Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Dibuang oleh Keluarga
#
Damar akhirnya keluar dari tahanan seminggu setelah sidang praperadilan itu, bukan karena dibebasin total, tapi karena, kata Om Made, "bukti yang ada belum cukup buat nahan lebih lama tanpa dakwaan resmi," jadi dia dilepas dengan status wajib lapor, kayak burung yang sayapnya masih diiket tali panjang, boleh terbang dikit tapi tetep ketauan ke mana perginya.
Waktu dia keluar dari pintu gerbang kantor polisi, dia kira bakal ada yang jemput. Nggak muluk muluk, cuma berharap ada satu mobil, satu orang, siapa aja dari keluarga yang mau nunjukin dia masih dianggep. Tapi yang ada cuma taksi taksi online yang lalu lalang, dan Damar berdiri di situ, di bawah terik matahari siang, dengan baju yang sama yang dia pake waktu ditangkep, badannya bau apek, dan dia mikir, oke, mungkin mereka mau kasih kejutan di rumah, mungkin ini emang caranya biar dia nggak diserbu wartawan di depan kantor polisi.
Dia naik taksi online, pake hp yang untungnya masih ada sisa baterai, dan minta anterin ke rumah utama keluarga Hartono. Di jalan, dia coba nelfon Broto, nggak diangkat. Coba nelfon Sasha, langsung ke pesan suara. Coba nelfon Wisnu, dan yang dia denger cuma nada "nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi", dan Damar mikir, aneh, kenapa nomor bapak sendiri bisa nggak bisa dihubungin, kecuali emang sengaja diblokir.
Sampe di rumah, gerbangnya udah beda. Ada satpam baru yang Damar nggak kenal, berdiri di depan gerbang dengan tampang yang udah dilatih buat curiga sama siapapun yang deket deket.
"Maaf, Pak, ada keperluan apa?" satpam itu nanya, sopan tapi tegas.
"Saya... saya Damar. Ini rumah saya," Damar bilang, dan dia denger sendiri betapa anehnya kalimat itu keluar dari mulutnya, kayak dia lagi ngomong bahasa asing yang orang lain nggak bisa ngerti lagi.
Satpam itu ngeliat dia dari atas ke bawah, terus bilang, "maaf, Pak, saya ada instruksi khusus soal nama Bapak. Bapak nggak diizinkan masuk."
"Apa? Ini rumah saya! Saya besar di sini, saya—"
"Maaf, Pak," satpam itu motong lagi, kali ini nadanya lebih dingin, kayak abis dikasih tau cara nanganin situasi kayak gini, "silakan hubungi kuasa hukum keluarga kalo ada keperluan."
Damar berdiri di depan gerbang itu, gerbang yang dulu selalu kebuka lebar buat dia, yang dulu satpamnya selalu senyum sapa dia "selamat pagi, Mas Damar," sekarang berdiri kayak tembok yang nggak bisa ditembus, dan dia ngerasa kayak ada yang nyabut sesuatu dari dalem dadanya, dicabut paksa, sakit banget.
Dia coba telfon Om Made, dan kali ini diangkat.
"Damar," suara Om Made kedengeran capek banget, "kamu di mana sekarang?"
"Di depan rumah, Om, tapi... tapi saya nggak diizinin masuk. Ada apa ini?"
Ada jeda lumayan lama di telfon itu, sebelum Om Made akhirnya jawab, "Damar, aku baru mau telfon kamu soal ini. Hari ini, Wisnu resmi ngajuin perubahan akta keluarga. Nama kamu udah... udah dicabut dari daftar keluarga, dan juga dari semua posisi di perusahaan."
Damar berdiri diem di situ, hp masih nempel di telinga, dan dia ngerasa dunia di sekitarnya kayak muter pelan pelan, bukan karena kaget doang, tapi karena dia sadar, ini bukan lagi soal tuduhan sabotase, ini soal dia beneran udah dianggep bukan bagian dari keluarga ini sama sekali, secepat itu, secepat satu hari, satu tanda tangan.
"Kenapa, Om," Damar bisikin, suaranya udah nggak bisa nahan lagi, "kenapa secepat ini, aku bahkan belum diadili, belum ada putusan apa apa, kenapa mereka udah bertindak kayak aku ini... kayak aku ini beneran bersalah..."
"Aku nggak tau, Damar," Om Made jawab, dan buat pertama kalinya Damar denger suara pengacara tua itu kedengeran beneran patah, "aku udah coba nahan, tapi Wisnu keukeuh banget, dia bilang ini demi 'melindungi stabilitas perusahaan', tapi aku... aku curiga ada tekanan lain yang bikin dia harus buru buru kayak gini."
Damar duduk di trotoar depan rumah itu, di bawah terik matahari, badannya lemes total, dan dia cuma bisa denger Om Made ngomong terus di telfon, tentang aset aset yang udah dibekukan, tentang rekening pribadinya yang katanya "sedang dalam proses pemeriksaan" jadi nggak bisa diakses, tentang semua kartu identitas perusahaan yang otomatis nonaktif begitu perubahan akta itu disahkan.
Satu hari. Cuma satu hari, dan Damar kehilangan segalanya. Rumah, uang, nama, dan yang paling nyesek, keluarga.
Dia coba hubungin teman teman lamanya, satu satu, orang orang yang dulu sering dia traktir makan, yang dulu dateng ke acara acara ulang tahunnya, yang dulu ngaku sahabat paling deket. Satu per satu, mereka nggak angkat, atau angkat tapi jawabannya singkat banget, "maaf, Mar, aku lagi sibuk," atau "nanti aku telfon balik ya," yang Damar tau, dari nadanya, itu semua cuma basa basi buat nutup telfon secepat mungkin.
Malam itu, Damar tidur di kolong jembatan deket stasiun, soalnya dia udah nggak punya uang buat sewa hotel, kartunya udah nggak bisa dipake, hp nya cuma nyisa dikit baterai yang dia hemat hemat banget, dan dia duduk di situ, meluk lutut sendiri, ngeliatin lampu lampu kota yang masih nyala terang, ngebayangin, di salah satu gedung tinggi itu, ada keluarga yang dulu dia panggil keluarga, yang sekarang lagi tidur nyenyak seolah dia ini nggak pernah ada.
Dia nangis malem itu, nangis yang beda dari nangis nangis sebelumnya, ini nangis yang keluar dari tempat yang paling dalem, yang bikin badannya sampe kejang kejang kecil saking capeknya, dan orang orang yang lewat cuma ngeliat dia sekilas, mengira dia gelandangan biasa, nggak ada yang tau kalo beberapa minggu lalu, orang yang lagi nangis di kolong jembatan itu adalah calon pewaris salah satu perusahaan terbesar di kota ini.
Beberapa hari kemudian, dengan bantuan Om Made yang diem diem masih ngirimin dia sedikit uang lewat rekening yang belum kena blokir, Damar berhasil nyewa kamar kos murah, kecil banget, cuma cukup buat satu kasur lipat dan lemari kecil, tapi setidaknya ada atap, ada pintu yang bisa dikunci.
Dan di situlah, hari ketiga dia tinggal di kos itu, dia nemuin sesuatu yang bikin dia berenti napas lagi.
Ada amplop coklat, nggak ada nama pengirim, nggak ada tulisan apapun di luarnya, terselip di celah pintu kamarnya. Damar berdiri lama di depan pintu itu, curiga, mikir mikir apa ini bom atau surat ancaman lagi, tapi akhirnya dia beraniin diri buka juga.
Di dalemnya, ada selembar foto lama, udah agak kusam warnanya, kayak foto yang disimpen puluhan tahun. Foto seorang pria muda, berdiri di depan sebuah laboratorium, pake jas putih, senyum lebar banget, penuh semangat, dan di belakangnya ada tulisan tangan kecil, "Ariel, 1998".
Damar ngeliatin foto itu lama banget, jantungnya berdebar debar tanpa dia ngerti kenapa. Dia nggak kenal nama itu. Dia nggak pernah liat foto ini sebelumnya, nggak pernah denger nama Ariel disebut sebelumnya oleh siapapun di keluarganya.
Tapi kenapa, kenapa wajah pria di foto itu, matanya, bentuk rahangnya, cara dia senyum, kok mirip banget sama wajah yang Damar liat tiap kali dia ngaca.
Dia balik amplop itu, coba nyari petunjuk lain, tapi cuma ada foto itu doang, nggak ada surat, nggak ada penjelasan apa apa.
Damar duduk di kasur lipatnya, malem itu, meluk foto orang asing yang entah kenapa berasa nggak asing sama sekali, dan buat pertama kalinya sejak semua kejadian ini mulai, dia ngerasa ada pertanyaan baru yang jauh lebih besar dari sekedar siapa yang bikin pabrik itu meledak.
Siapa sebenernya Ariel Wijaya, dan kenapa wajahnya ada di wajah Damar sendiri.