Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsen yang menahan diri
Arsen mendekap Ananta agak lama dengan tubuh keduanya yang bergetar. Ananta juga membalas pelukan Arsen. Detak jantungnya masih belum normal, juga aliran darahnya yang makin deras.
Arsen mengingat ci-um@n bibir yang mereka lakukan sangat dalam dan menuntut tadi. Hanya sebatas itu. Arsen akan melakukan yang lebih dari itu setelah mereka dinyatakan sah dalam ikatan pernikahan yang diakui negara. Dia ingin anak mereka nanti bernasib yang lebih baik darinya.
Hanya saja dia ngga mampu menahan getarannya yang menolak tuntutan h@sratnya yang bergejolak. Sampai sekarang tubuhnya masih bergetar. Dia butuh beberapa menit lagi untuk menenangkannya.
Apalagi Ananta sepertinya sudah siap menyerahkan dirinya seperti malam itu di ruang perpustakaan. Tapi Arsen teringat janjinya pada mamanya. Papinya sudah membuat mamanya mengandung dirinya tanpa adanya ikatan pernikahan. Mamanya ngga ingin dirinya mengulang perbuatan papinya. Dan itu yang akan Arsen lakukan.
Sekarang akhirnya dia tau mengapa papinya bisa melakukannya. Godaannya sangat kuat. Sekarang saja tubuhnya masih bergetar karena menahan h@sratnya.
Setelah merasa agak tenang, Arsen baru melepaskan pelukannya. Dia mencoba merapikan kunciran rambut Ananta yang berantakan.
"Sebaiknya digerai saja." Tadi dia lupa niat awalnya untuk menci-um tengkuk putih itu.
Ananta menjauhkan dirinya setelah Arsen membebaskannya. Dia meraih sisir di dalam tasnya. Kemudian mengangkat kedua tangannya agak tinggi untuk menguncir seluruh rambutnya tanpa menyadari Arsen yang menatapnya dengan tatapan lapar.
Arsen menghembuskan nafas panjang dan berpaling ke arah lain, menjauhkannya dari sosok yang sedang sangat menggodanya. Jantungnya berdebar keras lagi.
Arsen mengambil kertas kertas yang berserakan di sekitar mereka. Dia meluruskan bagian yang terlipat dan menyusunnya lagi berdasarkan urutannya. Beberapa kertas itu sudah tidak terlalu halus lagi permukaannya karena terinjak dan tertekan tubuh mereka.
"Kamu jangan merasa cemburu lagi dengan Emma. Dia bukan saingan kamu," kata Arsen mengingatkan. Tapi dalam hati dia senang dicemburu-i sampai seperti itu.
Kalo bisa dia ingin gadis itu selalu merasa cemburu hingga dia bisa mengec-upnya sesukanya.
"Tapi dia masih menyukaimu. Dia terus melihatmu," sungut Ananta sambil merapikan kuncirannnya. Entah mengapa dia meluapkannya di depan Arsen. Tapi rasanya hatinya jadi lebih lega karena tidak harus memendamnya lagi.
"Dia kena karma." Arsen malah tergelak. Mengutuk nasib Emma. Dulu menolaknya, tapi sekarang malah mengiba mau jadi kekasihnya.
Perempuan itu sudah gila. Sudah jadi istri orang masih saja mengharapkan mantannya, decih Arsen sangat muak.
Rasanya senang aja bisa membalikkan keadaan.
Ananta menatapnya sinis.
Sepertinya kamu senang sekali disukai lagi sama mantanmu, sarkasnya membatin.
"Aku senang akhirnya kamu takut juga aku menyukai perempuan lain," ejek Arsen, masih terus tertawa. Hatinya senang sekali hari ini. Segala kerumitan dalam kepalanya terasa berkurang. Gadis ini memang obatnya yang paling manjur.
DEG DEG
Ananta ngga tau cara membalasnya. Di bawah intimidasi Arsen, dia sudah tanpa sadar mengakui perasaannya.
"Aku akan memanggil Keto." Arsen menatap jam di pergelangan tangannya.
Belum satu jam dari saat pengusiran, batinnya. Keto sangat penurut. Dia akan datang sesuai waktu yang diminta Arsen tadi.
Jadi dia segera menelpon Keto. Sudah cukup waktunya untuk bengong di minimarket.
"Kamu bisa masuk ke mobil sekarang," perintahnya ketika Keto sudah menerima telponnya.
"Siap, bos."
Ngga lama kemudian kelihatan Keto berjalan ke arah mobil dengan tentengan dua buah plastik besar.
"Dia beneran belanja?" gumam Ananta pelan.
"Dia sangat patuh," sahut Arsen santai ketika mendengar gumaman Ananta.
Keto meletakkan dua buah plastik belanjaannya ke jok di sampingnya. Kemudian dia mengulurkan dua botol minuman dingin pada bosnya.
"Thank's," ucap Arsen ketika menerima dua botol itu dan memberikan salah satunya pada Ananta.
Tapi kemudian Arsen mengambilnya lagi yang membuat Ananta heran. Tapi dia segera tersenyum malu ketika melihat Arsen membukakan tutup botolnya, Kemudian menyerahkannya lagi padanya.
Perlakuan manis Arsen yang beginilah yang membuat hatinya sangat nyaman. Dia juga ingat apa yang sudah terjadi tadi. Arsen sama sekali tidak memaksanya.
Dia malu karena tadi sangat lemah dan terlalu pasrah saat digoda laki laki itu. Ananta makin menghargai Arsen yang tidak meneruskan h@srat mereka lebih jauh. Padahal kalo Arsen memaksanya, Ananta juga ngga bisa menolaknya.
Ananta menghela nafas panjang. Tiap mengingat sentuhan Arsen tadi dia selalu merasakan ada gelenyar gelenyar asing yang menyelusup di relung relung hatinya.
"Makasih," sahut Ananta saat menerima botol minumannya. Dia kemudian tanpa ragu meneguknya karena tenggorokannya sangat kering.
"Mereka mau menundanya, pak," lapor Keto.
"Klien yang janjian dengan anda," sambungnya lagi.
"Oke." Arsen ngga mempedulikan apa yang sudah dikatakan Keto pada kliennya hingga mau menunggunya. Bagi Arsen, yang penting Keto sudah mengurusnya. Keto tangan kanan yang selalu dia handalkan karena kepintarannya bernegosiasi.
Seharian ini Ananta benar benar hanya menemani Arsen menemui klien kliennya yang berbeda. Untung saja dia tidak bertemu klien seperti mantannya Arsen lagi.
Di setiap pertemuan dengan klien kliennya, Arsen selalu mengenalkan dirinya pada mereka sebagai calon istrinya yang akan segera dia nikahi. Hingga ketika hari menjelang sore, Arsen mengajaknya pergi ke rumah mamanya.
"Semua proyek ini kamu yang urus?" Ananta kasian juga melihatnya. Untuk apa sebenarnya Arsen terlalu sibuk padahal dia sudah punya segalanya.
Apa dia punya waktu beristirahat? Ananta jadi mengkhawatirkan kesehatan Arsen karena kerjanya yang terus diforsir.
Pantasan dia dipanggil gila kerja. Ananta menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku harus memastikan keuntungannya. Tapi nantinya bukan hanya aku saja yang mengurus semuanya, kok. Ada dua sepupuku yang lain yang akan mengawasi proyek proyek ini," jelasnya.
"Kamu punya dua sepupu lagi?" Ananta kurang paham dengan silsilah keluarga Arsen. Dia belum sempat membacanya.
Arsen mengangguk
"Ya, nanti akan aku kenalkan. Mereka baik dan pekerja keras, sama seperti aku." Arsen sengaja bersikap narsis. Dia menunggu tanggapan Ananta yang pasti langsung tidak menyukainya.
Ya, ya. Kamu memang pekerja keras, sindirnya dalam hati.
Arsen tertawa melihat wajah dongkol Ananta. Tawanya makin keras dan lama durasinya karena pancingannya tadi berhasil.
"Mama kamu sudah tau kalo aku akan datang?" Tanya Ananta canggung. Ini adalah pertemuan keduanya dengan Mamanya Arsen.
"Justru mama ingin sekali kamu segera datang ke rumahnya."
Ananta tertegun mendengarnya.
Dia ngga salah dengar, kan? batin Ananta masih ragu.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?