Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
005
Ketenangan yang dingin merayap di penthouse mewah lantai teratas sebuah pencakar langit di kawasan pusat kota Los Angeles.
Jauh di bawah sana, kelap-kelip lampu metropolitan LA membentang bagaikan lautan kristal, namun tak ada satu pun dari kemewahan itu yang sanggup mengalihkan perhatian pria di dalam kamar mandi utama berlantai marmer hitam tersebut.
Braxley Valerio-Desmon berdiri di depan cermin besar bernuansa bronze. Uap air hangat yang baru saja menyelimuti ruangan perlahan memudar, memperlihatkan figur tubuhnya yang liar dan kokoh.
Di usianya yang matang, aura kepemimpinan dan dominasi pria itu telah terbentuk sempurna. Otot-otot dadanya yang bidang terukir tegas, berpadu dengan bahu lebar dan rahang tajam yang tak tersentuh kompromi.
Hanya ada selembar handuk putih melilit rendah di pinggangnya.
Jari-jemari panjang Braxley bergerak perlahan, meraba sebaris tato berukir gaya gothic di atas tulang pinggul kanannya—tepat di atas batas lilitan handuk.
AURORA AMORE.
Tato yang diukir dengan tinta hitam dan darah mudanya saat ia masih berusia Delapan belas tahun. Nama yang tak pernah ia hapus, tak pernah ia batalkan, dan tak pernah ia biarkan dimiliki oleh pria mana pun.
Braxley menatap siluet dirinya di cermin, lalu sudut bibirnya terangkat, membentuk garis senyum tipis yang sarat akan obsesi dingin yang berbahaya.
"Putra kita bernama Draco?" gumam Braxley lirih, suaranya serak bergetar di dalam kehampaan kamar mandi. "Nama yang sempurna. Draco Valerio-Desmon."
Flashback: Dua Tahun Lalu
Keputusasaan bisa mengubah seorang pria menjadi monster, dan Braxley telah menjelma menjadi monster itu sejak hari di mana ia menemukan deretan lepuhan kosong dari obat penunda kehamilan di dalam tas Aurora.
Kala itu, rasa kecewanya begitu menghantam. Di saat Braxley bertaruh nyawa di jalanan, bertarung untuk membangun reputasinya agar tak selalu berada di bawah bayang-bayang besar keluarganya, Aurora justru memilih untuk mematikan benih masa depan mereka.
Wanita yang ia cintai setengah mati itu lebih memilih meminum pil-pil kimia berbahaya daripada mengandung anak dari seorang Braxley.
Rasa hancur dan terhina itu mendorongnya meninggalkan Los Angeles.
Atas desakan sang mommy, Zephyr, serta ancaman keras dari sang daddy, Austin Jaxon (AJ)—yang bersumpah akan memotong seluruh akses finansial dan melarangnya menginjakkan kaki di Amerika sebelum ia mampu menyelesaikan studi dan membangun fondasi bisnisnya sendiri—Braxley pun terbang ke Eropa.
Ia berniat menenangkan diri. Ia pergi bukan untuk mengakhiri hubungan mereka, melainkan hanya ingin memberi waktu bagi dadanya yang sesak agar rasa kecewa itu mengendap, sehingga ia bisa menemukan cara untuk memaafkan Aurora.
Namun, dunia tidak berjalan sesuai rencananya.
Seminggu berada di Eropa, di tengah rasa rindu yang menyiksa, Braxley mencoba menghubungi nomor Aurora.
Nada sambung yang terdengar hanyalah suara operator dingin yang memberitahukan bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif.
Aurora telah mengganti nomor ponselnya.
Cinta yang diukir selama lima tahun seolah tak ada artinya sama sekali di mata wanita itu. Aurora membuangnya tanpa ragu.
Dua tahun berlalu dalam kegelapan. Braxley membantai dirinya sendiri dalam kerja keras.
Namun, di tengah puncak kejayaannya, sebuah kabar bertiup dari Los angeles : Aurora akan menikah dengan Jonathan Carser.
Kabar itu memicu kegilaan di dalam kepala Braxley.
Tanpa sepengetahuan orang tuanya, tanpa peduli pada ancaman sang ayah, Braxley terbang kembali ke Los Angeles.
Pria itu menyewa unit tepat di depan apartemen kecil yang disewa Aurora di kawasan perkotaan LA selama dua bulan penuh.
Braxley mempelajari seluruh pergerakan wanita itu.
Dengan sangat mudah, ia menerobos masuk ke dalam apartemen Aurora sewaktu wanita itu sedang bekerja. Kata sandi pintu apartemen itu—ternyata berupa tanggal pertama kali mereka resmi berpacaran bertahun-tahun lalu.
Sebuah ironi manis yang membuat darah Braxley makin bergejolak.
Ia memasang kamera CCTV berukuran mikro di setiap sudut ruangan, terutama di kamar tidur Aurora.
Tak hanya itu, Braxley mencampur air minum di atas nakas tempat tidur wanita itu dengan zat khusus—sebuah obat penenang tak berbau dan tak berasa yang dirancang untuk membuat seseorang kehilangan kesadaran secara mendalam serta mengalami amnesia jangka pendek saat terbangun.
Setiap malam, ketika kegelapan menyelimuti Los Angeles dan efek obat itu mulai bekerja, Braxley akan membuka pintu apartemen Aurora.
Ia melangkah masuk seperti hantu yang menagih janji.
Di dalam kamar yang remang-remang itu, Braxley meniduri kekasihnya berkali-kali. Pria itu menuntaskan kerinduan yang liar dan mengikat tubuh Aurora dalam dominasi mutlak yang tak terelakkan.
Ia tidak akan pernah membiarkan Aurora menjadi milik pria lain.
Hanya dialah yang tahu bagaimana Aurora, bahkan dalam kondisi setengah sadar di bawah pengaruh zat tersebut, selalu mendesahkan namanya—Axley—setiap kali ia menyentuh titik terlemah wanita itu.
Dan sebelum fajar menyingsing, di jam yang sudah ia hafal di luar kepala, Braxley akan membersihkan seluruh jejak percintaan mereka. Ia memandikan Aurora dengan lembut, mengganti pakaian wanita itu, merapikan seprai, dan menghapus setiap bukti kehadiran dirinya.
Ketika Aurora terbangun setiap pagi dengan rasa pusing hebat di kepalanya, wanita itu hanya akan menganggapnya sebagai efek stres akibat kelelahan dan tekanan pekerjaan barunya.
Aurora tidak pernah mencurigai apa pun. Ia tidak pernah tahu bahwa di dalam perutnya, benih rahasia sedang tumbuh.
...°°°...
Hingga suatu hari, melalui layar monitor CCTV di kamar depannya, Braxley menyaksikan Aurora berlari ke kamar mandi, muntah-muntah di pagi hari.
Braxley tersenyum puas di balik layar monitor. Misi gilanya telah berhasil.
Aurora–kekasihnya telah mengandung anaknya.
Dengan kepuasan mutlak bahwa Aurora akan selamanya terikat padanya—bahwa wanita itu tidak akan pernah bisa benar-benar melarikan diri—Braxley berkemas dan kembali ke Eropa untuk menyelesaikan transaksi bisnis besarnya, membiarkan alur takdir gila ini bergulir hingga ia siap untuk datang menagih haknya secara utuh.
Flashback Off
Braxley menyisir rambut hitamnya yang basah ke belakang. Tatapan matanya di depan cermin memancarkan kekejaman seorang villain yang tak memiliki rasa penyesalan sedikit pun.
Di dalam naskah kehidupan yang ia tulis sendiri, dialah sutradaranya. Dialah penguasanya.
Langkah kaki terdengar dari luar kamar mandi.
Pintu terdorong terbuka sedikit, memperlihatkan Clark, asisten pribadinya yang paling setia, berdiri dengan dokumen tertutup di tangannya.
"Tuan Braxley," panggil Clark dengan suara rendah dan penuh hormat. "Informasi dari kediaman Carser baru saja masuk."
Braxley berbalik santai, meraih jubah mandi sutra hitamnya dan mengikatnya erat di pinggang.
"Katakan."
"Terjadi pertengkaran hebat antara Nyonya Aurora dan Jonathan Carser malam ini setelah mereka kembali dari The Obsidian," lapor Clark.
"Jonathan meninggalkan rumah dengan terburu-buru tiga puluh menit yang lalu menuju salah satu unit apartemen milik asistennya, Berenda. Sementara Nyonya Aurora... dia tetap berada di kamar bayi bersama putranya."
Braxley terkekeh pelan. Sebuah tawa remeh yang dingin.
"Pria pecundang itu bahkan tidak memiliki keberanian untuk mempertahankan posisinya," ujar Braxley, melangkah keluar dari kamar mandi menuju ruang tengah penthouse-nya yang megah. "Dia tahu bayi itu bukan darah dagingnya, tapi egonya yang dangkal menahan dirinya untuk mengakui kekalahan."
"Apakah kita akan mengambil tindakan selanjutnya, Tuan?" tanya Clark ragu. "Tuan AJ sudah mulai memantau pergerakan Anda di kota ini. Jika beliau tahu Anda kembali bukan sekadar untuk urusan ekspansi Desmon Group..."
"Daddy tidak perlu tahu sampai semuanya selesai, Clark," potong Braxley dingin. Ia melangkah menuju jendela kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap malam Los Angeles.
"Permainan ini sudah terlalu membosankan, Clark."
Braxley menyilangkan kedua tangannya di dada. Bayangan wajah Aurora yang pucat, bibirnya yang bergetar saat menampar pipinya di restoran tadi, serta sorot mata ketakutan wanita itu saat menyebut nama Draco, berputar menari-nari di ingatan Braxley.
Ia tahu Aurora sedang menyiksa dirinya sendiri dalam rasa bersalah dan kebingungan. Ia tahu Aurora terdesak oleh perlakuan kasar Jonathan dan manipulasi di sekelilingnya.
"Siapkan dokumen akuisisi untuk seluruh saham sekunder Carser Corporation besok pagi," perintah Braxley dengan nada bicara yang amat mutlak. "Buat Jonathan berlutut di papan perdagangan sebelum minggu ini berakhir."
"Baik, Tuan."
"Dan Clark..." Braxley berbalik sedikit, sudut matanya berkilat tajam. "Kirimkan dokter pribadi kita ke mansion Carser dengan dalih pemeriksaan kesehatan resmi dari pihak sponsor Desmon Group. Pastikan sampel DNA bayi itu diambil tanpa cacat."
"Bukannya Anda sudah sangat yakin bahwa bayi itu adalah putra Anda, Tuan Braxley?" Clark bertanya pelan.
Braxley tersenyum—sebuah senyuman penuh intrik yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Aku tidak butuh tes DNA itu untuk meyakinkan diriku sendiri, Clark. Aku tahu persis apa yang kubuat setiap malam berbulan-bulan lalu," bisik Braxley pelan. "Aku menyuruhmu mengambil sampel itu untuk kuhantamkan langsung ke wajah Jonathan Carser saat aku mengambil kembali istri dan anakku dari genggamannya."
Clark membungkuk dalam-dalam, memahami bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini—bahkan Jonathan Carser atau keluarga besar Desmon sekali pun—yang bisa menghentikan kegilaan pria di depannya jika itu sudah menyangkut wanita bernama Aurora.
Setelah Clark pergi dan mengunci pintu penthouse, Braxley kembali berdiri menyendiri di depan kaca raksasa.
Tangannya terangkat, menyentuh kaca dingin yang memantulkan bayangan kota Los Angeles.
"Sebentar lagi, Amore," bisik Braxley tajam pada bayangannya sendiri.
"Menangislah sepuasmu malam ini di dalam pelukan pria pecundang itu. Karena begitu aku melangkah masuk ke rumah itu, kau dan Draco tidak akan pernah bisa lepas lagi dari genggamanku."
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳