NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Api di Dalam Tulang

​Tanpa keraguan sedikit pun, Awan memasukkan Pil Pemecah Batas berwarna merah darah itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.

​"Bocah gila! Muntahkan!" Penatua Kuang berteriak, mengulurkan tangannya berniat memaksa Awan memuntahkan pil itu dengan bantuan Qi.

​Namun, semuanya sudah terlambat.

​Pil Pemecah Batas bukanlah obat penyembuh yang bekerja perlahan. Segera setelah menyentuh lambung Awan, selubung pil itu larut, dan energi spiritual murni yang setara dengan akumulasi latihan kultivator selama belasan tahun meledak seketika di dalam perutnya.

​DHUM!

​Suara detak jantung Awan terdengar seperti tabuhan genderang perang yang menggema di seluruh ruangan. Pemuda itu langsung jatuh berlutut di lantai kayu, mencengkeram perutnya. Matanya membelalak lebar, dipenuhi urat-urat merah muda yang nyaris pecah.

​Gelombang panas yang luar biasa ganas menyapu dari lambungnya, menyebar secara brutal ke seluruh arah.

​Bagi kultivator biasa, energi liar ini akan segera diarahkan memasuki meridian utama, disaring, dan dipadatkan di dalam Dantian untuk membentuk fondasi roh. Namun, meridian Awan tertutup mati bak batu karang, dan ia tidak memiliki Dantian.

​Kehilangan tempat untuk bernaung, energi merah itu berubah menjadi binatang buas yang mengamuk. Energi itu menabrak dinding lambung, menerjang paru-paru, dan membakar jantungnya dari dalam.

​"Arrrghh!" Erangan rendah nan menyakitkan lolos dari sela-sela gigi Awan yang terkatup rapat.

​Kulit tembaganya dengan cepat berubah menjadi merah padam seperti besi yang dipanaskan di dalam tungku pandai besi. Suhu tubuhnya melonjak drastis hingga keringat yang keluar dari pori-porinya langsung menguap menjadi kabut putih.

​"Selesai sudah," gumam Penatua Kuang dengan wajah pucat, tangannya gemetar. "Energi itu akan merobek organ dalamnya dalam sepuluh tarikan napas. Bahkan aku tidak bisa menarik energi liar itu keluar tanpa menghancurkan tubuh fananya."

​Namun, di tengah siksaan pembakaran organ internal yang melampaui batas kewarasan manusia itu, Awan menolak untuk mati terbaring.

​Ia memaksa tubuhnya yang bergetar hebat untuk berdiri tegak. Kedua kakinya merentang selebar bahu, menanamkan telapak kakinya kuat-kuat ke lantai paviliun hingga kayu ubin di bawahnya retak.

​Awan tidak mencoba duduk bersila untuk bermeditasi. Meditasi membutuhkan kejernihan pikiran untuk mengalirkan Qi, dan Awan tidak berniat mengalirkannya. Ia berniat menundukkannya.

​Sambil memejamkan mata, Awan mulai mengambil ritme pernapasan dari Seni Pedang Dasar Angin Jatuh.

​Tangan kanannya yang kosong terangkat, membentuk kepalan seolah sedang memegang pedang tak kasat mata. Pinggulnya berputar, punggungnya melengkung, dan ia mengayunkan tinjunya menembus udara dalam gerakan menebas yang lambat namun memuat seluruh beban ototnya.

​Swush!

​Penatua Kuang terpaku di tempatnya. "Apa yang... apa yang sedang dia lakukan? B-berlatih jurus fana di saat meridiannya terbakar?!"

​Apa yang tidak dilihat oleh sang Penatua adalah peperangan absolut yang terjadi di dalam tubuh Awan.

​Setiap kali Awan mengayunkan tangannya, ia memaksakan kontraksi otot secara ekstrem. Otot-otot punggung dan dadanya menjepit organ dalamnya seperti tang besi. Ia secara harfiah menjadikan daging dan ototnya sebagai landasan tempa, tulang-tulangnya sebagai martil, dan energi Qi dari pil tersebut sebagai besi pijar.

​Tekan. Padatkan. Hancurkan kelemahan fana ini! batin Awan mengaum liar.

​Energi merah yang mengamuk di jantung dan paru-parunya tiba-tiba terhimpit oleh kontraksi otot yang luar biasa rapat. Energi itu mencoba meronta, mencoba merobek kulit Awan untuk keluar, namun Awan kembali mengubah kuda-kudanya dan melepaskan pukulan ke arah langit-langit.

​BAM!

​Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam tubuh Awan. Energi yang mencoba menerobos keluar itu dipukul mundur secara paksa oleh tekanan kinetik ototnya sendiri, dipaksa masuk lebih dalam ke lapisan sumsum tulangnya.

​Tulang Awan mulai berderit mengerikan, nyaris retak menahan energi spiritual tingkat tinggi tersebut. Namun, di saat yang sama, energi liar itu mulai membakar kotoran dan sel-sel fana yang lemah di dalam organ tubuhnya, menggantikannya dengan kepadatan yang baru.

​"Sembilan ribu sembilan ratus... sembilan puluh delapan!" Awan mulai menghitung dengan suara serak, darah segar merembes dari sudut bibirnya.

​Ia kembali mengayunkan tinjunya, merambatkan tekanan dari betis naik hingga ke bahu, memaksa sisa-sisa energi merah di perutnya menyebar merata ke seluruh pembuluh darah kapiler.

​"Sembilan ribu sembilan ratus... sembilan puluh sembilan!"

​Awan tidak memiliki pedang di tangannya, namun Penatua Kuang bisa merasakan ketajaman absolut dari setiap ayunan tinju pemuda itu. Ketajaman itu tidak menargetkan musuh di luar, melainkan menargetkan takdir kefanaannya sendiri.

​Kulit Awan mulai retak-retak. Darah hitam berbau busuk, bercampur dengan kotoran dari dalam organ dan sumsum tulangnya, mulai merembes keluar dari pori-porinya. Ini adalah proses "Penyucian Tulang", sebuah fenomena yang biasanya hanya dialami oleh kultivator saat mereka menembus Alam Fondasi Roh. Bedanya, Awan mencapai proses ini murni tanpa membuka satu pun meridian!

​"Sepuluh... Ribu!"

​DHUAR!

​Pada pukulan terakhirnya, udara di dalam ruangan paviliun itu benar-benar meledak. Gelombang kejut fisik yang bercampur dengan hembusan napas panas menyapu perabotan kayu di sekitar mereka, membuat Penatua Kuang harus mengangkat lengan jubahnya untuk menghalau angin keras tersebut.

​Setelah ayunan itu, Awan membeku di tempatnya. Kuda-kudanya tetap kokoh, sebelah tangannya menjulur lurus ke depan. Uap panas mengepul hebat dari sekujur tubuhnya, bercampur dengan lapisan kerak darah hitam yang menyelimuti kulitnya seperti lumpur.

​Satu detik. Dua detik.

​Awan menarik napas panjang. Paru-parunya yang tadinya terasa seperti terbakar, kini mengembang dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Napasnya panjang, dalam, dan menghasilkan suara dengungan halus seperti pedang yang ditarik dari sarungnya.

​Tiba-tiba, ia ambruk, jatuh telentang ke lantai kayu dengan suara berdebum.

​Penatua Kuang segera melesat mendekat, meletakkan dua jarinya di leher Awan untuk memeriksa denyut nadinya. Mata pria tua itu melebar, dipenuhi rasa takjub yang mengguncang jiwanya hingga ke akar.

​"Denyut nadinya setenang air sungai, namun sekuat hantaman palu raksasa," gumam Penatua Kuang tanpa sadar. "Organ dalamnya... jantungnya, paru-parunya, bahkan sumsum tulangnya tidak hancur. Daging fananya menyerap energi liar itu dan menjadikannya bahan bakar untuk memadatkan organ."

​Kelemahan terbesar Awan sebelumnya adalah organ internalnya. Meskipun otot dan tulang luarnya telah ditempa sekeras baja berkat Kayu Besi Hitam, organ dalamnya tetaplah organ manusia biasa yang rentan hancur jika terkena benturan Qi kuat dari luar. Itulah alasan mengapa Yao Chen dan Gao Shan sebelumnya sangat berbahaya bagi Awan jika serangan magis mereka sampai mengenai tubuhnya.

​Namun kini, kelemahan fatal itu telah hilang.

​Pil Pemecah Batas tidak memberi Awan sihir. Pil itu tidak memberinya kemampuan menembakkan Qi dari telapak tangannya. Namun, pil itu telah mengubah tulang dan organ dalamnya menjadi benteng pertahanan yang absolut, mengangkat tubuhnya mencapai puncak tertinggi dari Alam Pembentuk Tubuh, setara dengan daya tahan fisik seekor naga tanah muda.

​Dua hari kemudian.

​Awan berdiri di tepi kolam mata air di belakang paviliun Penatua Kuang. Ia baru saja selesai membilas kerak hitam berbau busuk dari sekujur tubuhnya.

​Saat ia menatap bayangannya di permukaan air, ia menyadari perubahannya. Otot-ototnya yang sebelumnya menonjol kasar dan mengerikan, kini sedikit menyusut, menjadi lebih ramping dan padat. Kulit tembaganya tidak lagi terlihat kering, melainkan memiliki kilau samar seperti permukaan batu obsidian. Luka tusukan di bahu kirinya akibat pedang Wu Jian telah menutup sempurna, hanya menyisakan bekas goresan tipis.

​Ia mengepalkan tangannya perlahan.

​Kraaaak.

​Hanya dengan mengepalkan tangan, udara di dalam genggamannya meledak kecil akibat tekanan otot yang terlalu padat. Awan tersenyum tipis. Kini, jika ia menggunakan pedang Kayu Besi Hitam, ia yakin tidak akan perlu menggunakan seluruh tenaganya untuk menghancurkan zirah Gao Shan.

​Di atas batu besar di samping kolam, seragam barunya telah disiapkan. Sebuah jubah biru tua berbahan kain halus, dilengkapi sabuk kulit dan sepatu bot yang kokoh. Di atas jubah tersebut, tergeletak plakat besi hitam berukir daun gugur. Identitas resminya sebagai Murid Luar Sekte Daun Angin.

​Awan mengenakan jubah tersebut. Pakaian itu pas di badannya, meski terasa sedikit terlalu ringan dibandingkan baju linen kasarnya. Ia mengikatkan Kayu Besi Hitamnya yang setia di punggungnya, menyelipkan plakat besi di sabuknya, lalu berjalan menuju halaman depan paviliun.

​Penatua Kuang sedang berdiri di sana, memandang ke arah matahari pagi yang menyinari kawasan Asrama Murid Luar di kaki gunung.

​"Terima kasih atas tempat bernaungnya, Penatua Kuang," Awan menangkupkan tangan dan membungkuk dalam. Hutang budinya pada pria tua ini sangat besar, karena sang Penatua adalah satu-satunya orang di sekte ini yang memberinya kesempatan.

​Penatua Kuang berbalik, menatap Awan dengan raut wajah rumit. "Kau tidak memiliki Qi, sehingga kau tidak bisa menggunakan Pil Spiritual, apalagi mempelajari Kitab Mantra sekte. Jalan yang kau ambil ini... belum pernah ada yang melaluinya. Ke depannya, Sekte Daun Angin mungkin tidak bisa memberimu banyak panduan."

​"Saya hanya butuh perpustakaan untuk membaca, gunung untuk membelah kayu, dan lawan untuk membuktikan tebasan saya," jawab Awan tenang.

​"Pergilah ke Asrama Luar. Laporkan dirimu pada Tetua Asrama untuk mendapatkan jatah bulanan dan tempat tinggalmu," Penatua Kuang melambaikan tangannya perlahan. "Berhati-hatilah, Awan. Mengalahkan Wu Jian di arena membuatmu terkenal, tapi di saat yang sama, kau telah menginjak-injak harga diri ratusan Murid Luar. Mata mereka kini mengincarmu dari dalam kegelapan."

​"Jika ada yang menghalangi jalan," Awan menepuk gagang kayu di punggungnya, "maka pedang ini tidak akan ragu untuk memotong."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!