NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Hard Disk Warisan

"Ibu, apa sebenarnya yang Ayah tinggalkan?"

Tidak ada yang menjawab.

Ruang kerja rumah aman itu hanya dipenuhi suara kipas laptop dan detak jam dinding. Di layar, folder-folder terenkripsi terbuka seperti pintu yang lama dikunci dari dalam.

Offshore Accounts.

Holding Documents.

Bagaskara Investigation.

Restricted.

Arya tidak langsung membuka semuanya. Ia menyalin seluruh isi USB ke sistem offline yang sudah disiapkan Pak Satria, memutus koneksi internet, lalu menjalankan pemeriksaan malware. Kebiasaan lama dari operasi lapangan mengajarinya satu hal: hadiah yang terlalu berharga sering membawa pisau di dalamnya.

Hasil pemindaian bersih, tetapi struktur enkripsinya tidak biasa.

Setiap folder memiliki lapisan kunci berbeda. Beberapa memakai frasa keluarga. Beberapa memakai tanggal yang hanya mungkin diketahui Bagaskara dan Lestari. Beberapa lain menggunakan pola kriptografi yang lebih mirip milik lembaga intelijen daripada perusahaan keluarga.

"Ibu bukan sekadar ilmuwan," gumam Arya.

Ia membuka Offshore Accounts lebih dulu.

Nama-nama bank muncul: Singapura, Swiss, Dubai, Hong Kong, Kepulauan Cayman. Bukan rekening tunggal, melainkan jaringan rekening kustodian, nominee, dan trust yang disusun berlapis. Di samping setiap entri ada nilai, tanggal pembukaan, penerima manfaat, serta kode akses darurat.

Angkanya membuat Arya berhenti bernapas beberapa detik.

Prima Investment Corp. yang bernilai lebih dari empat puluh triliun rupiah tiba-tiba terasa seperti laci kecil dibanding gudang.

Ratusan triliun.

Tidak semua cair. Sebagian berupa saham, instrumen utang, opsi pembelian, dan deposito jangka panjang. Tetapi semuanya nyata. Semuanya dapat dilacak. Semuanya disiapkan bukan untuk pamer, melainkan untuk perang panjang.

Arya membuka folder kedua.

Holding Documents.

Di sana ada dokumen kepemilikan rahasia atas perusahaan tambang nikel di Sulawesi, konsesi batu bara di Kalimantan, saham minoritas perusahaan energi terbarukan di Singapura, dan paten teknologi baterai yang tersembunyi di balik perusahaan riset kecil di Eropa.

Setiap dokumen dilengkapi jalur legal: akta nominee, beneficial ownership note, perjanjian opsi beli, dan daftar pengacara yang menyimpan salinan asli. Bagaskara tidak menaruh aset seperti orang panik menyembunyikan uang. Ia menyusunnya seperti jenderal menaruh pasukan cadangan di beberapa bukit. Jika satu jalur ditutup, jalur lain tetap hidup.

Arya mencatat tiga nama firma hukum Singapura dan satu kantor akuntan di Zurich. Semua memiliki kode kontak darurat. Tidak satu pun pernah disebut Prabu dalam rapat keluarga.

Bagaskara tidak hanya menyimpan uang.

Ia membangun peta.

Peta kekuasaan yang tidak terhubung langsung ke nama Suryanegara, tetapi cukup besar untuk mengguncang banyak keluarga konglomerat jika dipakai pada waktu tepat.

Menjelang subuh, Arya membuka Bagaskara Investigation.

Folder itu tidak berisi uang.

Isinya jauh lebih berbahaya.

Memo rapat lama. Foto pertemuan tertutup. Alur transfer dana cabang keluarga. Nama-nama perusahaan cangkang yang diduga dipakai untuk mengalihkan aset. Beberapa catatan menandai cabang tertentu dengan warna merah. Di paling atas ada satu nama yang terus muncul.

Prabu Suryanegara.

Tidak ada tuduhan final. Bagaskara terlalu rapi untuk menulis kesimpulan tanpa bukti. Namun pola yang ia susun jelas: aset keluarga menghilang dari pembukuan resmi, lalu muncul kembali melalui jaringan perusahaan yang dekat dengan orang-orang Prabu.

Di bagian akhir folder, ada file audio pendek.

Arya memutarnya.

Suara Bagaskara terdengar rendah, sedikit serak.

"Jika Arya menemukan ini, berarti aku gagal pulang tepat waktu. Jangan percaya keputusan Dewan Tetua sebelum memeriksa aliran dana. Jangan hadapi Prabu hanya dengan amarah. Dia tidak takut pada amarah. Dia takut pada bukti."

Arya memejamkan mata.

Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar suara ayahnya sejelas itu.

Ketika matahari mulai naik, Pak Satria mengetuk pintu.

"Tuan Muda?"

"Masuk."

Pria tua itu membawa kopi dan berhenti saat melihat layar. "Anda sudah membuka?"

"Sebagian."

Pak Satria membaca beberapa baris, lalu wajahnya berubah. "Ini... lebih besar dari yang saya bayangkan."

"Ayah menyiapkan perang yang tidak sempat ia selesaikan."

"Dan Nyonya Lestari menyimpannya untuk Anda."

Arya menatap folder Restricted yang masih terkunci. "Lapisan terakhir belum terbuka. Enkripsinya bukan buatan perusahaan. Ini seperti sistem intelijen."

"BIN?"

"Mungkin. Atau seseorang yang pernah bekerja dengan mereka."

Pak Satria menghela napas. "Rumah aman ini tidak cukup."

"Aku tahu."

Siang itu, Arya pindah ke villa di kawasan bukit pinggir Kota Awan, tempat yang dulu dibeli melalui nama perusahaan kecil dan tidak pernah dikaitkan dengan dirinya. Villa itu berdiri di lereng hijau, dikelilingi pagar, pepohonan, dan sistem CCTV inframerah. Dari balkon, Kota Awan terlihat seperti hamparan kaca di bawah kabut.

Pak Satria membawa dua tim keamanan kecil. Eko memasang ulang akses biometrik. Server offline dipindahkan ke ruang kerja bawah tanah.

Villa itu diberi nama internal Rumah Bukit. Tidak muncul di peta publik sebagai milik Arya. Catatan listriknya atas nama perusahaan properti kecil, akses jalannya melalui dua gerbang berbeda, dan ruang bawah tanahnya pernah dirancang sebagai ruang arsip tahan api. Bukan tempat mewah untuk beristirahat, melainkan pangkalan yang kebetulan indah.

"Mulai malam ini, semua perangkat masuk mode tertutup," kata Arya pada Eko. "Tidak ada Wi-Fi terbuka, tidak ada staf baru, tidak ada pengiriman tanpa pemeriksaan manual."

Eko mengangguk. "Siap, Pak."

"Semua rekaman cadangan simpan offline. Kalau ada yang masuk, aku ingin tahu sebelum mereka menyentuh pintu."

Malamnya, Arya duduk di ruang kerja villa, membuka peta tambang dari folder Holding Documents. Salah satu laporan geologi menarik perhatiannya: jalur batu mulia di daerah tua yang beberapa sampelnya masuk ke pasar Kota Awan melalui pelelangan tahunan.

Catatan Bagaskara di samping file itu sederhana:

Nilai asli sering disembunyikan oleh mata yang tidak tahu membaca asal batu.

Arya menyandarkan punggung.

Untuk pertama kalinya sejak membuka hard disk, ia tersenyum.

Ini bukan hanya warisan.

Ini senjata.

Alarm villa tiba-tiba berbunyi pelan, bukan sirene keras, melainkan tiga getaran pendek dari tablet keamanan.

Eko muncul di layar interkom. "Pak Arya, perimeter timur bergerak."

Arya membuka feed inframerah.

Satu bayangan.

Dua.

Lima.

Delapan.

Mereka bergerak menyebar di antara pepohonan, terlalu rapi untuk pencuri biasa. Jarak antarorang terukur. Sudut masuk saling menutup. Beberapa membawa tas panjang. Satu orang di depan memakai pola gerak yang sangat tenang.

Arya memperbesar gambar.

"Bukan polisi," kata Eko dari interkom.

"Bukan."

Pak Satria berdiri di belakang Arya, wajahnya mengeras. "Orang Prabu?"

Arya menutup folder hard disk, lalu mengunci laptop.

"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku."

Di layar, bayangan terdepan mengangkat tangan, memberi aba-aba tanpa suara.

Arya mengambil pistol non-lethal launcher dari laci keamanan dan mematikan lampu ruang kerja.

"Jangan bunuh siapa pun," katanya. "Aku butuh salah satu dari mereka bicara."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!