Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Langkah kedua Hansip itu langsung terhenti seketika karena nyali mereka menciut mendengar ancaman serius dari Arga.
"Apa hak kalian mau membongkar pagar di atas tanah warisan sah kakek saya ini."
"Pak Kades bilang saya mencaplok tanah desa, mana surat bukti ukur resmi dari Badan Pertanahan Nasional yang menyatakan hal tersebut." Arga membalas dengan argumen hukum yang sangat logis dan mematikan.
Pak Tirto langsung gelagapan dan saling berpandangan dengan Pak Bowo karena mereka memang tidak punya surat resmi apa pun.
"T-tidak perlu surat dari BPN, saya ini Kepala Desa jadi saya hafal di luar kepala semua batas tanah di wilayah ini." Pak Tirto berbohong dengan wajah yang mulai berkeringat dingin.
"Alasan macam apa itu Pak Kades, hukum negara tidak berjalan berdasarkan ingatan kepala desa yang sudah pikun." Arga tertawa sinis mempermalukan Pak Tirto di depan anak buahnya sendiri.
"Tunggu sebentar di sini biar saya ambilkan sesuatu yang akan membungkam mulut fitnah kalian semua."
Arga masuk kembali ke dalam kamarnya dan membuka laci lemari tua peninggalan kakeknya.
Dia mengambil sebuah map plastik transparan yang berisi dokumen-dokumen penting milik mendiang Mbah Darmo.
Arga kembali ke teras dan melemparkan map plastik itu tepat ke atas meja kayu di depan Pak Tirto dan Pak Bowo.
Brak.
Suara map yang membentur meja itu membuat kedua pria tua itu sedikit tersentak kaget.
"Buka dan baca baik-baik dokumen bersampul hijau di dalam map itu Pak Kades yang terhormat." Arga memberikan perintah layaknya seorang bos kepada bawahannya.
Pak Tirto dengan tangan sedikit gemetar membuka map itu dan mengeluarkan dokumen tebal berwarna hijau tersebut.
Di sampul depan dokumen itu tertulis dengan huruf kapital yang sangat besar dan jelas Sertifikat Hak Milik atau SHM.
"Itu adalah sertifikat tanah resmi keluaran negara atas nama Mbah Darmo yang sekarang sudah sah turun ke nama saya." Arga menjelaskan dengan suara lantang yang menggema di teras rumah.
"Di dalam surat ukur sertifikat itu tertera sangat jelas bahwa batas tanah belakang rumah ini justru masih sisa satu meter dari pagar seng yang saya bangun."
"Jadi boro-boro saya mencaplok tanah desa, justru tanah saya yang masih tersisa belum saya pagari semua." Arga membongkar kebohongan mereka dengan fakta fisik yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Wajah Pak Tirto kini berubah menjadi seputih kertas HVS menyadari kesalahannya yang sangat fatal.
Dia tidak menyangka pemuda pengangguran ini masih menyimpan dokumen legalitas tanah yang sangat lengkap dan sah di mata hukum.
Pak Bowo yang juga melihat isi sertifikat itu langsung menelan ludahnya dengan susah payah karena rencananya hancur berantakan.
"T-tapi Arga, laporan dari warga itu sangat meyakinkan jadi wajar kalau pihak desa harus turun tangan memeriksa." Pak Tirto mencoba mencari alasan pembelaan diri agar tidak terlihat terlalu bodoh.
"Laporan palsu dari warga bayaran maksud bapak." Arga melangkah maju mendekati Pak Tirto membuat kepala desa itu mundur satu langkah karena takut.
"Dengar baik-baik Pak Kades dan Pak Bowo, kesabaran saya menghadapi tingkah konyol kalian ini sudah habis hari ini."
Arga menatap tajam bergantian ke arah dua pria paruh baya yang kini terlihat sangat menyedihkan itu.
"Jika ada satu orang saja yang berani menyentuh pagar seng saya apalagi sampai merusak tanaman di dalamnya saya pastikan kalian akan membusuk di penjara."
"Kamu jangan sombong main ancam penjara Arga, kamu pikir melaporkan ke polisi itu tidak butuh uang banyak." Pak Bowo mencoba membalas dengan menggunakan kekuatan hartanya.
"Pengacara mahal itu cuma bisa disewa oleh orang kaya sepertiku bukan pengangguran kere sepertimu." Pak Bowo menyeringai merasa masih menang dari segi finansial.
Mendengar hal itu Arga langsung tertawa lepas hingga bahunya berguncang hebat menganggap ucapan Pak Bowo adalah lelucon terbaik abad ini.
"Uang banyak katamu Pak Bowo, apakah uang di rekeningmu cukup untuk menyaingi aset milikku sekarang."
Arga merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan buku tabungan bank swasta yang baru saja dia cetak mutasinya kemarin.
Dia membuka halaman terakhir buku tabungan itu dan menyodorkannya tepat di depan wajah Pak Bowo dan Pak Tirto.
"Lihat baik-baik deretan angka di kolom saldo paling bawah itu bapak-bapak yang budiman."
Mata Pak Bowo dan Pak Tirto otomatis tertuju pada barisan angka yang tercetak tebal di buku tabungan tersebut.
Satu, tiga, satu, empat, nol, nol, nol, nol, nol.
"S-seratus tiga puluh satu juta rupiah." Pak Tirto membaca nominal itu dengan bibir bergetar hebat.
Pak Bowo langsung terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak tiang teras seolah baru saja ditinju oleh pegulat profesional.
Tengkulak desa itu tidak percaya melihat saldo ratusan juta di rekening seorang pemuda yang minggu lalu masih mencari sisa nasi di warung.
Bahkan uang tunai di rekening Pak Bowo sendiri saat ini tidak sampai menyentuh angka seratus juta karena banyak uangnya tertahan di barang dagangan.
"Sekarang kalian paham kan kalau uang ratusan juta ini lebih dari cukup untuk menyewa sepuluh pengacara terbaik dari ibu kota." Arga menutup kembali buku tabungannya dengan suara tepukan keras.
"Saya bisa menuntut kalian berdua atas tuduhan pencemaran nama baik perbuatan tidak menyenangkan dan percobaan perusakan properti pribadi."
"Saya jamin seragam kebanggaan Pak Kades ini akan dilucuti secara tidak hormat di pengadilan nanti." Arga menunjuk seragam cokelat Pak Tirto dengan jari telunjuknya.
Keringat dingin bercucuran deras dari dahi Pak Tirto membasahi kerah seragamnya yang kini terasa mencekik lehernya.
Dia hanyalah kepala desa korup berskala kecil yang sangat takut jika harus berurusan dengan hukum yang sesungguhnya.
"M-maafkan saya Nak Arga ini semua murni kesalahpahaman belaka akibat informasi yang tidak akurat." Pak Tirto langsung membungkuk sedikit meminta maaf membuang harga dirinya jauh-jauh.
"Saya sebagai kepala desa menjamin tidak akan ada lagi pihak yang mengganggu batas tanah rumah ini ke depannya."
"Baguslah kalau bapak sudah kembali waras dan mengerti bahasa hukum yang saya sampaikan." Arga tersenyum puas melihat kepala desa itu bertekuk lutut di bawah ancaman uang dan hukumnya.
"Sekarang bawa rombongan sirkus kalian pergi dari pekarangan rumah saya sebelum saya berubah pikiran dan menelepon polisi kota." Arga menunjuk ke arah jalan keluar desa dengan tangan mengusir.
Pak Tirto tidak membuang waktu sedetik pun dan langsung menarik lengan baju Pak Bowo yang masih syok mematung.
"Ayo cepat kita pergi dari sini Bowo jangan bikin masalah yang lebih panjang lagi." Pak Tirto berbisik panik menyeret rekan konspirasinya itu.
Kedua Hansip yang sejak tadi diam seperti patung juga langsung berlari mengikuti langkah kepala desa mereka keluar dari pekarangan rumah Arga.
Pak Bowo berjalan gontai mengikuti tarikan Pak Kades dengan tatapan kosong yang masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
Rencana liciknya untuk merampas kebun Arga menggunakan kekuasaan desa hancur lebur berkeping-keping tanpa sisa.
Justru dia sendiri yang kini merasa nyawanya terancam oleh tuntutan hukum dari pemuda yang ternyata sudah menjadi miliarder diam-diam itu.
Arga berdiri di teras menonton kepergian rombongan pembawa sial itu dengan tawa renyah yang menggema memecah keheningan pagi.
"Ternyata menampar wajah orang sombong menggunakan saldo buku tabungan rasanya jauh lebih memuaskan daripada menggunakan uang tunai." Arga bergumam sendiri sambil memasukkan buku tabungannya kembali ke saku.
Dia lalu memungut map sertifikat tanah miliknya dari atas meja dan membersihkan debu yang menempel di sampulnya.
"Terima kasih Mbah Darmo sertifikat tanah ini benar-benar menjadi senjata pamungkas pelindung cucumu hari ini." Arga mengelus dokumen itu dengan penuh rasa hormat.
Arga masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu depannya membiarkan dunia luar sibuk dengan urusannya sendiri.
Hari ini dia tidak punya jadwal pengiriman barang karena panen ronde kedua tomat kristalnya baru akan terjadi besok pagi.
Dia memutuskan untuk kembali tidur bersantai menikmati kekayaannya dan menunggu hadiah check-in harian yang tertunda akibat keributan tadi.
"Sistem lakukan check-in harian hari ketujuh sekarang juga sebelum aku kembali tidur." Arga memanggil sistem saat tubuhnya menyentuh kasur empuknya.
[Check-in Hari Ketujuh Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Puncak Mingguan: 1 Lembar Cetak Biru Sumur Air Suci Kehidupan.]
Arga yang tadinya sudah setengah mengantuk langsung membuka matanya lebar-lebar membaca tulisan bercahaya di udara itu.
"Cetak biru sumur air suci? Ini terdengar seperti bangunan legendaris di game RPG."
Arga segera memikirkan fungsi dari hadiah mingguannya ini dan membayangkan hal-gila apa lagi yang akan terjadi di halaman belakang rumahnya besok.
Bibirnya menyunggingkan senyum antisipasi yang sangat besar menyambut hari-hari cerah di masa depan.