Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Aula besar tempat upacara penerimaan berlangsung ternyata bukan tujuan akhir hari itu.
Setelah upacara singkat—di mana Deacon Song membacakan nama-nama dua belas kandidat baru satu per satu, disambut tepuk tangan formal dari para disciple senior yang hadir—seorang elder berjubah kelabu naik ke atas panggung kayu di tengah lapangan latihan.
"Setiap tahun," umumnya, suaranya menggema tanpa perlu berteriak, "kandidat baru akan menjalani Ujian Peringkat. Bukan untuk menentukan siapa yang diterima—kalian semua sudah diterima. Ujian ini menentukan di mana kalian akan ditempatkan dalam struktur pelatihan disciple luar."
...------...
Sore harinya, dilapangan mulai dipenuhi disciple senior yang datang menonton, sebagian besar penasaran melihat wajah-wajah baru, sebagian lainnya sekadar mencari hiburan setelah latihan harian mereka.
Zhao Kuang berdiri di barisan depan penonton, lengan terlipat, seringai percaya diri masih menempel di wajahnya.
"Ujian ini sederhana," lanjut sang elder. "Setiap kandidat baru akan bertarung melawan satu disciple luar yang sudah lebih dulu masuk sekte, dengan level yang disesuaikan agar adil. Kemenangan bukan segalanya—cara kalian bertarung, bagaimana kalian membaca situasi, itu yang akan dinilai."
Nama-nama mulai dipanggil satu per satu. Wang Dazhi maju lebih dulu, bertarung melawan seorang disciple dengan level serupa. Pertarungan itu berlangsung canggung namun penuh semangat—Wang Dazhi kalah, namun kegigihannya membuat beberapa penonton bertepuk tangan kecil sebagai penghargaan.
Ia kembali ke barisan dengan napas tersengal namun senyum lebar. "Aku kalah," katanya kepada Mo Tianxia, "tapi aku berhasil bertahan cukup lama, kan?"
"Kau melakukannya dengan baik," jawab Mo Tianxia jujur.
Beberapa kandidat lain maju dan bertarung, hasilnya bervariasi. Kemudian, nama yang ditunggu-tunggu dipanggil. "Mo Tianxia."
Ia melangkah maju ke tengah lapangan, tenang seperti biasa.
Elder yang memimpin ujian melirik daftar di tangannya. "Lawanmu adalah—"
"Aku akan menjadi lawannya." Suara itu berasal dari Zhao Kuang, yang melangkah keluar dari barisan penonton tanpa diminta.
Elder itu mengangkat alis. "Zhao Kuang, kau bukan disciple yang ditugaskan untuk ujian ini."
"Aku sukarela," jawab Zhao Kuang, menatap Mo Tianxia dengan seringai lebar. "Aku ingin melihat sendiri apakah anak desa ini pantas menyombongkan diri di depan gerbang sekte tadi."
Bisik-bisik penuh minat menyebar di antara penonton. Zhao Kuang, meski masih disciple luar, sudah dikenal sebagai salah satu bakat terkuat di angkatannya—Foundation Establishment tahap awal pada usia sepuluh tahun, prestasi yang cukup langka untuk disciple luar sekte tingkat menengah seperti Tian Yun Sect.
Elder itu menimbang sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi ingat batasannya, Zhao Kuang. Ini ujian, bukan pertarungan mati-matian."
"Tentu saja," jawab Zhao Kuang, masih menyeringai.
Mo Tianxia menatap lawannya yang kini berdiri di seberang lapangan.
'Foundation Establishment tahap awal,' pikirnya, menganalisis aliran Qi yang samar-samar bisa ia rasakan dari tubuh Zhao Kuang. 'Cukup kuat untuk anak seusianya. Tapi masih jauh, jauh sekali dari cukup.'
Chen Feng, yang berdiri di antara para elder yang mengawasi, mengerutkan kening. 'Ini tidak adil bagi kandidat baru,' pikirnya. 'Tapi mari kita lihat bagaimana anak itu menghadapinya.'
"Mulai!" seru elder pengawas.
Zhao Kuang tidak membuang waktu. Ia langsung maju dengan kecepatan yang jauh melebihi anak seusianya, kepalan tangannya dibalut aliran Qi tipis yang membuat pukulannya jauh lebih berat dari yang terlihat.
Penonton menahan napas. Namun Mo Tianxia tidak bergerak panik.
'Terlalu lurus,' pikirnya, mengamati lintasan pukulan itu dengan tenang. 'Dan terlalu percaya diri.'
Pada detik terakhir, tubuh Mo Tianxia bergeser—bukan mundur, bukan pula menghindar dengan gerakan mencolok, melainkan pergeseran kecil yang membuat pukulan Zhao Kuang meleset tipis dari sasarannya.
Zhao Kuang terkejut, momentum pukulannya membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke depan.
Kesempatan itu, bagi kultivator biasa, mungkin cukup untuk melancarkan serangan balasan telak. Namun Mo Tianxia tidak melakukannya.
Ia hanya mundur setengah langkah, membiarkan Zhao Kuang memulihkan keseimbangannya.
'Belum saatnya,' pikirnya. 'Kalau aku langsung menang dengan mudah, itu akan menarik terlalu banyak perhatian.'
Zhao Kuang, yang menyadari serangannya gagal, berbalik dengan wajah memerah karena malu di depan penonton. "Beruntung!" serunya, lalu melancarkan serangkaian pukulan dan tendangan yang lebih agresif.
Mo Tianxia menghindar dengan gerakan-gerakan minimal—tidak pernah lebih dari yang dibutuhkan, tidak pernah kurang. Setiap kali Zhao Kuang menyerang, Mo Tianxia bergerak seolah sudah tahu ke mana serangan itu akan mengarah beberapa detik sebelum serangan itu benar-benar dilancarkan.
Beberapa penonton mulai menyadari keanehan itu.
"Kenapa dia selalu berada di tempat yang tepat?" gumam seorang disciple senior di antara kerumunan.
Chen Feng menyipitkan matanya, mengamati dengan lebih seksama. 'Ini bukan keberuntungan,' pikirnya. 'Anak ini membaca pola serangan Zhao Kuang.'
Setelah beberapa menit pertarungan yang membuat Zhao Kuang semakin frustrasi karena tidak satu pun pukulannya mengenai sasaran, Mo Tianxia akhirnya melihat celah yang ia tunggu.
Zhao Kuang melancarkan pukulan terakhir dengan seluruh sisa tenaganya, gerakan yang jauh lebih lambat dari sebelumnya karena kelelahan.
Mo Tianxia menangkap pergelangan tangan Zhao Kuang—bukan dengan kekuatan mentah, melainkan dengan sudut yang tepat, memanfaatkan momentum lawannya sendiri.
Zhao Kuang jatuh terjungkal ke tanah, kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Keheningan sejenak menyelimuti lapangan. Kemudian, tepuk tangan mulai terdengar—awalnya ragu, kemudian semakin ramai.
Zhao Kuang bangkit dengan wajah merah padam, antara malu dan marah. "Itu—itu bukan cara bertarung yang jantan! Kau hanya menghindar terus!"
"Elder bilang tujuannya bukan hanya menang," jawab Mo Tianxia tenang, "tapi bagaimana caranya bertarung. Aku hanya mengikuti aturan."
Jawaban itu membuat beberapa penonton tertawa kecil, semakin membuat wajah Zhao Kuang memerah.
Elder pengawas mengangguk puas. "Cukup. Mo Tianxia menang."
Zhao Kuang menatap Mo Tianxia dengan tatapan penuh amarah sebelum berbalik pergi, meninggalkan lapangan tanpa sepatah kata pun.
Chen Feng, yang menyaksikan seluruh pertarungan dari awal hingga akhir, menatap Mo Tianxia dengan pandangan yang jauh lebih serius dari sebelumnya.
'Anak ini,' pikirnya, 'tidak sesederhana yang terlihat.'