Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Darah dan Skema Sang Hakim
Cahaya fajar mulai menyingsing, menembus celah-celah besi menara pemancar radio yang terbengkalai itu. Di layar monitor, angka-angka statistik menunjukkan keberhasilan taktik Aluna. Narasi publik telah berbalik; para politisi korup kini menjadi sasaran kemarahan nasional, sementara tekanan terhadap sindikat Baskara mengendur secara drastis.
Namun, alih-alih merayakan kemenangan itu, Arjuna justru melangkah mundur. Ia menatap deretan layar itu dengan raut wajah yang meredup, dipenuhi oleh keputusasaan yang kelam.
"Ini tidak akan cukup, Na," suara Arjuna memecah keheningan, terdengar sangat lelah dan parau. "Kau memang berhasil memenangkan pertempuran malam ini, tapi perang yang sesungguhnya... sistem ini terlalu besar. Ayahku, para jenderal, para penguasa bayangan... kita tidak mungkin bisa melawan sistem raksasa ini hanya berdua."
Arjuna menangkup kedua pipi Aluna, menatap mata wanita itu dengan sorot perpisahan yang menyayat hati. "Kembalilah ke duniamu. Kau sudah membersihkan namaku di mata publik. Kau bisa kembali menjadi Hakim Ketua yang dihormati, kembali pada ayahmu. Berpisahlah denganku, Aluna. Setidaknya, dengan begitu aku tahu kau aman."
Mendengar itu, tatapan Aluna justru menajam. Tangan kecilnya menepis tangan Arjuna dengan kasar.
"Kau menyuruhku pergi setelah semua yang kita lewati?" desis Aluna, matanya berkilat marah sekaligus terluka. "Aku sudah membuang segalanya untukmu, Arjuna! Aku tidak akan kembali dan hidup dalam kebohongan sementara kau terus membusuk di dunia bawah tanah. Tidak. Aku tidak akan mundur."
"Aluna, kumohon rasional sedikit—"
**"Bawa aku menemui ayahmu,"** potong Aluna dengan nada absolut yang tidak menerima penolakan. "Aku yang akan menyelesaikan ini."
Arjuna terbelalak. "Kau gila? Dia baru saja mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisimu!"
"Itu karena dia mengira aku adalah ancaman," jawab Aluna dingin. "Sekarang, aku adalah kartu as-nya. Bawa dia keluar dari sangkarnya, Juna. Lakukan apa pun caramu."
**Menjebak Sang Raja**
Arjuna tahu bahwa ayahnya, Sang Raja Mafia, tidak akan pernah mau turun gunung menemui seseorang yang dianggapnya sebagai musuh tanpa adanya paksaan. Karena itu, Arjuna menggunakan satu-satunya senjata yang ia miliki: kendali atas jalur distribusi.
Dalam waktu dua jam, Arjuna meretas dan mengunci seluruh akses logistik pelabuhan utara menggunakan kode enkripsi tingkat militer yang hanya diketahui olehnya. Ia menahan tiga kapal kargo berisi aset paling berharga milik ayahnya di perairan internasional. Pesannya jelas: *Temui kami secara langsung, atau seluruh kargo itu akan kubocorkan ke Interpol.*
Taktik itu berhasil.
Siang harinya, di sebuah restoran *fine dining* privat yang telah dikosongkan di puncak gedung pencakar langit ibu kota, Sang Raja duduk dengan rahang mengeras dan tatapan membunuh. Belasan penembak jitu miliknya sudah bersiaga di berbagai sudut buta.
Pintu lift terbuka. Arjuna melangkah masuk dengan tangan menggenggam erat jemari Aluna. Wanita itu tidak menunduk; ia melangkah dengan keanggunan seorang Ratu yang menantang seorang Raja di atas papan caturnya sendiri.
"Kau benar-benar berani mengancam kerajaanmu sendiri demi seorang wanita, Arjuna," geram Sang Raja, matanya menatap tajam ke arah Aluna. "Dan kau, Nona Hakim. Trik media yang kau lakukan semalam cukup mengesankan, tapi itu tidak cukup untuk membuatku membiarkanmu hidup."
Aluna melepaskan genggaman tangan Arjuna. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan meja Sang Raja tanpa gentar.
"Saya tidak datang untuk meminta pengampunan Anda," ucap Aluna tenang, suaranya sedingin es. "Saya datang untuk menawarkan sebuah kesepakatan bisnis."
Sang Raja mengangkat alisnya, tersenyum meremehkan. "Bisnis apa yang bisa ditawarkan oleh seorang hakim yang sedang menjadi buronan?"
"Saya akan membersihkan seluruh jejak sindikat Baskara di mata hukum. Saya akan kembali ke dunia saya, menenangkan ayah saya, dan memastikan kepolisian serta media berhenti memburu kalian," Aluna menjeda kalimatnya, memastikan setiap kata terdengar mematikan. "Sebagai gantinya, bisnis Anda akan aman... asalkan Anda memberikan apa yang saya minta."
"Dan apa yang kau minta?" tanya Sang Raja, mulai tertarik dengan keberanian wanita itu.
"Buatkan skema identitas baru untuk putra Anda," jawab Aluna tegas. Matanya tidak berkedip menatap pria tua itu. "Ubah Arjuna menjadi seorang pengusaha legal yang bersih tanpa cacat. Jadikan dia pria terhormat di mata publik. Biarkan dia menemui ayah saya, melamar saya secara resmi, dan biarkan kami menikah."
Keheningan seketika menyergap ruangan itu. Arjuna menatap punggung Aluna dengan keterkejutan yang luar biasa. *Menikah?*
Sang Raja tertawa pelan, tawa yang sinis dan penuh kecurigaan.
"Cerdik sekali," kekeh pria tua itu. "Kau ingin aku membersihkan nama Arjuna, mengeluarkannya dari dunia gelap ini agar ia bisa menjadi milikmu seutuhnya. Tapi kau lupa satu hal, Nona. Arjuna telah bersumpah dengan darahnya untuk tidak pernah menjelaskan sistem sindikat ini kepada siapa pun di luar keluarga inti. Jika dia menjadi pengusaha legal dan menikah dengan putri seorang polisi... apa jaminannya kau tidak akan membocorkan rahasia kami kepada ayahmu?"
Aluna menatap lurus ke dalam mata kelam Raja Mafia itu. Tanpa ragu sedikit pun, Sang Palu Es mempertaruhkan nyawanya sendiri demi sumpahnya.
**"Jika saya memberikan satu kata pun informasi tentang bisnis ini kepada pihak berwenang..."** suara Aluna menggema dengan penuh ketegasan di ruangan itu, **"...maka saya berjanji, tangan Arjuna sendiri yang akan memenggal kepala saya."**
Arjuna tersentak. "Aluna!"
Sang Raja mengangkat tangannya, menghentikan protes putranya. Pria tua itu menatap Aluna lekat-lekat, mencari celah kebohongan atau keraguan. Namun, yang ia temukan hanyalah kegilaan murni dari seorang wanita yang rela menukar nyawanya demi cinta.
Perlahan, senyum kepuasan yang mengerikan terbit di wajah Sang Raja. Ia menyukai kekejaman yang ada di dalam diri wanita itu.
"Sepakat," putus Sang Raja. "Aku akan menciptakan identitas CEO perusahaan investasi asing untuknya. Tapi ingat janjimu, Hakim Aluna. Jika kau berkhianat, putraku yang akan mengeksekusimu di atas ranjang pengantin kalian."
**Rahasia Sang Hakim**
Malam itu, setelah kesepakatan mematikan itu disetujui dan seluruh logistik kembali dibuka, Arjuna membawa Aluna kembali ke apartemennya. Pria itu menatap wanitanya dengan perasaan campur aduk—marah karena Aluna menjadikan nyawanya sebagai jaminan, namun juga dipenuhi oleh cinta yang membakar jiwanya karena wanita itu memintanya untuk menikahinya.
"Kau tidak seharusnya membuat sumpah gila seperti itu di depan ayahku," bisik Arjuna sambil memeluk Aluna erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di rambut wanita itu. "Tapi... kau memintaku melamarmu. Kau serius, Na?"
"Tentu saja aku serius," balas Aluna pelan, menyandarkan kepalanya di dada Arjuna. "Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin ayahku merestui kita, meskipun semua itu berawal dari kebohongan dan skema buatan ayahmu."
Arjuna tersenyum haru, mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin melepaskan wanita itu barang sedetik pun. "Aku akan menjadi suami yang baik untukmu, Na. Aku janji."
Aluna memejamkan matanya, membalas pelukan itu dalam diam. Di luar sana, lampu-lampu ibu kota berkelap-kelip dengan indah.
Arjuna tidak tahu. Sang Raja tidak tahu. Bahkan Inspektur Arya pun tidak tahu.
Ada sebuah rahasia kelam yang Aluna sembunyikan rapat-rapat di balik kesepakatan gilanya hari ini. Tujuan utama Aluna memaksa kembali ke dunianya dan mengatur pernikahan ini bukanlah untuk hidup bahagia selamanya hingga menua bersama Arjuna.
Aluna tahu bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh melewati batas keadilan. Ia telah menutupi kejahatan, menipu publik, dan berbohong pada ayahnya yang sangat ia cintai. Beban dosa itu perlahan menggerogoti jiwanya dari dalam. Sang Hakim yang lurus itu tahu bahwa cepat atau lambat, hukum karma—atau ayahnya sendiri—akan mengendus kebohongan ini. Dan ketika saat itu tiba, skema ini akan hancur lebur.
Aluna tidak berniat untuk hidup panjang dalam kebohongan. Tujuan utamanya kembali ke dunianya adalah untuk menyiapkan "kematiannya" sendiri dengan tenang. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya yang singkat ini—beberapa bulan, atau mungkin hanya beberapa tahun—untuk hidup bahagia sebagai istri Arjuna secara normal di bawah sinar matahari, sebelum akhirnya takdir, atau peluru yang telah ia persiapkan, menuntut bayaran atas dosa-dosanya.
Baginya, mati di tangan pria yang paling ia cintai, atau mati demi melindungi rahasia mereka, adalah sebuah akhir yang sempurna.