NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHIDUPAN KEDUA

Hujan gerimis turun membasahi area pemakaman yang sepi. Di antara deretan nisan yang masih tampak baru, lima makam berdiri berdampingan. Anneta. Naura. Viona. Leo. Luna. Nama-nama itu terukir rapi pada batu nisan yang kini menjadi satu-satunya penanda bahwa mereka pernah hidup, tertawa, dan mengisi hari-hari orang-orang yang mencintai mereka.

Puluhan orang telah pulang sejak prosesi pemakaman selesai. Namun sepasang suami istri masih berdiri di sana. Mata mereka sembab akibat terlalu banyak menangis. Wanita paruh baya itu berlutut di depan makam putrinya sambil menggenggam bunga yang mulai basah oleh hujan. Bahunya bergetar hebat, sementara air mata terus mengalir tanpa henti.

"Kenapa..." suaranya pecah. "Kenapa kalian semua meninggalkan Mommy dan Daddy?"

Pria di sampingnya memejamkan mata. Meski berusaha tegar, matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan yang sama.

"Kami akan merasa sangat kesepian tanpa kalian..." lanjut wanita itu sambil menatap satu per satu nisan yang berjajar di hadapannya. "Viona... Mommy rindu suara teriakan kamu nak. Mansion akan terasa begitu sepi tanpa mu Nak."

Tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia kemudian menggeser pandangannya ke makam Anneta.

"Anneta..." lirihnya dengan suara bergetar. "Mommy dan Daddy menyayangimu, Nak. Sangat menyayangimu. Kamu satu-satunya yang selalu ada dihati kami. Andai saja dulu Mommy tidak mengijinkan mu memasuki dunia Mafia, mungkin kamu masih ada sampai detik ini."

Air mata kembali jatuh membasahi pipinya.

"Maafin Daddy, Mom."

Wanita itu menggeleng seolah mengatakan jika ia tidak ingin memaafkan suaminya yang telah memaksa Anneta memasuki dunia Mafia. Perlahan ia beralih menatap makam Naura yang berada tepat di sebelah Anneta.

"Naura... makasih ya, sudah menemani Anneta selama ini. Mommy tahu kamu yang paling dekat dengannya. Mommy juga tahu... kamu mengenal Anneta jauh lebih baik dibanding Mommy dan Daddy. Terimakasih untuk semuanya ya."

Angin dingin berembus pelan di antara pepohonan pemakaman. Namun wanita itu tetap bertahan di tempatnya, seolah berharap kelima anak itu bisa mendengar setiap kata yang ia ucapkan.

Tatapannya kemudian berpindah ke dua makam terakhir.

"Leo... Luna... maaf..." isaknya semakin lirih. "Andai kalian tidak dirawat di rumah sakit itu..."

Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya gemetar hebat.

"Mom, sudah ya. Kita harus mengikhlaskan kepergian mereka. Aku tahu ini tidak mudah. Bukan hanya Anneta yang pergi... tapi kita telah kehilangan semuanya sekaligus," ucap suaminya sambil merangkul bahu sang istri yang terus menangis.

...****************...

"Dorong!"

"Dorong!"

"Dorong!"

Sorakan para siswa menggema di sekitar sungai yang terletak jauh di dalam hutan. Mereka adalah murid-murid SMA Alexander School yang sedang mengikuti kegiatan camping tahunan. Di antara kerumunan tersebut, seorang gadis berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada sambil menatap sinis ke arah seorang siswi yang terpojok di tepian sungai. Gadis itu bernama Aleta, sosok yang dikenal sebagai ratu bully sekolah.

Di hadapan Aleta, seorang gadis bernama Aura tampak berusaha menahan tangis. Seragam olahraga yang dikenakannya sudah kotor akibat didorong dan dipermainkan sejak tadi. Namun tidak ada satu pun orang yang berniat membantunya. Sebagian hanya menonton, sementara yang lain justru ikut tertawa melihat penderitaannya.

"Ayo, dorong lagi!" teriak salah seorang siswa.

Senyuman di bibir Aleta semakin lebar. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya dan mendorong tubuh Aura hingga kehilangan keseimbangan.

Byur!

Tubuh gadis itu langsung terjatuh ke dalam sungai. Jeritannya terdengar nyaring saat arus deras menyeret tubuhnya menjauh dari tepian. Aura berusaha menggerakkan tangan dan kakinya agar tetap berada di permukaan, namun arus sungai itu jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.

"Tolong..." lirihnya dengan suara bergetar.

Panik mulai menguasai dirinya. Semakin keras ia berusaha berenang menuju tepian, semakin sulit tubuhnya bergerak. Bahkan perlahan-lahan ia mulai merasa seolah ada sesuatu yang menyeretnya lebih jauh ke tengah sungai.

"Tolong!"

"Aura!"

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari tepian. Sesaat kemudian, seseorang berhasil meraih tangannya.

Hap!

Mata Aura membelalak. Di hadapannya berdiri Viana yang tengah berlutut di tepi sungai sambil menggenggam tangannya erat.

"A-ana..." ucap Aura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tahan, Au! Pegang tangan gue erat-erat!" teriak Viana sambil menarik tubuh sahabatnya sekuat tenaga.

"Ugh..." ringis Viana.

Tubuhnya menegang. Rasa sakit mendadak menghantam kepalanya. Potongan-potongan ingatan asing bermunculan di benaknya. Suara ledakan, bau asap, hutan yang dipenuhi darah, seorang wanita bernama Anneta, organisasi bernama Dark Blood dan dirinya sendiri, yaitu Viona.

Mata gadis itu membelalak. Jantungnya berdetak semakin cepat.

'Gue...Viana?'

Pandangan Viona beralih ke kedua tangannya. Tangan itu bukan miliknya. Tubuh ini juga bukan tubuhnya.

'Jangan bilang... Gue berpindah ke tubuh orang lain?

"Na! Tolong!" teriak Aura.

Kesadaran Viona langsung kembali. Apa pun yang sedang terjadi padanya, itu bisa dipikirkan nanti. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan Aura. Begitulah pikirnya.

Ia pun kembali menarik tangan Aura sekuat tenaga. Sementara itu, Aleta hanya berdiri sambil menyaksikan semuanya dengan ekspresi datar.

"Sekeras apa pun lo narik dia, lo ga akan pernah berhasil. Lo gak lihat arusnya?" tanya Aleta dengan nada meremehkan.

Viana mengangkat kepalanya. Tatapan keduanya bertemu.

"Trus kenapa kalian ga bantuin gue?" tanya Viana kesal.

"Kita? Bantuin lo narik si miss Queen? Yang ada kita ketularan," ucap sahabat Aleta pedas.

"Kalo gue ga bisa nyelamatin dia, kalian semua terutama lo..." Viana menatap Aleta. "Harus tanggung jawab atas nyawanya."

Aleta terdiam sesaat. Entah kenapa, cara bicara Viana terdengar berbeda. Biasanya gadis itu bahkan tidak berani menatap matanya lebih dari beberapa detik. Namun sekarang, tatapan itu justru terasa tajam dan penuh keberanian.

"Lo nyuruh gue tanggung jawab?" cibir Aleta. "Emangnya lo siapa?"

"Ini bukan tentang siapa gue," balas Viana tegas. "Ini tentang kemanusiaan."

Beberapa siswa langsung saling pandang. Mereka merasakan hal yang sama. Viana yang mereka kenal tidak pernah berbicara seperti itu. Aleta pun mengernyit pelan. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Viana.

"Tolongin gue, Na!" teriak Aura tiba-tiba dengan nada ketakutan. "Ada sesuatu yang narik kaki gue!"

"Apa?" Viana mengernyit.

"Gue serius!" Aura hampir menangis. "Ada yang narik gue dari bawah!"

Viana refleks menunduk menatap air sungai yang keruh. Namun ia tidak melihat apa pun selain arus yang bergerak deras. Hingga akhirnya, tiba-tiba sesuatu mencengkeram pergelangan tangan Viana dari dalam air.

"Ahh!!"

Tubuhnya langsung tersentak ke depan. Viana refleks menundukkan kepala. Dan saat itulah wajahnya memucat. Sebuah tangan muncul dari dalam sungai.

Tangan itu menyerupai tangan manusia. Namun kulitnya hitam pekat, dipenuhi bulu kasar, dengan kuku-kuku panjang yang menancap ke pergelangan tangannya.

Semua siswa yang berada di sekitar sungai langsung terdiam. Tawa mereka menghilang seketika. Beberapa orang bahkan mundur beberapa langkah karena ketakutan.

"A-apa itu?"

"Itu bukan tangan manusia..."

"Jangan-jangan... itu makhluk gaib penjaga sungai ini, yang diceritain sama Pak Naza?"

"Iya juga ya..."

Cengkeraman makhluk itu semakin kuat. Perlahan-lahan tubuh Viana ikut terseret menuju sungai. Sementara itu, permukaan air yang semula hanya bergelombang mulai berputar membentuk pusaran besar tepat di bawah Aura dan Viana.

"Apa-apaan ini?!"

"Bukannya Pak Naza udah peringati kita soal bahayanya sungai ini?"

"Ale, kita harus gimana sekarang?" tanya Linda panik.

"Jangan tanya gue. Ini semua kan ide Lala," ucap Aleta sinis.

"La!" panggil Linda.

"Gue nggak peduli. Jadi jangan tanya gue," ucap Lala ketus.

Di sisi Viana, begitu tubuhnya ditarik ke dalam air, ia refleks memejamkan mata. Arus deras menyeret tubuhnya entah ke mana. Air sungai memenuhi telinganya, membuat suara dari luar perlahan menghilang.

Saat kembali membuka mata, napasnya hampir terhenti. Di hadapannya, sosok yang menarik mereka terlihat jelas. Makhluk itu menyerupai manusia. Namun kulitnya pucat keabu-abuan, rambut hitam panjangnya melayang mengikuti arus. Tangannya yang kurus mencengkeram pergelangan tangan Viana dan kaki Aura dengan erat. Jantung Viana berdegup kencang.

'Jadi benar... Ada sesuatu di sungai ini.'

Meski ketakutan, Viana memaksa dirinya tetap tenang. Ia segera menahan napas dan memberi isyarat kepada Aura untuk melakukan hal yang sama. Aura mengangguk lemah. Namun wajah gadis itu sudah terlihat pucat. Tenaganya terkuras akibat terus melawan arus sejak tadi.

Viana segera meraih lengan Aura dan berusaha menariknya menjauh dari makhluk tersebut. Namun sia-sia. Cengkeraman makhluk itu terlalu kuat. Sementara itu, dadanya mulai terasa sesak. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Viana berusaha melepaskan diri. Jaket panjang yang dikenakannya tersangkut pada cengkeraman makhluk tersebut. Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan jaket itu dan menyisakan tank top yang menempel di tubuhnya.

'Berhasil!'

Mata Viana langsung berbinar ketika tubuhnya akhirnya terbebas. Ia kembali berusaha meraih tangan sahabatnya. Namun saat itulah hatinya terasa jatuh. Aura sudah tidak memberikan respons. Mata gadis itu tertutup. Tubuhnya terkulai mengikuti arus.

Viana mengguncang lengannya pelan. Tetap tidak ada jawaban. Dan napas Viana sendiri sudah berada di batasnya. Jika ia tetap bertahan, mereka berdua bisa berada dalam bahaya yang lebih besar. Dadanya terasa seperti terbakar. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Dengan air mata yang mulai bercampur dengan air sungai, Viana melepaskan genggaman tangannya perlahan.

'Maaf...'

Untuk sesaat, tubuh Aura terlihat semakin jauh terbawa arus bersama makhluk tersebut. Viana menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum akhirnya berenang menjauh.

Ia terus berenang tanpa menoleh lagi. Satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya saat itu adalah bertahan hidup. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menghantam tepian sungai.

Bruk!

Viana langsung merangkak naik ke daratan. Ia terbatuk hebat sambil memuntahkan air yang masuk ke tenggorokannya. Dadanya naik turun dengan kasar, sementara seluruh tubuhnya gemetar akibat kelelahan.

Untuk beberapa saat, ia hanya terduduk diam. Pikirannya kosong. Namun perlahan, bayangan wajah Aura kembali muncul di benaknya. Mata gadis itu langsung memerah.

"Gue..." Suaranya bergetar. "Gue baru aja ninggalin dia..."

Air mata mulai jatuh satu per satu. Viana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia merasakan rasa bersalah yang begitu besar.

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!