Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kebohongan yang Terbongkar
Keesokan paginya, Mas Viyan berangkat bekerja lebih awal dari biasanya. Sebelum berangkat, ia sempat menghampiriku yang sedang menyiapkan bekal makan siang.
"Sayang."
"Iya, Mas?"
"Nanti kalau Mas sempat istirahat, Mas mau telepon kampus Dinda."
Aku menghentikan kegiatanku sejenak. "Hati-hati ya, Mas. Jangan sampai Dinda merasa dijebak."
Mas Viyan mengangguk. "Mas cuma mau memastikan."
Aku tersenyum tipis. "Iya."
---
Siang harinya. Aku sedang menyusun laporan di kantor ketika ponselku bergetar. Nama Mas Viyan muncul di layar.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam."
Suara suamiku terdengar lebih pelan dari biasanya. "Mas sudah telepon kampus."
Jantungku berdegup lebih cepat.
"Terus?"
"Hasilnya..."
Mas terdiam beberapa detik. "Pihak kampus enggak mau memberikan informasi soal nilai atau data mahasiswa."
Aku mengembuskan napas pelan.
"Oh...Tapi...Mereka bilang kalau memang keluarga inti, harus datang langsung membawa identitas." Ucap suamiku.
Aku mengangguk. "Berarti memang ada jalannya."
"Iya. Mas pikir gimana hari Sabtu kita datang ke sana?"
"Boleh mas, aku akan ijin sebentar ke kantor. Dinda ikut?"
"Enggak. Mas mau bilang sekalian lewat kampus karena ada urusan kerja."
Aku terdiam sejenak. Rasanya sedikit tidak enak. Namun demi mengetahui kebenaran, mungkin itu memang harus dilakukan.
---
Sore harinya, aku pulang lebih dulu daripada Mas Viyan. Begitu membuka pintu rumah, terdengar suara tawa dari kamar Dinda. Pintunya sedikit terbuka.
"Aduh, Sayang..."
"Iya nanti ketemu lagi."
"Aku juga kangen."
Aku spontan menghentikan langkah. Beberapa detik kemudian Dinda menoleh dan melihatku berdiri di depan kamarnya.
Wajahnya langsung berubah. Ia buru-buru mematikan panggilan.
"Ngapain sih nguping?" Bentaknya.
"Aku enggak nguping. Orang aku baru masuk."
"Halah. Jangan bohong."
Aku menghela napas. "Aku cuma mau ke kamar."
Tanpa menjawab lagi, aku langsung berlalu. Namun satu hal yang sempat kulihat... Di meja belajar Dinda terdapat sebuah bingkai foto kecil. Foto dirinya bersama seorang laki-laki. Laki-laki yang sama seperti yang pernah kulihat menjemputnya. Mungkin itu adalah pacarnya. Namun entah kenapa ada yang mengganjal saja di hatiku.
---
Malam harinya, Aku memasak ayam kecap.Kami makan bersama seperti biasa. Tiba-tiba Bu Mirna membuka pembicaraan.
"Dinda."
"Iya, Ma?"
"Sabtu nanti jangan lupa kuliah ya."
Aku dan Mas Viyan saling berpandangan. Dinda tampak sedikit gugup.
"Iya, Ma. Lagian kamu sekarang rajin sekali."
"Iya dong. Kalau enggak rajin mana bisa cepat lulus."
Aku menundukkan kepala sambil mengambil nasi. Entah kenapa... Kalimat itu terdengar seperti sedang meyakinkan seseorang.
---
Hari Sabtu pun tiba. Pagi-pagi sekali sebelum kami berangkat kerja, Dinda sudah berdandan.
"Bang."
"Iya?"
"Aku berangkat dulu ya."
"Mau diantar?"
"Enggak usah bang. Teman sudah nunggu."
"Oke. Hati-hati ya"
"Oya bang, Dinda ingin beli buku. Emm abang boleh engga tranfer Dinda sekarang 400 ribu aja bang"
"Yan.. kasih lah. Buku itu agak mahal." Ucap Mertuaku ikut campur.
Mas Viyan melihat ke arah ku. Dan aku mengangguk karena tidak ingin pagi pagi ada keributan. Setelah itu mas Viyan mengambil ponsel nya untuk mentransfer uang yang Dinda minta.
"Sudah.." Ucap suamiku.
"Ya bang sudah masuk. Terimakasih bang. Bye.." Ucap Dinda lalu Dinda langsung keluar rumah.
Sekitar 1,5 jam kemudian, Mas Viyan mengajakku berangkat.
Aku mengangguk. Kami berpamitan kepada Bu Mirna.
"Ma. Kami berangkat ya."
"Iyaa"
Bu Mirna tidak bertanya lagi.
---
Perjalanan menuju kampus memakan waktu hampir empat puluh menit. Sesampainya di sana, Mas Viyan langsung menuju bagian administrasi.
"Selamat pagi." Ucapku
"Pagi, Pak. Saya kakaknya Dinda Pratiwi.Saya ingin memastikan beberapa administrasi kuliahnya." Ucap suamiku.
Petugas itu tersenyum ramah. "Boleh KTP dan Kartu Keluarga, Pak?"
Mas Viyan menyerahkannya. Petugas kemudian memeriksa data di komputer.
Beberapa detik berlalu. Wajah petugas itu perlahan berubah.
"Maaf, Pak. Apa yang mau anda ketahui ya?"
Mas Viyan mengangguk. "Saya ingin memastikan pembayaran UKT adik saya."
Petugas kembali mengetik. Lalu berkata pelan. "Pembayaran semester ini memang belum lunas."
Aku sedikit lega. Berarti memang ada tunggakan. Namun kalimat berikutnya membuat kami sama-sama membeku.
"Tapi... Tunggakannya bukan satu semester." Ucap petugas itu lagi.
"Hah? Bagaimana pak?"
"Tunggakan adik Bapak belum di bayar selama 2 tahun, ada 4 semester." Jawab petugas itu.
Aku dan Mas Viyan saling menatap. "4 semester?"
"Iya, Pak. Kalau tidak segera diselesaikan...status akademiknya bisa dinonaktifkan."
Mas Viyan tampak pucat.
"Maaf...Berarti selama ini... Sama sekali belum pernah dibayar?"
Petugas membuka kembali riwayat pembayaran. "Terakhir pembayaran penuh dilakukan sekitar 2 tahun yang lalu. Ananda Dinda tidak mengajukan cuti, jadi di sistem sekarang status nya non-aktif. Jika semester depan tidak di lunasi dan tidak mengikuti perkuliahan akan di drop out pak. Begitu.."
Aku melihat tangan Mas Viyan mulai bergetar. Selama ini... Uang yang berkali-kali diminta atas nama kuliah...Ternyata tidak pernah sampai ke kampus.
Petugas itu kembali berkata, "Kalau Bapak ingin, nanti kami bisa cetakkan rincian tagihan resminya."
Mas Viyan mengangguk pelan. "Iya pak, tolong."
Saat petugas berjalan menuju mesin cetak, aku menggenggam tangan suamiku. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.
Hari ini... Kecurigaan kami akhirnya mulai menemukan jawabannya.
Namun kami masih belum tahu... Ke mana sebenarnya semua uang itu mengalir dan siapa yang selama ini paling banyak berbohong.
***
Aku dan Mas Viyan masih terduduk di depan meja administrasi. Beberapa saat kemudian, petugas kembali membawa selembar berkas.
"Silakan, Pak."
Mas Viyan menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Aku ikut melihat isi kertas itu.Di sana tertulis dengan jelas rincian pembayaran UKT Dinda.
Semester 3 ganjil... Belum lunas.
Semester 4 genap... Belum lunas.
Semester 5 ganjil... Belum lunas.
Semester 6 genap.. belum lunas.
Bahkan terdapat denda keterlambatan pembayaran. Yang jumlah nya menembus 25 juta. ku menutup mulutku karena tidak percaya.
"Mas..." Suaraku lirih.
Mas Viyan tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada berkas itu. Wajahnya perlahan berubah pucat.
Petugas administrasi kembali berbicara.
"Pak. Kalau boleh tahu...Selama ini keluarga tidak mengetahui ya?"
Mas Viyan menggeleng pelan. "Kami berkali-kali memberikan uang kuliah."
Petugas tampak ikut terkejut. "Oh...Kalau begitu mungkin ada kesalahpahaman."
Mas Viyan memaksakan senyum. "Iya. pak. Terima kasih informasinya."
Setelah berpamitan, kami keluar dari gedung administrasi. Begitu sampai di halaman kampus, Mas Viyan langsung duduk di sebuah bangku taman. Ia masih memandangi lembar tagihan itu. Aku duduk di sampingnya.
"Mas..."
Beberapa detik kemudian... Air mata jatuh dari kedua mata suamiku. Aku langsung terdiam. Selama menikah... Belum pernah sekalipun aku melihat Mas Viyan menangis.
"Aku gagal ya, Sayang?"
Aku langsung menggenggam tangannya. "Jangan ngomong begitu."
"Aku ini kakaknya. Harusnya aku tahu. Tapi selama ini aku percaya begitu saja."
Aku mengusap punggung tangannya. "Mas bukan gagal. Mas cuma terlalu sayang sama keluarga."
Mas Viyan menundukkan kepala. "Selama ini aku lembur. Nahan lapar. Nunda beli baju. Supaya Dinda bisa kuliah. Kalau begini....uangnya ke mana?"
Aku ikut menghela napas panjang. Pertanyaan itu juga memenuhi pikiranku.
Saat hendak pulang, tiba-tiba sebuah mobil putih memasuki area parkir kampus. Aku tidak terlalu memperhatikan. Namun Mas Viyan mendadak berdiri.
"Itu..." Aku mengikuti arah pandangannya.
Seorang laki-laki turun dari kursi pengemudi.
Tak lama kemudian... Dinda keluar dari kursi penumpang depan.
Mereka tertawa bersama. Laki-laki itu bahkan membelai kepala Dinda dengan sangat akrab. Aku langsung membelalakkan mata.
"Itu Dinda..."
Mas Viyan mengepalkan tangannya. "Kenapa dia di sini?"
Padahal... Tadi pagi ia berangkat lebih dulu dengan alasan kuliah. Namun jam kuliah seharusnya sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Kami memutuskan berdiri agak jauh agar tidak terlihat. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu memberikan sebuah kotak kecil kepada Dinda. Dinda menerimanya sambil tersenyum lebar.
Lalu... Ia memeluk laki-laki itu. Mas Viyan benar-benar terpaku.
"Sejak kapan..." Gumamnya pelan.
Aku hanya bisa diam.
Bersambung..