Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Pagi ini Zafana terbangun dengan tubuh yang terasa pegal. Ia berjalan keluar dengan penampilan dengan mata yang belum terlalu terbuka dan piyama kebesaran yang sangat lusuh.
"Pagi Na"
"Pagi, pa..ma" jawab Zafana lalu terduduk disalah satu kursi meja makan.
"Libur kuliah hari ini?"tanya Damian, papa kandung Zafana. Zafana berdehem lalu menyimpan kepalanya diatas lipatan tangan.
"Lemas banget Na, sakit kamu?"tanya Clara, ibu kandung Zafana.
"Enggak ma, Zafana cuma capek aja kemarin kurang tidur terus gara-gara ngerjain skripsi"jawab Zafana.
"Terus hasilnya gimana?" tanya Clara.
Zafana menghela, ia teringat kembali dengan perlakuan Oliver yang membentaknya kemarin.
"Zafana dibentak sama dosen kemarin" jawab Zafana lalu mengerucutkan bibirnya.
Damian terkekeh, "udah biasa itu Na, buat nguji mental kamu"
"Ya tapi kan papa tau anak papa ini kayak apa, dibentak dikit aja udah langsung ciut" ucap Zafana.
"Makanya jangan manja jadi anak" timpal Alaska.
"Apa sih Ka' berisik banget!"ucap Zafana sebal.
Alaska terkekeh, "Dek ke mall sendiri deh ya, Kaka ada urusan"
"Sepenting apa sih urusan Kakak hah? Janji gak bisa dibatalin!"jawab Zafana . "Dek tapi----" "Lalalalalala....intinya gak.bisa.batal!"potong Zafana lalu meneguk habis segelas susu yang sudah dibuatkan oleh Calara lalu berlari kembali ke kamarnya.
"Zafana ngapain ke kamar lagi? Sarapan dulu sini!"teriak Clara.
"Zafana mau siap-siap dulu mau jogging sama Roos!"jawab Zafana balik berteriak.
Sabtu pagi ini Zafana dan Roos sudah berjanji untuk berolahraga bersama, bahkan Roos sudah menunggu Zafana sejak lima menit lalu dan sebenarnya ia mempunyai janji pada seseorang, tapi janji itu tiba-tiba saja dibatalkan sepihak oleh orang itu.
"Maaf gue telat"ucap Zafana yang baru saja datang dengan napas terpengangah.
"Iya gak papa, udah biasa kok lo telat, yang gak biasa itu kalau gue yang telat" jawab Roos sambil tersenyum memperlihatkan gigi putih dan rapinya.
"Bacot lo" cibir Zafana lalu ikut duduk disamping sahabatnya. "Lesuh banget sih lo, masih galau?"tanya Roos.
Zafana kembali mengingat kejadian dimana ia dibentak oleh pria itu.
"kayaknya gue bakalan jadi mahasiswi abadi deh, Roos. Dan bakalan ketemu sama dosen itu lagi"jawabnya dengan suara lesuh.
"Jangan ngomong gitu lah! Emang lo mau jadi mahasiswa abadi?" tanya Roos tidak percaya dan Zafana hanya mengangkat bahunya.
"Ya mau gimana lagi, kan lo tau sendiri itu dosen kayak apa. Dan gue juga bilang apa, itu dosen tuh ngeselin tau gak?! Kerjaannya bikin mahasiswanya benci aja gitu sama dia"cibir Zafana.
"GWS ya Zafana, padahal mahasiswa lain bilang kalo dia ganteng, lo doang yang bilang dia ngeselin"ucap Roos membuat Zafana menghela panjang.
"Roos, lo tau gak kemarin ada kasus mahasiswa bunuh diri karena frustasi temenan sama babi?" Zafana bertanya dengan sorot mata yang sayu namun tajam membuat Roos mengerjap lalu menyegir.
"Hehehe, bercanda kok Na" jawab Roos sambil mengusap bahu Zafana.
Keduanya terdiam, sibuk dnegan pikiran masing-masing hingga mereka lupa dengan tujuan awal mereka bertemu.
"Enzi, jangan lari-lari!"
Pandangan keduanya teralih pada seorang gadis yang sedang mengejar anak kecil laki-laki. Anak kecil itu berlari kearah Zafana lalu memeluk kakinya dengan erat membuat Zafana sedikit terkejut.
"Mami" gumam anak itu.
Roos yang mendengar itu sontak menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya.
"Enzi jangan nakal dong!" gadis perempuan yang mengejar bocah laki-laki itu menarik tangannya secara paksa hingga terlepas dari kaki Zafana.
"Maaf ya kak, keponakan saya nakal" ucapnya sambil berjalan menghampiri Enzi, anak lelaki dengan mata bulat dan pipi gempal.
Zafana tersenyum."iya gak papa, namanya juga anak kecil" jawab Zafana.
"Hehe, iya kak"
"Enzi, ayo itu papa udah nungguin dimobil" bujuk gadis itu sambil mengangkat tubuh Enzi kedalam gendongannya.
Enzi pun menurut dan langsung berhambur ke gendongan gadis itu. Matanya tak henti memandangi Zafana meski sudah berada didalam mobil dengan jendela yang sedikit terbuka.
Mobil itu segera beranjak dan Enzi melambaikan tangannya pada Zafana dengan senyuman yang menggemaskan.
"Kok lucu ya, dia tiba-tiba meluk lo dan manggil lo mami" celetuk Roos yang juga memperhatikan Enzi.
Zafana menghela, "pasti lo lagi mikirin drama"
Roos terkekeh lalu matanya beralih menatap mobil yang membawa Enzi.
"eh gue kayaknya kenal deh sama mobil itu, lo tau gak?"tanyanya.
"Orang tuanya kali" jawab Zafana asal sambil membenarkan ikatan rambutnya.
"Bukan gitu, tapi lo ngerasa pernah lihat mobil itu gak?"tanya Roos sekali lagi.
"Mana gue tau, Roos"jawab Zafana lalu berdiri."ayo, keburu siang"
lanjutnya lalu keduanya berlari pelan mengitari taman itu diikuti Roos disampingnya.
Mereka berolahraga tidak jauh dari komplek tempat mereka tinggal.
Enzi Geano Alveric dan Aileen Giano Alveric, adalah anak berusia 3tahun dengan kelucuan yang tidak manusiawi. Keduanya lahir dihari dan jam yang sama. Ya, mereka kembar.
Anak dari Oliver Gio Alveric dan Casandra Brown.
3 tahun lalu istrinya meninggal, tepat saat hari persalinannya Membuat Oliver harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi si kembar. Oliver memang sosok yang dingin, tapi dibalik itu semua, Oliver adalah sosok yang baik hati dan penyayang terhadap kedua anak dan orang tuanya.
Mengurus dua anak kembar yang tidak sejenis itu merepotkan baginya, meski ia baru saja memilih untuk benar-benar merawat mereka. Biasanya Enzi dan Aileen bisa bertemu dengan Oliver dihari libur saja, itupun tidak pernah lama karena Oliver selalu mengerjakan pekerjaan kantor setelahnya.
Oliver menghentikan mobilnya saat sudah memasuki pekarangan rumah orang tuanya.
"Bang, mobil siapa tuh?" tanya Aqila, adik ipar Oliver saat melihat mobil sedan berwarna merah dihalaman rumah Rina.
"Sintya kayaknya" jawab Alvano singkat lalu membuka seatbelt miliknya.
"Papa, bukainnn" ucap Aileen yang kesulitan membuka seatbelt
Oliver dengan sigap membukakan nya untuk Aileen lalu menggendongnya keluar dari mobil diikuti Aqila yang menuntun Enzi.
Mengenai Sintya, dia adalah wanita yang berstatus sama seperti Oliver tapi dia tidak mempunyai anak. Oliver mengenalnya 2bulan lalu saat orang tuanya meminta mereka untuk menikah sama seperti permintaan Rina pada Oliver dan Kirana.
Perbedaannya Kirana sama sekali belum pernah menikah dan Sintya sudah.
Meskipun yang dikenalkan pada Oliver adalah gadis-gadis cantik dan mempunyai karrier yang bagus tapi tidak sedikitpun Oliver berminat untuk menerima perjodohan itu. Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama setelah ia gagal satu kali dalam pernikahannya dengan Casandra yang berujung pada seebuah penyesalan yang hebat.
Pintu rumah yang sedikit terbuka membuat Oliver dan Aqila langsung masuk kedalam. Oliver menurunkan Aileen dan langsung menyuruhnya masuk kedalam kamar bersama Enzi dan Aqila.
"Itu, Oliver sudah pulang"ucap Rina saat melihat Oliver berjalan kearah mereka.
"Mas pulang olahraga?"tanya Sintya dengan senyuman manis diwajahnya.
"Gak lihat saya pakai celana training?" tanya balik Oliver, Dan satu lagi, jangan sebut saya dengan sebutan itu, saya muak dengar kamu panggil saya seperti itu!" lanjutnya.
"Kok mas begitu? Sebulan lagi kita menikah mas!" jawab Sintya.
"Menikah dengan siapa? Saya? Memang saya ada menerima perjodohan konyol ini? Saya rasa tidak"
"Tapi mas"
"Oliver! Kamu jangan seperti itu, dia wanita baik-baik" tegas mamanya, Rina Ambara.
"Semua perempuan yang mama kenalin sama Oliver juga mama sebut mereka wanita baik-baik, kan?" sarkas Oliver.
"Ma udah, mungkin mas Oliver memang belum siap"ucap Sintya meredakan emosi Rina.
"Sampai kapan pun saya tidak akan siap sama kamu" jawab Oliver kamudian berlenggang pergi.
Ini yang tidak Oliver suka jika harus tinggal bersama orang tuanya. Keributan setiap hari pasti terjadi hanya karena permasalahan yang sama.
Apa salahnya jika belum siap untuk kembali berkeluarga?