya bukan Diandra yang dulu. Saya udah jadi Hokay! Horang kaya." Rara mengibas-ibaskan tangannya di udara layaknya orang yang sombong, setelah itu tertawa dengan nyaring.
"Dih ... dulu aja nangis kejer waktu gagal ngebangun perusahaan. Mana duitnya hasil ngutang dari seorang Dokter yang baik hati, dan yang pastinya ganteng lagi," sindir Austin lagi, dan memuji dirinya sendiri. Austin masih sangat ingat waktu Rara pertama kali membangun perusahaan, wanita itu gagal, dan hal itu tentu membuatnya sangat terpuruk hampir satu bulan lebih. Austin lah yang selalu menemani wanita itu, dan menghiburnya, mengatakan jika semuanya memang butuh proses.
Berkat dukungan Austin, Rara kembali bangkit, ia kembali membangun perusahaan dengan meminjam uang Austin lagi. Austin tentu tidak keberatan, sekalipun Rara tidak mengembalikan uangnya, itu tidak menjadi masalah, karena dia membantu Rara tulus, tidak mengharapkan kembalian.
Perjuangan yang Rara lakukan tidak berjalan mulus, wanita itu jatuh berkali-kali, dan kembali terpuruk di saat ia gagal mendapatkan kerja sama yang menguntungkan, sehingga itu kembali membuat perusahaan yang ia bangun bangkrut. Tidak terhitung keringat dan air mata yang jatuh dari perjuangannya. Tapi, sekarang semua sudah terbayar, usaha dan kerja keras yang ia lakukan dulu membuahkan hasil, sehingga sekarang perusahaan miliknya bisa menjadi perusahaan yang berkembang dengan cukup pesat.
Satu-satunya yang membuat Rara semangat adalah anak-anaknya. Rara tidak ingin hidup anak-anaknya menderita, karena jika itu terjadi, maka ia akan merasa sangat bersalah.
"Dih ... udah dibayar juga, mana udah ditambahin lagi bunganya. Lagian ya, seperti kata pepatah 'In the beginning, everything is the hardest'. Jadi wajar aja kalau Rara nangis, orang itu pengalaman pertama Rara juga! Tapi lihatlah Diandra sekarang, sudah bergelimang harta. Perusahaan aja udah banyak cabangnya di berbagai penjuru dunia," ucap Rara mengangkat dagunya sombong. (Di awal, semuanya adalah yang paling tersusah)
"Eh Bambang, nggak usah songong lo, anak perusahaan lo itu cuman satu doang di Indonesia sana. Gayanya pakai bilang di berbagai penjuru dunia," sindir Austin. Ya beginilah Austin, laki-laki yang memiliki sifat datar dan dingin sudah mencair oleh Rara, bahkan ketularan sifat gila dari Rara.
"Ckk ... nggak bisa apa Kakak nyenangin hati orang dikit! Biarpun Rara cuman punya dua perusahaan, tapi itu udah pencapaian yang sangat luar biasa buat Rara. Lagian Rara udah punya banyak duit juga. Pengen itu pengen ini tinggal angkut aja," sahut Rara angkuh.
"Waktunya seorang Diandra balas dendam!" ucap Rara dengan sorot mata tajam ke depan.
"Hah? Balas dendam? Bukannya kamu bilang udah ikhlas dulu, dan nggak bakalan balas dendam?" Austin justru dibuat bingung mendengar ucapan Rara barusan.
"Awalnya gitu. Tapi, Rara ngerasa bersalah kalau nggak balas dendam," jawab Rara dengan tampang wajah rasa bersalah.
Bug
Austin melempar bantal sofa, dan tepat mengenai wajah cantik Rara. "Eh Forguso, di mana-mana orang ngerasa tenang kalau mereka nggak balas dendam. Lah situ? Masa malah ngerasa bersalah karena nggak balas dendam? Situ waras Neng?" tanya Austin dengan ketus. Sepertinya Austin juga ikut virus yang ditularkan Rara, yaitu menjadi ikut gila akibat terlalu lama hidup berdekatan dengan wanita itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Toh ia cinta dan sayang pada wanita yang menurutnya sedikit gila itu.
"Alhamdullilah ... kagak," jawab Rara sambil cengengesan.
Austin hanya berdecak kesal mendengar jawaban Rara. Tapi sedetik kemudian dia mendekati Rara karena teringat dengan informasi yang diberikan oleh anak buahnya yang ada di Indonesia. Anak buah yang Austin utus untuk memantau perkembangan Alden, keluarga Schiaparelli, dan keluarga Jonshon.
Rara memang sudah mengetahui apa yang terjadi setelah ia meninggalkan Indonesia. Bahkan Rara tidak menyangka balasan yang diberikan keluarganya sangat mengerikan. Terlalu sadis, bahkan Rissa juga ikut-ikutan menghajar Raya dan Camella.
"Dih ... ngapain dekat-dekat? Khilaf baru tau rasa!" ketus Rara saat Austin mendekatinya.
"Ya kalau khilaf tinggal lanjutin aja," sahut Austin sambil terkekeh.
"Nih, aku punya foto seseorang buat kamu. Ini baru aja dikasih sama anak buah aku," ucap Austin, lalu membuka galery yang ada di handphonenya.
"Buset dah nih orang, udah kayak emak-emak mau ngerumpi aja," kekeh Rara.
Austin menunjukkan sebuah foto di mana Alden yang sepertinya sedang berusaha mengengkol motornya.
Rara yang melihatnya sontak membekap mulutnya dengan sangat kencang, hampir saja tawanya pecah, saat melihat penampilan mantan suaminya yang benar-benar menggenaskan. Tapi sedetik kemudian Rara menatap sendu Austin. Austin sendiri hanya mengerutkan keningnya saat melihat respon Rara.
"Kak," panggil Rara dengan tatapan kosong ke depan.
"Iya, kenapa?" tanya Austin heran. Apakah Rara masih mencintai mantan suaminya? Begitulah pemikiran Austin.
"Dosa nggak sih ...." Rara menggantungkan ucapannya, lalu kembali menatap wajah tampan Austin.
"Dosa nggak sih kenapa?" Austin justru bingung dengan maksud Rara.
"Dosa nggak sih kalau ketawa di bawah penderitaan orang lain," jawab Rara dengan masih mempertahankan tampang wajah sedihnya.
Rara dan Austin saling pandang, tapi sedetik kemudian ....
Hahahaha
Tawa mereka berdua pecah, sama sekali tidak merasa kasihan pada Alden yang kini sudah menderita. Menurut Rara sendiri, hukuman untuk Alden sebenarnya sedikit keterlaluan. Rara sudah tau semuanya, ia tau alasan kenapa suaminya tidak menemani dia saat melahirkan Kelvin dan Kanaya. Ia tau kalau Alden sebenarnya juga adalah korban di sini. Tapi mau bagaimana lagi? Itu balasan untuk Alden yang terlalu menyepelekan semuanya, setidaknya memberi pelajaran pada laki-laki itu boleh saja, kan? Lagian kejadian itu tidak akan mungkin terjadi jika saja Alden tidak bodoh, dan mencari tau kebenarannya.
Tap ... Tap ....
"Papa!"
.
.
.
.
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/