Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konspirasi di balik layar
Peringatan dari Pak Surya ternyata bukan sekadar gertakan kosong. Dalam beberapa minggu setelah pertemuan itu, Arka dan Grup Wijaya mulai menghadapi serangan bertubi-tubi dari berbagai arah. Serangan ini tidak lagi berupa teror gaib atau ancaman misterius, melainkan serangan dunia nyata yang lebih kejam, terencana, dan menggunakan hukum serta kekuasaan sebagai senjatanya.
Pagi itu, Arka baru saja tiba di kantor dan belum sempat duduk, Clara sudah masuk dengan wajah pucat dan tumpukan surat resmi di tangannya. Ia meletakkan berkas-berkas itu di meja Arka dengan suara berisik, menandakan betapa marah dan cemasnya ia.
"Lihat ini, Arka. Ini baru permulaan," ucap Clara dengan nada gemasar. "Surat peringatan dari Dinas Tata Ruang. Mereka menuduh kita melakukan pelanggaran batas wilayah pembangunan di tiga lokasi proyek besar. Padahal kita punya izin lengkap dan sudah sesuai aturan. Lalu ini... surat pemeriksaan dari Kejaksaan Negeri, menyangkut dugaan penyalahgunaan dana sosial. Dan yang paling parah... izin operasional Universitas Wijaya Karya kita ditangguhkan sementara karena alasan 'ketidaklengkapan administrasi' yang tiba-tiba ditemukan, padahal sudah berjalan bertahun-tahun tanpa masalah."
Arka mengambil berkas-berkas itu satu per satu, membaca isinya dengan tenang, meski di dalam hatinya ia sangat paham siapa dalang di balik semua ini. Bahasanya formal, rapi, dan sah secara hukum, tapi aroma konspirasi dan dendam tercium sangat kuat.
"Pak Surya menepati ancamannya," gumam Arka pelan. Ia mengingat kembali ucapan pengusaha tua itu: "Banyak orang yang tidak suka dengan langkahmu ini. Banyak orang yang merasa kepentingannya terganggu." Ternyata Pak Surya tidak bergerak sendirian. Ia membawa serta sekelompok besar orang yang merasa keuntungan dan kekuasaannya terancam oleh kebijakan baru Arka yang jujur, transparan, dan berani membongkar ketidakadilan.
"Arka, ini berbahaya," Clara duduk di kursi di seberang meja, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Mereka ingin menjatuhkanmu. Mereka ingin membuatmu terlihat buruk di mata publik, menuduhmu melakukan kesalahan yang sama seperti leluhurmu, agar semua kebaikan yang kau lakukan selama ini hilang dan kau terpaksa mundur. Mereka tahu kau sedang fokus menebus dosa masa lalu, dan mereka menyerang tepat di saat kau sedang lemah dan berusaha berbuat baik. Ini rencana yang sangat jahat."
"Aku tahu, Clara. Aku sudah menduganya," jawab Arka sambil menutup berkas itu dan meletakkannya kembali di meja. Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela besar, menatap kota yang sibuk di bawah sana. "Selama puluhan tahun, Grup Wijaya menjadi semacam 'lembaga suci' yang tidak boleh disentuh. Banyak pejabat, pengusaha, dan oknum yang memanfaatkan nama besar dan kekayaan perusahaan ini untuk kepentingan pribadi mereka. Mereka memeras, mereka korupsi, mereka berbisnis kotor di bawah naungan nama Wijaya. Saat aku diam, saat aku menutup mata, mereka aman dan senang. Tapi saat aku berubah, saat aku menegakkan kebenaran, saat aku berani mengembalikan hak rakyat... aku menjadi musuh terbesar mereka. Karena aku memutus aliran uang haram mereka."
Arka berbalik menatap Clara dengan sorot mata tajam dan penuh tekad. "Mereka mengira aku akan takut. Mereka mengira aku akan mundur, akan membungkam kebenaran, atau akan memberi mereka uang suap agar berhenti mengganggu. Mereka salah besar. Aku tidak akan berhenti. Justru serangan ini membuktikan bahwa apa yang aku lakukan benar. Aku sedang mengganggu sarang mereka."
"Tapi bagaimana caranya melawan?" tanya Clara cemas. "Mereka punya kekuasaan, mereka punya koneksi, mereka menguasai jalur hukum. Kita sendirian, Arka. Jika kita melawan, mereka bisa memfitnah kita, memenjarakan kita, atau bahkan melakukan hal yang lebih buruk secara fisik."
Arka tersenyum tipis, senyum yang penuh keyakinan. "Kita tidak sendirian, Clara. Kita punya kebenaran di pihak kita. Kita punya sejarah yang sudah kita perbaiki. Kita punya kepercayaan rakyat. Dan yang paling penting... kita punya hati nurani yang bersih. Mereka bertindak dalam kegelapan, dengan ketakutan dan rasa bersalah. Kita bertindak di bawah sinar matahari, dengan keberanian dan ketenangan hati. Itu kekuatan yang jauh lebih besar daripada senjata atau uang apa pun."
Namun Arka tahu, semangat saja tidak cukup. Ia harus bergerak cerdik. Ia tidak bisa melawan kekuasaan dengan kekuasaan, tapi ia bisa melawan kekuasaan dengan kebenaran dan transparansi.
"Mulai hari ini," perintah Arka tegas. "Kita buka semua dokumen kita. Semua laporan keuangan, semua izin, semua sejarah tanah, semua bukti pembayaran ganti rugi... semuanya kita publikasikan secara terbuka di situs web resmi perusahaan. Tidak ada lagi rahasia. Biarkan seluruh rakyat Indonesia, seluruh pers, dan seluruh dunia melihat apa yang sebenarnya kita lakukan. Jika mereka menuduh kita, biarkan mereka menuduh di hadapan bukti yang jelas dan terbuka."
Arka melanjutkan rencananya. "Kita juga akan mengundang tim pengawas independen dari akademisi, tokoh masyarakat, dan lembaga anti-korupsi untuk memantau setiap langkah kita. Kita akan bekerja sama dengan media massa yang jujur. Biarkan semua orang tahu bahwa serangan yang kita terima bukan karena kita salah, tapi karena kita berani berbuat benar."
"Dan untuk Pak Surya dan kawan-kawannya..." Arka berhenti sejenak, matanya menatap tajam seolah bisa melihat musuh-musuhnya di balik tembok. "Kita akan selidiki mereka balik. Selama bertahun-tahun mereka bekerja sama dengan kita, pasti ada jejak kejahatan yang mereka tinggalkan. Jejak korupsi, penipuan, pelanggaran hukum. Jejak yang selama ini kami tutup karena kebiasaan buruk masa lalu. Sekarang, kami akan membuka semua jejak itu. Kami akan menyerahkan bukti-bukti kejahatan mereka ke pihak berwajib. Kita lihat siapa yang akan jatuh duluan."