Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Retak di Balik Kebenaran
Langkah kaki Larasati terasa berat seolah ada rantai besi yang mengikat pergelangan kakinya. Tas kerja yang biasa ia genggam erat kini terlepas pelan, jatuh berdebam di tanah lembap tanpa ia hiraukan. Pria tua itu—yang baru saja ia ketahui adalah Haryo Wijaya, ayah kandung Agung dan pemilik konglomerat bisnis yang namanya tersohor ke seluruh penjuru negeri—menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang tajam namun sejenak tertegun.
Agung seketika berbalik badan, wajahnya pucat pasi, napasnya tercekat seakan baru saja tertangkap melakukan kesalahan besar. "Lar..." panggilnya lirih, suaranya pecah tak berdaya. Ia ingin melangkah mendekat, namun kakinya terpaku di tempat.
Larasati mundur selangkah, matanya berkaca-kaca namun air matanya tak kunjung jatuh. Rasa bingung, sakit hati, dan dikhianati berdesakan di dadanya, sesak hingga rasanya sulit bernapas. "Benarkah apa yang dikatakan Bapak itu, Agung?" suaranya bergetar hebat. "Kau bukan teknisi bangunan? Kau bukan orang yang tak punya apa-apa?"
Agung menggeleng lemah, tangannya terulur ingin meraih tangan istrinya namun terhenti di udara. "Dengar aku dulu, Lar... Tolong, percayalah padaku. Ada alasan kenapa aku menyembunyikan semua ini..."
"Alasan apa?" potong Larasati dengan suara yang tiba-tiba meninggi, air mata akhirnya menetes membasahi pipi. "Alasan apa yang membuatmu harus membohongiku sejak awal pertemuan? Membiarkanku mengira kau hidup pas-pasan? Membiarkanku bekerja lembur setiap malam demi menambal kekurangan? Apakah semua ini hanya permainan bagimu? Ujian kesetiaan yang kau buat-buat agar kau bisa menertawakanku nanti?"
"Nggak! Jangan berpikir begitu, Lar! Kumohon!" Agung akhirnya berlari mendekat, namun Larasati mundur menjauh. Hati Larasati hancur lebur. Semua perhatian, semua kesederhanaan, semua janji setia yang diucapkan di malam-malam sunyi tiba-tiba terasa penuh kepalsuan. Ia merasa seperti orang bodoh yang dengan tulus mencintai bayangan yang sengaja dibuatkan suaminya.
Pak Haryo mendekat perlahan, menatap Larasati sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penilaian dingin dan sedikit rasa tidak tega. "Nak, Agung melakukannya karena ia lelah dikelilingi orang-orang yang hanya mendekatinya demi harta keluarga. Ia ingin mencari wanita yang mencintai dirinya apa adanya, bukan demi nama besar Wijaya maupun kekayaan yang kami miliki."
Larasati menatap pria tua itu tajam, lalu kembali menatap Agung yang tampak hancur. "Jadi aku hanya objek percobaan? Kau pastikan dulu aku tidak mencintaimu karena harta, baru kau berani menunjukkan jati dirimu? Bagaimana jika aku tidak pernah bisa menerima kebohongan besar ini, Agung? Bagaimana jika aku merasa seluruh cinta yang kuberikan selama ini ternyata sia-sia?"
Perdebatan itu berlanjut hingga matahari benar-benar terbenam. Agung berusaha menjelaskan semuanya: bagaimana ia memohon izin pada ayahnya untuk hidup mandiri selama dua tahun, bagaimana ia bekerja kasar agar mengerti makna perjuangan hidup, bagaimana ia bertemu Larasati dan jatuh cinta sungguh-sungguh—bukan karena rencana, melainkan karena ketulusan wanita itu yang perlahan meruntuhkan tembok pertahanannya.
Namun rasa sakit hati Larasati terlalu dalam. Ia masuk ke dalam kamar kost yang sempit itu, memungut barang-barang pakaiannya seadanya. "Aku butuh waktu sendiri, Agung. Aku tidak tahu lagi harus percaya pada apa. Selama ini aku mengira kita berjuang bersama dari bawah, ternyata kau sudah berdiri di atas menara gading yang tak terbayangkan. Rasanya dunia kita terlalu jauh berbeda."
Agung memegang bahu istrinya dengan lembut namun tegas, menahan agar Larasati tidak pergi. "Tidak ada yang berbeda, Lar. Harta itu milik keluargaku, tapi hatiku tetap milikmu yang sama seperti saat kita bertemu di halte hujan dulu. Tolong jangan pergi... Kumohon, jangan biarkan kebohongan awalmu menghancurkan apa yang sudah kita bangun bersama."
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi mereka. Di kamar yang sederhana itu, di antara kesunyian yang mencekam, keduanya terjaga. Larasati menangis dalam diam, merenungkan kembali setiap momen yang telah mereka lalui. Apakah senyum Agung yang tulus dulu hanyalah sandiwara? Ataukah di balik segala kemewahan itu, ia memang benar-benar pria yang ia kenal—sederhana, hangat, dan penuh kasih?
Di sisi lain, Pak Haryo sudah berjanji akan kembali esok hari. Dan besok, tak ada lagi alasan untuk menunda. Agung harus kembali ke dunianya, dan Larasati harus memutuskan: apakah ia siap menghadapi realita baru, atau melepaskan pria yang ternyata menyembunyikan segalanya demi sebuah cinta yang tulus?
Bersambung Ke Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing.