Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tiba di Jinling
Kereta cepat VIP melesat membelah lanskap Provinsi Jiangnan dengan kecepatan 300 kilometer per jam, menuju Kota Jinling, pusat ekonomi dan sejarah provinsi tersebut.
Di dalam kabin pribadi yang mewah, Su Ruoxue sedang sibuk meninjau dokumen presentasi di tabletnya. Di seberangnya, Lin Chen duduk bersila di kursi yang luas, matanya terpejam. Napasnya panjang dan teratur, seolah ia sedang tertidur lelap.
Namun, di dalam tubuhnya, sebuah pergolakan energi sedang terjadi.
Lin Chen mengerutkan kening. Ia bisa merasakan meridiannya, meskipun sudah diperkuat oleh Tulang Giok Naga, berdenyut nyeri. Pertarungan di Kunlun, terutama saat ia menggunakan Tinju Penghancur Bintang Pukulan Penuh melawan avatar iblis, ternyata meninggalkan beban yang cukup berat.
"Sistem, tampilkan analisis kondisi Dantian-ku," perintah Lin Chen dalam hati.
[Ding!]
[Analisis Kondisi Host:]
[Level Kultivasi: Tahap Awal Tingkat Bumi (Tidak Stabil).]
[Peringatan Dini: Host telah meningkatkan kekuatan fisik terlalu cepat menggunakan Pil Darah Naga, namun fondasi Qi (Dantian) belum beradaptasi sepenuhnya. Menggunakan keterampilan Kelas Langit secara beruntun atau membunuh musuh setingkat Tahap Akhir Tingkat Bumi dengan kekerasan murni akan menyebabkan keretakan pada fondasi kultivasi.]
[Saran Sistem: Host harus memperlambat tempo pertarungan fisik tingkat tinggi. Fokuslah pada pemurnian Qi secara bertahap, dan gunakan kecerdasan, keterampilan medis, atau sumber daya faksi untuk menyelesaikan konflik hingga fondasi Host stabil dalam beberapa bulan ke depan.]
Lin Chen menghela napas panjang dan membuka matanya.
Sistem benar, batinnya. Di kehidupan masa lalu, para Grandmaster menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menstabilkan Dantian mereka dari Kelas Fana menuju Kelas Bumi. Aku melompatinya hanya dalam hitungan hari. Jika aku terus-menerus bertarung layaknya orang gila menggunakan kekuatan absolut, kultivasiku akan hancur sebelum aku bisa menghadapi monster-monster sungguhan di Ibukota.
Ini berarti, di Jinling, ia tidak bisa sekadar menendang pintu Keluarga Wei dan membantai mereka semua seperti yang ia lakukan pada Sekte Gunung Hitam. Jinling adalah kota metropolitan yang diawasi ketat oleh pemerintah pusat dan biro keamanan militer. Terlalu banyak pertumpahan darah secara terang-terangan akan menarik perhatian elit Ibukota, termasuk Keluarga Lin, sebelum ia benar-benar siap.
"Mulai sekarang, aku harus bermain sedikit lebih halus. Untungnya, menampar wajah musuh tidak selalu membutuhkan tinju," gumam Lin Chen pelan, sudut bibirnya melengkung.
"Kau mengatakan sesuatu, Lin Chen?" Su Ruoxue mendongak dari tabletnya, menatap suaminya dengan bingung.
"Tidak. Hanya berpikir tentang seberapa besar pasar Jinling yang akan kita ambil," jawab Lin Chen santai. Ia mengambil secangkir kopi hangat dan menyerahkannya pada istrinya. "Istirahatlah sebentar. Kau sudah menatap layar itu selama dua jam."
Su Ruoxue menerima kopi itu dengan senyum tipis. "Aku hanya gugup. Konsorsium Keluarga Wei bukan lawan yang mudah. Mereka memiliki dukungan dari Asosiasi Farmasi Tradisional Provinsi. Kudengar, mereka bahkan memboikot bahan baku herbal kita di seluruh stasiun pengiriman."
"Biarkan mereka memboikot," jawab Lin Chen. "Kualitas Embun Surgawi berbicara sendiri. Di pameran nanti, kita akan membiarkan pasar yang menekan mereka."
Dua jam kemudian, kereta tiba di Stasiun Pusat Jinling.
Kota Jinling jauh lebih megah dan kuno dibandingkan Donghai. Gedung-gedung pencakar langit modern berdiri berdampingan dengan bangunan-bangunan berarsitektur Dinasti Ming. Udara di sini dipenuhi dengan aura persaingan bisnis yang kejam dan sejarah keluarga-keluarga seni bela diri yang tersembunyi.
Sore itu, Lin Chen dan Su Ruoxue langsung menuju ke Menara Anggrek Emas, tempat diadakannya Pesta Malam Pra-Pameran. Acara ini adalah ajang pendaftaran ulang sekaligus tempat para bos farmasi melakukan lobi bisnis sebelum pameran resmi besok pagi.
Ketika mereka memasuki aula ballroom yang gemerlap, suasana sangat ramai. Ratusan pengusaha elit, dokter spesialis terkemuka, dan pejabat provinsi berkumpul dengan gelas anggur di tangan.
Namun, begitu Su Ruoxue melangkah masuk, suasana di beberapa sudut ruangan seketika berubah. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu Su Ruoxue dari Grup Su Donghai, kan?"
"Berani sekali dia datang ke Jinling. Apa dia tidak tahu Keluarga Wei sudah mengeluarkan perintah blokade untuk produk kosmetiknya?"
"Dia membawa suaminya yang terkenal sebagai menantu buangan itu. Ckckck, Donghai mungkin bisa mereka kuasai, tapi di Jinling, mereka hanyalah udang kecil."
Mengabaikan tatapan sinis tersebut, Su Ruoxue berjalan menuju meja registrasi dengan punggung tegak. Lin Chen berjalan satu langkah di belakangnya, auranya ditekan hingga menyerupai pengawal pribadi yang tenang.
Namun, baru saja Su Ruoxue menyerahkan dokumen registrasinya, sebuah tangan pucat yang mengenakan cincin batu rubi besar menekan dokumen tersebut di atas meja.
"Maaf, Nona Su. Panitia memutuskan bahwa Grup Su tidak memenuhi standar kualifikasi untuk mengikuti pameran esok hari."
Su Ruoxue menoleh tajam.
Berdiri di sebelahnya adalah seorang pemuda tampan dengan setelan jas putih yang sangat mencolok. Wajahnya memancarkan keangkuhan yang khas dari seorang Tuan Muda pewaris kekayaan. Di belakang pemuda itu, berdiri dua pengawal kekar dan seorang pria tua berjanggut putih yang mengenakan jubah tabib tradisional.
Dia adalah Wei Zixuan, pewaris utama Keluarga Wei dan calon pemimpin Konsorsium Medis Jiangnan.
"Tuan Muda Wei," Su Ruoxue menatap dingin, sama sekali tidak gentar. "Grup Su telah mendaftar secara legal sejak bulan lalu dan kami telah membayar biaya stan VIP. Atas dasar apa Anda membatalkan kualifikasi kami secara sepihak?"
Wei Zixuan tertawa meremehkan. Matanya dengan kurang ajar menyapu lekuk tubuh Su Ruoxue, memancarkan hasrat yang menjijikkan. "Atas dasar apa? Atas dasar bahwa Konsorsium Wei adalah sponsor utama pameran ini."
Ia melangkah lebih dekat, mengabaikan Lin Chen yang berdiri diam. "Nona Su, aku sudah menyelidiki produkmu, Embun Surgawi. Kau mengklaim itu bisa menyembuhkan luka bakar seketika dan meremajakan sel? Hahaha! Itu jelas-jelas penipuan publik. Asosiasi Farmasi Provinsi tidak akan mengizinkan produk palsu merusak nama baik industri kita."
"Produk kami telah melalui uji klinis independen!" bantah Su Ruoxue, wajahnya memerah karena marah.
"Uji klinis independen dari kota kecil seperti Donghai tidak berlaku di sini," sela pria tua berjanggut putih di belakang Wei Zixuan. Pria itu mengelus jenggotnya dengan sombong. "Aku, Tabib Chen, Wakil Ketua Asosiasi Farmasi Provinsi, telah membaca komposisi dasar produk kalian. Rasio antara Teratai Salju dan Mutiara Hitam yang kalian gunakan sangat tidak stabil. Mengoleskannya ke kulit dalam jangka panjang akan menyebabkan kanker kulit. Produk kalian adalah racun!"
Pernyataan Tabib Chen itu disengaja diucapkan dengan suara keras. Para hadirin di ballroom seketika menoleh dan mulai berkerumun.
"Tabib Chen sendiri yang bilang itu racun? Berarti itu pasti benar!"
"Grup Su ternyata perusahaan penipu! Membahayakan konsumen demi keuntungan!"
Mendengar bisikan kerumunan yang mulai menghakiminya, Su Ruoxue menggigit bibirnya. Keluarga Wei tidak menggunakan preman atau pembunuh bayaran; mereka menggunakan otoritas medis dan opini publik untuk membunuhnya di tempat yang paling ramai! Ini adalah siasat bisnis yang sangat kejam.
Wei Zixuan tersenyum penuh kemenangan melihat Su Ruoxue terpojok.
"Nona Su, aku ini orang yang berbelas kasihan," bisik Wei Zixuan, mencondongkan tubuhnya. "Serahkan formula asli Embun Surgawi kepada Keluarga Wei, dan tidurlah denganku malam ini di hotelku. Jika kau membuatku senang, aku akan membiarkan perusahaanmu bertahan hidup sebagai anak perusahaan kami."
Tangan Wei Zixuan terulur, berniat menyentuh dagu Su Ruoxue.
Namun, sebelum jarinya berjarak lima sentimeter dari wajah Su Ruoxue...
Plak!
Sebuah tamparan yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat tangan Wei Zixuan tertepis ke samping dengan rasa kebas, terdengar renyah.
Wei Zixuan tersentak mundur, matanya melotot marah. "Siapa yang berani menyentuhku?!"
Lin Chen melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Wei Zixuan dan Su Ruoxue. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, mengelap tangannya yang baru saja menepis Wei Zixuan, lalu membuang sapu tangan itu ke tempat sampah seolah baru saja menyentuh kotoran.
"Kau pasti Wei Zixuan," ucap Lin Chen datar, matanya menatap pemuda itu dengan ketenangan yang membekukan. "Aku Lin Chen. Suami Su Ruoxue. Dan jika kau mencoba menyentuh istriku lagi, aku akan memastikan kau tidak bisa lagi menggunakan tanganmu untuk memegang sumpit seumur hidupmu."
Aula itu hening sejenak, lalu meledak dalam tawa mengejek.
"Hahaha! Lihat, si suami cacat itu mencoba menjadi pahlawan!"
"Dia mengancam Tuan Muda Wei di Jinling? Apa dia sudah bosan hidup?!"
Wei Zixuan memegang tangannya yang kebas. Alih-alih marah, ia justru tertawa sinis. "Oh, jadi kau anjing buangan dari Ibukota itu? Kudengar kau punya sedikit kemampuan bertarung jalanan di Donghai. Tapi ini Jinling, Bocah! Pengawalku adalah ahli bela diri sejati! Pengawal, patahkan kakinya dan lempar dia keluar!"
Dua pengawal raksasa di belakang Wei Zixuan segera melangkah maju, meretakkan buku jari mereka.
Lin Chen sama sekali tidak bersiap untuk bertarung. Ia ingat peringatan sistem untuk menstabilkan Dantian-nya dan tidak sembarangan menggunakan kekuatan kasar di depan publik Jinling.
Maka, alih-alih mengepalkan tinju, Lin Chen mengaktifkan Mata Emas (Golden Eye) dan menganalisis Tabib Chen beserta botol obat kecil yang tergantung di pinggang pria tua itu.
"Tunggu," suara Lin Chen terdengar tenang, namun mengandung wibawa yang membuat dua pengawal itu secara refleks menghentikan langkah mereka.
Lin Chen menatap Tabib Chen. "Kau bilang produk kami racun karena rasio Teratai Saljunya tidak stabil? Sungguh ironis. Seorang Wakil Ketua Asosiasi Farmasi yang bahkan tidak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri, berani menilai formula dewa."
Tabib Chen mengerutkan kening, merasa tersinggung. "Apa maksudmu, Bocah Tengik?! Aku sangat sehat!"
"Benarkah?" Lin Chen tersenyum mengejek, melipat tangannya di dada. "Setiap malam antara jam 1 dan 3 pagi, kau merasakan sakit yang menusuk seperti ribuan jarum di ulu hatimu. Napasmu sesak, dan kau sering batuk darah berwarna kehitaman. Kau mencoba menahannya dengan mengonsumsi Pil Pembakar Yang yang ada di botol pinggangmu itu."
Wajah Tabib Chen yang tadinya merah karena marah, seketika berubah pucat pasi. Matanya terbelalak ngeri. Bagaimana pemuda ini bisa tahu?! Penyakit itu adalah rahasia terbesarnya yang bahkan murid terdekatnya pun tidak tahu!
Lin Chen melanjutkan dengan suara yang cukup keras agar seluruh ruangan mendengarnya.
"Kau salah mendiagnosis dirimu sendiri. Kau pikir kau mengalami Sindrom Dingin Akut, jadi kau terus menelan Pil Pembakar Yang. Padahal, meridian jantungmu tersumbat oleh racun dari eksperimen herbalmu sendiri lima tahun lalu! Semakin banyak Pil Pembakar Yang kau telan, semakin cepat racun itu menggerogoti jantungmu."
Lin Chen menunjuk ke wajah Tabib Chen. "Coba tekan titik Tanzhong (tengah dada) dan titik Qihu (bawah tulang selangka) secara bersamaan sekarang. Jika aku berbohong, kau tidak akan merasakan apa-apa."
Wei Zixuan mendengus. "Tabib Chen, jangan dengarkan omong kosong sampah ini! Dia hanya mengulur waktu!"
Namun, Tabib Chen yang sudah diserang ketakutan batin, tanpa sadar mengikuti instruksi Lin Chen. Jarinya menekan kedua titik akupuntur tersebut.
Deg!
"UARGHHH!"
Tabib Chen tiba-tiba menjerit histeris. Ia memuntahkan seteguk besar darah hitam kental ke lantai karpet yang mahal. Tubuhnya langsung lemas, jatuh berlutut sambil memegangi dadanya yang terasa seperti ditikam pedang panas.
"T-Tabib Chen!" Wei Zixuan panik, mundur beberapa langkah.
Seluruh aula ballroom gempar! Semua elit medis dan pengusaha yang hadir menatap Lin Chen seolah melihat dewa pengobatan. Pemuda itu hanya melihat sekilas, dan diagnosisnya terbukti 100% akurat secara brutal!
"T-Tolong aku..." Tabib Chen merangkak ke arah sepatu Lin Chen, wajahnya dipenuhi keringat dingin dan keputusasaan. Rasa sakit di jantungnya sekarang benar-benar tak tertahankan, seolah prediksi Lin Chen baru saja mempercepat reaksinya. "Anda... Anda adalah Master Medis... tolong selamatkan nyawaku!"
Su Ruoxue menutupi mulutnya karena terkejut. Suaminya sekali lagi membalikkan keadaan tanpa mengeluarkan setetes pun keringat.
Lin Chen menatap Tabib Chen dari atas ke bawah. "Kau baru saja memfitnah produk istriku di depan umum. Dan sekarang kau meminta nyawamu diselamatkan?"
"A-Aku berbohong!" teriak Tabib Chen, disaksikan oleh ratusan orang. "Keluarga Wei membayarku 5 Juta Yuan untuk mengatakan Embun Surgawi itu beracun! Formula itu sebenarnya sempurna! Aku bersumpah!"
BOOM!
Pengakuan itu meledak seperti bom di tengah kerumunan.
Tatapan penuh kekaguman yang sebelumnya ditujukan pada Wei Zixuan kini berubah menjadi tatapan jijik dan cibiran.
"Ternyata Keluarga Wei bermain kotor karena takut bersaing!"
"Membayar Wakil Ketua Asosiasi untuk memfitnah kompetitor? Sungguh memalukan!"
Wajah Wei Zixuan berubah menjadi ungu. Reputasi Konsorsium Wei yang dibangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping hanya karena beberapa patah kata dari Lin Chen!
"B-Bawa orang tua bangka ini pergi! Dan bunuh si cacat itu sekarang juga!" raung Wei Zixuan, kehilangan akal sehatnya, memerintahkan pengawalnya.
Kedua pengawal itu mencabut tongkat baja lipat dan menerjang ke arah Lin Chen.
Namun, sebelum Lin Chen perlu mengangkat tangannya...
"BERHENTI!"
Sebuah suara wanita yang sangat dingin dan penuh wibawa menggema dari arah pintu masuk ballroom.
Kerumunan segera membelah jalan. Seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun berjalan masuk dengan anggun. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah anggur, dengan wajah cantik yang memancarkan pesona bangsawan sejati, namun matanya setajam elang. Di belakangnya, berbaris empat pengawal elit berjas hitam yang auranya jauh melampaui pengawal Wei Zixuan.
Melihat kedatangan wanita itu, Wei Zixuan seketika menelan ludahnya, kesombongannya menguap tak bersisa. Ia buru-buru menundukkan kepalanya.
"N-Nona Besar Keluarga Shen... kenapa Anda turun tangan secara pribadi ke acara kecil ini?" sapa Wei Zixuan dengan nada menjilat yang ketakutan.
Wanita itu adalah Shen Bing, pewaris Keluarga Shen—salah satu dari Tiga Keluarga Kuno Penguasa Jinling, yang kekuatannya bahkan melampaui gabungan Keluarga Tang dari Donghai dan Keluarga Wei.
Namun, Shen Bing bahkan tidak melirik Wei Zixuan. Ia berjalan lurus melewati pemuda itu, mengabaikan kerumunan, dan berhenti tepat di depan Lin Chen.
Shen Bing menatap mata Lin Chen lekat-lekat, lalu tanpa diduga, ia membungkuk sedikit, memberikan penghormatan yang membuat seluruh ballroom serasa disambar petir.
"Tuan Lin," ucap Shen Bing dengan suara elegan yang bergema di keheningan. "Kakek saya, Kepala Keluarga Shen, mendadak jatuh koma. Dokter istana dan seluruh tabib di Jinling angkat tangan. Mengingat Anda baru saja menunjukkan kemampuan 'Diagnosis Mata Dewa', saya mohon... sudikah Anda datang ke kediaman Shen malam ini untuk menyelamatkan kakek saya?"
Shen Bing menarik napas, lalu menambahkan kalimat yang membuat jantung Lin Chen seketika berdetak lebih cepat.
"Sebagai imbalannya... Keluarga Shen bersedia memberikan apa pun, termasuk Pecahan Giok Hitam Kuno milik leluhur kami yang Anda cari."
Mata Lin Chen sedikit menyipit.
Pecahan Giok Penelan Surga kedua... ternyata berada di tangan penguasa tersembunyi Kota Jinling.