Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kafein Magis dan Jejak Pendahulu yang Sama Gesreknya
Raditya berdiri mematung di depan meja marmer, menatap mesin giling kopi tembaga itu dengan tatapan kosong. Di samping mesin tersebut, terdapat sebuah cangkir keramik retak berlogo gambar kepala ayam jago yang sangat familier di warung-warung bakso Indonesia.
"Sistem... tolong tampar aku secara digital. Ini ilusi optik akibat efek samping bau Ogre tadi, kan?" bisik Raditya, menyentuh logo ayam jago di cangkir itu dengan ujung telunjuknya yang gemetar.
Ding!
[Analisis Artefak Sukses]:
Nama Objek: Cangkir Keramik Legendaris 'Ayam Jago Bumi'.
Status Keaslian: 100% Produk Buatan Bumi yang dibawa lintas dimensi sekitar 50 tahun lalu.
Catatan Historis: Pemilik tempat ini sebelumnya adalah Prasetyo Utomo, seorang mahasiswa jurusan Teknik Mesin yang terdampar di Aethelgard akibat tersedak biji boba saat nongkrong di sela-sela demonstrasi kampus.
Raditya langsung mengembuskan napas panjang. "Tersedak biji boba?! Jadi bukan cuma aku yang mati konyol di dunia ini?! Ternyata ada senior pendahulu yang track record kematiannya lebih memprihatinkan daripada tersedak pulpen!"
Mengetahui bahwa ada manusia Bumi—bahkan sesama orang Indonesia—yang pernah tinggal di sini, rasa takut Raditya mendadak lenyap. Dia beralih memeriksa laci meja marmer tersebut. Di dalamnya, dia menemukan sebuah buku harian lain dengan sampul bermotif batik parang yang sudah sangat usang dan digerogoti rayap sihir.
Raditya membuka halaman pertama yang ditulis menggunakan pulpen tinta hitam biasa:
"Hari ke-412 di Aethelgard.
Aku sudah berhasil menjinakkan naga lokal dengan modal resep Sambal Bawang Korek. Tapi dunia ini hambar tanpa kopi hitam. Untungnya, aku menemukan tanaman semak di dekat lereng selatan yang buahnya mirip buah kopi, tapi energinya meletup-letup. Aku menamainya Biji Kopi Hitam Aether. Jika digiling dengan mesin buatanku ini, efek kafeinnya bisa membuatmu tidak tidur selama tiga hari tiga malam sambil mendapatkan buff kecepatan berpikir 200%. Catatan: Jangan minum tanpa gula, atau lambungmu akan meledak seperti petasan."
Raditya membaca catatan itu dengan mata berbinar. "Buff kecepatan berpikir dua ratus persen?! Ini yang aku butuhkan untuk menghadapi Sistem yang hobi memeras poin ini!"
Ding!
[Misi Sampingan Terbantu oleh Buku Harian]:
Tugas: Temukan 'Biji Kopi Hitam Aether' di ruang penyimpanan logistik belakang menara. (Catatan Prasetyo menyebutkan dia menyembunyikan stok terakhir di balik ubin lantai yang longgar).
Hadiah: Pembukaan Fungsi 'Dapur Seduh Mekanik' di Sistem v2.0 dan 100 Poin Survival.
"Sistem, tidak usah disuruh, insting anak senja pencari kafeinku sudah bergejolak!"
Raditya langsung berbalik, berjalan menuju ruang kecil di balik meja marmer yang tampaknya berfungsi sebagai gudang logistik. Ruangan itu dipenuhi oleh karung-karung goni yang sudah lapuk berisi gandum dimensi lain yang sudah menghitam. Mengandalkan radar dari Mini-Map v2.0, Raditya dengan mudah menemukan sebuah ubin batu yang posisinya agak miring dan berongga.
Menggunakan pisau lipat kecilnya, Raditya mencongkel ubin tersebut. Benar saja, di bawahnya tersembunyi sebuah stoples kaca kedap udara berisi biji-biji berwarna hitam pekat yang memancarkan pendaran cahaya ungu tipis di permukaannya. Begitu stoples itu dibuka, aroma wangi kopi yang sangat kuat—gabungan antara aroma robika petualang dan sensasi gosong yang manis—langsung menyeruak keluar.
"Ini dia! Biji Kopi Aether!"
Raditya membawa stoples itu kembali ke meja marmer. Sesuai petunjuk di buku harian Prasetyo, dia memasukkan segenggam biji kopi ungu itu ke dalam corong atas mesin giling. Tangan kanannya meraih tuas pemutar besi, lalu mulai memutarnya dengan bertenaga.
KREK... KREK... KREK...
Suara gilingan mekanik kuno itu menggema memecah keheningan malam di dalam menara. Serbuk kopi hitam keunguan mulai jatuh perlahan ke dalam mangkuk besi di bagian bawah, mengeluarkan aroma yang begitu pekat hingga membuat kantuk di mata Raditya langsung hilang setengah bahkan sebelum dia meminumnya.
Namun, ada satu masalah logistik yang tersisa. "Sistem, di catatan Prasetyo dibilang jangan minum tanpa gula kalau tidak mau lambung meledak. Di Toko ada gula tidak?"
Ding!
[Membuka Toko Survival v2.0 - Kategori Penyedap Rasa]:
1x Sachet Gula Pasir Tebu Murni: 10 Poin.
Saran Sistem: Mengingat Anda memiliki Gelar [Ahli Seduh Amatir], Anda bisa menggabungkan air murni kolam, bubuk kopi Aether, dan gula ini untuk menciptakan 'Ramuan Kafein Legendaris'.
"Beli satu sachet gula!" kata Raditya.
Plop! Saldo Raditya berkurang menjadi 220 Poin, dan satu sachet gula pasir putih instan jatuh ke tangannya.
Raditya bergerak cepat menggunakan sisa air panas dari panci aluminium yang dia bawa dari tungku luar (yang untungnya masih mengepulkan uap hangat). Dia memasukkan dua sendok serbuk kopi Aether hasil gilingannya ke dalam cangkir logo ayam jago, menyobek sachet gula, lalu menuangkan air panas murni dari kolam ke dalamnya.
WUUUSH!
Begitu air panas bercampur dengan bubuk kopi ungu itu, sebuah reaksi magis terjadi. Kuah kopi itu bergolak pelan, membentuk pusaran mini di dalam cangkir, dan permukaannya dipenuhi oleh busa crema tebal sewarna emas yang berkilauan.
Ding!
[Gelar Aktif]: [Gears of Warung: Ahli Seduh Amatir]
Hasil Seduhan: Kopi Hitam Mercon Aether (Kualitas: Langka).
Efek Konsumsi: Memulihkan seluruh rasa lelah secara instan, meningkatkan kecepatan regenerasi stamina sebesar 300% selama 6 jam, dan memberikan efek [Mata Elang] (Dapat melihat dalam kegelapan malam tanpa bantuan obor).
Raditya menelan ludah. Tanpa ragu lagi, dia mengangkat cangkir ayam jago itu, meniup uap emasnya perlahan, lalu meminumnya dalam satu tegukan mantap.
SERUPUUUUT... GLUG.
Rasa pahit yang sangat pekat, diikuti oleh rasa manis tebu yang lembut, dan diakhiri oleh sensasi hangat yang meledak-ledak langsung menjalar dari kerongkongannya menuju ke lambung, lalu naik dengan kecepatan kilat ke otaknya.
Mata Raditya mendadak terbuka lebar. Pupil matanya memancarkan pendaran cahaya ungu redup. Rasa pegal di kakinya hilang total dalam sekejap, dan mendadak, dia merasa otaknya bekerja sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Pandangan matanya ke arah sudut ruangan yang gelap kini menjadi sejelas siang hari.
"GILA! INI BUKAN KOPI, INI RAMUAN PENYEMANGAT HIDUP!" Raditya berseru histeris, menatap kedua tangannya yang kini dipenuhi oleh energi magis tipis yang bergetar.
Namun, kenikmatan kafein magis itu mendadak terusik saat radar mini-map di sudut pandangannya mendadak berkedip-kedip merah dengan kecepatan tinggi, mengeluarkan suara alarm yang sangat melengking.
BEEP! BEEP! BEEP!
[Peringatan Krisis Tingkat Tinggi!]:
Aroma seduhan 'Kopi Hitam Mercon Aether' Anda baru saja menembus dinding menara dan menyebar ke seluruh area hutan luar dalam radius 1 Kilometer.
Deteksi Pergerakan: Sesosok makhluk pelacak malam, Serigala Bayangan Bertanduk Tiga (Level 15), telah mencium aroma kafein ini dan sedang berlari menuju gerbang menara dengan kecepatan penuh!
Waktu Tersisa Sebelum Kontak: 45 Detik!
Raditya, yang otaknya sedang dalam mode buff kecepatan berpikir 200%, tidak panik seperti biasanya. Dia justru tersenyum menyeringai, mengambil ketapel taktis hitamnya dari pinggang, lalu meraba kantong celana kargonya yang penuh dengan peluru jamur batu keras.
"Datanglah, gukguk dimensi lain. Kebetulan otakkuku lagi encer banget buat bikin taktik pembantaian," bisik Raditya penuh percaya diri.