Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA Bab 2 - Protokol Malam Pertama
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA
Bab 2 - Protokol Malam Pertama
Pernikahan itu terjadi hari Selasa jam 10 pagi tepat, persis seperti yang dijadwalkan Dean seminggu lalu.
Tidak ada gedung mewah yang disewa, tidak ada ribuan undangan, dan tidak ada dekorasi bunga segar yang menghabiskan ratusan juta. Pernikahan Dean Galang Wijaya dan Sinta Aniswari hanya dihadiri oleh keluarga inti kedua belah pihak di sebuah ruangan privat di kantor urusan agama. Sah secara hukum, sah secara agama, selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Bagi Dean, pernikahan ini adalah komitmen legal dan transaksi bisnis strategis, jadi dia tidak melihat urgensi untuk membuat pesta besar yang tidak efisien.
Selesai akad, mereka langsung bertolak menuju tempat tinggal baru mereka. Sebuah penthouse mewah milik Dean di kawasan Kuningan yang luas, rapi, dan luar biasa dingin.
Malam harinya, Sinta duduk termenung di tepi ranjang king-size yang seprainya sewarna abu-abu arang. Sangat maskulin, sangat kaku, sangat Dean. Sinta masih memakai kebaya putih sederhana sisa akad nikah tadi pagi. Meskipun tidak ada pesta resepsi yang melelahkan, punggung Sinta rasanya tetap mau patah karena ketegangan mental yang dia rasakan seharian ini.
YA TUHAN... akhirnya selesai juga akting jadi wanita anggun seharian ini. Korset ini... astaga, lambungku kayak lagi diperas buat bikin jus! Pengen banget rasanya copot ini semua terus rebahan sambil makan mi instan pakai cabai rawit!
Pintu kamar mandi terbuka. Dean keluar dengan kaos oblong hitam polos dan celana panjang senada. Rambutnya yang biasa klimis disisir ke belakang kini tampak agak basah dan jatuh di dahinya, membuatnya kelihatan sedikit lebih muda. Tapi wajahnya? Tetap lempeng. Tetap datar seperti papan pengumuman kelurahan.
Dean berjalan ke arah meja kerja di sudut kamar, mengambil sebuah map kulit berwarna hitam, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia tidak duduk di sebelah Sinta, melainkan menarik sebuah kursi kerja ergonomis dan duduk tepat di hadapan Sinta. Jarak mereka sekitar satu meter.
Sinta langsung menegakkan punggungnya, memasang kembali senyum "Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut".
"Capek?" tanya Dean. Suaranya berat, datar, tanpa intonasi naik turun.
"Sedikit, Pak Dean," jawab Sinta lembut.
Dean mengangguk sekali, lalu membuka map kulit di pangkuannya. "Wajar. Walaupun pernikahan kita tertutup tanpa pesta, tekanan mentalnya pasti ada. Ini ada beberapa hal yang harus kita sepakati untuk memulai operasional rumah tangga kita."
OPERASIONAL RUMAH TANGGA? Dia pikir ini pabrik tekstil?! Sinta membatin, menahan kedutan di sudut bibirnya.
Dean membalik halaman pertama. "Jadwal sarapan adalah pukul 06.30 tepat. Saya berangkat kerja pukul 07.15. Untuk urusan domestik, sudah ada kepala pelayan yang datang tiga kali seminggu. Kamu tidak perlu membersihkan rumah, fokus saja pada kuliah kedokteranmu. Dan..." Dean menjeda kalimatnya, menatap Sinta dengan mata hitamnya yang lurus tanpa ekspresi. "...soal kebutuhan biologis suami istri."
Jantung Sinta rasanya berhenti berdetak sesaat. Darahnya langsung berdesir naik ke pipi.
Dean melanjutkan dengan nada yang sama seperti orang sedang membaca laporan cuaca. "Saya menjadwalkan agenda ini satu bulan empat kali. Atau seminggu sekali, idealnya di hari Jumat malam atau Sabtu malam agar tidak mengganggu produktivitas kerja di hari kerja. Bagaimana, Nona Sinta? Apakah jadwal ini memberatkanmu?"
Hah? Dijadwal? Sebulan empat kali? Dia pikir ini jadwal rontgen atau shift malam co-ass?! Terus apa tadi? Biar gak ganggu produktivitas kerja?! Ya ampun, ini manusia apa robot rakitan Jepang sih?! Sinta menjerit-jerit histeris di dalam kepalanya.
Tapi di luar, Sinta hanya menunduk canggung, berpura-pura malu dan penurut. "Saya... saya mengikuti pengaturan Pak Dean saja."
Dean menatap Sinta beberapa detik, memperhatikan remasan tangan Sinta di atas kebayanya. Pria itu menutup map kulitnya dengan bunyi klek yang pelan.
"Hari ini hari Selasa. Bukan jadwalnya. Tapi karena ini malam pertama, secara teori konvensional, seharusnya kita melakukannya malam ini," kata Dean lempeng.
Sinta langsung menegang. Matanya membelalak kecil. Mampus! Malam ini langsung mulai?! Aku bahkan belum siap mental!
Melihat reaksi Sinta, Dean menyandarkan punggungnya ke kursi. Ekspresinya tidak berubah, tapi suaranya terdengar sangat tegas. "Tapi saya tidak akan memaksa kamu melakukannya malam ini, Nona Sinta. Saya tahu ini pernikahan bisnis. Kita belum saling mengenal dengan baik. Saya sangat menghormati kenyamanan dan pendapat kamu. Kalau kamu merasa lelah atau belum siap secara mental, kita bisa menundanya."
Sinta mendongak, menatap mata Dean. Di balik tatapan robotik itu, ada kejujuran yang mutlak. Pria ini tidak sedang bermain trik atau mencoba merayunya. Dia benar-benar memberikan pilihan bebas pada Sinta tanpa ada paksaan patriarki sama sekali. Ada rasa lega yang luar biasa besar yang mendadak mengalir di dada Sinta.
Oke... di balik sifat kaku bin anehnya, dia ternyata cowok budiman yang tahu arti kata 'consent'. Nilai plus buat Pak Robot.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Dean. Kalau boleh... jujur, saya memang masih agak lelah dan butuh waktu untuk beradaptasi," jawab Sinta dengan nada selembut mungkin, padahal hatinya menari-nari girang.
Dean mengangguk paham. "Baik. Kita tunda untuk malam ini. Kamu bisa istirahat."
Dean berdiri dari kursinya, hendak berjalan menuju sisi ranjangnya yang lain. Namun, baru dua langkah, pria itu mendadak berhenti. Dia berbalik, menatap Sinta lagi dengan muka lempeng tanpa dosa.
"Tapi, Nona Sinta," kata Dean dengan suara beratnya yang mantap. "Saya harap kamu tidak menundanya terlalu lama."
Sinta mengerjap. "Eh?"
"Saya pria dewasa yang normal secara biologis," lanjut Dean dengan nada sekaku dosen statistik yang sedang menjelaskan rumus matematika dasar. "Fungsi reproduksi dan hormon saya berjalan dengan sangat baik dan sehat sesuai hasil medical check-up bulan lalu. Jadi, menunda terlalu lama tidak akan baik untuk efisiensi kesehatan saya. Tolong dipertimbangkan."
UHUK!
Sinta hampir tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot sempurna melihat punggung Dean yang sekarang dengan santai berjalan ke sisi ranjang, menarik selimut, dan merebahkan diri dengan posisi telentang sempurna—tangan bersedekep di atas perut, siap untuk tidur tepat waktu.
PRIA NORMAL?! SEHAT SESUAI MEDICAL CHECK-UP?! EFISIENSI KESEHATAN MATAMU, PAK DEAN! YA TUHAN, BISA-BISANYA DIA NGOMONGIN HAL MESUM DENGAN MUKA KAYAK LAGI PRESENTASI SAHAM RAKSASA!
Sinta buru-buru berdiri dan berlari kecil masuk ke kamar mandi sebelum mukanya matang karena menahan tawa sekaligus malu setengah mati. Pernikahan ini... sepertinya akan jauh lebih menguras emosi dan kewarasan daripada ujian komprehensif kedokteran yang paling horor sekalipun.
......................
Keesokan harinya, pukul 06.25 pagi.
Sinta sudah berdiri di area ruang makan penthouse dengan gaun rumahan sewarna pastel yang anggun. Di atas meja makan marmer, kepala pelayan sudah menyajikan menu sarapan: american breakfast berupa roti panggang, telur mata sapi, sosis, dan dua cangkir kopi hitam.
Tepat pukul 06.30, pintu kamar terbuka. Dean keluar dengan setelan kerja yang luar biasa rapi. Rambutnya sudah kembali klimis tanpa cela. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan angka yang sama dengan jam di dinding.
Sebagai gadis yang aslinya aktif dan tidak bisa diam, Sinta langsung berinisiatif menyapa duluan demi mencairkan suasana dingin di ruangan itu. Dia memasang senyum manis nan kalemnya. "Selamat pagi, Pak Dean."
Dean yang baru saja menarik kursi di ujung meja hanya melirik Sinta sekilas. "Pagi," jawabnya singkat. Suaranya berat, datar, tanpa intonasi.
Pria itu mulai memotong sosisnya dengan gerakan yang sangat rapi dan metodis. Tidak ada suara denting pisau yang berisik menabrak piring. Semuanya terukur.
Suasana langsung hening seperti kuburan. Sinta yang aslinya cerewet merasa tenggorokannya gatal kalau harus diam saja. Dia mencoba membuka obrolan lagi sambil menunjuk cangkir di dekat Dean. "Hmm, Pak Dean... kopinya mau ditambah gula? Atau susunya?"
Dean mengunyah makanannya, menelan, lalu menatap Sinta datar. "Tidak. Lebih efektif hitam polos. Terima kasih."
Lebih efektif hitam polos katanya? Singkat padat jelas ya, Pak Robot! Orang nanya baik-baik jawabnya kayak lagi ngisi kuesioner! Sinta mengelus dadanya di dalam hati, menahan kedutan di sudut bibirnya agar senyum anggunnya tidak runtuh.
Sinta tidak menyerah. Dia mencoba topik lain yang lebih umum tentang cuaca hari ini. "Oh ya, Pak Dean. Hari ini cuacanya agak mendung, ya. Apa perlu saya siapkan payung di mobil?"
Dean meminum kopinya sedikit, meletakkannya kembali tanpa suara. "Tidak usah. Sudah ada protokol standar di mobil."
PROTOKOL STANDAR PAYUNG?! BAHASAMU, PAK CEO!
Sinta langsung bungkam. Dia menunduk, menusuk sosisnya dengan garpu agak keras saking kesalnya. Sinta bukannya takut atau minder pada Dean. Sama sekali tidak. Dia diam karena menahan dongkol setengah mati!
Setiap kali dia mencoba bersikap ramah dan membuka obrolan normal, respon Dean selalu super singkat, kaku, dan seperlunya saja. Alhasil, sarapan pertama mereka sebagai suami istri pun berlanjut dalam keheningan yang hakiki sampai Dean selesai makan tepat waktu dan berangkat ke kantor.
...****************...
...----------------...
Aku usahakan sehari 1 BaB :v gk bisa kasih banyak2 dulu..
Parkha