Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Ditakuti
Setelah kematian Viktor Volkov, banyak orang mengira kekuasaan keluarga Volkov akan segera runtuh.
Leon baru berusia dua puluh dua tahun saat mengambil alih seluruh organisasi. Usianya masih terlalu muda menurut sebagian besar orang. Banyak pemimpin lama menganggap dirinya belum memiliki pengalaman yang cukup. Mereka percaya Leon hanya seorang pewaris yang mendapatkan kekuasaan karena nama keluarganya.
Di belakangnya, banyak yang mulai merencanakan pengkhianatan. Mereka menunggu Leon melakukan kesalahan dan menunggu organisasi Volkov kehilangan arah. Namun Leon tidak pernah memberi mereka kesempatan.
Pada minggu pertama setelah pemakaman ayahnya, Leon mengumpulkan seluruh pemimpin organisasi di ruang rapat utama.
Ruangan itu dipenuhi pria-pria yang telah bekerja bersama Viktor selama puluhan tahun. Sebagian memiliki pengaruh besar. Sebagian lagi bahkan lebih tua daripada Leon.
Mereka memandang pemuda itu dengan tatapan meragukan.
Leon duduk di kursi yang dulu digunakan ayahnya. Ia mengenakan jas hitam sederhana. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya tidak menunjukkan keraguan.
Salah satu pria akhirnya berbicara.
“Dengan segala hormat, Leon, organisasi ini terlalu besar untuk dipimpin seseorang seusiamu.”
Leon menatapnya.
“Lalu siapa yang menurutmu pantas?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Ada banyak orang yang lebih berpengalaman.”
“Termasuk kau?”
Ruangan langsung sunyi.
Leon tidak meninggikan suara. Ia tidak marah. Namun semua orang tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Pria tersebut mengangguk.
“Aku sudah bekerja untuk ayahmu selama tiga puluh tahun.”
Leon bersandar pelan.
“Kalau begitu, kau seharusnya tahu satu hal.”
“Apa?”
“Ayahku tidak pernah membangun organisasi ini dengan membiarkan orang lain mengambil keputusan untuknya.”
Tatapan Leon berubah dingin.
“Dan aku juga tidak akan melakukannya.”
Sejak hari itu, Leon mulai mengubah banyak hal. Ia tidak ingin menjadi duplikat Viktor.
Ia mempertahankan kekuatan organisasi, tetapi mulai membangun jaringan bisnis resmi yang lebih luas. Perusahaan logistik, keamanan, investasi, teknologi, dan perdagangan internasional mulai berkembang di bawah nama Volkov.
Leon memahami bahwa kekuasaan tidak bisa bertahan hanya dengan senjata dan rasa takut. Uang dapat membuka pintu. Informasi dapat mengendalikan arah. Namun kepercayaan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit diperoleh.
Karena itu, Leon memilih orang-orang berdasarkan kemampuan. Ia tidak peduli apakah mereka berasal dari keluarga kaya atau memiliki nama besar. Selama seseorang bekerja dengan baik dan tidak mengkhianati kepercayaan, Leon akan memberi mereka kesempatan. Sedangkan bagi pengkhianat, Leon tidak pernah memberikan kesempatan kedua.
Beberapa bulan setelah ia mengambil alih organisasi, salah satu pemimpin lama diam-diam menjual informasi penting kepada kelompok saingan.
Leon mengetahui semuanya. Suatu malam, pria itu dibawa ke hadapannya.
“Aku bisa menjelaskan,” katanya dengan wajah pucat.
Leon duduk diam di seberang meja.
“Aku tidak meminta penjelasan.”
“Aku terpaksa.”
“Tidak.”
Leon menatapnya tanpa emosi.
“Kau membuat pilihan.”
Pria itu mulai memohon.
“Aku punya keluarga.”
Leon terdiam beberapa saat.
“Justru karena kau punya keluarga, kau seharusnya memahami akibat dari pilihanmu.”
Malam itu, Leon tidak membunuhnya.
Ia mengambil seluruh kekuasaan dan akses yang dimiliki pria tersebut. Semua bisnisnya disita. Namanya dikeluarkan dari organisasi, dan ia kehilangan segala sesuatu yang selama ini dibangunnya. Namun Leon memastikan keluarganya tetap aman.
Ketika salah satu pengawalnya bertanya mengapa ia tidak memberikan hukuman yang lebih berat, Leon hanya menjawab,
“Kesalahannya miliknya. Bukan keluarganya.”
Keputusan itu membuat banyak orang mulai memahami siapa Leon sebenarnya. Ia bisa kejam. Namun ia tidak pernah menghukum orang yang tidak bersalah.
Seiring berjalannya waktu, pengaruh Volkov semakin besar. Nama Leon mulai dikenal di berbagai negara. Para pengusaha ingin bekerja sama dengannya. Para pejabat berhati-hati ketika membicarakan organisasinya. Kelompok-kelompok lain memilih berpikir dua kali sebelum menantangnya.
Namun semakin tinggi kekuasaan Leon, semakin banyak musuh yang muncul.
Suatu malam, ketika ia sedang menghadiri pertemuan bisnis, sebuah kendaraan mencoba menyerang mobilnya. Suara tembakan memecah jalan. Pengawalnya langsung membawa Leon keluar dari mobil.
“Pak Leon, kita harus pergi!”
Leon tidak bergerak.
“Berapa orang?”
“Setidaknya enam.”
“Orang kita?”
“Tiga terluka.”
Leon menatap jalan yang gelap.
“Bawa mereka ke tempat aman.”
“Bagaimana dengan Anda?”
Leon mengambil senjata dari salah satu pengawal.
“Aku akan memastikan mereka tidak mengikuti kita.”
Beberapa menit kemudian, suara tembakan berhenti. Leon kembali ke kendaraan dengan luka kecil di pelipis. Ia duduk tanpa berkata apa-apa.
Salah satu pengawal menatapnya khawatir.
“Anda terluka.”
“Hanya goresan.”
“Siapa mereka?”
Leon memandang keluar jendela.
“Orang-orang yang mengira aku akan takut.”
Keesokan harinya, seluruh jaringan mengetahui bahwa serangan terhadap Leon telah gagal. Tidak ada yang tahu bagaimana Leon menemukan orang-orang di balik serangan itu.
Namun dalam waktu kurang dari seminggu, kelompok tersebut kehilangan seluruh jalur bisnisnya.
Sejak saat itu, nama Leon Volkov tidak lagi hanya dihormati, tapi juga mulai ditakuti. Banyak orang berkata bahwa Leon lebih berbahaya daripada ayahnya. Jika Viktor menggunakan kekerasan untuk menunjukkan kekuasaan, maka Leon menggunakan ketenangan.
Viktor membuat orang takut karena kemarahannya, sedangkan Leon membuat orang takut karena tidak pernah menunjukkan kemarahannya.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dan tidak ada yang tahu kapan ia akan memberikan kesempatan atau menjatuhkan seseorang. Namun satu hal selalu diketahui semua orang, Leon tidak pernah melupakan pengkhianatan.
Pada usia dua puluh delapan tahun, ia telah membangun jaringan bisnis dan kekuasaan yang jauh lebih besar daripada yang diwariskan ayahnya.
Ia memiliki rumah di beberapa negara, perusahaan besar dan ribuan karyawan.
Ratusan orang yang bekerja untuk melindunginya. Namun setiap malam, Leon tetap pulang ke rumah yang sepi. Ia sering makan sendirian. Kadang ia duduk di ruang kerja sampai pagi sambil membaca laporan. Tidak ada yang menunggunya. Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah makan. Tidak ada pula yang mengingatkan bahwa ia harus beristirahat. Satu-satunya suara di rumah itu hanyalah langkah para penjaga dan staf.
Suatu malam, salah satu anggota keluarganya datang berkunjung.
“Kau harus berhenti bekerja sesekali,” kata saudaranya.
Leon tetap membaca dokumen.
“Aku baik-baik saja.”
“Kau selalu mengatakan itu.”
“Karena memang begitu.”
Saudaranya duduk di hadapannya.
“Kau punya segalanya, Leon.”
Leon berhenti membaca.
“Tidak.”
“Apa yang tidak kau punya?”
Leon tidak langsung menjawab.
Ia memandang jendela besar di belakang meja.
Di luar, hujan mulai turun.
“Aku tidak tahu.”
Namun sebenarnya, ia tahu. Ia hanya tidak ingin mengatakannya. Leon memiliki kekuasaan, tetapi tidak memiliki ketenangan.
Ia memiliki banyak orang di sekelilingnya, tetapi tidak memiliki seseorang yang benar-benar mengenalnya.
Ia memiliki rumah-rumah besar, tetapi tidak pernah merasa pulang. Karena itu, Leon memilih menjaga keluarganya dari kejauhan.
Ia memastikan saudara-saudaranya hidup aman dan tercukupi. Ia membantu pendidikan anak-anak mereka. Ia melindungi mereka dari orang-orang yang mungkin ingin menggunakan nama Volkov. Namun Leon tidak ingin membawa mereka masuk ke dalam organisasinya. Ia sudah kehilangan terlalu banyak hal karena dunia tersebut. Ia tidak ingin keluarganya mengalami hal yang sama.
“Biarkan mereka hidup normal,” katanya suatu hari kepada orang kepercayaannya.
“Bagaimana kalau mereka ingin terlibat?”
Leon menggeleng.
“Mereka tidak tahu betapa mahal harga sebuah kekuasaan.”
Tahun demi tahun berlalu. Nama Volkov semakin besar. Beberapa orang menyebut Leon sebagai pengusaha. Sebagiannya lagi menyebutnya pemimpin organisasi. Namun bagi musuh-musuhnya, ia adalah bayangan yang sulit dikalahkan.
Leon tidak pernah mencari ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mengambil dan mengacaukan hidupnya seperti dulu. Tanpa ia sadari, semakin kuat ia membangun perlindungan, semakin jauh ia menjauh dari manusia lain.
Ia menjadi sulit dipercaya, menjadi sulit didekati, dan semakin terbiasa menghadapi semuanya sendirian.
Suatu malam, Leon berdiri di balkon salah satu rumahnya. Kota terlihat terang di bawah sana.
Di dalam rumah, beberapa staf masih bekerja. Para pengawal berjaga di setiap sudut. Leon aman, setidaknya secara fisik. Namun di dalam dirinya, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh kekuasaan. Ia teringat pada kata-kata ibunya.
Kuat adalah tetap melakukan hal yang benar meskipun kau sedang takut.
Leon menutup mata, dan sekejap membayangkan ibunya. Selama ini ia sudah menjadi kuat. Ia sudah bertahan, dan ia sudah membangun sebuah kerajaan. Namun ia mulai bertanya apakah semua itu benar-benar membuatnya bahagia.
Di saat yang sama, sebuah laporan baru tiba. Salah satu wilayah penting bagi jaringan Volkov mulai mengalami ketegangan politik. Kelompok-kelompok bersenjata mulai bergerak. Beberapa jalur perdagangan terancam ditutup.
Leon menerima laporan itu tanpa banyak perhatian. Baginya, konflik seperti itu bukan sesuatu yang baru. Ia belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian, ketegangan itu akan berkembang menjadi perang. Dan perang tersebut akan membawanya ke sebuah negara yang jauh. Ke tempat di mana hidupnya akan berubah. Ke tempat di mana ia akan bertemu seorang perempuan bernama Amara.
Malam itu, Leon hanya menutup laporan dan kembali memandang kota. Ia belum mengetahui bahwa di balik semua kekuasaan yang telah dibangunnya, takdir sedang menyiapkan seseorang yang tidak akan takut pada namanya.
Seseorang yang tidak akan melihatnya sebagai Leon Volkov. Melainkan hanya sebagai seorang manusia.