NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — HUJAN DAN SATU PAYUNG

Langit sore di atas Kota Arunika kembali dibalut tirai awan kelabu yang pekat. Hujan turun tanpa derap perlahan—langsung menderas, menghantam dedaunan mahoni dan permukaan jalan beraspal di sekitar kampus.

Aurel berdiri kaku di bawah naungan atap pos gerbang samping kampus. Jemari tangannya meremas tali tas ranselnya yang terasa makin berat. Beberapa kali ia melirik layar ponselnya, berharap ada keajaiban pesanan transportasi daring yang masuk, namun indikator di layarnya terus berputar-putar tanpa kepastian.

"Sumpah ya, kalau jam pulang kuliah barengan hujan deras begini, aplikasi transportasi emang suka mendadak mogok," gumam Aurel jengkel pada dirinya sendiri.

Aroma tanah basah berpadu dengan hembusan angin dingin yang menusuk hingga ke balik jaket rajut warna krem yang ia kenakan. Aurel menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya pelan untuk mencari sedikit kehangatan.

Tiba-tiba, suara derak air yang terinjak sepatu terdengar melangkah mendekat dari arah luar gerbang.

Sebuah pendar warna biru tua memayungi pandangan Aurel dari atas. Rintik air hujan yang tadi sempat menciprati ujung sepatu kets putihnya seketika terhalang oleh kubah payung kain yang terbentang lebar.

Aurel menoleh kaget.

Muhammad Rasyid Al-Faruqi berdiri tepat di sampingnya.

Pria itu mengenakan kemeja katun bergaris halus berwarna abu-abu tua dan celana bahan gelap. Peci hitamnya terpasang rapi, dan di bahu kirinya tampak sedikit basah oleh cipratan air. Pegangan kayu payung biru besar itu digenggam erat oleh tangan kanannya, sedikit miring ke arah Aurel untuk memastikan istrinya sepenuhnya terlindung dari siraman hujan.

Aurel membelalakkan mata. "Kamu?"

"Ayo," jawab Rasyid singkat. Suaranya rendah, nyaris tenggelam di antara riuh gemuruh air yang jatuh dari langit.

Aurel menatap Rasyid dari samping, masih diliputi rasa tidak percaya. "Kamu... kok ada di sini? Mobilmu mana?"

Rasyid mengarahkan pandangan matanya ke arah seberang jalan, tempat SUV hitam miliknya terparkir di bawah pohon rindang karena area depan gerbang dipenuhi bus kampus.

"Mobil terparkir di sana," Rasyid memberi isyarat pelan dengan dagunya. "Saya baru selesai mengisi kajian singkat di madrasah dekat sini. Saya lihat kamu berdiri sendirian di pos, jadi saya melangkah kemari."

Aurel berdehem pelan, mengusap leher belakangnya yang terasa agak kaku. Ada hembusan canggung yang tiba-tiba melintas di antara mereka, membakar tipis kedua pipi Aurel.

"Aku bisa aja nunggu angkot atau taksi," kata Aurel, berusaha menyembunyikan rasa hangat yang perlahan merayap di dadanya.

"Aku tahu," balas Rasyid tenang, bibirnya mengukir kurva senyum samar yang sangat halus.

"Terus kenapa tetep nyamperin?"

"Karena berjalan berdua di bawah hujan dengan istri sendiri jauh lebih baik daripada membiarkanmu kedinginan sendirian di sini," jawab Rasyid tanpa nada pamer atau gombalan yang dipaksakan. Kalimat itu terlontar begitu polos dan jujur.

Aurel menelan ludah. Lidahnya mendadak terasa kelu untuk membalas dengan kalimat tajam seperti biasanya.

Payung biru tua yang dipegang Rasyid sebenarnya berukuran standar—cukup lebar untuk satu orang, namun agak sempit jika dipakai berdua. Mau tidak mau, jarak di antara mereka terkikis drastis.

Mereka mulai melangkah beriringan menyusuri trotoar menuju seberang jalan.

Setiap kali kaki mereka melangkah merintangi genangan air, bahu kiri Aurel sesekali bersentuhan halus dengan bahu kanan Rasyid. Sentuhan kain jaket mereka melahirkan desir halus yang aneh di dalam dada Aurel. Setiap kali tubuh mereka berdekatan, wangi minyak zaitun dan aroma kain bersih yang khas dari tubuh Rasyid tercium lembut di hidung Aurel, mengalahkan aroma tanah basah di sekitar mereka.

Aurel menunduk, memperhatikan bayangan langkah kaki mereka di atas ubin trotoar yang basah. Dua pasangan kaki yang kini melangkah dengan ritme yang persis sama.

"Kenapa diam?" tanya Rasyid pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan.

"Tidak apa-apa," jawab Aurel kaku, sengaja merapatkan cardigan rajutnya.

Rasyid melirik ke bawah, menatap wajah samping istrinya yang tampak merona merah tipis. "Biasanya kamu cerewet. Ada saja yang kamu komentari atau kamu perdebatkan."

Aurel menoleh cepat, memelototkan matanya yang jernih. "Aku bukan cerewet! Aku cuma nggak suka diam kalau ada yang ganjil!"

Rasyid terkekeh pelan—suara tawa renyah yang amat jarang terdengar, meluncur halus dari tenggorokannya. "Iya, saya tahu."

Aurel mendengus pelan, namun tidak ada amarah dalam dengusannya kali ini. Pria berpeci hitam di sampingnya ini punya cara ajaib untuk melumpuhkan seluruh amunisi kata-kata tajam yang biasanya ia siapkan.

"Kamu sendiri kenapa santai banget?" tanya Aurel lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih lembut. "Jalan di bawah hujan deras begini, bahumu basah tuh."

Aurel menunjuk bahu kiri Rasyid yang memang terekspos cipratan air karena pria itu sengaja menggeser posisi payung lebih banyak menutupi tubuh Aurel.

Rasyid melirik bahunya yang basah sekejap, lalu kembali tersenyum tipis. "Aku sedang menikmati hujan."

"Menikmati hujan?" Aurel memiringkan kepalanya. "Sejak kapan ustadz suka hujan-hujanan?"

"Sejak hujan hari ini mempertemukan saya dengan momen tenang bersama kamu," sahut Rasyid mantap.

Aurel mendadak menghentikan langkahnya sejenak. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia menatap samping wajah Rasyid yang tetap tenang seolah tidak baru saja melontarkan kalimat yang sanggup mengacak-acak seluruh tatanan emosi Aurel.

Rasyid menghentikan langkahnya juga, memutar tubuhnya sedikit dan menatap Aurel penuh tanya. "Kenapa?"

Aurel menggigit bibir bawahnya, membuang pandangan ke arah aliran air di selokan jalan, lalu tanpa sadar sebuah senyum tipis—sangat manis dan tulus—terukir di bibirnya.

"Nggak apa-apa," bisik Aurel halus. "Ayo jalan lagi, nanti baju kamu keburu basah kuyup."

Rasyid menatap senyuman Aurel sejenak. Binar matanya yang biasanya redup dan selalu terjaga kini terpancar penuh kehangatan yang amat dalam.

Mereka kembali melanjutkan langkah berdua melintasi selasar jalanan Kota Arunika yang dibasahi hujan.

Tidak ada pertengkaran hebat hari ini. Tidak ada kalimat ceramah atau nasihat moral yang menggurui. Hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kubah payung biru di atas kepala mereka, serta dua manusia dari dunia yang berseberangan yang perlahan-lahan... tanpa mereka sadari sepenuhnya... mulai terbiasa berjalan berdampingan dalam satu irama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!