Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Pintu Gerbang Harapan
Deru kendaraan kembali membelah keheningan kota Bandung yang telah berubah menjadi puing-puing ketakutan. Rafli tetap memimpin barisan paling depan dengan motor sportnya, matanya tak pernah lepas memindai setiap sudut jalan, setiap bangunan yang terlihat gelap, dan setiap bayangan yang bergerak sekecil apa pun. Di belakangnya, mobil yang dikemudikan Simon membawa sebagian rombongan, disusul truk militer yang dikendarai Danu—kini muatannya lebih penuh dengan kehadiran keluarga kecil yang baru saja mereka selamatkan.
Di dalam truk itu, suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar isak tangis tertahan dari anak kecil yang dipeluk erat ibunya. Natalia dan Mega duduk tak jauh dari mereka, menatap penuh rasa iba, namun tak ingin mengganggu momen itu. Andri dan Dokter Rizal sibuk memeriksa kembali bekal dan senjata yang mereka miliki, memastikan semuanya siap jika sewaktu-waktu bahaya datang kembali.
Danu sesekali melirik lewat kaca spion, sebelum akhirnya membuka suara pelan namun tegas. "Nama saya Danu. Orang ada di depan itu Rafli, yang menyetir mobil di depan adalah Simon, dan yang tadi memeriksa kalian adalah Aldo. Kami semua sama seperti kalian—terjebak di tengah kekacauan ini, berusaha bertahan hidup dan mencari tempat perlindungan."
Pria yang menjadi kepala keluarga itu menghela napas panjang, tangannya masih gemetar namun perlahan mulai tenang. "Saya Dimas, istri saya Wenda, dan ini anak kami yang paling besar, namanya Sheena. Sebelum semuanya berubah mengerikan seperti ini, kami tinggal tak jauh dari sini. Saat wabah mulai menyebar, kami sempat bersembunyi di dalam rumah, tapi akhirnya kami terpaksa keluar karena kehabisan makanan dan air. Kami pikir akan lebih aman jika bergerak mencari kerabat, tapi ternyata jalanan sudah penuh dengan mereka..." Suaranya terputus, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kami mengerti," sahut Natalia pelan, matanya berkaca-kaca mengingat betapa mengerikannya hari-hari awal wabah itu datang. "Kami juga hampir kehilangan harapan berkali-kali. Tapi selama kita masih saling menjaga, setidaknya kita tidak sendirian."
Wenda menatap Natalia dengan pandangan yang mulai lebih tenang, meski rasa takut masih membayangi matanya. "Terima kasih... terima kasih sudah menolong kami. Kalian tidak tahu betapa putus asanya kami saat mereka mulai mengepung tempat persembunyian kami."
"Kami melakukan apa yang seharusnya dilakukan sesama manusia," jawab Danu singkat. "Namun ingat, mulai sekarang kita harus bergerak lebih hati-hati. Bahaya tidak hanya datang dari mereka yang sudah berubah, tapi juga dari kelaparan, kelelahan, dan mungkin... orang lain yang sudah kehilangan kemanusiaannya."
Perjalanan berlanjut melewati jalanan yang semakin sepi. Di sisi jalan terlihat mobil-mobil yang ditinggal terburu-buru, pintu terbuka, barang-barang berceceran di aspal—seolah waktu berhenti tepat saat kekacauan itu meledak. Sesekali terlihat sosok-sosok mayat hidup yang berjalan tertatih di kejauhan, namun mereka tak berani mendekat saat mendengar deru mesin kendaraan yang kuat itu.
Setelah melaju cukup jauh, Danu memberi isyarat lewat lampu kedip agar Rafli berhenti sejenak di sebuah tempat yang agak terbuka namun terlindungi oleh pepohonan rindang. "Kita istirahat sebentar. Periksa kondisi kendaraan, bagi air minum secukupnya, dan jangan menjauh dari rombongan," perintahnya saat mereka semua berkumpul sejenak.
Rafli segera memeriksa kondisi motornya, sementara Simon dan Aldo mengecek ban serta mesin kendaraan. Dokter Rizal memeriksa kembali kondisi Dimas, Wenda, dan Sheena, memastikan tidak ada cedera tersembunyi meski tak ada bekas gigitan. Mega membantu membagi sisa makanan yang mereka miliki—potongan biskuit dan sedikit nasi yang masih tersimpan rapi.
"Kalian pasti sudah lama tidak makan," ucap Mega sambil menyodorkan jatahnya kepada Sheena yang masih terlihat ketakutan. Anak itu menatap ibunya, dan setelah mendapat anggukan izin, ia menerimanya dengan senyum tipis yang pertama kali terlihat sejak mereka bertemu.
"Kita masih punya perjalanan cukup jauh menuju rumahku," ucap Aldo sambil memandangi peta yang sudah agak kusut. "Letaknya dekat dengan Savana Cihideung dan masih membutuhkan satu jam lagi ke sana... di sana... semoga aman."
"Aku berharap di sana benar-benar aman," gumam Jodie pelan. "Aku sudah cukup muak melihat tempat yang seharusnya jadi harapan, malah berubah menjadi kuburan."
"Kita tidak bisa hanya berharap," tegas Danu. "Kita harus menjadikannya aman. Kita berbagi tugas, saling menjaga, dan tidak membiarkan rasa takut menguasai kita."
Saat mereka bersiap kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun dari arah perbukitan tak jauh dari sana. Semua serentak terdiam, tangan mereka mencengkeram senjata masing-masing. Rafli segera menaiki motornya, mematikan mesin agar tidak mengeluarkan suara, dan memeriksa sekeliling dengan pandangan tajam.
"Siapa yang menembak?" tanya Wenda dengan suara gemetar, merangkul Sheena semakin erat.
"Bisa jadi orang yang masih bertahan hidup seperti kita," jawab Rafli pelan. "Tapi bisa juga orang yang sudah gila dan menganggap siapa saja sebagai ancaman."
"Kita tidak bisa diam di sini," kata Danu. "Suara itu pasti akan memancing kawanan zombie berkumpul ke sana. Kita harus segera menjauh, tapi tetap waspada."
Mereka kembali masuk ke dalam kendaraan, kali ini dengan perasaan yang semakin tegang. Rafli memacu motornya sedikit lebih cepat, namun tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan di belakangnya. Jalanan mulai menanjak, melewati perumahan yang kini tampak sunyi senyap, jendela-jendela pecah, dan pintu yang menganga kosong.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di Lembang. Rumah Aldo berada tak jauh dari Savana Cihideung—tempat yang biasanya sejuk dan indah di sore hari, namun kini kesunyiannya terasa berbeda. Motor Rafli terhenti bersamaan dengan mobil Simon dan truk Danu. Di hadapan mereka, jalan tertutup benteng tinggi yang tampak kokoh, dijaga ketat di setiap sisinya.
Aldo segera turun dari kendaraan, matanya tak lepas menatap ke arah dalam, tempat rumahnya berdiri di balik pagar raksasa yang kini diperkuat tembok tinggi.
"Mereka membentuk barisan pertahanan... mengubah rumah menjadi benteng agar lebih aman daripada di luar," ucap Andri kagum sekaligus haru.
"Benar sekali, Andri. Lihat ke sana, ada penjagaan yang bergerak. Sepertinya mereka menyadari kehadiran kita," tambah Dokter Rizal.
"Warga di sini benar-benar bersatu," sahut Mega pelan. "Begitu wabah datang, mereka langsung bekerja sama membangun perlindungan ini."
"Dan sistem keamanannya sangat ketat sekali," timpal Natalia, matanya memindai setiap sudut pengawasan.
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, gerbang besar itu perlahan terbuka. Seorang pria keluar dengan senjata tergenggam erat, menatap tajam ke arah rombongan Danu.
"Siapa kalian?!" suaranya lantang dan penuh kewaspadaan.
Rafli, Danu, dan Aldo maju selangkah mendekat.
"Kami sekelompok penyintas yang sedang mencari tempat aman," jawab Rafli tenang sambil menunjuk ke arah Aldo. "Dan dia ingin bertemu keluarganya yang tinggal di dalam sana."
"Benar," sambung Aldo mantap. "Istriku bernama Anna, rumah kami ada di dalam benteng ini."
Pria itu menatap mereka satu per satu, mengamati setiap gerak-gerik, memastikan tak ada tanda-tanda infeksi. "Kami tidak sembarangan mengizinkan orang masuk. Kami harus memeriksa kalian semua, memastikan tidak ada yang terinfeksi, dan memastikan kalian tidak membawa masalah bagi kami yang sudah menetap di sini."
"Kami mengerti," jawab Aldo singkat namun tegas.
Suasana menegang sejenak, seolah satu gerakan salah bisa memicu pertikaian. Namun akhirnya pria itu mengangguk pelan. "Baik. Kalian boleh masuk, tapi kalian harus mematuhi segala aturan yang berlaku di sini. Siapa pun yang melanggar, akan langsung diusir kembali ke luar sana."
"Dan kamu... Aldo, benar?" tanyanya sekali lagi. Aldo mengangguk mantap.
"Aku akan mengantarkan mu menemui istrimu."
"Terima kasih banyak..."
Gerbang tinggi itu terbuka lebar, menampakkan jalan setapak rapi yang dikelilingi pepohonan menuju rumah-rumah yang kini menjadi satu kesatuan perlindungan. Bagi rombongan Danu, ini bukan sekadar tempat berteduh—melainkan pintu gerbang harapan yang selama ini mereka cari, tempat di mana mereka mungkin bisa berhenti lari dan mulai menyusun kembali sisa kehidupan yang masih ada.
Beberapa pasang mata menatap mereka dengan curiga, tangan masih mencengkeram senjata sederhana. Namun sikap dingin itu perlahan melembut saat pandangan mereka jatuh pada Sheena—gadis kecil yang masih meringkuk di pelukan ibunya, menatap sekeliling dengan mata basah namun mulai berani melirik perlahan.
Keheningan yang mencekam perlahan mencair. Di tengah dunia yang kehilangan banyak kemanusiaannya, kehadiran seorang anak menjadi pengingat bahwa kasih sayang dan kebaikan belum sepenuhnya musnah. Penjaga yang tadi begitu tegas pun menghela napas panjang, memberi isyarat agar mereka masuk.
"Ikut saya," ucapnya kini dengan nada lebih rendah. "Perkenalkan, saya Rio. Maaf jika sikap kami terasa kasar, tapi ini demi keamanan kita semua. Untuk sementara, serahkan senjata kalian di sini."
"Baiklah," jawab Danu, lalu memberi isyarat pada yang lain untuk meletakkan senjata di tempat yang ditunjuk Rio.
"Terima kasih. Nanti tempat istirahat kalian akan diatur oleh rekan saya. Istirahatlah dulu."
"Maaf sebelumnya," potong Natalia pelan. "Kami sebenarnya tidak berniat tinggal lama di sini."
Rio menoleh padanya, kening berkerut heran. "Kenapa? Apakah tempat ini tidak sesuai harapan kalian?"
"Bukan begitu," sahut Mega cepat. "Hanya saja kami sudah terbiasa bergerak, berpindah tempat demi keselamatan."
"Sayang sekali... tapi di sini jauh lebih aman daripada terus berjalan di luar sana," ucap Rio menatap mereka satu per satu. Danu yang menyadari kegelisahan Natalia, mengajaknya menjauh sejenak.
"Ada apa, Nat? Kenapa kau seakan ingin segera pergi dari sini?" bisiknya pelan.
Natalia menghela napas panjang, menatap lekat mata Danu. "Perasaanku... perasaanku berkata kita tidak seharusnya masuk ke sini."
"Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi setidaknya istirahatlah dulu, kita coba bertahan di sini sebentar."
"Aku akan mencobanya... tapi jika ada sesuatu yang salah, kita harus siap pergi kapan saja." Danu hanya mengangguk dan menepuk bahunya pelan, lalu kembali bergabung dengan yang lain.
Aldo berjalan di barisan paling depan, jantungnya berdegup tak menentu. Setiap langkah terasa begitu panjang, pikirannya hanya terisi wajah Anna. Ia tak tahu apakah istrinya masih baik-baik saja, apakah ia masih menunggu, atau apakah semuanya sudah terlambat. Namun harapan yang ia pegang selama perjalanan tak pernah pudar.
Saat mereka tiba di sebuah rumah yang tampak lebih terawat di tengah kompleks, sosok wanita yang ia rindukan sedang berdiri di beranda menatap cemas ke arah gerbang. Saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti berputar.
"Anna..." panggil Aldo lirih, suaranya tercekat.
Wanita itu terpaku sejenak, tak percaya pada apa yang ia lihat. Dalam sekejap ia berlari turun dan menghambur ke pelukan suaminya. Tangis haru pecah, melepas segala rindu, takut, dan putus asa yang mereka rasakan selama berpisah.
"Kau hidup... kau benar-benar hidup..." isak Anna erat memeluknya.
"Aku di sini sayang... aku sudah kembali," jawab Aldo dengan mata berkaca-kaca, membalas pelukan itu seakan tak ingin melepaskannya lagi.
Menyaksikan momen itu, semua yang hadir ikut menahan haru. Natalia mengusap air mata yang jatuh, sementara Rafli tersenyum tipis memandang hamparan hijau di kejauhan. Di tengah dunia yang hancur, setidaknya satu hal masih utuh: cinta yang tak terpisahkan oleh maut maupun kekacauan.
Danu menarik napas panjang, merasa sedikit lega. Bahaya mungkin masih mengintai di luar sana, dan perjalanan ini belum tentu berakhir di sini. Namun untuk saat ini, di balik benteng yang menjaga harapan itu, mereka akhirnya bisa berhenti sejenak, bernapas lega, dan percaya bahwa selama mereka tetap bersatu, masih ada alasan untuk terus bertahan.
Bersambung