"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 #Luka diantara Kita
Pagi kembali menyapa kota dengan kehangatan tipis yang menembus celah-celah dedaunan. Bening bergegas melangkah menyusuri trotoar menuju Sekolah Taman Kanak-Kanak Merpati. Di dalam tas kainnya, tersimpan sebuah bekal sederhana yang ia masak sendiri sejak usai subuh, beberapa tangkup sandwich isi telur dan sayuran kesukaan Kaivandra. Hanya ini cara sederhana yang bisa dilakukan Bening untuk tetap menyalurkan kasih sayangnya secara langsung pada sang putra.
Begitu sampai di depan gerbang sekolah, pandangan Bening langsung menangkap sosok Kaivandra yang baru saja turun dari sedan hitam mewah milik Gibran.
"Mama...!" jerit Kai riang, matanya berbinar seketika. Bocah kecil itu berlari-lari kecil menubruk Bening, memeluk erat pinggang ibunya.
Bening berlutut, merengkuh tubuh mungil putranya dan mendaratkan ciuman hangat di kedua pipi Kai. "Selamat pagi, anak pintar Mama... Mama bawakan bekal sandwich untuk Kai makan saat jam istirahat nanti, ya."
"Wah, terima kasih Mama!" seru Kai gembira.
Namun, di tengah kehangatan itu, kepolosan bocah enam tahun itu mendadak meluncur tanpa filter. Kai mendongak, menatap Bening lalu melirik Gibran yang berdiri menjulang di belakang mereka.
"Mama... Kai mau tanya deh," ucap Kai polos dengan sepasang mata jernihnya yang berkedip. "Mama kan selalu memeluk dan mencium Kai karena kita tidak tinggal di satu rumah dan berjauhan... Nah, Papa sama Mama kan juga berjauhan dan tidak tinggal di satu rumah, tapi kenapa Mama tidak pernah memeluk Papa juga?"
Deg.
Kalimat jujur dari mulut mungil Kai seketika membekukan atmosfer di sekitar mereka. Bening membeku di tempatnya berlutut, tenggorokannya terasa tercekat tak sanggup menyusun kata. Wajahnya memucat canggung. Secara refleks, Bening mendongak dan matanya bertatapan langsung dengan sepasang manik mata tajam milik Gibran yang juga terpaku menatapnya.
Keheningan yang mematikan itu berlangsung selama beberapa detik yang menyiksa.
Kriiiing....
Beruntung, suara bel sekolah berbunyi nyaring memecah kecanggokan luar biasa tersebut. Bening menghembuskan napas lega yang teramat sangat di dalam hati.
"Ah... bel masuk sudah berbunyi, sayang," potong Bening cepat, suaranya sedikit gemetar. "Ayo, Mama antar sampai ke depan kelas ya."
Bening membimbing Kai masuk ke area sekolah dan menyerahkannya pada Bu Anisa yang sudah menyambut di depan pintu kelas. Usai mencium dahi Kai sekali lagi, Bening memutar tubuhnya dan melangkah keluar menuju gerbang utama.
Di seberang sana, Gibran berdiri menanti. Saat Bening berjalan mendekat, ada dorongan kuat di dalam dada Gibran untuk menyapa atau sekadar menanyakan kabar mantan istrinya itu. Namun, ego dan gengsi tinggi yang sudah bertahun-tahun dipeliharanya kembali berkuasa mengunci rapat bibirnya.
Sementara itu, Bening melangkah melewati Gibran dengan sikap yang teramat acuh. Tatapan matanya lurus ke depan, seolah-olah Gibran adalah sosok asing yang tak kasat mata. Padahal, di balik pertahanan dinginnya itu, dada Bening berdenyut nyeri. Rasa rindu yang teramat mendalam pada pria yang sampai detik ini masih sangat ia cintai itu terasa begitu menyiksa dan menghimpit napasnya.
Bening berdiri di pinggir jalan utama, merogoh ponselnya untuk memesan taksi online. Ia harus segera pergi ke pasar dan toko perlengkapan kue untuk membeli bahan-bahan pesanan. Namun, entah mengapa, pesanannya dibatalkan berturut-turut oleh pengemudi. Bening menghela napas pasrah, memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte bus terdekat yang berjarak beberapa ratus meter.
Namun, baru lima langkah Bening bergerak, sebuah cengkeraman halus namun tegas menahan pergelangan tangannya.
Bening terlonjak dan berbalik. Gibran berdiri di sana. Pria yang tadinya dikuasai ego itu akhirnya kalah oleh nuraninya sendiri.
"Kamu mau pergi ke mana? Aku akan mengantarmu," ucap Gibran dengan nada suara datar namun tak menerima penolakan.
Bening menatap langsung ke dalam manik mata coklat milik Gibran. Di dalam relung hatinya, ada desir hangat dan rasa senang yang membuncah karena perhatian kecil itu. Namun, di saat yang sama, rasa takut yang besar menyusup, ia khawatir kebaikan kecil seperti ini justru akan menjadi bumerang dan luka baru di masa depan jika ia terlalu berharap.
"Tidak usah, Mas Gibran. Saya bisa naik bus..."
Melihat keraguan dan penolakan di mata Bening, Gibran buru-buru menyela untuk menutupi rasa kepeduliannya yang mulai mencuat kembali.
"Jangan percaya diri," potong Gibran dingin dengan wajah kaku. "Anggap saja ini bentuk balasan budi dariku untukmu yang sudah merawat dan mendidik putraku dengan sangat baik selama enam tahun ini. Masuklah, aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat."
Gibran melepaskan cengkeramannya, berbalik lalu masuk ke kursi kemudi.
Bening menatap pintu mobil yang terbuka dengan langkah ragu. Pada akhirnya, ia mengalah dan melangkah masuk menempati kursi penumpang di depan.
Pintu tertutup. Begitu sedan hitam itu melaju membelah jalanan kota, atmosfer di dalam kabin terasa teramat menyesakkan. Tanpa kehadiran Kaivandra di antara mereka, suasana terasa seribu kali lebih canggung dari biasanya. Hanya ada keheningan tebal yang menyergap, diiringi deru mesin halus yang memenuhi ruangan. Bening memilih melemparkan pandangannya ke luar jendela, meremas jemarinya yang dingin di atas pangkuan.
Ketegangan yang membeku itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Gibran membuka suara. Kalimat yang meluncur dari bibir pria itu tidak lagi bernada hangat, melainkan pertanyaan tajam yang meneteskan racun luka lama.
"Ke mana pria kekasih gelapmu itu?" tanya Gibran dengan nada sinis yang tertahan, matanya tetap menatap lurus ke jalan raya. "Apa dia meninggalkanmu begitu saja saat tahu aku menceraikanmu?"
Deg.
Pertanyaan menyakitkan itu menghantam dada Bening tanpa ampun. Napas Bening tertahan sejenak. Tubuhnya sedikit bergetar menahan gejolak rasa perih yang teramat sangat atas tuduhan palsu yang tak pernah berhenti dilontarkan padanya.
Bening menoleh pelan, menatap profil samping wajah mantan suaminya dengan tatapan mata yang dingin namun sarat akan duka mendalam.
"Sepertinya... aku tidak perlu menjawab soal itu, Mas," sahut Bening dengan suara yang diusahakan selurus dan setenang mungkin, meski getaran luka tak bisa sepenuhnya disembunyikan. "Urusan kita sekarang hanya seputar Kaivandra. Aku harap... kamu jangan pernah lagi mencampuri atau mengurus soal pribadi kehidupanku."
Gibran meremas kemudi mobilnya lebih kuat hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia memilih bungkam tak membalas.
Tepat saat itu, mobil berhenti sempurna di depan sebuah toko besar yang menjual berbagai perlengkapan bahan kue, tujuan Bening.
"Terima kasih atas tumpangannya," bisik Bening halus tanpa menatap Gibran lagi.
Bening membuka pintu mobil, melangkah turun, dan menutupnya kembali dengan pelan. Wanita itu berjalan lurus menuju pintu toko tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Rambut lurusnya yang hitam tergerai indah tampak terombang-ambing tertiup angin seiring dengan langkah kakinya yang tegap namun terkesan rapuh.
Di dalam mobil yang masih terparkir, Gibran mematung. Matanya menatap lurus, mengunci sosok mantan istrinya yang perlahan menghilang di balik pintu kaca toko kue.
Dada Gibran bergemuruh dahsyat. Pikiran dan intuisinya berontak hebat.
'Ada yang sangat salah di sini...' batin Gibran berkecamuk, mengepalkan tangannya di atas lingkar kemudi.
Gibran adalah seorang pengusaha sukses yang biasa membaca ekspresi orang lain. Dan siang ini, ia bisa melihatnya dengan sangat jelas. Meski sikap dan tutur kata Bening terasa ketus dan berjarak padanya, namun dari sorot mata bening milik wanita itu... tersimpan gumpalan kesedihan yang teramat dalam dan tak tersampaikan.
Gibran bersandar pada jok mobilnya, memejamkan mata sejenak saat sebuah kesadaran menghantam logikanya.
'Jika Bening memang tidak pernah mencintaiku sejak awal... jika dia memang wanita licik yang berselingkuh dan memanfaatkanku... mengapa sekarang dia seolah sengaja membangun tembok dan menjaga jarak padaku? Seolah-olah... dia sangat takut jika berada terlalu dekat denganku, dia tidak akan sanggup menahan rasa rindu itu lagi?'
Keraguan Gibran atas kebenaran fitnah masa lalu itu kini retak sepenuhnya, menyisakan tanda tanya besar yang menuntut untuk segera dibongkar.
ga bakal ketauan ortu sendiri