NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Harga Sebuah Celah

Tangan raksasa berbahan darah kental itu turun, membawa tekanan yang membuat udara di sekitarnya mendesis dan terbakar. Bau amis yang menyengat langsung memenuhi paru-paru Lin Tian, membuatnya nyaris tersedak.

Mo Cang tidak mundur.

Pria tua itu menghentakkan kaki, dan qi berwarna perak murni meledak dari tubuhnya seperti gunung berapi yang terbangun. Cahaya perak itu membentuk kubah pelindung di atas mereka, menahan tangan darah yang menghantam dengan kekuatan yang cukup untuk meratakan sebuah gunung kecil.

Boom!

Benturan kedua energi itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu jalanan. Batu-batu paving terangkat dan hancur menjadi debu. Lin Tian terpental ke belakang, punggungnya menabrak dinding batu hingga ia batuk memuntahkan darah segar.

"Kakek!" teriak Lin Tian, memaksakan diri untuk bangkit.

Ia melihat Mo Cang berdiri tegak, tetapi jubah abu-abunya kini terkoyak di beberapa bagian. Darah segar merembes dari sudut bibir pria tua itu, menetes jatuh ke tanah yang retak.

Zhao Yan tertawa dari atas tumpukan mayat. Suara tawanya bercampur dengan suara tulang-belulang yang bergesekan di bawah kakinya.

"Formasi Darah Naga Menelan Langit. Kau pikir satu ledakan qi bisa menembusnya, Mo Cang? Puluhan tahun lalu kau lari dari sektemu karena dituduh mencuri teknik terlarang. Malam ini, kau akan mati sebagai pengkhianat yang melindungi sampah!"

Mo Cang menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menatap Zhao Yan dengan kebencian yang dingin.

"Kalian dari Istana Langit Hitam selalu sama. Membunuh, memfitnah, dan bersembunyi di balik topeng kebesaran," suara Mo Cang bergema, memotong tawa Zhao Yan. "Kau pikir formasi busuk ini bisa menahanku?"

"Buktikan saja!" Zhao Yan merentangkan kedua tangannya.

Tumpukan mayat di bawahnya tiba-tiba bergerak. Ratusan tangan pucat dan hangus meraih ke udara, mencengkeram kaki dan jubah Zhao Yan. Darah dari mayat-mayat itu tersedot masuk ke dalam tubuh Zhao Yan, membuat auranya membengkak hingga batas yang tidak wajar.

Langit merah di atas mereka bergemuruh. Hujan darah mulai turun, mendesis saat menyentuh kubah perak Mo Cang.

Lin Tian mencengkeram pedang beracunnya erat-erat. Ia ingin membantu, tetapi ia tahu tingkat kultivasinya saat ini bahkan tidak cukup untuk mendekati pusaran energi kedua monster itu. Ia hanya akan menjadi beban yang memperlambat gerakan gurunya.

Rasa tidak berdaya itu menusuk dadanya, lebih menyakitkan dari tulang rusuknya yang patah.

"Kakek, biarkan aku membantu!" Lin Tian berteriak, memaksa qi liarnya mengalir ke kaki untuk melompat.

"Tetap di tempatmu!" bentak Mo Cang tanpa menoleh. "Fokuskan qi-mu ke titik meridian Tiantu di lehermu! Jangan biarkan aura darah itu menyusup ke kepalamu!"

Lin Tian menggigit bibir dan mematuhi perintah itu. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan energi hangat mengalir ke lehernya, membentuk benteng tipis yang menghalangi hawa dingin dari hujan darah yang mulai merusak pikirannya.

Ketika ia membuka mata kembali, situasi telah berubah drastis.

Zhao Yan telah turun dari tumpukan mayat. Pedang hitam panjang kini berada di genggamannya, memancarkan aura yang membuat ruang di sekitarnya tampak terdistorsi. Setiap tebasan pedang itu meninggalkan jejak hitam di udara, seolah membelah realitas itu sendiri.

Mo Cang menyambut serangan itu dengan tangan kosong.

Qi perak di lengannya memadat, membentuk sarung tangan cahaya yang berbenturan langsung dengan bilah hitam. Percikan api berwarna merah dan perak meledak di setiap benturan, menerangi gang yang gelap dengan cahaya yang menyilaukan.

Kecepatan mereka tidak bisa lagi diikuti oleh mata biasa Lin Tian. Ia hanya melihat bayangan abu-abu dan hitam yang saling bertabrakan, diiringi suara ledakan yang membuat gendang telinganya berdenging sakit.

Namun, Lin Tian memperhatikan satu hal yang membuatnya ketakutan.

Setiap kali Mo Cang menangkis, napas pria tua itu menjadi sedikit lebih berat. Dan yang lebih buruk, urat-urat merah dari formasi darah di sekeliling mereka perlahan-lahan merayap mendekati kaki Mo Cang, mencoba mengikatnya ke tanah.

Zhao Yan tidak berjuang sendirian. Ia menggunakan seluruh nyawa warga Kota Qingshui sebagai baterai untuk menguras tenaga Mo Cang secara perlahan.

"Kau sudah terlalu tua, Mo Cang!" ejek Zhao Yan, menebaskan pedangnya yang menciptakan sabit hitam raksasa. "Dan fondasimu sudah rusak sejak kau diusir dari Lembah Naga! Kau tidak bisa melindungiku dan menghancurkan formasi ini secara bersamaan!"

Sabit hitam itu membelah kubah perak.

Mo Cang terhuyung mundur. Tiga luka dalam muncul di dadanya, memancarkan darah yang langsung menguap saat terkena aura merah di udara.

Lin Tian merasa jantungnya berhenti berdetak. "Kakek!"

Mo Cang menoleh. Tatapan mata pria tua itu bertemu dengan mata Lin Tian. Tidak ada keputusasaan di sana. Hanya ada ketenangan yang menyedihkan, seperti seorang ayah yang menatap anaknya untuk terakhir kali.

"Tian'er," suara Mo Cang terdengar jelas di telinga Lin Tian, meskipun jarak mereka puluhan meter dan dipenuhi suara ledakan. Itu adalah transmisi suara qi. "Dengarkan baik-baik. Formasi ini memiliki titik buta di arah barat laut, tepat di bawah patung dewa kota. Pergilah ke sana."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Lin Tian berteriak, air mata bercampur darah menetes dari pelipisnya.

"Kau bersumpah akan membunuh mereka, bukan?" suara Mo Cang menajam, membawa tekanan yang memaksa Lin Tian untuk tidak membantah. "Jika kau mati di sini, sumpahmu hanya omong kosong! Pergilah, atau pengorbananku malam ini akan sia-sia!"

Sebelum Lin Tian sempat bereaksi, Mo Cang membalikkan tubuhnya dan menghadapi Zhao Yan.

Pria tua itu tidak lagi bertahan. Ia mengumpulkan seluruh qi perak yang tersisa di dantiannya, memaksanya keluar hingga pembuluh darah di lehernya menonjol dan pecah, memancarkan kabut darah tipis.

"Teknik Terlarang: Naga Perak Menelan Bintang!"

Cahaya perak yang menyilaukan meledak dari tubuh Mo Cang, membentuk wujud naga raksasa yang menerjang langsung ke arah Zhao Yan dan inti formasi darah. Ledakan itu begitu terang hingga mengubah malam menjadi siang selama beberapa detik.

Zhao Yan berteriak panik, mengangkat pedangnya untuk bertahan.

Gelombang kejut dari benturan itu menyapu segala sesuatu di depannya. Lin Tian merasa tubuhnya terangkat dari tanah, terhempas ke udara seperti daun kering di tengah badai.

Ia terbang melewati atap-atap rumah yang runtuh, melewati jalanan yang penuh dengan mayat, hingga akhirnya menabrak sebuah altar batu tua di sudut barat laut kota.

Tulang bahunya berbunyi retak. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya nyaris pingsan.

Dengan sisa kesadarannya, Lin Tian memaksakan diri untuk membuka mata dan menatap ke arah pusat kota.

Cahaya perak itu telah padam.

Di tengah reruntuhan, Zhao Yan masih berdiri, meskipun separuh lengan kirinya telah hancur dan wajahnya pucat pasi. Namun, di kaki Zhao Yan, tubuh Mo Cang terbaring kaku dengan dada yang berlubang besar.

Zhao Yan mengangkat kaki kanannya, dan menginjak kepala Mo Cang hingga hancur.

Lin Tian tidak berteriak.

Ia hanya menatap pemandangan itu, membiarkan gambar kepala gurunya yang hancur terpatri permanen di dalam otaknya. Darah di dantiannya yang baru terbuka mulai mendidih, berubah dari warna perak hangat menjadi hitam pekat yang memancarkan hawa membunuh yang nyata.

Namun, sebelum ia bisa bangkit, sebuah tangan dingin tiba-tiba mencengkeram pergelangan kakinya dari balik bayangan altar.

"Akhirnya... aku menemukanmu, bocah pembawa segel," bisik sebuah suara wanita yang terdengar seperti gesekan kuku di atas batu nisan.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!