NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 Kepergian yang Baru Kupahami

Waktu terus berjalan dan hari-hariku mulai dipenuhi dengan kegiatan sekolah, belajar, serta bermain bersama teman-teman. Aku mulai menikmati kehidupanku sebagai seorang murid sekolah dasar. Setiap pagi aku berangkat dengan penuh semangat, lalu pulang membawa cerita-cerita kecil yang ingin kubagikan kepada keluarga. Saat itu aku merasa bahwa kehidupanku mulai berjalan seperti anak-anak lainnya, dengan hari-hari sederhana yang dipenuhi kebahagiaan.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Saat aku duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, sebuah pagi yang tidak pernah kulupakan datang

menghampiri.

Sejak matahari belum terlalu tinggi, aku melihat rumah ibu tiriku yang berada tidak jauh dari rumah Ibu mulai dipenuhi oleh banyak orang. Rumah itu adalah tempat Ayah tinggal selama beliau sakit. Orang-orang datang silih berganti dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Tidak ada suasana ramai seperti ketika orang-orang berkumpul dalam kebahagiaan. Yang terlihat hanya wajah-wajah muram dan tatapan penuh kesedihan.

Aku berdiri bersama kedua adikku yang saat itu masih kecil di depan rumah sambil memperhatikan orang-orang yang keluar masuk rumah tersebut. Sebagai seorang anak kecil, aku belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku hanya merasa heran mengapa banyak orang datang, tetapi suasananya terasa begitu berbeda.

Di antara orang-orang yang berada di sana, aku melihat Ucaluna duduk tidak jauh dariku. Ia hanya memandangi tanah sambil memainkan batu kecil yang ada di tangannya. Wajahnya terlihat lebih diam dari biasanya, sehingga membuatku merasa ada sesuatu yang tidak biasa.

Aku kemudian menghampiri Ucaluna.

"Ucaluna, kenapa di sana ramai sekali?" tanyaku.

Ucaluna tidak langsung menjawab. Ia tetap diam

sambil melihat ke arah tanah.

Karena rasa penasaran yang semakin besar, aku kembali bertanya,

"Ucaluna... memangnya ada apa?"

Beberapa kali aku mengulang pertanyaan yang sama hingga akhirnya Ucaluna menarik napas panjang. Ia kemudian menatapku dan berkata dengan suara pelan,

"Hitas... Ayah sudah pergi meninggalkan kita."

Aku hanya menatap wajah Ucaluna tanpa memahami maksud dari perkataannya. Saat itu pikiranku masih seperti anak kecil pada umumnya. Bagiku, kata pergi berarti seseorang sedang meninggalkan tempatnya untuk sementara waktu dan suatu hari nanti akan kembali lagi. Aku belum mengerti mengapa semua orang terlihat begitu sedih, dan aku juga belum memahami mengapa kepergian Ayah membuat rumah tersebut dipenuhi banyak orang.

Karena rasa ingin tahu yang terus muncul dalam pikiranku, aku berjalan menuju rumah ibu tiriku untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Ketika masuk ke dalam rumah, aku melihat Ayah sedang terbaring diam dengan tubuh yang telah diselimuti kain putih. Di sekelilingnya banyak orang menangis, sementara suara isak tangis memenuhi ruangan.

Aku berdiri sambil memandang wajah Ayah cukup lama. Saat itu aku masih berharap beliau akan membuka mata, memanggil namaku, atau tersenyum kepadaku seperti biasanya. Namun, Ayah hanya diam, dan aku belum mampu memahami bahwa keadaan tersebut berbeda dari ketika beliau sedang sakit.

Melihat orang-orang di sekelilingku menangis, aku pun ikut menangis. Bukan karena aku sudah memahami arti kehilangan, tetapi karena aku melihat kesedihan yang dirasakan oleh orang-orang yang kusayangi. Sebagai seorang anak kecil, aku hanya mampu merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi, meskipun aku belum tahu apa sebenarnya makna dari peristiwa tersebut.

Menjelang sore, tubuh Ayah kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam sebuah keranda. Banyak orang membantu membawa beliau menuju pemakaman. Ketika rombongan mulai berjalan meninggalkan rumah, seseorang memanggil namaku.

"Hitas... ikut bersama kami mengantar Ayah."

Aku mengikuti langkah orang-orang dewasa yang berjalan perlahan menuju pemakaman. Aku tidak bertanya apa maksud dari perkataan tersebut, karena saat itu aku hanya mengikuti mereka tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Dalam pikiranku yang masih kecil, aku hanya merasa bahwa Ayah sedang dibawa ke suatu tempat.

Sesampainya di pemakaman, aku melihat sebuah liang telah digali. Aku berdiri sambil memperhatikan proses yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Perlahan tubuh Ayah diturunkan ke dalam liang tersebut, kemudian tanah mulai menutupi tempat itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya Ayah tidak lagi terlihat.

Aku masih berdiri memperhatikan semuanya, meskipun saat itu aku belum memahami bahwa aku sedang menyaksikan perpisahan terakhirku dengan Ayah. Ketika proses pemakaman selesai, orang-orang mulai berjalan pulang dan aku pun mengikuti mereka. Namun, beberapa kali aku menoleh ke belakang, memandang tempat di mana Ayah baru saja dimakamkan.

Dalam hati kecilku muncul sebuah pertanyaan yang sampai sekarang masih kuingat,

"Kenapa Ayah ditinggalkan sendirian di sana?"

Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan itu.

Hari itu aku belum memahami bahwa kepergian Ayah adalah sebuah perpisahan yang tidak akan pernah diikuti oleh pertemuan kembali. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti kehilangan, tetapi kejadian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupku yang perlahan membentuk diriku hingga dewasa.

Hari-hari setelah kepergian Ayah berjalan dengan suasana yang berbeda. Meskipun saat itu aku belum sepenuhnya memahami apa arti kehilangan, aku mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam kehidupanku. Aku masih tetap bermain bersama teman-teman, masih pergi ke sekolah, dan masih menjalani hari-hari sebagai seorang anak kecil, tetapi ada satu sosok yang perlahan mulai tidak lagi kutemui seperti sebelumnya.

Aku masih sering berharap Ayah akan kembali pulang.

Dalam pikiranku yang masih sederhana, Ayah mungkin hanya sedang pergi ke suatu tempat. Aku belum mengerti bahwa ada jenis kepergian yang tidak akan membawa seseorang kembali ke rumah.

Beberapa hari setelah pemakaman Ayah, rumah ibu tiriku kembali dipenuhi oleh banyak orang. Sejak pagi, para tetangga mulai berdatangan. Para ibu sibuk menyiapkan makanan di dapur, sementara para bapak membantu mempersiapkan tempat untuk berkumpul. Berbagai macam hidangan dan kue tersusun di atas meja, membuat rumah itu terlihat ramai seperti sedang mengadakan sebuah acara besar.

Sebagai seorang anak kecil, aku hanya memperhatikan semua yang terjadi dengan rasa penasaran. Aku melihat banyak orang datang, melihat makanan yang begitu banyak, dan melihat orang-orang duduk bersama. Saat itu aku belum mengetahui bahwa mereka berkumpul bukan untuk sebuah pesta, melainkan untuk mendoakan Ayah yang telah pergi.

Beberapa hari kemudian, suasana yang sama kembali terjadi. Pada hari ketujuh, rumah itu kembali dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk berdoa. Begitu juga ketika hari keempat puluh dan hari keseratus tiba. Setiap kali acara tersebut berlangsung, aku selalu melihat banyak orang berkumpul, makanan disiapkan, dan doa-doa dipanjatkan.

Namun, dari semua hal yang kulihat, ada satu hal yang selalu membuatku bertanya-tanya.

Aku tidak pernah lagi melihat Ayah.

Awalnya aku masih percaya bahwa Ayah hanya sedang pergi jauh. Aku membayangkan suatu hari nanti beliau akan kembali pulang, berjalan masuk ke rumah, lalu memanggil namaku seperti biasanya. Aku tidak tahu bahwa harapan kecil itu sebenarnya adalah cara seorang anak mencoba memahami sesuatu yang terlalu berat untuk diterima.

Hingga suatu sore, ketika aku sedang bermain bersama teman-temanku di sekitar rumah, sebuah percakapan sederhana membuatku mulai memahami kenyataan yang selama ini belum mampu kupahami.

Salah seorang temanku bertanya kepadaku,

"Hitas, kenapa ayahmu tidak pernah pulang?"

Aku hanya diam. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu, karena dalam pikiranku Ayah memang sedang pergi dan mungkin akan kembali suatu hari nanti.

Melihat aku tidak menjawab, mereka saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka berkata dengan suara pelan,

"Orang yang sudah meninggal tidak akan pulang lagi."

Aku terdiam mendengar kalimat itu.

Saat itu aku mulai mencoba memahami arti dari perkataan tersebut. Perlahan, ingatanku kembali kepada kejadian beberapa waktu sebelumnya. Aku teringat ketika melihat Ayah terbaring dengan kain putih yang menyelimuti tubuhnya, teringat banyak orang menangis di sekelilingnya, teringat keranda yang dibawa menuju pemakaman, dan teringat tanah yang perlahan menutupi tempat Ayah terakhir kali berada.

Semua kenangan itu kembali memenuhi pikiranku.

Barulah saat itu aku mulai memahami bahwa Ayah benar-benar telah pergi.

Ayah bukan sedang bekerja.

Ayah bukan sedang bepergian.

Ayah tidak akan kembali pulang seperti yang selama ini kuharapkan.

Air mataku perlahan jatuh. Bukan karena aku baru kehilangan Ayah pada hari itu, tetapi karena pada hari itulah aku mulai memahami arti kehilangan yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa ada seseorang yang sangat kusayangi, tetapi tidak akan pernah lagi bisa kupanggil atau kutemui seperti sebelumnya.

Sejak saat itu, setiap kali aku melewati pemakaman, pikiranku selalu kembali kepada Ayah. Aku sering bertanya dalam hati apakah Ayah bisa melihatku tumbuh besar, apakah Ayah tahu bahwa aku mulai bersekolah, belajar membaca, dan menulis. Aku juga sering bertanya apakah Ayah akan bangga melihat anak kecilnya yang dulu masih tidak mengerti apa-apa kini mulai menjalani kehidupannya.

Tidak ada jawaban yang pernah kudengar.

Namun, waktu perlahan mengajarkanku bahwa kepergian seseorang tidak selalu berarti hilangnya kasih sayang. Meskipun Ayah tidak lagi berada di sampingku, kenangan tentang beliau tetap tinggal dalam hidupku. Cara beliau memanggil namaku, senyum yang pernah diberikan kepadaku, dan perhatian kecil yang dulu mungkin tidak kusadari, semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami seluruh rahasia kehidupan. Aku belum mengerti mengapa seseorang harus pergi, mengapa sebuah perpisahan bisa terasa begitu berat, dan mengapa ada kerinduan yang tidak memiliki tempat untuk dituju.

Namun, tanpa kusadari, kepergian Ayah menjadi salah satu bagian awal yang membentuk perjalanan hidupku. Sebuah pengalaman yang mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi setiap kejadian selalu meninggalkan pelajaran yang suatu hari akan kita pahami.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!