NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 - KEKASIH SEJATIKU

Keheningan di kamar itu terasa hangat, berbeda dari dinginnya udara malam di luar jendela. Wulan menatap wajah Nalendra yang nyaris tak berubah. Kerutan di antara alisnya tampak melonggar sedikit — seolah penolakan yang barusan ia lontarkan kepada Pangeran Cendana justru menyenangkan pria itu. Betapa anehnya, manusia yang di mulut orang-orang dijuluki kejam dan tak bermoral ini justru duduk di sini dengan tenang, menjaga malam seorang gadis yang nyaris mati.

"Nalendra, apakah kau tidak menyukai Pangeran Cendana?" Setelah merenungkan kata-kata di benaknya, Wulan ragu-ragu sejenak, tetapi mau tidak mau ia tetap melontarkan keraguan yang sudah lama ia pendam. Pertanyaan itu seolah keluar begitu saja, padahal di kehidupan lampau ia tidak pernah sekali pun berani menanyakannya. Malam ini, dengan Nalendra duduk begitu dekat, keberanian yang dulu tidak pernah ia miliki itu tiba-tiba tumbuh.

Dalam kehidupan lampau, sejak awal Nalendra tidak pernah menyetujui pernikahannya dengan Pangeran Cendana, tetapi saat itu ia bersikeras menempuh jalannya sendiri dan menolak mendengarkan siapa pun. Baru setelah ia benar-benar menderita, ia akhirnya bisa melihat dengan jelas ambisi jahat Pangeran Cendana. Dilihat dari reaksi Nalendra sekarang, sepertinya pria itu sudah tahu sejak awal bahwa niat Pangeran Cendana tidak murni. Orang yang tampak lembut di depan umum itu ternyata menyimpan niat yang jauh lebih dalam; di balik kerendahan hatinya tersembunyi langkah-langkah yang kelak meruntuhkan keluarga Ardani.

Tapi dulu ia tidak pernah bertanya mengapa Nalendra tidak setuju. Sekarang kalau dipikir-pikir, sepertinya Nalendra-lah yang melihatnya paling jelas. Hanya saja, ia tidak memberi tahu alasannya sejak awal — mungkin karena khawatir Wulan tidak akan mempercayainya. Saat itu Wulan memang sedang terpesona oleh senyum lembut di wajah Pangeran Cendana; jika Nalendra mengatakannya, ia mungkin justru semakin membencinya. Keras kepala yang menjadi kebanggaannya waktu itu justru menjadi celah yang paling mudah ditembus oleh tipu daya.

Nalendra sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, tetapi dengan cepat membuang emosinya lalu menggelengkan kepalanya ringan. Wajahnya kembali datar dalam sekejap, seolah tak ada apa-apa yang sempat mengguncangnya — hanya saja gerakan tangannya yang menahan jubah terlihat sedikit kaku.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak setuju aku menikah dengannya?" Kata-kata Wulan sangat lugas. Ia hanya ingin melihat reaksi pria itu. Ia belum pernah menanyakannya di kehidupan lampau, tetapi hari ini, entah kenapa, keinginan itu tiba-tiba datang. Jantungnya berdebar aneh, bercampur harap dan takut, seolah jawaban apa pun yang keluar dari mulut Nalendra akan mengubah sesuatu yang selama ini ia yakini.

Nalendra terdiam beberapa saat, lalu menghela napas panjang dan berkata pelan, "Dia bukan kekasihmu." Kalimat itu pendek, tetapi terasa berat, seperti batu yang dijatuhkan pelan-pelan ke dalam air yang tenang.

Pria itu masih mengkhawatirkan hati gadisnya yang rapuh dan tidak ingin berbicara terlalu kasar. Mungkin ia takut bahwa begitu kata-kata tentang Pangeran Cendana itu terucap, Wulan akan mengurung diri di kamar lagi seperti dulu, merajuk dan menolak bertemu siapa pun. Kebiasaan yang memalukan itu memang pernah terjadi, dan hanya sedikit orang yang tahu betapa parahnya ia mengunci diri kala itu.

"Kalau begitu menurutmu... kau adalah kekasihku?" Pikiran Wulan bergerak, dan ia tiba-tiba melontarkan kalimat itu tanpa berpikir panjang. Begitu kata itu keluar, ia sendiri terkejut — tetapi anehnya, ia tidak merasa menyesal sedikit pun.

Begitu kalimat itu terucap, bukan hanya Nalendra yang sedikit terkejut, Wulan sendiri pun tercengang. Kenapa ia tiba-tiba ingin menanyakan hal seperti itu? Udara di ruangan itu terasa membeku sekejap; bahkan nyala lampu minyak seolah ikut menahan napas menunggu jawaban.

Nalendra menatapnya dengan saksama beberapa saat. Ketika ia berbicara lagi, suaranya dua tingkat lebih rendah dari biasanya, dan kecepatan bicaranya bahkan melambat karena kesungguhannya. Seolah setiap kata yang akan keluar dari mulutnya telah ia timbang-timbang lebih dulu di dalam hati.

"Terserah kau untuk memutuskan apakah aku orang baik atau tidak. Tetapi setidaknya satu hal, aku tidak akan menyakitimu." Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menggurui, melainkan dengan kesungguhan yang membuat Wulan tak mampu membalas sepatah kata pun.

Buku-buku jari Wulan yang terkepal di balik lengan bajunya mengepal semakin erat. Tentu saja ia tahu Nalendra tidak akan pernah menyakitinya. Bagaimana mungkin pria yang bahkan memberikan nyawanya bisa menyakiti perasaannya? Kalimat sederhana itu justru lebih menusuk daripada seribu janji manis, karena ia tahu betul bahwa di baliknya tersimpan kenyataan yang telah ia buktikan sendiri.

Ia tidak akan pernah bisa melupakan tatapan penuh tekad yang ia lihat di mata Nalendra sebelum pria itu gugur — tatapan yang menyimpan rasa sakit yang tak terkendali, keputusasaan, kesedihan, dan perih yang menusuk hati. Semua emosi itu berkumpul di mata hitam pekatnya, kecuali penyesalan. Di saat yang sama, matanya itu juga menyimpan ketenangan yang aneh, seperti orang yang rela menerima ajal asalkan orang yang dijaganya selamat.

Bahkan jika ia harus tertimbun reruntuhan dan tak menyisakan jasad, ia tidak pernah menyesal bertemu dengannya dalam hidup ini. Di antara semua orang yang pernah ia temui, hanya Nalendra yang membuatnya percaya bahwa ketulusan itu sungguh-sungguh ada.

Selama tiga tahun setelah kematiannya, Wulan selalu memikirkan sosoknya, entah saat membuka mata atau memejamkannya. Saat itu ia masih bisa menghibur dirinya sendiri: pasti karena mereka terlalu sering bersama, jadi ia mengingatnya dari waktu ke waktu. Baru setelah ia mati ditenggelamkan di laut, ia menyadari bahwa orang yang ia cintai dari awal hingga akhir adalah Nalendra. Adapun Pangeran Cendana — ia hanya menginginkannya karena sepupunya juga menyukainya; itu hanya keinginan untuk saling mengungguli di antara para gadis muda. Ia tersenyum masam mengenang kebodohannya sendiri: selama bertahun-tahun ia memburu sesuatu yang palsu, padahal yang tulus selalu berada tepat di sampingnya, menjaga tanpa pernah menuntut balas.

Memikirkan hal itu, lalu menatap pria di hadapannya yang selama ini hanya memandangnya, Wulan merasa semakin tidak nyaman di hatinya. Ia merasa berutang, dan merasa tidak layak menerima semua perlindungan itu. Ia ingin membalas sesuatu, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana, karena kebaikan Nalendra bukanlah barang yang bisa diukur dan dikembalikan.

Apa bagusnya Wulan, hingga ia sepadan dengan perlindungan yang berulang-ulang itu — bahkan Nalendra rela mempertaruhkan nyawanya? Ia tidak sabar ingin kembali ke masa lalu, menampar wajahnya sendiri dua kali, dan membuka mata yang selama ini buta. Andai saja waktu bisa diputar, andai saja ia bisa duduk di hadapan gadis muda yang keras kepala Itu dan berbisik: jangan kejar yang menghilang, peluklah yang setia menunggu.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!