Calista berasal dari keluarga yang mengalami dinamika kehidupan seperti kebanyakan orang. Papanya yang sabar dan berhati hangat, membuat keluarga Calista dapat bertahan. Tetapi banyak orang yang memanfaatkan kebaikan hatinya untuk mendapatkan keuntungan dengan menculasinya. Beruntung datang pertolongan dari sahabatnya, Tuan Lucas, sang konglomerat yang menyelamatkan tetapi harus ditukar dengan kebebasan Calista. Pernikahan mereka yang diawali dengan drama dan diikuti drama-drama berikutnya, membuat Calista semakin dewasa. Tuan Lucas mendidiknya menjadi seorang wanita yang ulung dalam berbisnis dengan mental baja dan percaya diri.
Rasa cinta muncul karena ketulusan Calista mengabdikan dirinya untuk suaminya walaupun ia tak mencintainya. Masalah muncul ketika ternyata Anak dari suaminya adalah sahabatnya di sekolah. Mantan isteri Tuan Lucas dan saingan bisnisnya menguji ketahanan mereka menghadapi masalah. Akankah Cinta Sang Mamah Muda dapat bertahan dan berakhir dengan indah? Langsung saja disimak. Jangan lupa tinggalkan jejak dalam karya perdana Winaka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Seperti biasa, papa mengantar Lintang dulu ke sekolah, kemudian mengantar Calista dan terakhir ke butik mama untuk membantu khusus di pemesanan online. Papa memang mengembangkan bisnis butik mama secara online untuk kalangan terbatas. Desain-desain mama sangat disukai oleh wanita-wanita sosialita.
Mama yang sejak menikahi seorang CEO, memahami selera mereka dalam berbusana. Mereka yang memakai satu pakaian tidak lebih dari dua kali pakai, tentunya menguntungkan bisnis mama.
Calista disambut Reyka, sahabatnya sejak sekolah dasar, saat turun dari mobil.
"Om," sapa Reyka dengan mengangguk pada papa Calista. Papa mengembangkan senyum membalasnya. Lalu melambaikan tangan pamit.
"Cal, dicari tuh sama Alan. Uring-uringan nanyain kamu terus, " sungut Reyka. Calista mencomot bibir Reyka yang dimanyunkan.
"Ih, jelek amat itu bibir kalo manyun!" goda Calista. Reyka menepiskan jari jahil Calista dengan tertawa.
"Kamu tuh, ya! kalau ga suka, bilang dengan tegas. Jangan buat anak orang kelimpungan!"
"Aku sudah dengan jelas-jelas menolaknya. Alan saja yang ga ngerti-ngerti!" tukas Calista kesal.
"Lagian kenapa sih, kamu tolak Alan? Kurang apa coba? Alan tuh ganteng, sopan, lembut, pinter... 99% perfecto, deh." Calista tersenyum misterius. Mata Reyka mendelik kesal melihatnya,
"Senyum-senyum ga jelas sih, nih anak!"
"Kalau memang segitu sempurnanya, kenapa ga kamu aja yang pacaran sama Alan?"
Mendengar itu, Reyka memukul lengan sahabatnya dengan gemas.
"Sekali lagi ngomong ga mutu kaya gitu, ga bakalan mau makan bareng di kantin lagi sama kamu!" ancam Reyka. Calista merangkul sahabatnya dan berhenti menggodanya.
Daripada kehilangan teman makan di kantin, cengo kan... makan sendirian, batin Calista.
...****************...
Reyka menyikut lengan Calista, saat melihat Alan memasuki kelas dan menghampiri mereka. Calista tak bergeming, ia tetap saja menunduk menekuri bacaan novelnya.
"Hai, girls" sapa lelaki tinggi dengan manik mata hazel menghiasi wajah tampannya.
" Haiii Alan. Tuh, gadis yg buat kamu uring-uringan dari pagi," balas Reyka dengan mengarahkan dagunya ke sosok Calista, "Aku ke kantor OSIS dulu ya, okey?" ucap Alan membuat Calista mengangkat wajahnya. Mereka bertemu pandang dan Alan menunjukkan senyum terbaiknya.
Tetapi betapa kecewanya Alan, saat Calista kembali asyik dengan handphone-nya.
" Cal..., "panggil Alan lembut.
" Hemm..., "jawab Calista tak melepas pandangnya dari layar HP.
" Cal, lihat aku dulu," pinta Alan berusaha mendapat perhatian gadis dihadapannya. Ya, Tuhan, kenapa aku harus mencintai gadis yang bersikap hangat pada orang lain tetapi dingin dan kaku padaku, batin Alan pedih. Ia tidak dapat melupakan cintanya pada gadis itu, maka mau tak mau ia harus mati-matian berusaha mendapatkan hati Calista.
"Katakan saja apa maumu, aku tak perlu melihat wajahmu, kan?" Calista benar- benar tidak menganggap Alan ada.
"Kamu tahu yang aku mau! Kapan kau akan mewujudkannya untukku?" tantang Alan nekat.
Calista memandangnya lekat kemudian mendekatkan bibirnya dekat telinga Alan, "Aku tak pernah menjanjikan atau memberikan harapan apapun padamu. Bagiku kamu sama dengan Reyka, sahabatku sejak SD. Jangan mengharapkan lebih dari itu. Jangan membuatku merasa bersalah karena tak dapat memenuhi maumu. Ini terakhir kalinya aku menjelaskan padamu. Jika kamu terus memaksaku, maka sebaiknya kita berhenti bertemu!"
Alan terperangah takjub dengan setiap penekanan kata dari Calista. Tak urung pipinya menghangat karena dekatnya jarak yang Calista ciptakan. Calista tersenyum lalu menepuk bahu Alan dan berlenggang meninggalkannya.
lanjutkan terus karyanya...
keren bngt ceritanya.. singkat.. gak smp ratusan bab.. tp terpatri di hati... thanks for all dearest...
🙏🥰💖👍💪👍💖🥰🙏